MasukPerbedaan membuat kita berpikir kita memerlukan beberapa sudut pandang untuk menciptakan warna kehidupan yang beragam. << YUK BACA CERITANYA >> Luna mencintai Arun, begitu pun sebaliknya. Cinta dua anak manusia itu hanya bisa saling terkait tanpa pernah terikat. Andai saja Arun bukanlah seorang Frater, dan juga seandaiya Limfoma tidak menggerogoti tubuhnya. Semuanya mungkin akan lebih mudah. Kisah percintaan yang dibalut dengan nuansa kekeluargaan dan persahabatan. Credit Cover Design and Owned by Jiebon Swadjiwa
Lihat lebih banyakPagi tadi saat Luna dan Mamanya baru sampai di rumah eyang putri, suasana rumah sudah ramai dengan celoteh para saudara sepupu Luna. Seperti saat ini, Luna yang duduk di bangku taman belakang sambil memandang Radit yang sedang bermain dengan Andi. "Lihat Andi, kakak bisa bikin bintang dengan karet ini," seru Radit sambil memperlihatkan benda yang membentuk bintang berukuran kecil di tangannya. Andi yang masih berumur 5 tahun itu tertawa dengan riang sambil menerima bintang dari karet yang ada di tangan Radit. Dia lalu berlari menghampiri sepupu yang lebih kecil, Fitri dan Zikri. Radit terus memperhatikan ketiga sepupu kecilnya sambil tersenyum. Pemuda berumur 16 tahun itu sangat menyukai anak-anak, mungkin karena dia sering merasa kesepian saat berada di rumah. Luna yan
Hari minggu yang cerah, rumah keluarga Kusuma terlihat sangat ramai. Luna kedatangan saudara-saudara sepupunya, tapi hanya Radit yang sekarang ada di sampingnya dan berbicara berdua. Mereka banyak memiliki kesamaan, bahkan bisa saling berbagi cerita. Meskipun Radit lebih muda 3 tahun dari Luna. Mereka bernyanyi bersama, saling menumpahkan kegelisahan lewat lirik-lirik lagu yang mereka nyanyikan. Hanya saja kadang mereka merasa kesal, karena selalu dianggap anak kecil oleh orang-orang dewasa di sekeliling mereka."Hai...., kamu pasti sedang mengingat dia ya?" Kata Luna menggoda Radit dengan mengerlingkan sebelah matanya.Radit hanya tersenyum, pikirannya memang sedang melayang pada gadis pujaannya. Gadis cantik keturunan Gorontalo yang sejak bertemu pertama kali saat penerimaa
Hari ini jadwal Luna untuk siaran, tidak seperti waktu itu. Kali ini Luna sudah sangat siap dengan materi yang akan dibahasnya. Siarannya akan dimulai beberapa saat lagi. Siaran pun diawali dengan alunan lagu cinta dari Afgan. Kali ini Luna membawakan siaran program siaran Indigo."Halo sahabat, kita ketemu lagi di indigo..., Interaktif, Dialogis, On Air. Bersama saya Luna Swastamita. Okey sahabat, hari ini kita bakalan bahas apa nih?" Kata Luna dengan nada suara yang ceria.Di depannya ada Intan dan Anisa yang menjadi pendamping siaranya sekaligus narasumber.“Halo Luna, halo Anisa, halo sahabat. Hari ini kita bakal bahas tentang Pergaulan Bebas Masa Kini. Sahabat Kreatif tahu nggak tahu nggak sih? Tanpa sadar kita bisa terseret pada pergaulan bebas. Sahabat Kreatif pasti sering juga kan melihat tayangan di televisi dan media sosial,” sambung Intan.“Iya itu benar sekali, Intan. Pergaulan bebas masa kini sangat rentan terjadi pada usia
Pagi yang cerah di hari minggu, sejak tadi Luna bersama mamanya berada di halaman belakang. Mereka tampak kompak menyiram tanaman-tanaman kesayangan yang tumbuh subur di halaman belakang rumah. Hari ini Luna juga sengaja mengosongkan semua jadwalnya, entah ada dorongan apa masuk ke hatinya. Dia hanya merasa ingin berada di rumah seharian ini."Non, hari ini kamu benaran enggak akan ke ikut mama ke rumah tante Hilda?" tanya mamanya sambil menoleh ke arah Luna."Maaf ya Ma, Luna hanya ingin di rumah saja hari ini," kata Luna sambil tersenyum."Yaa...., enggak apa-apa sih. Barangkali saja kamu berubah pikiran," kata Mamanya sambil tersenyum.Hari ini Mama dan Papanya memang akan pergi ke rumah salah satu adik papa yang tinggal di daerah lembang. Tapi Luna bersikeras untuk tak mau ikut dan memilih untuk melewatkan waktunya dengan membaca buku dan mendengarkan musik. Seperti dugaannya ketika mama dan papanya sudah berangkat, suasana rumah m
Malam ini, malam kedua keluarga besarnya berkumpul. Ada beberapa kesepakatan yang dibuat oleh mereka semua tanpa menimbulkan pertentangan apa pun. Kesepakatan yang mereka putuskan tentang beberapa barang yang di wariskan, rumah dan rencana untuk berkumpul kembali di akhir t
“Luna, Mama pergi dulu ya? Kamu di rumah saja..,” kata Mama setiba di teras depan.Luna mengalihkan pandang. Menatap Mamanya yang telah berpakaian lengkap. Nyonya Ambarwati pelan menyentuh tangan kirinya.“Mama mau kemana?” tanya
Usai pemakaman, keluarga besar berkumpul. Bersama-sama bangkit dari kesedihan. Syukurlah mereka semua cepat melepaskan diri dari deraan kesedihan dan
Luna tersenyum sambil mengucapkan syukur dalam hatinya, dia kagum dengan perjuangan Arun yang melihat sebuah peluang akan kesembuhan sakitnya Arun. Dia juga sering memperhatikan bagaimana cara Arun menyibukkan dirinya dengan paduan suara dan sesi hipnoterapi dengan salah satu terapis yang baru-ba


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak