ANMELDEN“Sa,” gumam Aruna lagi, suaranya hampir hilang, seperti doa yang tak ingin dijawab.Sagara tidak menjawab dengan kata. Matanya masih di bibir Aruna, lalu perlahan naik kembali ke mata perempuan itu, seolah ada pertanyaan di sana.‘Boleh?’Aruna tahu. Ia tahu persis apa yang Sagara minta tanpa kata. Tubuhnya menegang dan bukannya mundur, Aruna justru memejamkan matany, seperti menyerah pada sesuatu yang sudah terlalu lama ia tahan.Sagara merasakan itu.Dengan gerakan yang sangat pelan, Sagara mencondongkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir Aruna pelan. Bibir Sagara menggerakkan bibir Aruna dengan hati-hati, seperti takut merusak momen itu.“Nghh,” Aruna mengerang kecil, tak sengaja lolos dari tenggorokannya.Tangan yang tadi bertumpu di dada Sagara naik ke leher pria itu, jari-jarinya menyentuh kulit hangat di sana, menarik Sagara lebih dekat. Sagara merespons dengan mengencangkan pelukannya, lengannya di pinggang Aruna menarik perempuan itu lebih erat, tubuh mereka menempel sepenuhn
Setelah berdebat lumayan lama akan posisi, akhirnya Sagara mengalah dengan melepaskan Aruna.“Sekarang tidur lagi. Nanti aku bangunin pas makan siang,” ucap Aruna sambil merapikan selimut Sagara.Keduanya sudah berada di kamar dengan Sagara kembali terbaring di ranjang. Jari besar itu mencari jemari Aruna dan menggenggamnya.“Jangan kemana-mana,” lirihnya.Tidak tega melihat kelemasan pria itu, Aruna bergerak duduk mendekat dan mengelus rambut pria itu agar terlelap.“Tidur aja,” bisik Aruna, suaranya lembut tanpa ia sadari.Sagara mengangguk kecil, mata akhirnya terpejam sepenuhnya. Napasnya pelan dan teratur mulai terdengar lagi, tapi genggaman tangannya tak kendur, malah jari-jarinya saling terkait dengan jemari Aruna, seperti anak kecil yang takut ditinggal.Aruna menatap wajah Sagara yang kini tenang. Garis-garis di dahinya sudah hilang, janggut milik pria itu membuatnya terlihat lebih dewasa dari yang ia ingat dulu, tapi ekspresi tidurnya masih sama, polos, rentan, seperti Sagar
Aruna menghabiskan piringnya lebih cepat dari biasanya, karena ingin segera menyibukkan diri agar tidak harus menatap Sagara terlalu lama. Ia bangkit, mengumpulkan piring kosong mereka berdua, lalu berjalan menuju wastafel.Baru dua langkah, tangannya ditahan.Jari Sagara melingkari pergelangan Aruna dengan lembut membuat Aruna menoleh, alisnya terangkat bingung.“Sa, apa-”Belum selesai bicara, Sagara menariknya pelan membuat Aruna kehilangan keseimbangan sesaat, tubuhnya jatuh ke belakang langsung mendarat di pangkuan Sagara yang sudah siap menangkapnya.“Duduk di sini dulu,” gumam Sagara, suaranya rendah dan serak, tapi ada nada memerintah lembut di dalamnya.Lengannya langsung melingkar di pinggang Aruna, menahannya agar tidak bangkit lagi. Aruna membeku di pangkuan pria itu, tangannya refleks bertumpu di dada Sagara untuk menjaga keseimbangan.“Sagara!” protes Aruna pelan, suaranya campur antara kesal dan panik.Perempuan itu mencoba bangkit, tapi lengan Sagara di pinggangnya tak
Pagi itu, sinar matahari menyelinap lembut melalui celah-celah tirai kamar Sagara. Aruna terbangun lebih dulu, tubuhnya pegal karena semalam tidur di kursi empuk di sudut kamar, ia akhirnya pindah ke sana setelah Sagara tertidur pulas.Aruna menghela napas pelan, lalu bangkit tanpa suara. Ia keluar dari kamar, menuju dapur rumah Sagara yang sudah lama tak ia masuki dengan bebas seperti ini.“Dia harus makan yang bergizi,” gumam Aruna pada dirinya sendiri, seolah membela alasan kenapa ia masih di sini.Ia mulai memasak. Telur dadar dengan potongan tomat dan bawang, roti panggang, dan bubur ayam sederhana yang ia buat dari nasi sisa semalam.Di kamar, Sagara bergerak pelan. Kepalanya masih sedikit pusing, tapi jauh lebih baik dari semalam.“Aruna?” gumamnya bingung, suaranya serak karena baru bangun.Ia bangkit perlahan, tubuhnya masih lemah tapi cukup kuat untuk berdiri. Menggunakan dinding sebagai penyangga, Sagara berjalan pelan menuju dapur. Aroma kuat dari bawang, kaldu, sesuatu ya
Aruna tetap berdiri di sisi ranjang, membiarkan Sagara menggenggam tangannya seolah itu satu-satunya jangkar yang menahannya tetap sadar. Panas dari kulit pria itu merambat sampai ke telapak tangannya, membuat dadanya ikut sesak.“Sa, aku beneran cuma nelpon dokter. Aku nggak ke mana-mana,” ucapnya pelan tapi tegas, seolah berbicara pada anak kecil yang takut ditinggal.Genggaman itu melemah perlahan. Aruna memanfaatkan momen itu untuk meraih ponselnya. Tangannya masih sedikit gemetar saat menekan nomor dokter keluarga yang dulu sering dipanggil orang tua mereka, nomor yang entah kenapa masih ia simpan.Telepon diangkat setelah dering ketiga.“Dok, ini Aruna. Maaf ganggu sore-sore, tapi Sagara demam tinggi. Bisa datang sekarang?”Nada suaranya berusaha tenang, meski kepalanya penuh kemungkinan buruk yang tak ingin ia sebutkan.“Baik, saya berangkat sekarang. Jangan panik. Kompres dulu, ya,” jawab dokter itu singkat namun menenangkan.Aruna menutup telepon, lalu menatap Sagara lagi. Pr
Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap lewat celah gorden kamar Aruna. Jam dinding baru menunjuk pukul enam ketika ia bangun, tubuhnya masih terasa berat, bukan karena kurang tidur, melainkan karena pikirannya belum benar-benar tenang sejak semalam.Aruna duduk di tepi ranjang, menghela napas panjang.“Kenapa hidup jadi ribet begini sih,” gumamnya sambil mengusap wajah.Ia bangkit, bersiap seperti biasa dengan mandi, rambut diikat rapi, kemeja kerja disetrika sekadarnya. Saat ia membuka pintu rumah dan melangkah ke teras, langkahnya terhenti.Mobil Sagara. Aruna mengerjap, menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Mobil hitam itu diam, tak bergeser sejengkal pun.“Belum berangkat?” gumamnya.Ia melirik rumah sebelah. Lampu ruang tamu masih menyala. Tirainya tertutup rapat. Aruna mengernyit, karena biasanya Sagara pagi-pagi sekali sudah pergi.“Ah, mungkin aku aja yang lebay,” katanya pada diri sendiri.Ia mengalihkan pandangan, berusaha tak memikirkan apa pu







