تسجيل الدخولNiat hati ingin menyusul tunangannya, Melinda dikejutkan dengan hal yang tak terduga. Sang tunangan-Bimantara terjatuh dari lantai tujuh tepat di depannya dan dinyatakan meninggal. Gerald Abiyasa selaku Sekretaris Athena Holding yang memberi tugas pun bertanggung jawab dengan membiayai prosesi pemakaman dan biaya rumah sakit. Demi kepentingan pribadi, Gerald menjadikan Melinda istri kedua lewat pernikahan kontrak dengan izin istri pertamanya, Naura Sabela. Naura yang terlihat baik, diam-diam menyusun rencana untuk menghancurkan sekaligus memanfaatkan Melinda. Namun, kebenaran tentang kematian Bima yang mulai terungkap, membuat kehidupan ketiganya menjadi kacau. Bagaimanakah nasib Melinda setelah menjadi ‘orang ketiga’ dalam kehidupan Naura dan Gerald? Serta, ada rahasia apa di balik jatuhnya Bima hingga membuat Melinda terpaksa menjadi istri kedua?
عرض المزيدLampu bulat di atas pintu berubah warna dari merah ke hijau, tanda operasi telah selesai dan berjalan lancar seperti yang diharapkan. Henry melangkah ke luar ruangan, tepat saat ia membuka pintu mata-mata sendu penuh harap itu langsung tertuju kepadanya. Mereka tidak berbicara tetapi Henry paham sekali apa yang mereka ingin dengar.
"Operasinya berjalan lancar. Trent akan dikembalikan ke ruang rawat inap sesegera mungkin, dan karena dosis obat bius yang kami berikan cukup tinggi, memerlukan waktu untuk Trent siuman. Saya harap Anda sekeluarga dapat menunggu dengan sabar." Henry menjelaskan dengan nada lembut.
Keluarga Trent berbarengan menghela napas panjang. Wajah mereka tampak lebih tenang dari sebelumnya. Setelah itu, mereka semua berterima kasih pada Henry dengan mata yang berkaca-kaca. Sudah hampir 4 tahun sejak ia mengawali kariernya sebagai seorang dokter bedah namun tak pernah sekalipun ia merasa bosan melihat mata-mata tersebut, ada kehangatan tersendiri ketika menyaksikannya. Henry tersenyum di balik masker yang digunakannya.
"Terima kasih banyak, Dokter Littlejohn."
Ucapan tersebut terlontar dari mulut Ibunya Trent. Henry balas dengan anggukan.
Henry mempersilakan kedua orang tua Trent untuk masuk lebih dulu ke dalam ruang operasi dan melihat keadaan anak mereka. Mereka menyapa Trent dengan senyum lebar meskipun Trent masih belum sadarkan diri.
"Kau sudah bekerja keras, Littlejohn."
Henry terkejut mendapati seniornya yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Eh, Dokter Heath. Terima kasih, kau juga sudah bekerja keras," ucap Henry cengengesan.
"Dokter Littlejohn! Dokter Theodore memintamu untuk menemuinya di kantornya," kata salah satu rekannya yang lain.
"Pergilah, biar aku yang mengurus sisanya," sela Heath cepat.
Henry berterima kasih pada rekan kerja sekaligus seniornya itu sebelum akhirnya pergi menuju kantor Dr. Theodore, ketua mereka. Di sepanjang lorong rumah sakit, Henry terus memikirkan apa yang mungkin ketuanya itu katakan kepadanya, apakah ia akan kena tegur? Ataukah lebih dari itu? Entahlah....
----
"Kenapa tidak mau cuti?"
Henry terdiam kebingungan. Harus dijawab apa pertanyaan tersebut? Bagaimana jika ia benar-benar menjawab 'tidak ingin mengambil cuti karena tidak ada hal apa pun yang menarik untuk dilakukan selain bekerja di rumah sakit'? Kemungkinan besar ia akan mempermalukan dirinya sendiri dan Dr. Theodore akan menganggapnya aneh sehingga menginginkan dirinya untuk cuti lebih lama.
"Dr. Littlejohn?"
Panggilan tersebut membawa kembali kesadarannya.
"Dr. Littlejohn, kau tidak pernah mengambil jatah cutimu sejak pertama kali bekerja di rumah sakit ini. Apa kau tidak ingin berlibur atau pulang ke kampung halamanmu?" tanya Dr. Theodore.
Kenapa Dr. Theodore seperti sedang berusaha mengusirnya dari rumah sakit? Henry lagi-lagi membatin.
"Atau berlakon menjadi seorang detektif lagi," lanjutnya.
Otomatis matanya menatap lurus pada Dr. Theodore. Ia hampir melupakan pekerjaan sampingannya itu akhir-akhir ini sebab daftar pasiennya yang membludak. Henry menggaris bawahi satu kata dari kalimat tersebut dan mencari tahu apa motif Dr. Theodore mengatakannya.
