Der Herzlose playboy

Der Herzlose playboy

last updateDernière mise à jour : 2026-04-04
Langue: Deutsch
goodnovel12goodnovel
Notes insuffisantes
20Chapitres
191Vues
Lire
Ajouter dans ma bibliothèque

Share:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Titel: Der herzlose Playboy Klappentext / Résumé: Hinter der Maske des gnadenlosen Verführers verbirgt Ferdinand Anton eine schreckliche Verletzung. Die Frau, die er einst liebte, hat ihr Kind vor seinen Augen ertränkt und damit für immer seinen Glauben an die Liebe zerstört. Seit diesem Tag lautet seine Devise einfach: Frauen verführen, sie dazu bringen, sich zu verlieben… und sie dann ohne Mitleid fallen zu lassen. Bis zu dem Tag, an dem er Elenie trifft, ein unschuldiges junges Mädchen auf der Suche nach einem Job. Ihre Schönheit erinnert ihn zu sehr an die Frau, die ihn verraten hat, und Ferdinand beschließt, sie zu vernichten. Doch während er versucht, sie zu brechen, beginnt er selbst zu schwanken. Wird Elenie diejenige sein, die es schafft, seine tiefsten Wunden zu heilen? Oder wird Ferdinand für immer bleiben… der herzlose Playboy?

Voir plus

Chapitre 1

Kapitel 1

Sudut Pandang Hannah:

"Selamat, kamu mengandung anak kembar. Suamimu, Rasya, pasti akan sangat terkejut."

Kata-kata Dokter Michael terus bergema di kepalaku.

"Aku nggak percaya. Apa ini benar-benar terjadi? Aku hamil ... anak kembar?"

Pikiranku benar-benar kosong. Aku dan Rasya sudah menikah selama tiga tahun. Kami melakukan segala hal yang kami bisa demi mendapatkan seorang anak. Aku sudah begitu lama memimpikan momen ini. Tak pernah kusangka bahwa suatu hari keajaiban itu akan terjadi. Bukan hanya satu nyawa yang hidup dalam perutku, tetapi dua.

Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, aku menatap keluar jendela sambil membayangkan bagaimana caranya memberi tahu Rasya. Aku sudah bisa membayangkan kerutan di ujung matanya saat dia tersenyum hangat padaku dan bagaimana dia bertingkah malu-malu saat dia tidak mampu menyembunyikan kebahagiaannya. Aku sudah tak sabar melihat ekspresi itu.

Bahkan sopir kami yang sudah lama bekerja bersama keluarga pun menyadari ada yang berbeda dariku.

"Nona Hannah, apa hari ini terjadi sesuatu yang baik? Sejak tadi Nona terus tersenyum sendiri."

"Iya. Sesuatu yang benar-benar indah terjadi. Kurasa ini akan menjadi titik awal perubahan hidupku."

Suamiku, Rasya Harjasa, adalah presdir muda dari Grup Harjasa. Dia memiliki mata yang tajam, hidung yang lurus, dan kepribadian yang penuh percaya diri. Sejak pertama kali melihatnya, aku terpukau oleh betapa sempurnanya dia. Aku telah mencintainya sejak SMA dan dia adalah cinta pertamaku.

Sebagai putri Keluarga Jusman, pernikahanku sejak awal memang ditakdirkan untuk diatur oleh ayah dan kakekku. Pernikahan politik. Aku sudah pasrah saat mengetahui aku akan menikah dengan seseorang yang dipilih demi kepentingan keluarga, bukan karena cinta. Masa depanku pun terasa suram.

Namun, takdir ternyata tidak sepenuhnya kejam.

Ketika Rasya masuk ke ruangan pertemuan sebagai pewaris Keluarga Harjasa, aku begitu terkejut sampai tak mampu berkata apa-apa. Tak pernah kubayangkan cinta pertamaku akan menjadi suamiku. Malam itu, aku diliputi rasa lega dan sukacita, saking bahagianya aku sampai tidak bisa tidur. Begitulah awal cerita kami akhirnya menjadi suami istri.

Tiga tahun telah berlalu. Rasya kini menjabat sebagai presdir dan selalu sibuk, tetapi setiap hari aku merasa bersyukur telah menikahi pria yang selama ini kucintai.

Kehamilan ini sudah kunantikan selama bertahun-tahun. Aku ingin mengatakannya sendiri padanya dan melihat wajahnya berseri-seri.

Aku sempat ingin meneleponnya begitu keluar dari rumah sakit, tetapi aku tahu ini adalah hal yang harus kusampaikan secara langsung.

Begitu tiba di rumah, aku langsung membuat lasagna favorit Rasya dari nol, termasuk sausnya. Koki rumah kami memang hebat, tetapi untuk sesuatu yang sepenting ini, aku ingin memasaknya sendiri. Aku ingin mengejutkannya, hanya kami berdua.

Aku membayangkan ekspresi apa yang akan dia buat dan apa yang akan dia katakan.

Sambil menunggu saus mendidih, aku membayangkan senyumnya dan membayangkan kehidupan yang akan segera kami jalani sebagai keluarga yang beranggotakan empat orang. Aku mengiriminya pesan, menanyakan jam berapa dia pulang agar lasagna-nya masih hangat, tetapi dia tak pernah membalas.

Aku akhirnya tertidur di sofa. Ketika suara mesin mobil membangunkanku, waktu sudah lewat pukul sepuluh malam.

Aku buru-buru menuju pintu masuk untuk menyambutnya.

"Sayang."

"Aku pulang."

"Kamu kelihatan capek. Kamu nggak apa-apa?"

"Iya. Aku perlu bicara denganmu. Sekarang waktu yang tepat nggak?"

Suaranya terdengar lebih berat dan lebih dingin dari biasanya. Dia tampak lelah, tetapi bahkan dalam kelelahan itu, dia tetap memancarkan aura maskulin yang selalu membuat jantungku berdebar.

Bahkan setelah tiga tahun, menatap matanya masih menimbulkan kehangatan di dadaku.

Berusaha untuk tidak terlalu memikirkan bayangan kelam di raut wajahnya, aku mengikutinya ke ruang tamu.

Mungkin dia hanya kelelahan karena bekerja. Begitu dia tahu soal kehamilan ini, mungkin semuanya akan kembali cerah.

"Kamu mau makan dulu? Malam ini aku buat lasagna favoritmu karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan."

"Jadi begini caramu menjilatku sekarang?"

"Apa?"

Untuk sesaat, aku bertanya-tanya apakah aku salah dengar. Rasya bukan tipe orang yang mengatakan hal seperti itu. Dia selalu tenang, tajam, dan penuh kendali. Dia tak pernah berbicara dengan cara yang membuatku, atau siapa pun, merasa tidak nyaman. Aku tak percaya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

"Rasya, apa terjadi sesuatu di kantor? Ada yang nggak beres? Kamu capek? Kalau ada yang bisa aku lakukan ...."

Aku berlutut di samping sofa dan meraih tangannya, tetapi dia langsung menarik tangannya dengan ekspresi jengkel yang belum pernah kulihat sebelumnya.

"Jangan sentuh aku. Sudah, lupakan saja. Ini. Aku perlu kamu menandatangani ini."

Setelah mengembuskan napas panjang dan berat, dia merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah amplop putih polos.

Aku tidak tahu apa isinya, tetapi begitu melihat judul dokumen di dalamnya, pikiranku langsung kosong.

Apa ini?

"Surat Perjanjian Perceraian."

Itulah kata-kata yang tertulis pada lembaran kertas yang dia sodorkan kepadaku.
Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Latest chapter

Plus de chapitres
Pas de commentaire
20
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status