共有

87. Masa Lalu

作者: bluaeya
last update 公開日: 2026-10-11 06:58:15

Koridor rumah sakit itu masih dipenuhi kesunyian yang terasa menyesakkan. Sudah berjam-jam mereka menunggu tanpa kabar, tanpa kejelasan, tanpa kepastian.

Evelyn duduk dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat di pangkuannya. Di sampingnya, Ibu Wijaya juga tidak banyak bicara. Wajah wanita itu terlihat semakin pucat seiring berjalannya waktu.

Pak Budi masih berdiri tidak jauh dari mereka. Ia tidak duduk karena ia merasa tidak pantas duduk di samping keluarga. Sementara Hardi memilih dudu
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   88. Kartu

    Begitu mereka sampai, pemandangan di depan mata membuat langkah Evelyn terhenti sesaat. Gelas yang sebelumnya berada di tangan Ibu Wijaya kini sudah pecah di lantai.Ibu Wijaya duduk dengan wajah pucat. Tangannya terlihat sedikit gemetar. Seorang dokter sudah berdiri di hadapannya. Pak Budi juga berada di sana. Ia langsung menoleh ketika melihat Kevin dan Evelyn datang."Pak…" Kevin menghampirinya dengan napas yang masih terengah. "Ada apa?""Gelasnya terlepas dari tangan Ibu." jawab Pak Budi. Suaranya pelan, tetapi ada nada khawatir di dalamnya.Kevin menatap ibunya. "Ibu?"Ibu Wijaya tidak menjawab. Pandangannya justru tertuju kepada dokter di depannya.Pak Budi segera memberi isyarat kepada salah satu karyawan rumah sakit yang kebetulan berada tidak jauh dari sana. "Maaf, Pak. Tolong bantu bersihkan pecahan kacanya."Karyawan tersebut segera mengambil alat kebersihan."Maaf atas kegaduhan yang terjadi." Pak B

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   87. Masa Lalu

    Koridor rumah sakit itu masih dipenuhi kesunyian yang terasa menyesakkan. Sudah berjam-jam mereka menunggu tanpa kabar, tanpa kejelasan, tanpa kepastian. Evelyn duduk dengan kedua tangan yang saling menggenggam erat di pangkuannya. Di sampingnya, Ibu Wijaya juga tidak banyak bicara. Wajah wanita itu terlihat semakin pucat seiring berjalannya waktu.Pak Budi masih berdiri tidak jauh dari mereka. Ia tidak duduk karena ia merasa tidak pantas duduk di samping keluarga. Sementara Hardi memilih duduk di kursi paling ujung, yang agak jauh dari Evelyn dan Ibu Wijaya.Sampai akhirnya terdengar suara langkah kaki dari ujung koridor. Semua orang refleks menoleh. Dari balik tikungan, muncul seorang pemuda dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan kemeja yang kusut.Ia baru saja datang setelah mengurus beberapa berkas yang harus diselesaikan karena Bram dirawat inap.Sebenarnya, ia sudah mendapat kabar tentang kondisi kakaknya sejak dua jam lalu melalui telepon dari Pak Budi. Tetapi ia tidak bis

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   86. Debat

    Jam demi jam berlalu tanpa terasa. Evelyn masih duduk di tempat yang sama sejak tiga jam lalu. Punggungnya sedikit membungkuk, tangannya terlipat di pangkuan, dan matanya menatap kosong ke arah pintu ruang operasi.Di sampingnya, Ibu Wijaya duduk dengan punggung yang lebih tegak, meskipun usianya sudah senja dan ia baru saja pulih dari sakitnya. Sejak tadi, perempuan tua itu lebih banyak diam.Pak Budi berada di seberang mereka, duduk di kursi yang sedikit jauh dari keduanya. Sesekali ia melihat jam di pergelangan tangannya, lalu kembali menundukkan kepala. Ia sudah menawarkan untuk membeli kopi, untuk menelepon keluarga, untuk melakukan apa pun yang bisa membantu. Tetapi tidak ada yang benar-benar ia lakukan sekarang selain menunggu.Kemudian, dari ujung koridor terdengar suara langkah kaki. Ketiganya refleks menoleh ke arah suara itu. Dari balik tikungan, muncul seorang pria mengenakan pakaian formal yang masih terlihat rapi. Rambutnya sedikit berantakan. Satu tangannya masih memeg