"Baiklah, akan kuambil jatah cutiku setelah pasienku sembuh."
Dr. Theodore tersenyum. Tapi sejujurnya Henry sedikit meragukan senyuman tersebut yang lebih terlihat seperti sebuah seringai.
----
Di pagi hari Henry memutuskan untuk mengunjungi kamar rawat inap pasiennya sebelum anak itu pulang.
Trent, anak lelaki berusia 10 tahun itu menderita usus buntu yang cukup parah. Namun, kini kondisi Trent sudah baik-baik saja, bahkan dari wajahnya anak itu terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Kamar itu sepi, hanya terdengar suara pembawa berita dari televisi yang disetel tapi tidak ditonton, lalu ada Trent yang tengah membaca buku di atas ranjang seorang diri. Perlengkapannya sudah berjajar dan tertata rapi di sofa. Trent langsung melongok ke arahnya begitu Henry menutup pintu.
"Hai, Trent. Kenapa kau sendirian?" sapa Henry.
"Orangtuaku sedang sibuk mengurusi kepulanganku," jawab Trent datar. Setelah itu matanya dialihkan lagi pada tulisan di lembaran-lembaran kertas.
Henry duduk di kursi kosong yang terletak di sebelah ranjang Trent, "Kau suka cerita teka-teki ya?"
Trent mengangguk, matanya berbinar-binar. Bibir Henry tertarik ke atas, sepertinya Trent sangat menyukai topik ini.
"Aku suka cerita tentang detektif. Besar nanti aku sangat ingin menjadi detektif keren seperti Sherlock Holmes dan mengungkap semua misteri. Seperti yang ada di berita itu contohnya," ucap Trent dengan nada tenangnya.
Henry lantas menolehkan kepala pada televisi. Di sana, disiarkan berita seorang mahasiswi yang ditemukan tak bernyawa di salah satu kampus ternama di Westminster. Berita itu juga mengabarkan kalau mahasiswi tersebut meninggal karena bunuh diri dengan cara gantung diri. Henry memperhatikan dengan saksama TKP yang disiarkan oleh awak media. Mereka tidak bisa menyimpulkannya begitu saja, pikir Henry.
Telepon genggamnya berdering, tertera nomor aparat kepolisian di layar kaca, langsung saja Henry mengangkatnya.
"Halo?"
"Mr. Littlejohn kami membutuhkanmu di sini!"
Henry mengerutkan kening mendengar penjelas dari sang lawan bicara. "Aku segera ke sana."
Ia mematikan sambungan teleponnya dan berpaling pada Trent yang entah sudah berapa lama menatapnya tanpa berbicara sedikit pun.
"Trent, aku yakin kau akan menjadi seorang detektif hebat suatu hari nanti." Henry berkata sambil menepuk-nepuk bahu Trent. Ketika hendak melangkah suara Trent menghentikan pergerakannya.
"Dokter Henry! Di masa depan, aku akan menjadi detektif hebat, sepertimu."
Henry menyembunyikan rasa keterkejutannya setelah mendengar ucapan Trent namun senyumannya tidak dapat disembunyikan. "Aku akan menunggu itu terjadi," balas Henry sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
Tepat di depan lobby, mobil polisi telah tiba. Seseorang dengan seragam polisi menunggunya di dalam. Tanpa ragu Henry memasuki mobil tersebut.
"Selamat datang kembali, Mr. Littlejohn."
Jika hidupnya adalah sebuah buku, apa yang dilakukannya selama ini hanyalah kata pengantar. Henry belum sampai bahkan pada prolog sekalipun. Jadi sekarang, yang harus ia lakukan adalah: membuka lembaran selanjutnya dan memulai cerita.
