FAZER LOGINFünf Jahre Ehe. Fünf Jahre, in denen Élodie alles für Raphaël aufgab – selbst ihre kühnsten beruflichen Träume blieben auf der Strecke. Fünf Jahre, in denen sie auf einen Funken Zuneigung wartete. Doch Raphaël war nie da. Nicht an ihren Jahrestagen. Nicht, wenn er es versprochen hatte. Selbst an ihrem dreißigsten Geburtstag blieb sein Platz leer. Er sei „verhindert“, hieß es kühl. Doch ausgerechnet an diesem Tag stand Raphaël am Flughafen. Er wartete – allerdings auf die einzige Frau, die in seinem Leben jemals eine Rolle gespielt hatte. Für Élodie reichte es nur für ein liebloses Geschenk: eine Handtasche, hastig in irgendeiner Boutique besorgt. Als Élodies Vater schwer erkrankte, kannte Raphaël kein Erbarmen. Statt ihr beizustehen, zwang er sie, einen Klienten zu hofieren. Ein Geschäftsabschluss war ihm wichtiger als ihr Schmerz. In diesem Moment zerbrach etwas in Élodie. Endgültig. Sie zog den Schlussstrich. Die Scheidung. Zwei Jahre vergingen. Élodie hatte sich neu erfunden und war nun eine gefeierte Expertin auf dem internationalen Parkett. Doch dann tauchte Raphaël wieder auf. Er packte sie hart am Handgelenk. „Scheidung?“, hallte sein hämisches Lachen durch den Raum. „Schlag dir das aus dem Kopf.“ „Solange meine Unterschrift nicht darunter steht…“ „…bleibst du meine Frau. Bis dass der Tod uns scheidet.“
Ver mais~Nia~
“Apa kau pikir ada orang yang mau menikah dengan perempuan macam kau ini?!” ucap Namboru* yang memaksaku untuk duduk. “Masih syukur ada orang kaya yang mau kawinkan anaknya sama kau. Ngga usah sombong dengan mukamu itu. Ngga ada gunanya cantik kalau ngga laku.”
“Laki-laki itu sakit, Bou* bilang, aku seharusnya bersyukur?” Aku mendengus tidak percaya. “Aku tidak meminta untuk dinikahkan. Aku sudah bekerja dan hidup mandiri, aku bisa cari suamiku sendiri. Mengapa aku malah dipaksa untuk menikah begini?”
“Heh, aku sudah membesarkan kau, berterima kasih sedikit. Apa kau pikir biaya hidup dan kuliahmu itu ngga mahal?” Dia menekan kedua bahuku saat aku berusaha untuk berdiri. Dia menatapku dengan garang dari cermin yang ada di hadapan kami. “Kalau kau macam-macam dan pernikahan ini batal, aku patahkan kedua kaki kau itu!”
Tidak ada satu sen pun yang dia berikan untukku sejak dia mengambil aku secara paksa dari rumah Ompung** untuk tinggal bersamanya dan keluarganya di rumah ini. Saat itu aku sudah berumur dua puluh tahun, hampir tamat dari kampusku. Aku berjuang sendiri untuk mendapatkan beasiswa agar bisa membiayai kuliahku, sekaligus bekerja untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Enak saja dia bilang aku harus berterima kasih.
“Aku tidak punya utang budi kepada siapa pun, termasuk Bou,” ucapku dengan tegas.
Dia selalu memukul bila aku berani melawan. Tetapi tidak selama beberapa hari ini. Dia tahu bahwa aku harus tampil sempurna pada hari pertunanganku atau keluarga calon tunanganku akan curiga dan bisa jadi akan membatalkan perjanjian di antara mereka. Aku bisa melihat rahangnya menegang karena menahan amarah.
“Mak.” Pintu kamar itu terbuka dan seorang laki-laki muda masuk. “Bapak memanggil. Ada yang mau didiskusikan. Cepat, katanya.”
“Kau tunggu di sini. Penata rias akan datang sebentar lagi.” Perempuan separuh baya itu menatapku tajam untuk terakhir kalinya sebelum keluar dari ruangan dan mengunci pintunya dari luar. Apa dia pikir aku bodoh dan tidak bisa melarikan diri dari kamar ini? Apa gunanya ada jendela kalau tidak bisa digunakan dengan baik?
