공유

Dijual Teman Dibeli Sultan
Dijual Teman Dibeli Sultan
작가: Queen Sando

Bagian ke-1

작가: Queen Sando
last update 게시일: 2025-07-02 14:57:38

"Pokoknya aku nggak mau tau, satu minggu lagi aku datang kesini, uangnya harus ada, kalo kau masih belum juga menyiapkan uang itu, maka kau dan anakmu harus angkat kaki dari rumah ini!" suara seorang pria paruh baya terdengar menggelegar memenuhi seisi ruangan yang sempit.

"Ta-pi juragan, itu, itu terlalu sempit waktunya.." keluh wanita tua yang duduk bersimpuh di lantai semen yang dingin dan senyap.

"Itu bukan urusanku Juriah! kau harusnya berterima kasih padaku karena aku masih berbaik hati memberimu tambahan waktu, pokok ya aku nggak mau tau, satu minggu lagi waktu yang kau punya! jika kau dan anakmu masih ingin tinggal di rumah ini, maka cepat siapkan uangnya!" pungkas pria bertubuh gempal dengan kumis tebal yang melingkar di aras bibirnya yang kehitaman akibat terlalu sering merokok.

Wanita tua itu tak bisa lagi berkata-kata, ia hanya bisa pasrah sambil berusaha sekuat tenaga agar tak menangis dihadapan pria itu.

"Ayo kita pergi! dasar orang miskin nggak tau diri, udah dibantu bukannya terima kasih malah ngelunjak!" umpat pria itu sambil membuang puntung rokoknya begitu saja dan memberi isyarat pada tiga orang pria yang mengawal dirinya agar segera meninggalkan tempat itu. Sedang si wanita akhirnya tangisnya pecah juga paska kepergian pria tadi.

-----------

"Bu?! Ibu dimana?!" tampak seorang gadis muda berteriak memanggil sang ibu. Ia terlihat begiti cemas. gadis itu terus merangsek masuk lebih jauh kedalam rumah sederhana yang terlihat sepi itu.

"Bu?!" Langkah si gadis terhenti di sebuah ruang sempit dengan sebuah meja kayu dan empat buat kursi plastik yang usang, nampaknya itu ruang makan, disitu ada seorang wanita paruh baya sedang duduk dengan wajah sayu dan mata yang mengembun.

Gadis itu segera menghambur kearah wanita tua itu.

"Bu?! Ibu nggak apa-apa?! Apa yang terjadi?!" Tanya si gadis panik, sambil mengelus tangan wanita itu yang tergeletak begitu saja di atas pangkuannya.

Wanita tua itu memalingkan wajahnya pada si gadis, kedua matanya yang tua nampak menggambarkan betapa saat ini ia sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat.

"Apa juragan Sarmo datang lagi?" Tanya si gadis yang seperti tahu apa yang membuat wanita yang adalah ibunya itu dilanda kegelisahan.

Wanita itu tak menjawab, tapi dari sorot matanya seolah ia membenarkan pertanyaan si gadis yang adalah anaknya.

"Apa katanya?" Gadis itu, Widuri, bertanya lagi dengan perasaan yang campur aduk.

"Masih sama Wid, masih tanya tentang sisa hutang itu.." jawab wanita itu lemah.

Widuri tertegun, ia hanya bisa menelan saliva yang begitu getir segetir nasib hidupnya. Hidup Widuri yang porak-poranda setelah sang ayah divonis menderita liver bengkak lima tahun yang lalu. Saat itu Widuri masih duduk di bangku SMP. Dan setelah sang ayah jatuh sakit, otomatis posisi mencari nafkah digantikan oleh sang ibu. Sebagai wanita, Juriah, ibunya Widuri, tentu tak bisa bekerja keras selayaknya seorang pria. Ladang untuk mencari rezeki bagi kaum wanita di kampung Widuri juga terbatas. Mereka hanya bisa bekerja serabutan di kebun-kebun kopi milik warga yang kaya dengan upah yang tak seberapa. Kehidupan ekonomi warga di kampung Widuri bisa dibilang masih banyak yang berada di kelas menengah ke bawah. Bahkan banyak dari warga di situ yang yang tak memiliki lahan perkebunan sendiri. Mereka menggarap kebun milik orang lain dengan sistem bagi hasil, yang tentu saja hasil yang lebih banyak adalah bagian dari si empunya lahan.

Sebagian warga yang tak mampu untuk membuka lahan perkebunan, memilih untuk mengadu nasib di kota dengan harapan mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak ketimbang kehidupan di kampung Sidarejo.

"Ibu bingung Wid, apa lagi yang harus dijual untuk melunasi hutang itu" Juriah mengeluh, suaranya yang berat menandakan betapa lelahnya ia menanggung beban berat itu, sedang pandanganya ia edarkan ke segenap ruangan, seolah sedang mencari sesuatu yang berharga. Tapi tidak, di dalam rumah itu sudah tak ada lagi benda yang bisa dijual. Semua sudah habis, dan hanya menyisakan barang-barang yang lebih pantas disebut sebagai rongsokan.

Widuri diam, ia tahu berapa saat ini sang ibu merasa begitu gelisah. Hutang pada rentenir kampung, juragan Sarmo masih banyak, sekitar delapan juta lagi. Hutang itu adalah hutang yang digunakan untuk biaya berobat sang ayah selama ia sakit, lima tahun lamanya. Hampir semua harta benda yang keluarga itu miliki sudah berpindah tangan.

Mulai dari motor tua milik sang ayah, sebidang kecil kebun kopi warisan dari orang tua ibu Widuri, isi rumah, seperti televisi, kursi tamu, lemari, bahkan beberapa pakaian milik Juriah yang masih layak pakai , semuanya sudah ia lelang demi bisa menutupi biaya berobat sang suami yang pada akhirnya harus perpulang beberapa bulan yang lalu.

Dan kini yang tersisa tinggalah sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat berlindung ibu dan anak itu, itupun statusnya sudah tergadai pada juragan Sarmo, sebesar sepuluh juta, dan baru diangsur dua juta saja. Widuri yang bekerja sebagai buruh cuci piring di sebuah kedai yang ada di pusat kampung, menyicil hutang itu dengan upahnya bekerja setiap Minggu.

"Apa ibu jual saja cincin ini ya?" Ujar Juriah sambil mengelus sebuah cincin emas yang melingkar erat di jari manis tangan kanannya itu.

Mata Widuri mengikuti gerakan tangan sang ibu membelai cincin itu dengan tatapan nanar.

Itu cincin kawin ibu dan ayah Widuri, itu adalah satu-satunya benda bersejarah yang menjadi saksi bisu kisah cinta keduanya.

"Jangan Bu! Itu satu-satunya kenangan dari bapak!" Tolak Widuri sambil menggenggam tangan sang ibu erat, seolah ia sedang berusaha menghalangi cincin itu terlepas dari jari manis sang ibu.

"Lagipula itu juga tak akan cukup untuk melunasi hutang pada juragan Sarmo " ujarnya lagi.

"Iya, ibu tau, kita mungkin bisa tambahi dengan menjual barang yang lain" Juriah tampak sedikit bersemangat.

"Barang lain? Apa Bu?!" Widuri bingung, seingatnya tak ada lagi barang berharga di rumahnya, semua sudah habis terjual beberapa tahun yang lalu.

"Tempat tidur di kamar ibu , dan juga lemari bajunya" ucap Juriah.

"Apa?!" Widuri kaget mendengar ucapan sang ibu, ia geleng-geleng kepala.

"Nggak Bu! Itu tempat tidur Ibu. Kalo ranjang itu dijual, lalu bagaimana ibu tidur?!" Protes Widuri, itu bukan tanpa alasan, sebab tempat tidur di rumah itu hanya tinggal satu, yaitu yang ada di kamar sang ibu. Sedang tempat tidur di kamarnya sudah terjual paska sang ayah wafat. Mereka menjual tempat tidur Widuri saat itu untuk membayar ongkos ambulan, karena sang ayah meninggal di rumah sakit yang ada di kota kecamatan yang jaraknya cukup jauh dari rumah mereka.

"Nggak apa Wid, ibu bisa tidur pakai tikar di lantai" ucap Juriah, ia berusaha membuat sang anak tenang.

"Nggak Bu! Pokoknya ibu nggak boleh jual ranjang itu!" Tolak Widuri.

"Ya terus gimana dengan juragan Sarmo, dia bilang dia akan datang seminggu lagi, terus gimana kalo kita belum juga bisa melunasi hutang itu Wid?!" Suara Juriah parau seiring dengan matanya yang mulai basah. Hati perempuan paruh baya itu remuk seremuk- remuknya, ia putus asa, tak tahu lagi harus bagaimana menyelesaikan masalah yang rumit ini. Tak ada tempat meminta tolong atau sekedar berkeluh kesah, semua ia tanggung sendiri dan hanya berbagi dengan Widuri yang masih berumur sembilan belas tahun itu.

Widuri merengkuh sang ibu, didekapnya erat tubuh kurus itu. Mereka berdua larut dalam nestapa yang begitu menyayat tanpa tahu akan seperti apa nantinya takdir yang kini sedang menimpa.