Melinda dan Gerald berdiri menatap Lily Hotel di depannya yang sudah beroperasi beberapa bulan terakhir. Hotel baru yang langsung menjadi pusat perhatian dan populer di berbagai kalangan. Keduanya melangkah sambil memasuki tempat itu dengan senyuman. Para karyawan kompak menyambut kedatangan mereka yang sudah dikabari sejak beberapa hari lalu. Setelah pernikahan ulang dilaksanakan, Melinda dan sang suami semakin mesra. Ke mana-mana selalu bersama. Kali ini mereka datang untuk menikmati fasilitas hotel yang ada. Layaknya pasangan muda-mudi yang bulan madu. “Pokoknya aku mau lima ronde!” kata Gerald, memasuki salah satu kamar VVIP. “Ingat umur, Mas! Mana bisa tenagamu mengimbangiku?” ledek Melinda, menutup pintu dan menguncinya. “Jangan remehkan aku. Sebelum ke sini, Mama Zaskia sudah membuatkan aku jamu kuat. Dia bilang, aku akan sanggup sampai lima ronde sekali pun!” Geral
“Mama?” Baru saja kata itu terucap, seorang wanita mengeluarkan pistol dari dalam tas, lalu mengarahkannya kepada mereka. Melinda menganga, terkejut melihat kehadiran Zaskia tiba-tiba. “Kau pikir aku akan diam saja? Aku akan menuntut balas. Aku tak bisa datang saat kematian Naura, tapi aku datang saat kematian kalian.” Zaskia mengarahkan pistol kepada Gerald. Segera Melinda berdiri di depannya, menghalangi. “Sebelum kau membunuhnya, bunuh aku lebih dulu. Aku tak bisa hidup tanpa suamiku,” ujar Melinda. “Tidak! Bunuh aku saja. Mama pasti marah dan benci karena aku memilih Melinda, kan? Kalau begitu, bunuh saja aku, jangan dia.” Gerald mendorong Melinda ke samping. Berganti menjadi pelindung bagi sang istri. Melinda menggeleng. Digenggamnya tangan sang suami. Jika harus mati, maka dia lebih memilih mati bersama daripada harus kehilangan.
Pagi yang sepi. Ditemani semilir angin dan dedaunan yang berguguran. Hujan baru saja reda saat pemakaman Naura dilangsungkan. Melinda, Gerald, Jiddan, serta lainnya menyempatkan diri untuk datang. Menyaksikan bagaimana tubuh fana itu mulai ditutupi tanah yang lumayan berlumpur. Kabar kematiannya yang benar-benar mengenaskan baru terdengar menjelang pagi. Polisi mengatakan kematiannya karena bunuh diri. Overdosis obat penghilang cemas. Tubuhnya yang lemah, tak mampu menahan. “Seminggu lagi dia akan dieksekusi mati, tapi ternyata memilih mengakhiri hidup.” Begitulah yang Gerald dengar dari polisi yang datang untuk mengabari. “Kami menemukan surat di dalam kantong celananya. Mungkin Tuan berkenan menerimanya.” Polisi menyerahkan selembar kertas yang dilipat pada Gerald yang terkejut dengan kabar buruk itu. Tangannya bergetar saat menerima surat itu. "Di
“Di mana otakmu, hah? Kau ingin membakar anak kecil demi memuaskan egomu? Kau benar-benar sudah tidak waras!” Gerald merasa dadanya mulai bergetar, saking amarahnya tak bisa dibendung. “Aku tak peduli! Biar dia mati sekalian. Kalau dia mati, kau akan menderita bersama wanita itu. Aku akan tertawa sepuas hati,” jawab Naura, tersenyum lebar. Dilihatnya Melinda mengusap wajah Lily yang basah karena bensin. Rasanya Naura sudah gelap mata. Dia ingin hari ini juga, ada yang mati di antara mereka. Siapa pun itu, pokoknya hanya ada satu yang bisa tenang, dan itu adalah dirinya. “Kau sangat mencintai mereka, kan? Itulah kenapa kau menceraikan aku,” kata Naura, perlahan melangkah ke samping, di mana korek api yang terlempar tadi berada di rumput. “Itu semua karena kesalahanmu! Kau serakah! Kau egois! Kau penjahat yang hanya bisa menghancurkan hidup orang lain!” kecam Gerald, menunjuk wajah Naura. Tak jauh darinya,
Melinda memasuki rumah bersama yang lain sepulang dari dokter kandungan. Bayi dalam kandungannya dinyatakan perempuan. “Kau pasti ingin anak laki-laki sebagai penerusmu, kan?” tanya Melinda, mengerucutkan bibirnya. Merasa tak enak hati karena ternyata dia hamil anak perempuan.
Melinda tengah berjalan bersama Sasa. Malam belum larut saat ia memilih menenangkan pikiran dengan menelusuri jalanan bersama sang sahabat. “Kau baik-baik saja?” tanya Sasa. “Hm.” Melinda memeluk tubuh. Merasakan hawa dingin yang mulai menjalari tulang.
Kenan dan Baskoro mendatangi Athena Holding. Keduanya ingin membicarakan proposal penelitian komputer terbaru yang Haedar sempat singgung saat pesta. Diperiksanya berkas yang Haedar berikan. Kenan dan Baskoro kompak saling mengangguk. Menurutnya, rencana jangka panjang yang disedi
“Katakan padaku, bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa kau bisa membiarkan suamimu menikah lagi? Kau juga! Di mana otakmu sampai kau berani menduakan Anakku!” Mamanya Naura melampiaskan amarah. Mondar-mandir di depan Gerald, Naura, juga Melinda yang tertunduk. Kedatangan tiba-t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعات