LOGIN
"Pokoknya aku nggak mau tau, satu minggu lagi aku datang kesini, uangnya harus ada, kalo kau masih belum juga menyiapkan uang itu, maka kau dan anakmu harus angkat kaki dari rumah ini!" suara seorang pria paruh baya terdengar menggelegar memenuhi seisi ruangan yang sempit.
"Ta-pi juragan, itu, itu terlalu sempit waktunya.." keluh wanita tua yang duduk bersimpuh di lantai semen yang dingin dan senyap. "Itu bukan urusanku Juriah! kau harusnya berterima kasih padaku karena aku masih berbaik hati memberimu tambahan waktu, pokok ya aku nggak mau tau, satu minggu lagi waktu yang kau punya! jika kau dan anakmu masih ingin tinggal di rumah ini, maka cepat siapkan uangnya!" pungkas pria bertubuh gempal dengan kumis tebal yang melingkar di aras bibirnya yang kehitaman akibat terlalu sering merokok. Wanita tua itu tak bisa lagi berkata-kata, ia hanya bisa pasrah sambil berusaha sekuat tenaga agar tak menangis dihadapan pria itu. "Ayo kita pergi! dasar orang miskin nggak tau diri, udah dibantu bukannya terima kasih malah ngelunjak!" umpat pria itu sambil membuang puntung rokoknya begitu saja dan memberi isyarat pada tiga orang pria yang mengawal dirinya agar segera meninggalkan tempat itu. Sedang si wanita akhirnya tangisnya pecah juga paska kepergian pria tadi. ----------- "Bu?! Ibu dimana?!" tampak seorang gadis muda berteriak memanggil sang ibu. Ia terlihat begiti cemas. gadis itu terus merangsek masuk lebih jauh kedalam rumah sederhana yang terlihat sepi itu. "Bu?!" Langkah si gadis terhenti di sebuah ruang sempit dengan sebuah meja kayu dan empat buat kursi plastik yang usang, nampaknya itu ruang makan, disitu ada seorang wanita paruh baya sedang duduk dengan wajah sayu dan mata yang mengembun. Gadis itu segera menghambur kearah wanita tua itu. "Bu?! Ibu nggak apa-apa?! Apa yang terjadi?!" Tanya si gadis panik, sambil mengelus tangan wanita itu yang tergeletak begitu saja di atas pangkuannya. Wanita tua itu memalingkan wajahnya pada si gadis, kedua matanya yang tua nampak menggambarkan betapa saat ini ia sedang memikirkan sesuatu yang begitu berat. "Apa juragan Sarmo datang lagi?" Tanya si gadis yang seperti tahu apa yang membuat wanita yang adalah ibunya itu dilanda kegelisahan. Wanita itu tak menjawab, tapi dari sorot matanya seolah ia membenarkan pertanyaan si gadis yang adalah anaknya. "Apa katanya?" Gadis itu, Widuri, bertanya lagi dengan perasaan yang campur aduk. "Masih sama Wid, masih tanya tentang sisa hutang itu.." jawab wanita itu lemah. Widuri tertegun, ia hanya bisa menelan saliva yang begitu getir segetir nasib hidupnya. Hidup Widuri yang porak-poranda setelah sang ayah divonis menderita liver bengkak lima tahun yang lalu. Saat itu Widuri masih duduk di bangku SMP. Dan setelah sang ayah jatuh sakit, otomatis posisi mencari nafkah digantikan oleh sang ibu. Sebagai wanita, Juriah, ibunya Widuri, tentu tak bisa bekerja keras selayaknya seorang pria. Ladang untuk mencari rezeki bagi kaum wanita di kampung Widuri juga terbatas. Mereka hanya bisa bekerja serabutan di kebun-kebun kopi milik warga yang kaya dengan upah yang tak seberapa. Kehidupan ekonomi warga di kampung Widuri bisa dibilang masih banyak yang berada di kelas menengah ke bawah. Bahkan banyak dari warga di situ yang yang tak memiliki lahan perkebunan sendiri. Mereka menggarap kebun milik orang lain dengan sistem bagi hasil, yang tentu saja hasil yang lebih banyak adalah bagian dari si empunya lahan. Sebagian warga yang tak mampu untuk membuka lahan perkebunan, memilih untuk mengadu nasib di kota dengan harapan mereka bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak ketimbang kehidupan di kampung Sidarejo. "Ibu bingung Wid, apa lagi yang harus dijual untuk melunasi hutang itu" Juriah