Share

Lepaskan Aku!

Author: Caramelly
last update Petsa ng paglalathala: 2025-09-11 14:33:20

Mata Celyna bertemu dengan mata dingin milik Caelan, yang kini menatapnya lekat, dingin dan menusuk. Sementara Kaizen dan ibunya tampak malas, berbeda dengan sang ayah. Kedua orang tua Celyna tidak berkomentar. Mereka hanya tersenyum.

“Caelan, cucuku. Sejak muda di sudah tinggal di luar negeri, aku baru sempat mengenalkannya kepada kalian. Saat pernikahan Celyna, Caelan tidak bisa datang.”

Kaizen tersenyum miring. “Kukira kau tidak akan pernah kembali.”

Caelan dengan tenang duduk, sorot matanya tidak pernah beralih dari Celyna yang duduk di samping Kaizen.

“Sudah waktunya aku pulang dan bergabung dengan perusahaan,” jawab Caelan tenang.

Kaizen terkejut. “Apa kau bilang? Bisa-bisanya orang sepertimu bergabung di perusahaan.”

“Cukup!” Ayah mertua akhirnya angkat bicara. “Ini bukan tempat debat. Apa kalian tidak menghargai nenek kalian?”

Celyna yang gugup, dengan tangan gemetar akhirnya meraih gelas yang berisikan segelas air putih.

“Jadi, ini istri idamanmu?” tanyanya dengan nada yang terdengar mengejek.

Kaizen langsung melotot. “Apa maksudmu?”

Caelan mengangkat sebelah alisnya, tatapannya sinis. “Dia sama sekali tidak cantik. Lebih tepatnya, bukan tipemu. Atau sebenarnya kamu hanya dipaksa menikahinya?” Caelan tersenyum miring.

“Brengsek!” Kaizen menahan emosi, tangannya mengepal.

Mendengar itu Celyna tersedak. Kedua orang tua Celyna tertegun, sementara ibu mertuanya tersenyum sinis.

“Caelan,” tegur Nenek.

Caelan tersenyum, kepada nenek. “Nenek paling cantik di dunia ini.”

Nenek pun tersenyum kecil, meminta untuk memaklumi ucapan cucunya. Makan malam pun dimulai, selama makan malam hanya ada keheningan. Hingga akhirnya hidangan penutup disajikan, barulah mereka mulai berbicara santai.

Namun, tidak dengan Celyna yang tampak gugup. Bagaimana tidak Caelan terus menerus menatapnya. Terkadang dia akan merespon ucapan ayahnya, tetapi setelah itu dia akan kembali menatap Celyna.

“Aku harap Celyna segera mengandung,” ucap Ibu Celyna kepada Nenek. Lalu pada Kaizen dan Celyna, ia melanjutkan, “Besok aku akan mengirimkan suplemen untuk kalian. Kaizen, kamu harus lebih tabah sebagai suami ya? Bersabarlah terhadap Celyna.”

Celyna bisa merasakan ketidak senangan di wajah suaminya. Walaupun saat ini dia tampak tersenyum, tetapi itu hanyalah sandiwara. Hingga Caelan terkekeh pelan, membuat semua orang menoleh.

“Kenapa kau tertawa?” tegur Kaizen tajam.

“Aku hanya teringat sesuatu,” Caelan menatap Celyna sekilas. “Saat datang kemari, aku dengar rumor kalau istrimu mandul.”

Ucapannya itu membuat semua orang terkejut, termasuk Celyna yang kini membelalak. Ia tidak percaya Caelan mengatakan itu.

“Tapi, alih-alih menyalahkan istrimu, bagaimana kalau kau periksa dulu hormonmu, Kai? Siapa tahu masalahnya ada padamu.”

“CAELAN!” teriak Kaizen marah sampai berdiri.

Celyna membelak. Hingga suara ibu mertuanya terdengar.

“Jaga bicaramu. Kau hanya bisa membuat malu keluarga ini.”

Caelan menatap ibunya, lalu tersenyum miring dan pergi. Nenek menghela napas, sedangkan kedua orang tua Celyna tampak marah. Celyna berusaha menenangkan suaminya, dan saat Celyna hendak meraih tangan suaminya. Kaizen sudah lebih dulu menepisnya.

Kaizen pergi dari ruang makan. Celyna langsung pergi menyusulnya. Sementara itu, ayah mertuanya dan nenek meminta maaf atas kegaduhan yang dibuat oleh Caelan.

“Kaizen, tunggu aku.”

Kaizen menghentikan langkah kakinya.

“Enyah! Jangan ikuti aku, melihatmu sekarang— hanya membuatku semakin membencimu.”

Celyna menatap suaminya.