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   85. Operasi

    Mobil akhirnya berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Begitu kendaraan benar-benar berhenti, Evelyn langsung membuka pintu."Aku masuk dulu, Yah."Ayahnya bahkan belum sempat menjawab ketika Evelyn sudah turun dari mobil."Evelyn, Ayah pulang untuk menemani adikmu. Jaga diri baik-baik dan titip salam untuk keluarga Wijaya."Evelyn mengangguk sekali lalu berjalan cepat menuju pintu masuk rumah sakit, hampir berlari ketika melihat papan petunjuk menuju Unit Gawat Darurat.Ia sempat berhenti di meja informasi untuk memastikan lokasi Bram, tetapi sebelum sempat bertanya lebih jauh, matanya menangkap dua sosok yang sudah dikenalnya.Pak Budi dan Ibu Wijaya berdiri tidak jauh dari pintu Unit Gawat Darurat.Pak Budi terlihat mondar-mandir beberapa langkah sebelum kembali berhenti. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak tegang. Sementara Ibu Wijaya berdiri di dekat kursi tunggu dengan kedua tangan saling menggenggam."Nyonya Evelyn." Pak Budi menyadari kedatangannya lebih dulu.Evelyn

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   84. Mengejutkan

    Malam itu, perjalanan Bram pulang menuju mansion.Hujan mulai turun ketika mobilnya memasuki ruas tol yang cukup jauh dari pusat kota. Awalnya hanya berupa gerimis tipis, tetapi hujan berubah semakin deras.Bram memperlambat laju mobilnya.Jalanan yang sebelumnya masih dipenuhi kendaraan kini terlihat lebih lengang. Lampu-lampu kendaraan di kejauhan tampak samar di balik tirai hujan. Sesekali, cahaya lampu dari kendaraan yang berpapasan memantul di permukaan jalan yang basah.Bram menyandarkan punggungnya sedikit lebih nyaman ke kursi. Kedua tangannya tetap berada di kemudi.Sebuah getaran pendek terdengar dari kursi penumpang.Bram melirik sekilas. Ponselnya menyala dan memperlihatkan satu pesan masuk dari Evelyn."Sampai rumah dengan selamat ya. Terima kasih sudah datang hari ini, Rara senang sekali."Sudut bibir Bram terangkat sedikit. Ia membaca pesan itu sekali lagi sebelum kembali memusatkan pandangan ke jalan."Nanti kubalas." gumamnya pelan.Tangannya sempat terangkat hendak m

  • Dipaksa Menjadi Nyonya Besar   83. Bersiap

    Sore harinya, sebuah amplop cokelat resmi dikirimkan ke apartemen Sinta oleh kurir khusus.Ia duduk di sofa kulit putih, menatap amplop itu sebelum membukanya dengan tangan gemetar.Di dalamnya, terdapat surat resmi dari kantor pengacara Grup Wijaya. Di bagian bawah surat, tertulis permintaan agar Sinta menghadiri pertemuan mediasi dalam waktu tujuh hari, sebelum kasus ini dibawa lebih jauh ke ranah hukum resmi.Sinta meremas surat itu dalam genggamannya. Matanya panas menahan air mata. Ia tidak menyangka Bram akan bertindak sejauh ini sampai melibatkan pengacara secara resmi.Sinta meraih ponselnya. Ia memaksakan diri untuk mengetik."Bram, kumohon, kita bisa bicarakan ini baik-baik tanpa melibatkan pengacara. Aku tahu aku salah, tapi jangan hancurkan hidupku hanya karena satu kesalahan ini."Akhirnya, balasan itu muncul."Ini bukan lagi soal kesalahan kecil, Sinta. Kau menyerang keluargaku, menyerang perusahaan yang menghidupi ribuan orang hanya karena kau tidak bisa menerima penola

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status