mengeluh, suaranya yang berat menandakan betapa lelahnya ia menanggung beban berat itu, sedang pandanganya ia edarkan ke segenap ruangan, seolah sedang mencari sesuatu yang berharga. Tapi tidak, di dalam rumah itu sudah tak ada lagi benda yang bisa dijual. Semua sudah habis, dan hanya menyisakan barang-barang yang lebih pantas disebut sebagai rongsokan. Widuri diam, ia tahu berapa saat ini sang ibu merasa begitu gelisah. Hutang pada rentenir kampung, juragan Sarmo masih banyak, sekitar delapan juta lagi. Hutang itu adalah hutang yang digunakan untuk biaya berobat sang ayah selama ia sakit, lima tahun lamanya. Hampir semua harta benda yang keluarga itu miliki sudah berpindah tangan. Mulai dari motor tua milik sang ayah, sebidang kecil kebun kopi warisan dari orang tua ibu Widuri, isi rumah, seperti televisi, kursi tamu, lemari, bahkan beberapa pakaian milik Juriah yang masih layak pakai , semuanya sudah ia lelang demi bisa menutupi biaya berobat sang suami yang pada akhirnya harus perpulang beberapa bulan yang lalu. Dan kini yang tersisa tinggalah sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat berlindung ibu dan anak itu, itupun statusnya sudah tergadai pada juragan Sarmo, sebesar sepuluh juta, dan baru diangsur dua juta saja. Widuri yang bekerja sebagai buruh cuci piring di sebuah kedai yang ada di pusat kampung, menyicil hutang itu dengan upahnya bekerja setiap Minggu. "Apa ibu jual saja cincin ini ya?" Ujar Juriah sambil mengelus sebuah cincin emas yang melingkar erat di jari manis tangan kanannya itu. Mata Widuri mengikuti gerakan tangan sang ibu membelai cincin itu dengan tatapan nanar. Itu cincin kawin ibu dan ayah Widuri, itu adalah satu-satunya benda bersejarah yang menjadi saksi bisu kisah cinta keduanya. "Jangan Bu! Itu satu-satunya kenangan dari bapak!" Tolak Widuri sambil menggenggam tangan sang ibu erat, seolah ia sedang berusaha menghalangi cincin itu terlepas dari jari manis sang ibu. "Lagipula itu juga tak akan cukup untuk melunasi hutang pada juragan Sarmo " ujarnya lagi. "Iya, ibu tau, kita mungkin bisa tambahi dengan menjual barang yang lain" Juriah tampak sedikit bersemangat. "Barang lain? Apa Bu?!" Widuri bingung, seingatnya tak ada lagi barang berharga di rumahnya, semua sudah habis terjual beberapa tahun yang lalu. "Tempat tidur di kamar ibu , dan juga lemari bajunya" ucap Juriah. "Apa?!" Widuri kaget mendengar ucapan sang ibu, ia geleng-geleng kepala. "Nggak Bu! Itu tempat tidur Ibu. Kalo ranjang itu dijual, lalu bagaimana ibu tidur?!" Protes Widuri, itu bukan tanpa alasan, sebab tempat tidur di rumah itu hanya tinggal satu, yaitu yang ada di kamar sang ibu. Sedang tempat tidur di kamarnya sudah terjual paska sang ayah wafat. Mereka menjual tempat tidur Widuri saat itu untuk membayar ongkos ambulan, karena sang ayah meninggal di rumah sakit yang ada di kota kecamatan yang jaraknya cukup jauh dari rumah mereka. "Nggak apa Wid, ibu bisa tidur pakai tikar di lantai" ucap Juriah, ia berusaha membuat sang anak tenang. "Nggak Bu! Pokoknya ibu nggak boleh jual ranjang itu!" Tolak Widuri. "Ya terus gimana dengan juragan Sarmo, dia bilang dia akan datang seminggu lagi, terus gimana kalo kita belum juga bisa melunasi hutang itu Wid?!" Suara Juriah parau seiring dengan matanya yang mulai basah. Hati perempuan paruh baya itu remuk seremuk- remuknya, ia putus asa, tak tahu lagi harus bagaimana menyelesaikan masalah yang rumit ini. Tak ada tempat meminta tolong atau sekedar berkeluh kesah, semua ia tanggung sendiri dan hanya berbagi dengan Widuri yang masih berumur sembilan belas tahun itu. Widuri merengkuh sang ibu, didekapnya erat tubuh kurus itu. Mereka berdua larut dalam nestapa yang begitu menyayat tanpa tahu akan seperti apa nantinya takdir yang kini sedang menimpa. "Ibu nggak usah cemas, Wid janji, Wid pasti akan cari uang untuk bayar hutang ke juragan Sarmo!" ucapan Widuri penuh keyakinan, meski di dalam hati ia tak pernah tahu apakah kalimat yang ia ucapkan adalah suatu kebenaran, atau hanya bualan semata sebagai penghiburan hati yang sedang nelangsa. ###Dengan langkah kaki yang gemetar, dan tangan yang memegang erat seikat uang yang Zeka berikan, Juriah melangkah mendekati juragan Sarmo, ia takut, sangat takut bahkan, meski ada Zeka yang siap siaga melindungi Juriah, tapi entahlah, wanita tua itu tetap merasa tak tenang. "Ini, uangnya juragan" Juriah menyodorkan seikat yang itu pada juragan Sarmo dengan tangan gemetar. Juragan Sarmo melirik sinis melihat yang itu. Ia tak mengambilnya. "Seno! ambil!" ia malah menyuruh anak buahnya untuk mengambil uang itu. Dengan cepat anak buah juragan Sarmo segera mengambil uang itu dari tangan Juriah. Juriah merasa sedikit lega. "Silahkan dihitung dulu tuan, mana tau jumlahnya kurang dari delapan juta!" sela Zeka. Juragan Sarmo merasa geram, ia dapat melihat bagaimana cara Zeka menggerakkan bibirnya saat mengucapkan kalimat itu, pemuda itu sedang mengejek dirinya. Namun juragan Sarmo tak ingin membuang lebih banyak waktu. Meski ia baru saja mendapatkan kerugian besar sebab ia tak jadi meny
"Hai anak muda! siapa kau?! nggak usah ikut campur urusan orang!!" hardik juragan Sarmo. Zeka mengangkat wajahnya, ia menyeringai congkak. Dengan kacamata hitam ditangan yang ia coba putar-putar dengan jari-jarinya yang sebenarnya sudah sangat gatal ingin meremas mulut pongah juragan Sarmo sejak tadi. "Sa-saya mohon tuan..." lirih suara yang keluar dari bibir Juriah, ia mencoba untuk menghentikan Zeka. "Ibu nggak usah takut!" ucap Zeka tegas. "Heh, dasar sombong! koe blum tau dengan siapa koe sedang berhadapan!" celetuk juragan Sarmo sambil melirik pada dua orang pengawalnya yang langsung menyambut lirikan itu dengan suara tawa bernada ejekan. Zeka terlihat santai, ia tahu saat ini juragan Sarmo sedang berusaha menggiring emosinya agar tak terkendali. Tapi, tujuan ia datang ke tempat itu bukanlah untuk hal tak penting itu. "Sudah! kau jangan coba-coba untuk menghalangi aku!" "Heh! cepat paksa wanita ini untuk tanda tangan!!" perintah juragan Sarmo pada anak buahnya, nampa
"Cepat tanda tangan Juriah! aku nggak punya banyak waktu untuk menunggu! lagipula apa lagi yang kau tunggu, hah?! ingat ya, jangan kau berpikir untuk minta tempo lagi, aku nggak akan memberi kau toleransi lagi. Sudah cukup belas kasihan dariku, orang-orang macam kau ini terlalu banyak drama, butuh uang, dikasih pinjam, giliran ditagih janji-janji terus, bikin puding!" omel juragan Sarmo, sudah mulai muak ia dengan sikap Juriah yang terkesan mengulur waktu. "Ayo cepat!" sergah juragan Sarmo. Mendengar suara lantang juragan Sarmo, kian gemetar Juriah, dengan perlahan ia kembali duduk, meletakkan kertas itu di atas meja, satu tangannya memegang pena, meski sungguh tak ingin melakukannya, tapi semua sudah terlambat dan percuma, tak ada lagi jalan keluar, dan semua sudah berakhir sepertinya. "Setelah kau tanda tangan, kau cepat kemasi barang-barang mu dan pergi dari rumah ini, sebab besok aku akan merenovasi rumah ini!" ujar juragan Sarmo santai, ia seolah sungguh tak perduli pada nes
"Juriah!!!!" terdengar suara lantang dari luar rumah, dan seketika ketenangan berubah menjadi tegang. Orang-orang segera menoleh pada sumber suara itu. Juriah yang sedang serius berbincang dengan Zeka, kini terpecah konsentrasinya. Ia terkejut mendengar teriakan itu. "Juriah!!!" ulang suasana itu yang kini kian mendekat diiringi dengan suara langkah kaki yang berderak kasar. Jantung Juriah berdegup hebat manakala ia mengetahui siapa yang sedang datang mendekat, tubuhnya yang renta itu perlahan berdiri dengan gemetar, nampak seorang pria bertubuh gempal dengan kumis tebal yang melingkar di atas bibirnya yang sedang menghisap sebatang rokok dengan asap yang mengepul pekat. Penampilan pria itu cukup nyentrik dengan celana jins dan jas formal, tak lupa kacamata hitam menjadi pelengkap penampilannya yang seolah ingin menjadi pembuktian betapa ia adalah orang yang berada, dan memang begitu adanya. "Mbok, juragan Sarmo" ujar Tami lirih. Juriah hanya diam sambil memandang penuh ketaku
"Ini air putihnya!" Tami sudah datang sambil membawa baki berisi segelas air putih, dengan perlahan ia meletakkan baki itu diatas meja kayu yang dilapisi kain warna biru tua yang sudah usang. "Silahkan diminum!" Juriah mempersilahkan. Zeka tersenyum, ia langsung meraih gelas kaca berisi air yang bening, dengan perlahan ia menempelkan mulut gelas ke bibirnya yang merah, dan dalam sekejap air dari dalam gelas itu mulai berpindah secara perlahan ke dalam mulut Zeka, pria itu mulai meneguk air itu dengan tenang. Gelas sudah berkurang setengah isinya, ia meletakkan kembali gelas ke dalam baki, suasana benar-benar sangat canggung, terkhusus bagi Juriah, sebenarnya ia sangat penasaran dengan sosok yang ada di dekatnya itu, tapi ia terlalu takut untuk mengajukan berbagai pertanyaan, akhirnya ia hanya bisa diam sambil terus menunggu si tamu yang memulai pembicaraan. "Maaf Bu, apa kedatangan saya tidak menggangu?" Zeka mulai bicara, ia menatap wajah Juriah dengan lembut, tatapan dua bola
"Mbok, ada tamu" ujar Tami. "Tamu?!" Deg!, jantung Juriah seketika langsung berdetak kencang. Saat mendengar kata "tamu" yang ada di pikirannya hanya ada satu orang, juragan Sarmo. Ini sudah genap satu Minggu, hari yang ditentukan sudah tiba, batas waktu pelunasan hutang sudah mencapai akhir. Juriah belum kunjung jua memiliki uang yang diperlukan, Widuri sebagai satu-satunya harapan Juriah, kini justru hilang tak ada kabar, Juriah sudah berusaha untuk mencari informasi tentang keberadaan sang puteri, ia bertanya pada keluarga Minah, tapi hasilnya nihil, keluarga Minah berdalih bahwa Widuri baik-baik saja, ia saat ini sedang bekerja, dan peraturan dari tempat Widuri bekerja yang tak memperbolehkan para pegawai untuk menggunakan telepon kecuali untuk hal darurat. Juriah yang awam percaya saja dengan ucapan keluarga Minah, meski akhirnya hari kecilnya mulai diserang rasa gelisah dan takut yang luar biasa. Naluri sebagai seorang ibu mulai memberontak, ia mulai merasa ragu dengan cerita
"Brakkkk!!!" pria itu keluar kamar apartemen Minah sambil membanting pintu sehingga membuat Minah dan juga Widuri kaget bukan main. Widuri masih bersembunyi di balik pintu, ia memperhatikan Minah yang tampak gusar. "Dasar tua bangka sialan! datang-datang main minta duit aja, emang dia kira gampan
"Taruh tas lu disitu!" ujar Minah saat ia membuka pintu apartemen yang merupakan tempat tinggalnya. Widuri mengekor langkah Minah, matanya liar menatap ke segenap penjuru ruangan. Kamar apartemen Minah tak begitu besar, tapi untuk ukuran orang yang tinggal seorang diri itu cukuplah luas. Barang
Hari yang dinantikan Widuri akhirnya tiba juga, pagi-pagi sekali ia sudah bangun. Sebuah tas jinjing berwarna hitam yang berisi pakaiannya sudah siap di atas meja di ruang tamu. Ada juga sebuah tas kain kecil yang berisi bekal makanan. Juriah tampak sibuk kesana-kemari untuk mempersiapkan segala ke
"Bu, Ibu!!" Suara Widuri terdengar girang, seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan oleh orang tuanya. Ia setengah berlari masuk kedalam rumahnya yang sepi. "Bu?!" "Ada apa Wid? Ibu di dapur!" Terdengar suara Juriah setengah berteriak. Widuri bergegas menuju dapur, ia sudah tak sabar