Aku tidak menemukan alas kaki di mana pun di kamar ini, maka aku mengambil dua buah kaus dari dalam lemari dan mengikatkannya di kakiku. Paku pada jeruji yang membingkai jendela diam-diam telah aku longgarkan selama satu minggu ditahan di kamar ini. Aku membukanya dengan mudah, lalu aku mengayunkan kursi kayu sekuat tenaga untuk memecahkan kaca jendela bergembok itu.
Waktuku tidak banyak, jadi aku segera memanjat bingkai jendela dan melompat ke kebun samping. Keadaan rumah sedang ramai, tetapi tidak bisa meredam bunyi kaca pecah tersebut. Aku tidak terkejut melihat ada yang menangkap basah aku yang sedang beraksi. Aku berlari secepat mungkin menuju pagar samping dan memanjatnya. Meskipun aku sudah terbiasa kabur lewat tembok rendah itu, aku kesulitan untuk mengangkat badanku sendiri karena sekujur tubuhku gemetar.
Seorang pria hampir saja menangkap kakiku. Tetapi aku berhasil naik, jauh dari jangkauannya. Aku belum bisa bernapas lega. Dia mengumpat pelan dan berusaha mengejarku dengan menaiki tembok juga. Aku bergegas melompat turun. Melihat sebuah sepeda motor sudah menunggu, aku segera duduk di jok belakang, memeluk pengemudinya, dan kendaraan itu pun melaju.
Aku tertawa bahagia melihat tidak ada seorang pun yang bisa mengejarku di belakang. Akhirnya, aku bebas juga! Jika mereka menggunakan sepeda motor untuk mengejar, aku sudah tidak ada di depan mata mereka lagi. Sahabatku sengaja memilih jalan secara zig-zag agar tidak ada yang tahu gang mana yang kami lewati.
Jantungku berdebar dengan kencang sambil sesekali melihat ke arah belakang. Dasar orang jahat tidak tahu malu. Hanya karena aku malas berurusan dengan pihak yang berwajib yang tidak akan bisa melindungiku, mereka terus berbuat semena-mena kepadaku. Mereka akan merasakan malu yang luar biasa karena pertunangan hari ini gagal dilangsungkan padahal mereka sudah mengundang banyak orang.
Ishana mengurangi kecepatan sepeda motornya di sebuah taman. Lalu berhenti di belakang sebuah mobil. Seorang pria mendekati kami kemudian memberikan sesuatu kepadanya. Dia melihat ke arah kakiku yang masih memakai kaus oblong. Dia tidak mengatakan apa pun, hanya menerima helmnya kembali dari sahabatku kemudian pergi.
Kami berjalan mendekati mobil. Dua bunyi singkat terdengar, pertanda kunci pintu mobil terbuka secara automatis. Ishana mempersilakan aku masuk ke mobilnya. Aku menoleh sekali lagi ke sekitar kami untuk memastikan bahwa aku sudah aman sebelum membuka pintu. Ada pakaian bersih di atas jok di samping pengemudi, aku mengambilnya, duduk, lalu menutup pintu.
Aku membuka kemeja yang aku pakai, lalu mengenakan dress berwarna hitam tersebut melalui kepalaku. Kemudian aku melepaskan celana panjang yang aku kenakan. Kedua pakaian itu aku masukkan ke sebuah kantong plastik dan aku letakkan di atas tas di jok belakang.
“Aku tidak pernah melihat kerabat sejahat yang kamu miliki,” ucap Ishana sembari berdecak tidak percaya. “Mereka mengambilmu secara paksa dari rumah nenekmu pada hari ibumu dimakamkan, membatasi gerak-gerikmu sampai kamu tamat kuliah, lalu memaksamu menikah dengan laki-laki keterbelakangan mental dengan dalih balas budi?”
“Sudah, tidak usah dibahas. Yang penting aku sudah bebas dari mereka. Biar tahu rasa.” Namboru mendapatkan banyak uang dari rencana pernikahanku dengan laki-laki itu. Orang tuanya ingin anak mereka menikah agar ada yang mengurusnya saat mereka sudah tidak ada nanti. Aku tidak peduli mereka sekaya apa, aku tidak sudi menikah tanpa cinta dengan laki-laki mana pun.
“Maaf, aku butuh waktu yang sangat lama untuk datang menjemputmu. Aku tidak tahu bagaimana menghubungi kamu karena ponselmu mati. Untung saja aku dengar kabar pertunanganmu dengan pria itu hari ini, jadi aku bisa menggunakan orang yang mondar-mandir ke rumah kerabatmu itu untuk mengirim pesan rahasia.” Ishana melirik ke arahku sesaat sebelum kembali menatap ke depan.
“Dan aku sangat berterima kasih, Nana.” Aku menyentuh lengannya. Dia tersenyum. “Aku tahu bahwa kamu akan menemukan cara untuk membebaskan aku.”
“Semua keperluanmu ada di dalam dasbor di depanmu.” Aku membuka lacinya dan menemukan sebuah tas sandang di dalamnya. Ada paspor, dompet dengan berbagai kartu kredit dan debit, tanda pengenal, juga ponsel baru. Aku memeriksa alat komunikasi tersebut. “Itu hadiah dariku.”
“Terima kasih. Punyaku ditahan oleh Bou.” Pasti anaknya sudah memakai semua pulsa yang ada pada kartu SIM lamaku. Untung saja aku menggunakan kartu prabayar. Aku bisa rugi total jika memakai kartu pascabayar.
Aku tersenyum melihat isi galeri pada ponselku. Dia benar-benar sudah mengurus segalanya dengan baik. Tiba di bandara, aku melepas kaus pada kedua kakiku, lalu mengenakan sepatu berhak tinggi berwarna hitam bertali di pergelangan kaki. Aku tersenyum puas melihat tidak ada lecet sedikit pun pada kaki, betis, atau lututku.
Ishana memberikan koperku kepadaku saat aku mengambil tas dari jok belakang. Kedua kaus tadi aku masukkan ke kantong plastik di mana pakaianku tadi berada. Aku menutup pintu, meletakkan tas dan kantong di atas koper, lalu tersenyum kepada sahabatku.
“Kamu yakin ingin melakukan ini?” tanyanya khawatir. Hanya ada satu orang di dunia ini yang peduli kepadaku tanpa syarat. Aku bersyukur mengenalnya sejak kami bekerja di kantor yang sama. Atau lebih tepatnya, aku bekerja untuknya. Dia adalah atasanku.
“Kita sudah sampai di sini, aku tidak akan mundur sekarang, Nana. Terima kasih sudah memberiku dukungan sampai akhir.”
“Aku akan menyelesaikan semua urusanku di tempat ini, lalu menunggumu di tempat janji kita. Kapan pun urusan pribadimu selesai, temui aku di sana. Jangan pernah lupa, aku menunggumu.” Dia memelukku dengan erat. Aku balas memeluknya.
“Aku tidak akan lupa.” Aku melepaskan pelukanku, kemudian berjalan sambil menyeret koperku. Ishana mengelilingi mobilnya dan pergi.
Kantong plastik berisi pakaian itu aku masukkan ke tempat sampah terdekat. Lalu dengan langkah ringan, aku memasuki tempat pemeriksaan untuk memasuki bagian dalam bandara. Aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di kota ini lagi. Kota yang telah merenggut segalanya dariku.
–––
*Sapaan untuk saudara perempuan dari pihak ayah pada suku Batak.