“Seharusnya kau tidak perlu tersinggung dengan ucapan adikmu. Faktanya kau memang tidak ingin aku hami— atau mungkin sebenarnya kau tidak —”

Kaizen mencekal tangan Celyna dan menariknya masuk ke dalam kamar, yang dulunya ditempati Kaizen sebelum menikahi Celyna. Malam ini mereka menginap di rumah ini.

“Lepas, kau menyakitiku.”

Namun, cengkeraman itu semakin kuat. “Jaga mulutmu. Aku masih normal.” Kaizen melepaskan cekalan tangannya. Lalu menunjuk Celyna. “Aku hanya tidak ingin menabur benihku, pada perempuan rendahan sepertimu. Perempuan sepertimu tidak pantas melahirkan darah dagingku!”

Deg!

Setelah mengucapkan itu, Kaizen pergi. Celyna menahan napas selama beberapa saat, berusaha membendung air matanya. Meskipun hatinya sakit.

Tidak lama setelah itu pintu dibuka dari luar, Celyna menoleh. Melihat ibunya menghampiri seraya bersedekap.

“Celyna, lihat. Semua ini salahmu. Kubilang apa, sebaiknya kau dan Kaizen pergi ke dokter dan ikut program ke—”

“Cukup. Aku sedang tidak ingin membahasnya.” Celyna membelakangi ibunya.

“Apa katamu? Jangan lupa tujuanmu menikah ke rumah ini untuk apa? Pernikahanmu sangat penting untuk pemilu ayahmu. Jika kau masih tidak hamil, posisimu akan goyah.”

Celyna mengepal tangannya dengan mata terpejam. Darahnya terasa mendidih, dia terus mendapatkan dari ibu dan suaminya.

“Ma, keluar!” seru Celyna.

Ibu Celyna akhirnya keluar.  Celyna menghela napas berat, lalu mengambil botol wine kualitas tinggi yang berada di atas meja. Ia meneguk langsung dari botolnya, kemudian terkekeh.

“Hamil? Bagaimana aku bisa hamil. Di matanya aku hanyalah kotoran yang menjijikan!” ucapnya lirih, kembali meneguk wine.

Dua tahun menikah dengan Kaizen, tapi seperti terpenjara. Tidak ada cinta, tidak ada kehangatan. Yang ada hanyalah kebencian tanpa akhir.

Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Semua terjadi karena keputusan orang tuanya. Sejak kecil hidupnya sudah ditentukan. Ibunya hanya peduli pada kakak lelakinya, yang selisih dua tahun dengannya– pewaris politik masa depan. 

Sementara ayahnya sibuk dengan partai. Celyna tumbuh kurang kasih sayang. Tidak hanya itu, ia juga dibuang ke rumah neneknya sejak umur 8 tahun. Dengan alasan, ibunya ingin lebih fokus mengurus kakaknya.

Dan tiba-tiba, saat sudah dewasa, ia diminta menikah dengan seseorang yang bahkan tidak dikenalnya. Pernikahan politik, pernikahan tanpa cinta.

Air mata menetes. Celyna terduduk di karpet, mengingat kembali perkataan kasar dan kebencian suaminya. Serta tekanan dari ibunya yang meminta agar dia segera hamil.

“Apa salahku? Apa aku lahir hanya untuk menderita?”

Celyna menjatuhkan kepalanya ke meja. Perlahan ia memejamkan kelopak matanya. Ucapan Kaizen terus terngiang-ngiang di benaknya, membuat hatinya semakin tersayat-sayat.

Tidak lama, Celyna mendengar pintu kamarnya dibuka dari luar. Celyna membuka mata, ia melihat sosok Caelan baru saja menutup pintu dan mengunci pintu kamar.

“Apa aku sedang berhalusinasi?” gumamnya pelan.

Langkah itu semakin dekat, hingga akhirnya Celyna tersadar. Bahwa keberadaan Caelan bukanlah halusinasi, karena dia meminum wine.

“Kau berharap orang lain yang masuk?” ucap Caelan dingin.

“Kau—apa yang kau lakukan di sini?” Celyna berdiri tergesa-gesa menunjuknya dengan panik ke arah Caelan.

Caelan tidak menjawab, wajahnya tetap dingin. Dia mendekat perlahan. Celyna mundur, kakinya menyenggol meja hingga tubuhnya hampir jatuh. Untung dengan cepat Caelan cepat menariknya.

Celyna melotot. Sentuhan itu membuat darahnya berdesir. Dalam sekali tarikan, tubuhnya terhempas ke pelukan Caelan.

“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” teriak Celyna, tapi pelukan itu semakin erat. Celyna menengadah menatap wajah Caelan yang kini sedikit menunduk. 

Wajah mereka sangat dekat, sampai-sampai Celyna dapat merasakan napas Caelan.

“Lepaskan aku!”

Caelan tidak mengindahkan ucapan Celyna. Caelan menarik lagi tubuh Celyna hingga menyatu dengan tubuhnya, tatapan mereka sangat intens.

“Lepaskan, sebelum aku—”

Cup! Dengan cepat Caelan membungkam mulut Celyna dengan bibirnya. Celyna melotot, dan semakin memberontak. Namun, pelukan dan tubuh Caelan sangat kuat. Semakin Celyna memberontak, Caelan semakin menciumnya lebih dalam lagi, dan lebih dalam lagi.

Caelan menyesapnya semakin dalam, memainkan lidahnya di dalam sana. Dengan tubuhnya yang sempurna, dia mampu mengunci tubuh mungil Celyna. Caelan menciumnya semakin rakus, dan menarik bibir bawah Celyna hingga berdarah.

PLAK!!

Tamparan itu mendarat di wajah Caelan, cukup keras. Namun, ekspresi Caelan saat ini jauh dari rasa bersalah. 

Dengan napas terengah-engah, Celyna berbicara.“Jaga sikapmu! Aku ini istri kakakmu!”

Mendengar itu membuat mata Caelan menajam, ada kemarahan di wajahnya. Dengan cepat Caelan menyergap tubuh Celyna. Dan menjatuhkannya ke sofa, Celyna berusaha bangkit. Namun, Caelan menahan kedua tangannya. Tatapannya semakin tajam.

Tubuh Caelan terlalu mendominasi.

“Lepaskan aku!” pekiknya. “Pergi dari kamarku, sebelum suamiku kembali,” ucap Celyna, suaranya bergetar. Cemas Caelan akan melakukan hal lebih gila dari ini.

Caelan akhirnya bangkit, Celyna menghela napas dan membenarkan rambut dan pakaiannya.

Caelan justru tertawa kecil. “Jadi, ini alasanmu meninggalkanku? Karena ingin jadi nyonya besar keluarga Kendrick?”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dimanjakan Sentuhan Panas Adik Ipar    Pelabuhan Terakhir

    Dingin yang asing adalah hal pertama yang menyengat kesadaran Celyna.Ketika kelopak matanya perlahan terbuka, rasa kaku di leher bekas suntikan itu masih tersisa. Celyna mengerjap, memandangi langit-langit kamar dengan ukiran kayu ek bergaya klasik yang sama sekali tidak ia kenali. Ia bergerak pelan, menyadari tubuhnya terbaring di atas ranjang king-size.Di sudut ruangan,siluet seorang pria tampak memunggunginya. Caelan sedang berdiri di dekat perapian, menempelkan ponsel di telinganya. Suara baritonnya terdengar rendah, memberikan instruksi dingin kepada orang-orangnya di tanah air untuk mengatasi sisa kekacauan yang sengaja ia tinggalkan di meja makan keluarga Kendrick."Caelan..." gumam Celyna, suaranya parau dan nyaris habis.Pria itu menegang. Caelan langsung menurunkan ponsel, mematikan panggilan sepihak, dan berbalik cepat. Ia melangkah mendekat. Begitu tiba di tepi ranjang, Caelan langsung menarik tubuh Celyna ke dalam pelukan yang erat, hampir membuat Celyna sesak."Maaf...

  • Dimanjakan Sentuhan Panas Adik Ipar    Seribu Cara

    Kekacauan di ruang makan itu memuncak bersamaan dengan ambruknya tubuh Sophia ke lantai. Di tengah histeria para pelayan dan kepanikan Jonathan, Nenek Felicia perlahan berdiri. Mengabaikan menantunya yang pingsan, mata tuanya yang tajam mengunci Kaizen yang masih merangkak di lantai dengan sudut bibir berdarah.Felicia menunjuk flashdisk hitam di atas meja dengan ujung tongkatnya. Suaranya terdengar sangat dingin, penuh penekanan."Aku memberimu dua pilihan, Kaizen," ucap Felicia tanpa ampun. "Kau datang sendiri ke kantor polisi dan menyerahkan dirimu atas semua kejahatan ini, atau aku yang akan menghubungi kepala kepolisian malam ini juga untuk menyeretmu keluar dari rumah ini.""Nenek! Tidak! Ini semua jebakan Caelan!" raung Kaizen hancur. Ketakutan nyata kini merayap di wajahnya yang pucat pasi.Caelan sama sekali tidak peduli pada ratapan kakaknya. Ia memutar tubuh, mempererat cengkramannya pada pergelangan tangan Celyna, lalu melangkah tegas hendak meninggalkan ruangan itu."Berh

