تسجيل الدخولHinaan harus diterima Danisha Manuela tepat setelah ia menikah oleh suami yang sudah dipacarinya selama tiga tahun karena foto-foto panas Danisha telah beredar di keluarga besar. Tidak peduli ketidaktahuan Danisha tentang fitnah itu, Bian, sang suami, langsung menceraikan Danisha di tempat. Danisha terlantar di jalan dan kehilangan kesadaran hingga seorang pria asing menyelamatkannya.
عرض المزيدI took the ukulele out of its case and started strumming. Mabuti na lang at naipuslit ko ito kanina sa bahay nang hindi napapansin ng mga kapatid ko. Because if so, the teasing would be never-ending. Kesyo ang emo ko raw kapag nag-iisa pero ang ingay naman kapag may kasama. Of course it should be that way. Kesa naman sa ang ingay ko kapag ako lang mag-isa. Edi nagmukha akong baliw.
I don't have a particular song in my mind but the moment I held my ukulele, my hands started playing a song like they have their own minds.
"Well you done done me and you bet I felt it
I tried to be chill but you're so hot I melted
I fell right through the cracks
And now I'm trying to get back"
It was like for a moment, I'm singing for someone. I don't have any particular person in mind. Wala naman. Di ko alam. Pero parang nasa paligid lang 'yong kinakantahan ko.
"Before the cool done run out
I'll be giving it my best-est
And nothing's going to stop me but divine intervention
I reckon it's again my turn
To win some or learn some"
Nakangiti pa ako habang kumakanta. Parang baliw lang. But it feels nice. I'm alone in a world I created.
"But I won't hesitate no more, no more
It cannot wait, I'm yours"
Pero para akong binuhusan ng isang baldeng malamig na tubig nang may marinig akong pumalakpak. I looked around and saw a guy standing near the door, his body leaning on the wall. He's unfamiliar.
He's wearing a baby blue dress shirt na tinupi sa siko, paired with slacks. His black hair was also cleanly done. For a student, he looks too formal.
"Sorry po," agad na nasabi ko. Hindi ko alam kung bakit ako nag-sorry. It was supposed to be him saying sorry because he disturbed me and my moment.
Agad kong iniligpit ang ukulele ko at itinago ito sa loob ng case nito. Umupo na rin ako nang matuwid.
"Nice song," I heard him say. Nilingon ko siya at sinubukan siyang ngitian. Iyon nga lang ay hindi ko siya matingnan sa mata kaya sa noo niya ako nakatingin. Alam kong nagmumukha akong tanga, o baliw.
"Thank you," sagot ko. Agad ko ring ibinalik ang tingin ko sa harapan at nagpanggap na parang walang kahihiyang nangyari. But who am I kidding? Kinakabahan ako.
Maya-maya ay narinig ko siyang papalapit. Agad na nag-panic ang loob ko. Hindi ko alam pero sobra akong nai-intimidate sa kanya. Ano bang meron sa kanya at ganito ang nararamdaman ko?
"Do you have a class here?" He suddenly asked. Ngayon ay nakaupo na siya sa katabi kong upuan. And my heart became wilder.
"Ah, oo. Ikaw?" I asked back, trying to sound chill.
"Yes," he replied. There was something in his 'yes' that gave me goosebumps. Ano bang meron sa taong 'to? Bakit parang mas lalo akong na-intimidate?
"I see. You're a classmate," I grumbled and I heard him chuckle. Wala namang nakakatawa sa sinabi ko. Bakit kaya siya natatawa? Baliw rin ba 'to?
"Omg, nandito na pala si Sir," I heard someone say. Agad akong napalingon at nakita ang mga kaklase ko na papasok na ng classroom.
Thank you, Sir. You're a savior! Sinagip mo ako mula sa napaka-awkward na situation.
Doon ay nakahinga na ako nang maayos. Ngunit nang tumingin ako sa lalakeng umupo sa tabi ko kanina ay wala na siya. Nilingon ko ang paligid ko para hanapin siya and my world seemed to stop rotating when I saw him.
Because the guy I was talking to earlier is already standing in front of the classroom, writing his name on the board while introducing himself as the teacher.