**Sapaan untuk kakek dan nenek pada suku Batak.
Die Stille im Chefbüro der Dubois-Gruppe war mittlerweile beklemmend. Raphaël stand vor der gewaltigen Fensterfront und beobachtete, wie die Hauptadern von Paris in der Dämmerung zu leuchten begannen. Er rückte seine Manschettenknöpfe aus Onyx zurecht – eine mechanische Geste, die eine innere Anspannung verriet, die sein steinernes Gesicht niemals zugeben würde.Ein Blick auf seine Uhr: kurz nach neunzehn Uhr.Ein diskretes Klopfen an der Tür. Marc trat ein, das Tablet fest in der Hand, sichtlich nervöser als gewöhnlich.„Monsieur...“, begann der Sekretär und hielt respektvollen Abstand zum Schreibtisch.„Wo ist sie?“, unterbrach ihn Raphaël, ohne sich umzudrehen. „Monsieur Dunois’ Wagen wartet seit zehn Minuten unten.“Marc schluckte schwer, sein Blick wich Raphaëls Spiegelbild im Fenster aus.„Das ist eben das Problem, Monsieur. Madame Dubois ist... unauffindbar. Sie ist nicht mehr im Krankenhaus. Ihre Mutter behauptet, sie sei weggegangen, um Geld zu besorgen, und nie zurückgekehrt
Élodie presste das Telefon so fest an ihr Ohr, dass das kalte Metall schmerzte.„Léonard? Ich bin’s, Élodie...“Sie stieß sich von der Wand ab, ihr Rücken schmerzte noch immer von der Gewalt der vorangegangenen Szene. Sie wandte sich um und starrte ein letztes Mal auf die geschlossene Tür der Suite.Es war vorbei.Fünf Jahre lang hatte sie versucht, sich in die Form der idealen Ehefrau zu pressen. Fünf Jahre lang war sie bereitwillig sein Schatten gewesen, nur damit er heller strahlen konnte.Und das Ende vom Lied? Sie lag auf den Knien, verschachert wie billige Handelsware, um das Überleben ihres eigenen Vaters zu erkaufen. Mit einer Bitterkeit, die ihr die Kehle zuschnürte, begriff sie: In Raphaëls Augen war sie nie eine Partnerin gewesen, sondern nur ein Aktivposten unter vielen – und zwar einer, dessen Schwäche er zutiefst verachtete.Mit zittrigen Beinen stieg sie wieder hinab in die Empfangshalle der Notaufnahme. Ihre Mutter war noch da, eine kleine, in sich zusammengesunkene Ge
Élodie blieb wie angewurzelt am Boden liegen. Ihre Handflächen pressten sich flach gegen die Fliesen, deren Kälte bis in ihre Brust hochzog.Camille trat vor, eine Kaschmirdecke nachlässig über ihre schmalen Schultern geworfen. Sie trug dieses aufgesetzte Lächeln – eine Maske aus Sanftmut, hinter der sich eine Rasierklinge verbarg. Hinter ihr zeichnete sich Raphaëls massive Silhouette ab, unbeweglich und herrscherlich.„Élodie...“, murmelte Camille mit honigsüßer Stimme und legte Raphaël zögerlich eine Hand auf die Schulter. „Sieh sie dir an. Es ist herzzerreißend. Sie würde alles für dieses Geld tun, sogar so eine Tragödie inszenieren. Aber... weißt du, Raph, vielleicht ist das eine Chance?“Raphaël zog die Stirn kraus. Seine pechschwarzen Augen fixierten seine Frau am Boden, als analysierte er einen besonders irritierenden Systemfehler.„Was meinst du damit?“„Der alte Monsieur Dunois...“, fuhr Camille fort und trat einen Schritt näher an Élodie heran. Ihre Augen bohrten sich mit hä
Dieser Geruch. Es war nicht nur das beißende industrielle Desinfektionsmittel, das die Nebenhöhlen angriff. Es war dieser ranzige Gestank aus Angst und kaltem Metall, der in den Wänden jeder Notaufnahme klebt. Élodie hastete durch die Halle der Pitié-Salpêtrière, der Atem ging flach, ihre Absätze hämmerten wie ein gehetztes Metronom auf den Linoleumfluss. Sie war gekommen, um Raphaël zu finden – ein letzter Überlebensinstinkt nach ihrem Zusammenbruch im Büro. Doch die Realität riss ihr die Beine weg, noch bevor sie den Aufzug zu den VIP-Suiten erreichen konnte.„Élodie!“Der Schrei war heiser, herzzerreißend. Nahe der Anmeldung hievte sich eine Frau von einer orangefarbenen Plastikbank hoch. Es war ihre Mutter. Sie ging nicht, sie stolperte; ihr alter Wollmantel flatterte ungeknöpft um ihre zerbrechliche Gestalt. Als sie ihre Tochter sah, brach sie gegen sie zusammen. Ihre knotigen Hände krallten sich in Élodies Arme, als hätte sie Angst zu ertrinken.„Mama? Aber... was machst du hier