"Ibu nggak usah cemas, Wid janji, Wid pasti akan cari uang untuk bayar hutang ke juragan Sarmo!" ucapan Widuri penuh keyakinan, meski di dalam hati ia tak pernah tahu apakah kalimat yang ia ucapkan adalah suatu kebenaran, atau hanya bualan semata sebagai penghiburan hati yang sedang nelangsa.

###

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian ke-36

    "Hei! mana gadis tadi?!" tanya Zeka dengan nada suara tinggi, tatapan yang tajam dan raut wajah yang dingin. "Maaf tuan, dia bersama nyonya besar" jawab seorang wanita paruh baya yang sedang merapikan meja makan. "Kemana mereka?" "Saya tidak tau tuan, tapi tadi setelah sarapan nyonya turun ke lantai bawah" ucap si wanita dengan kepala tertunduk tak berani untuk menatap Zeka. "Pufff!" Zeka membuang nafas, terlihat kecewa dia dan membuat si wanita menjadi serba meski sebenarnya itu tak ada kolerasinya dengan dirinya. Dengan terburu-buru Zeka bergegas turun ke lantai bawah. "Kakkkk!!!???!!!!" teriak Zeka dengan suara lantang yang menggema di ruangan luas yang merupakan ruang tamu itu, dua orang pegawai yang sedang bersih-bersih seketika menghentikan pekerjaannya dan berdiri dengan sikap tegap. "Hei! apa kalian melihat nyonya?!" tanya Zeka pada dua orang itu. "Ta-di nyonya besar keluar" jawab salah satu dari mereka dengan suara yang hati-hati takut salah. "Apa dia bersam

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian ke-35

    "Nona, ayo perkenalkan dirimu pada nyonya besar!" pinta si wanita berseragam. Widuri tampak takut dan malu. "Ayo!" desak si wanita. Widuri maju perlahan, kini posisinya sejajar dengan wanita berseragam yang tadi membawa dirinya ke tempat itu. "Sa-ya..." suara Widuri terdengar lirih dan terbata. "Dia hendak melamar pekerjaan disini!" celetuk pria yang duduk di hadapan si wanita. Wanita itu langsung melihat pada si pria yang tetap tenang dan asyik menikmati makanannya. Begitu juga Widuri, ia sama tersentak nya dengan wanita itu hanya saja ekspresinya jelas berbeda dengan wanita itu. Jika wanita itu langsung menatap aneh pada si pria secara langsung, Widuri hanya berani menggerutu tak jelas di dalam hati dengan kepala yang masih tertunduk, takut dan malu. "Oh, begitu rupanya, jadi, siapa namamu?" tanya si wanita lagi yang kini kembali mengalihkan tatapan pada Widuri yang masih tetap membenamkan wajahnya. "E..." "Aku menolaknya!" serobot si pria, entah mengapa ia seolah

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-34

    Sepeninggal pria itu, Widuri masih duduk di atas tempat tidur dengan tubuh yang belum jua kembali terbalut pakaian sepenuhnya. Ia masih terguncang dengan peristiwa tak terduga yang baru saja terjadi. Seperti mimpi, ia terbangun dari tidur dengan perasaan bingung dan berharap semua yang sempat terjadi itu sungguh hangat sebuah ilusi. Bagaimana bisa ia dengan sengaja memamerkan tubuhnya di hadapan pria asing dan tanpa sedikitpun rasa malu, ia secara terang-terangan rela menukar tubuh polosnya itu dengan sejumlah uang. "Krekk!" pintu berderit pelan, Widuri gugup, ia yang belum sempat mengenakan kembali pakaiannya buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang nyaris bug*l itu, kedua matanya menyorot tajam ke arah pintu, memastikan siapa yang datang. "Maaf nona, sebaiknya nona segera bersiap" seorang wanita berseragam yang datang. "Pufff!" Widuri membuang nafas, agak lega, sebab semula ia pikir jika itu adalah pria tadi. Selesai bicara, wanita berseragam itu bergegas pergi

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-33

    "Tuan, saya rela melakukan apapun, ya, apapun asal anda mau membantu saya" ujar Widuri tiba-tiba sambil beranjak menuju ke tempat tidur, pikirnya semua pria di kota itu sama, sebab dari dua pria yang ia temui sebelumnya, mereka semua menginginkan hal yang sama dari Widuri. Dan mungkin saja pria yang ini juga demikian. Widuri sudah tak perduli pada apapun saat ini, bahkan satu-satunya harta yang ia miliki juga akan ia berikan pada pria itu yang penting ia bisa segera mendapatkan uang demi membayar hutang pada juragan Sarmo. Waktu Widuri tak banyak saat ini. Widuri duduk di atas tempat tidur dengan posisi tubuh yang ia atur sedemikian rupa agar terlihat sensual, dan seolah benar-benar sedang berpacu dengan waktu, gadis itu mulai menurunkan secara perlahan bagian atas dari bajunya yang kusut itu. Pemandangan yang cukup miris, beberapa waktu yang lalu ia mati-matian mempertahankan mahkota yang hanya akan ia serahkan suatu hari nanti pada pria yang benar-benar ia cintai, tapi kini tidak

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-32

    Widuri tertegun, saat pria itu melangkah perlahan, seketika ia kembali teringat akan satu hal penting, ibunya. Wanita tua nan malang itu tak tahu seperti apa kini nasibnya. Seumur hidup tak pernah barang sedetikpun mereka berpisah apalagi tanpa ada kabar dan juga kejelasan. Bahkan disaat-saat yang paling sulit paska meninggalnya sang ayah, Widuri tetap setia berada di samping sang ibu, memberikan dukungan luar biasa agar wanita itu tetap mau berjuang agar tetap hidup, meski dengan segala keterbatasan. Dan kini, sudah beberapa hari, jangankan uang delapan juta, kabar lun tak kunjung Widuri berikan pada ibunya yang entah apa masih sehat atau justru sudah terbaring sakit akibat tak sanggup menahan rasa takut dan sedih yang teramat karena tak kunjung mendapat kabar tentang sang anak. Dan juragan Sarmo, tinggal menghitung hari, pria arogan itu akan datang untuk menyita rumah milik orang tua Widuri, Widuri tak sanggup membayangkan ketakutan yang akan menyerang sang ibu, seorang diri mengh

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-31

    Wanita itu tak menjawab pertanyaan Widuri, ia sekali lagi hanya tersenyum dan kemudian berpamitan pergi, meninggalkan Widuri yang takut dan bingung bukan main. Widuri celingukan, ia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian yang terakhir kali sebelum pada akhirnya ia berada di tempat asing itu. "Aku semalam ada di mobil bersama pria aneh itu, dan sekarang aku ada disini...apa jangan-jangan pria itu.." "Ya Tuhan, apa ini terjadi lagi padaku?" Widuri bergidik, takut, sepertinya kali ini hidupnya benar-benar akan hancur. Pria itu ternyata tak jauh beda dengan beberapa manusia yang ia temui di kota ini, semuanya tak ada yang baik, mereka semua jahat dan menginginkan kesengsaraan pada diri Widuri. Widuri terduduk lemas di lantai yang terasa sangat dingin, air mata yang hangat mulai menetes membasahi wajahnya yang lelah itu. Hidupnya sudah berakhir, begitulah ia menyimpulkan apa yang terjadi saat ini, tak akan ada harapan untuk bisa kembali pulang ke kampung halaman bertemu dengan sa

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-30

    "Ke-napa kau batalkan tuan?!" protes Widuri saat mereka berjalan keluar motel. Diluar hujan kian deras. Zeka tak menjawab, ia mempercepat langkahnya, hawa dingin yang menusuk membuat pria tampan itu disergap rasa dingin yang luar biasa. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil. Widuri mematung, masih

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-26

    "Apa yang kau inginkan?!" tanya Zeka, ia masih berdiri menghadap pintu yang hanya tinggal sejengkal Saha jaraknya dari tempat ia berada. "Tap! tap! tap!" langkah kaki yang dialasi sandal kulit bermerek terdengar mendekat dengan ketukan irama yang teratur namun terdengar jengah. "puffff!!" hembusa

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-25

    "Tuan tolong saya!" Widuri menangkupkan tangannya, memohon belas kasihan Zeka, orang asing yang sama sekali tak ia kenal. "Hei jalang! kau pikir dengan siapa kau sedang bicara, hah?! apa kau pikir dia akan sudi mendengar perkataan konyol mu itu?! sudahlah, kau lebih baik diam! setelah urusan kita

  • Dijual Teman Dibeli Sultan   Bagian Ke-24

    "Sial!" umpat Zeka, tak ada yang bisa ia lakukan lagi. Willi yang licik itu selalu menggunakan Stela sebagai katu As untuk membuat Zeka tak berkutik hingga akan selalu menuruti kemauannya.Zeka diam, dengan raut wajah marah yang tertahan, ia memutar badannya, menghadap ke arah pintu, sepertinya hen

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status