  • Dimanjakan Sentuhan Panas Adik Ipar    Pengakuan

    Suasana di meja makan mendadak mencekik.. Pengakuan tentang hubungan gelap mereka membekukan darah semua orang di ruangan itu.Celyna sendiri terkejut setengah mati. Napasnya tercekat, jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdengung nyaring. Ia menatap Caelan dengan rasa tidak percaya yang bercampur ngeri. Rahasia paling kotor yang selama ini mereka kubur dalam-dalam, kini diseret dan ditelanjangi secara paksa di hadapan seluruh keluarga."Caelan... apa yang kau lakukan?" rintih Celyna lirih. Tubuhnya bergetar hebat.Caelan tidak melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Celyna. Ia justru mempereratnya, pasang badan di depan wanita itu. Sambil menatap satu per satu wajah yang memucat di meja makan, Caelan melempar senyum sinis yang menusuk."Kalian semua terkejut?" suara Caelan meninggi, bergema dingin memotong keheningan. "Kenapa harus terkejut pada hubungan kami yang sekarang? Bukankah kalian sendiri yang menanam benih kehancuran ini sejak lama?"Caelan melan

  • Dimanjakan Sentuhan Panas Adik Ipar    Perselingkuhan

    "Aku butuh bantuanmu."Kalimat itu meluncur dari bibir Safira, memecah kesunyian koridor hotel yang remang-remang. Caelan membeku di ambang pintu. Matanya membelalak sesaat, tak mampu menyembunyikan rasa terkejut yang menghantam dadanya. Dari semua orang di dunia ini yang mungkin mengetuk pintunya pukul satu dini hari, wanita ini adalah orang terakhir yang ia duga.Safira, wanita yang selama ini menjadi pusat semesta Kaizen. Wanita yang membuat kakaknya menjadi bajingan yang mencampakkan Celyna. Kini, perempuan itu berdiri di depannya dengan napas memburu dan mata yang menyala oleh sesuatu yang sangat kukuh: dendam.Caelan cepat-cepat menguasai keterkejutannya. Ekspresi wajahnya kembali mengeras menjadi sedingin es. "Kau salah kamar, Safira. Pergilah sebelum aku memanggil keamanan.""Aku tidak salah kamar, Caelan," potong Safira cepat. Ia menahan daun pintu yang hendak ditutup Caelan dengan telapak tangan. "Aku tahu kau membenci Kaizen. Aku tahu kau ingin meruntuhkannya dari kursi per

  • Dimanjakan Sentuhan Panas Adik Ipar    Tidak Enak Badan

    Celyna meremas pakaiannya. Wajahnya mendadak pucat. Ucapan nenek Felicia menampar dirinya, dan harus ia akui. Ucapan nenek tidak ada yang salah. Dia memang selingkuh, ia membalas perselingkuhan Kaizen, dengan cara yang sama.Ia kembali jatuh cinta kepada mantan kekasih yang kini menjadi adik iparnya.Nenek Felicia tenang, ia menatap Davis. Sophia pandai menyembunyikan ekspresi di wajahnya. Sebelum Felicia menjawab. Suara Kaizen sudah terdengar lebih dulu.“Celyna, tidak akan melakukan hal buruk sepertiku. Jadi, Nenek tidak perlu menakut-nakutinya.”“Tidak. Aku tidak sedang menakut-nakutinya. Kesalahan tetaplah kesalahan. Tidak ada kebenaran untuk kesalahan.” Felica menatap tajam semua orang. “Tapi, aku tahu ... Celyna perempuan baik. Ia tidak akan mengotori dirinya dengan perselingkuhan. Satu lagi, selama hukuman berlangsung, Celyn akan tetap tinggal di rumah ini.”Ucapan Felica lagi-lagi menampar hatinya, sekaligus membuatnya terkejut. Rasa bersalah, sedih, membalut hatinya. Tidak ad

  • Dimanjakan Sentuhan Panas Adik Ipar    Hukuman Celyna dan Kaizen

    Dan setelah sekian lamanya, akhirnya Celyna dan Kaizen berbagi ranjang yang sama. Keduanya tampak canggung, Celyna terus membelakangi tubuh Kaizen. Sementara Kaizen sama sekali tidak bisa tidur dan terlihat gelisah.Celyna dapat merasakannya. Namun, kali ini Celyna melihat Kaizen dapat mengontrol sifatnya yang selama ini dingin padanya. Mana mungkin dalam waktu yang sangat cepat, seorang Kaizen berubah. Jika bukan karena menginginkan sesuatu.Meskipun jika pada akhirnya Kaizen berubah dan berakhir jatuh cinta padanya. Hatinya sudah milik Caelan, cinta lama yang bersemi kembali. Perasaan dapat disembunyikan sedalam samudera. Namun, tidak dengan mata.Mata yang bercahaya, yang hanya bersinar saat bersama orang yang dicintainya. Mata tidak akan berbohong.“Celyna, kamu sudah tidur?” tanya Kaizen.Celyna yang belum tidur, memilih diam. Ia memunggungi Kaizen, pria itu berbalik arah. Ia menatap punggung istrinya. Dulu berbaring di sisinya saja, sudah membuatnya marah. Namun, kali ini dia be

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status