Hari ini adalah hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang. Pasalnya, kedua keluarga kaya itu telah merilis kabar bahagia tentang pernikahan Wihaldy-Jane yang akan digelar besok lusa. "Sha! Apa ini benar? Apa Haldy benar-benar akan menikah dengan wanita itu?" Stefia menunjukan berita di ponselnya pada Danisha. "Kukira kalian hanya bertengkar biasa! Haldy tidak bisa dihubungi karena ponselnya hilang atau apa. Eh tahunya malah keluar berita tentang pernikahannya dengan wanita lain! Pantas saja kau galau, sering melamun, tiba-tiba menangis sendiri. Ternyata ...." Stefia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Berita tentang pernikahan yang mungkin bagi segelintir orang itu sangat membahagiakan, namun bagi dirinya ini sangat mengejutkan. "Hehe! Aku juga tidak menyangka ini akan terjadi!" balas Danisan dengan getir. Air matanya perlahan menetes diiringi senyum yang terasa menyakitkan. "Tapi ya, aku juga sadar siapa aku, siapa wanita itu! Aku hanya gadis biasa yang tidak m
Hari-hari telah berlalu, hujan tipis-tipis mengguyur kota malam itu. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu jalan, membuat suasana sendu. Wihaldy duduk di kursi kemudi mobilnya, menatap kosong ke depan. Sejak tiga minggu terakhir, hidupnya terasa hampa. Ia kembali mengikuti aturan ayahnya, kembali mengikat diri pada Jane, kembali menjadi putra Mahendra yang patuh. Tiba di rumah orang tuanya, begitu melangkah masuk, suara Tuan Wilhem langsung menyambutnya dari ruang tamu. “Dari mana saja kau, Haldy?” suaranya berat, penuh wibawa, namun juga curiga. Wihaldy berhenti, menundukkan kepala sejenak. “Ada urusan!” “Urusan? Atau kau menemui wanita itu lagi?” Wilhem meletakkan koran di meja, menatap putranya dengan sorot tajam. Jantung Wihaldy berdegup keras. Sekilas wajah Danisha terbayang di wajahnya. Seperti biasa, setiap malam ia mengikuti wanita itu ke tempat kerja, melihatnya masuk ke salah satu ruangan dan keluar setelah beberapa jam. Setelah itu, dirinya pun langsung pulang
Malam turun perlahan, menutup kota dengan cahaya neon dan keramaian. Di depan cermin, Danisha menatap bayangan dirinya. Riasan tipis menutupi sisa sembab di matanya. Gaun sederhana yang dipilihkan Stefia kembali melekat di tubuhnya, memberikan kesan anggun meski hatinya masih penuh luka. “Cantik,” suara Stefia terdengar dari balik pintu kamar. “Kau sudah siap?” Danisha membuka pintu. Stefia berdiri dengan balutan dress merah menyala, rambutnya ditata rapi. Senyumnya penuh percaya diri, seakan dunia malam adalah panggung tempat ia bersinar. “Aku… aku masih merasa aneh, Stef,” bisik Danisha lirih. “Tapi aku akan coba!” Stefia menepuk bahunya. “Tidak apa-apa! Kau tidak sendirian. Ingat, aku selalu ada di sampingmu.” *** Mereka tiba di gedung karaoke mewah yang sama. Lampu-lampu neon berkelip, suara musik berdentum samar dari dalam. Begitu masuk, aroma parfum bercampur alkohol langsung menyambut. Bagi Danisha, dunia ini masih asing. Ia merasa seperti terlempar ke dalam realit
Siang itu, apartemen terasa begitu hening. Matahari menyorot masuk lewat celah tirai, tapi sinarnya tidak mampu menghangatkan hati Danisha yang dingin. Ia duduk di sofa, memeluk lutut, menatap kosong ke arah televisi yang menyala tanpa suara. Suara presenter di layar bergerak-gerak, tapi otaknya tak menangkap apa pun. Hanya ada satu hal yang terus menghantui pikirannya. Sejak semalam, ia sudah mencoba menelepon, mengirim pesan, bahkan menunggu sampai hampir fajar. Namun nomor itu tak pernah aktif. Tak ada balasan. Tak ada kabar. Seolah lelaki itu menghilang dari permukaan bumi. “Apa aku melakukan kesalahan?” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. Air matanya menggenang, tapi Danisha berusaha menahannya. Ia sudah terlalu sering menangis. Ia takut kalau air mata itu tak akan ada habisnya. Namun semakin ditahan, semakin perih rasanya di dada. Ia berdiri, melangkah gontai menuju balkon. Kota terlihat ramai dari lantai dua puluh apartemennya. Orang-orang berjalan, kendaraan lalu lalan
Suasana di ruang kerja Tuan Wilhel terasa mencekam. Lampu gantung kristal berkilau, namun tak mampu menetralkan hawa tegang yang menggantung di udara. Di balik meja kayu besar berwarna gelap, Tuan Wilhem duduk tegak dengan wajah dingin. Jemarinya mengetuk permukaan meja berulang kali, menandakan b
Pagi itu, udara di kantor terasa berbeda. Lorong-lorong yang biasanya ramai dengan obrolan ringan kini dipenuhi dengan bisik-bisik tajam. Nama Danisha menjadi pusat perhatian, seolah seluruh gedung dipenuhi oleh satu kabar yang sama. Danisha berjalan dengan langkah ragu menuju mejanya. Ia bisa me
Langit masih kelabu setelah pemakaman Bian kemarin. Danisha duduk di sofa apartemennya, memeluk bantal dengan wajah yang masih lelah. Tubuhnya terasa ringan tapi hatinya berat—perasaan campur aduk antara kehilangan, kelegaan, sekaligus ketakutan akan masa depan. Sejak pagi, Wihaldy sudah ada di s
Pagi itu udara di rumah besar keluarga Mahendra begitu sejuk. Embun masih menempel di dedaunan taman yang terawat rapi, sementara sinar matahari perlahan menerobos kaca jendela besar ruang makan. Seisi rumah seakan tahu bahwa badai yang sempat mengguncang keluarga itu akhirnya sudah reda. Tuan Wil












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر