Share

7. Penolakan Zaya

“Pagi, Za.”

Senyuman indah tersungging di bibir Arga, menyambut Mazaya yang baru membuka pintu pagi itu. Semalaman hatinya gembira, membayangkan akan terus bersama dengan sang pujaan hati.

“Kenapa kamu datang kemari?” Zaya menoleh ke sekitar, merasa sedikit gugup, takut kalau sang suami juga datang yang berpotensi akan membuat keributan kembali seperti tadi malam.

“Kamu cari siapa? Adik tiriku?” Arga sontak cemberut melihat Zaya masih saja memedulikan suaminya.

“Aku hanya takut kalian berdebat lagi,” sahut Zaya. “Kamu ngapain ke sini?” Zaya mengulangi pertanyaannya sambil melangkah keluar rumah, tak lupa menutup pintunya.

“Aku mau menjemputmu. Kita bareng aja ke hotel. Oh, ya, sebaiknya kamu ganti pakaianmu.” Arga memperhatikan tampilan Zaya yang mengenakan seragam resepsionis seperti kemarin.

Alis Zaya naik, dahinya berkerut. “Kenapa aku harus ganti outfit? Ini seragamku kalau kamu lupa.”

CEO tampan itu tersenyum tipis lalu menyampaikan niatnya untuk menaikkan jabatan Zaya. “Ganti aja, Za! Hari ini aku angkat kamu jadi sekretarisku.”

Bola mata Zaya membulat sempurna, terkejut mendengar penuturan CEO-nya. “Apa maksudmu?”

“Maksudku sudah jelas, Za. Aku tak mengizinkan kamu bekerja lagi sebagai resepsionis. Aku ingin kamu menjadi sekretarisku karena aku tahu kamu lebih dari berpengalaman untuk posisi itu.”

Kepala Zaya sontak menggeleng pelan. Ia sudah bisa membayangkan kericuhan apa yang akan terjadi jika ia menerima jabatan yang baru saja ditawarkan oleh mantan kekasihnya itu. Evan pasti memperkuat tuduhan perselingkuhannya dengan Arga dan ia tak mau itu sampai ke telinga mama mertuanya.

Raut wajah Arga berubah mendung. Ia seketika kecewa melihat penolakan Zaya. Meski mantan cantiknya tersebut belum mengeluarkan pernyataan penolakan dari bibirnya, tapi Arga tahu Zaya keberatan dengan posisi yang ia tawarkan dan itu pasti karena Zaya mempertimbangkan Evan.

“Kamu pasti mikirin pendapat Evan, kan, Za?”

Zaya mengangguk. “Kamu pasti sudah tahu kalau aku tak bisa menerima penawaranmu.”

Jujur saja, Zaya sebenarnya sangat ingin naik jabatan dan menjadi egois seperti wejangan Gea tadi malam di mana seharusnya ia fokus pada karirnya yang pernah redup saat ia korbankan demi suami sialannya itu.

Namun, Zaya tak ingin terjadi pertikaian antar saudara yang memicu kemarahan sang mama mertua yang berpotensi membuat suaminya itu kehilangan semuanya.

“Kenapa? Apa kamu takut Evan akan menuduh kita berselingkuh?” Arga menatap Zaya dengan tatapan menyelidik, berusaha menerka isi hati wanita terindah dalam hidupnya tersebut.

“Itu salah satunya. Aku tak mau ada masalah baru di keluarga kalian. Bukan hanya mas Evan, tapi aku juga memikirkan mama juga hubunganmu dengan adik tirimu itu.”

“Kenapa harus pusing memikirkannya? Bukannya kamu sebentar lagi akan menceraikannya? Urusan mama biar aku yang menyelesaikannya, Za.”

Zaya menghela napas lelah. Ia lelah berdebat dengan pria masa lalunya. Wanita cantik itu pun berlalu meninggalkan Arga, berniat naik taksi untuk bekerja karena mobilnya terpaksa ia tinggalkan di hotel. Itu karena Arga bersikeras mengantarnya pulang bersamanya semalam.

Arga mengekori langkah Zaya lalu tak ragu menariknya masuk ke dalam mobilnya dan tanpa sempat mencerna semuanya, Zaya melihat Arga telah menjalankan kendaraannya, membuat wanita itu menjadi kesal.

“Kenapa kamu selalu saja memaksakan kehendakmu, Ga?”

“Itu karena kamu keras, Za. Aku sudah tahu bagaimana karaktermu dan itu juga yang membuatku tergila-gila padamu. Apa salahnya menerima semua penawaranku? Aku tahu kamu membutuhkan pekerjaan untuk menopang hidupmu pasca bercerai dari adik tiriku. Tinggal terima aja apa susahnya, sih?”

Zaya mendengus kasar, merasa kesal diperlakukan seolah Arga masih memiliki hubungan dengannya.

“Jangan mendesakku! Aku ini adik iparmu, bukan kekasihmu!”

Arga tak memedulikan celotehan Zaya. Yang ia tahu, ia harus mendapatkan wanita itu kembali jadi miliknya. “Sebentar lagi kamu akan bercerai dari Evan. Aku sendiri yang akan mengurus prosesnya dan statusmu nanti bukanlah adik iparku lagi. Aku tak akan membiarkanmu kekurangan uang, Za. Karena itu aku menaikkan jabatanmu.”

“Aku tak butuh bantuan. Turunkan aku di sini! Aku tak mau bekerja di hotel milikmu lagi.” Zaya memutuskan untuk menjauh. Ia akan menggugat cerai Evan secepatnya dan mencari pekerjaan lain untuk menopang hidupnya.

Bekerja bersama Arga berpotensi akan menimbulkan masalah baru dan ia tak ingin perceraiannya menjadi awal kehancuran Evan.

“Kamu tak bisa pergi begitu saja dari hotelku. Kamu sudah menandatangani kontrak kerja selama dua tahun dan aku bisa menuntutmu.”

Kata-kata Arga memang terdengar lembut di telinga Zaya, tapi tetap saja berbau ancaman. “Kamu mengancamku?”

Arga menoleh sekilas, tersenyum pada wanita yang masih membuat jantungnya berdebar kala berdekatan.

“Aku tidak mengancammu. Aku hanya menyampaikan fakta kalau kamu terikat kontrak kerja denganku. Jangan selalu berpikiran negatif padaku, Za! Kamu tahu persis siapa aku.”

“Tapi aku tak mau menambah minyak ke dalam api.” Zaya setengah berteriak, merasa frustrasi dan dilema menghadapi masalah demi masalah yang datang menghampirinya.

Ia hanya ingin bercerai, berdamai dengan keadaan, melupakan sakit hati atas pengkhianatan suaminya dan mulai membina hidupnya yang baru. Kehadiran Agra akan menghancurkan semuanya. Zaya hanya ingin kedamaian.

Melihat raut frustrasi di wajah Zaya, Arga akhirnya memutuskan menepikan mobilnya secara mendadak, ingin menegaskan kalau semuanya akan baik-baik saja.

“Sebenarnya apa yang kamu takutkan, Za? Nyatanya, sekuat tenaga kamu ingin menyembunyikan permasalahanmu, tetap saja aku tahu kalau Evan mengkhianatimu. Kamu juga sudah memutuskan untuk bercerai, kan? Apa lagi masalahnya sekarang?”

Zaya menulikan telinganya. Ia berniat keluar dari mobil, tapi Arga ternyata menguncinya. “Buka pintunya! Biarkan aku turun!”

“Za ... kamu kenapa, sih?” Arga memegangi tangan Zaya. “Katakan, apa yang mengganggu pikiranmu!”

Zaya tak pernah bisa berkutik jika berhadapan dengan Arga. Perhatian, kasih sayangnya yang begitu menggebu-gebu, pernah ia rasakan dulu dan semua itu harus kandas ketika lelaki tampan itu lebih memilih karir daripada dirinya.

Sosok pria seperti Arga memang sebenarnya sangat cocok untuknya. Pria itu mampu menaklukkan sifat keras yang ia miliki dengan semua tindakan nekatnya. Seperti saat ini, misalnya.

Tapi semua itu tiada lagi berguna. Ia sudah memilih Evan yang ternyata jauh lebih romantis dari Arga walaupun ujung-ujungnya menorehkan luka yang teramat dalam di hatinya dan Zaya masih sangat waras untuk tidak terlibat lagi dengan dua orang yang pernah melukainya itu.

“Aku tak ingin terlibat dengan kalian berdua lagi. Aku memang ingin bercerai dan pasti akan merealisasikannya dalam waktu dekat. Tapi bukan berarti aku juga mau dekat denganmu lagi walaupun hanya sebagai atasan dan bawahan.”

“Kenapa? Jelaskan apa alasannya!” desak Arga. Hatinya terluka mendengar penuturan yang terucap di bibir Zaya.

Zaya menatap tajam Arga, tahu kalau ia tak bisa menyembunyikan apa pun dari pria pemaksa ini. “Aku tak mau kamu mengadu pada mama soal Evan.”

“Kenapa, kamu takut jabatan CEO yang diagung-agungkan suami sialanmu itu musnah?” Arga menahan getir di hatinya. Bahkan, di ujung perceraian saja, Zaya masih begitu memikirkan masa depan Evan. Sial!

Zaya menghela napas panjang lalu menghembuskannya kasar. Ia lelah dengan semua ini. Wanita cantik itu menatap serius Arga dan bibirnya pun mulai menuturkan semua isi hatinya.

“Aku hanya ingin bercerai baik-baik, Ga. Aku tak ingin kamu, mas Evan, juga mama bertikai karena aku. Sekarang buka pintunya, biarkan aku bebas! Aku ingin melepaskan diri dari kalian bertiga.”

Komen (2)
goodnovel comment avatar
Desi Kurniawan
Semangat lanjut terus
goodnovel comment avatar
Aqilanurazizah
Gak kerasa dah 5 bab aja. Lanjut ah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status