LOGINIlana accepted the heartbreak her husband Gray inflicted in her—embracing the pain and relationship failure. She has experienced heartbreak twice—both from men who shared the same last names, Montemayor. The heartbreak didn’t kill her—it kept her alive, and afraid to love again. However, an uninvited visitor came to her door—trying its luck to be embraced like how it should be. Ilana tried so hard to avoid her growing feelings. However, the certain man who was just another presence in her life became everything to her. She forgot how she was before him. She laughed. She joked. She teased. All after he came. If this is another chance for Ilana to love again, she won’t deny it cold-heartedly. But how can she give this love a chance when the root of her love trauma left something in her that she could never get rid of?
View MoreBab 1
"Seperti ada suara motor Mas Yusuf, Bu," ucapku panik."Kamu ngga pamitan?" tanya Ibu kaget.Aku menggeleng lemah."Tumben?"Aku diam saja, tak berani menjawab.Mata Ibu menatapku dalam. Seperti ia sedang mencari sesuatu dalam kelopak mataku."Kalian ada masalah? Jangan menghindar, temui dia, bicarakan baik-baik," ujar Ibu menebak-nebak."Tidak, Bu. Biar Mas Yusuf menemuiku di kamar saja," elakku seraya berdiri dari tempatku duduk. Aku mengintip dari balik tirai jendela yang tertutup kelambu putih."Iya, benar, itu Mas Yusuf."Dengan cepat aku berjalan menuju kamar tidur agar ia tak melihat bahwa aku sengaja menghindarinya.Aku enggan menemuinya di hadapan ibuku, biarlah kami berbicara di dalam kamar saja agar masalah ini tidak melebar kemana-mana.Kupasang telingaku agar bisa mendengar dengan jelas apa yang akan diucapkan Mas Yusuf pada Ibu. Tak lagi dapat kubendung rasa kesalku padanya. Terlebih pada Ibunya yang selalu semaunya sendiri."Waalaikum salam, Suf," jawab ibuku pada Mas Yusuf yang baru datang setelah mengucapkan salam.Ucapan salam Mas Yusuf terdengar dingin. Tidak ada kelembutan yang kudengar dari ucapan salam itu."Alina mana, Bu?" tanya Mas Yusuf.Entah, ia menyalami ibu atau tidak. Aku khawatir Mas Yusuf abai pada ibuku. Tapi, semoga ibuku maklum atas sikap Mas Yusuf saat ini."Ada di kamarnya, masuklah, Nak," jawab ibu terdengar ramah. Tanpa Mas Yusuf menjelaskan, Ibu paham apa yang sedang terjadi antara kami berdua.Samar aku mendengar suara ibu dari dalam kamar, tetapi aku tak bergeming. Biarlah ia yang menghampiriku saja."Rumi mau es krim? Yuk beli," ujar Ibu setelah menjawab pertanyaan Mas Yusuf."Mau, Nek! Aku suka es krim," jawab Rumi senang.Sepertinya Ibu sengaja mengajak Rumi keluar untuk memberikan kami waktu berbicara berdua tanpa ada gangguan Rumi. Terlebih mungkin agar tidak mendengar suara bernada tinggi milik ayahnya yang mungkin akan terdengar menggema.Kemudian terdengar langkah kaki mendekat ke arah kamarku. Sejurus kemudian gagang pintu bergerak, setelah pintu terbuka tampak wajah Mas Yusuf muncul dari balik pintu."Ayo pulang! Minta maaf sama ibu! Jangan kebiasaan ada masalah lari ke rumah orang tua!" ucap mas Yusuf kepadaku yang sedang duduk di bibir ranjang tanpa permisi. Ia meraih tanganku yang tengah memilin ujung pakaian yang kukenakan."Tidak, Mas! Aku tidak salah! Aku ngga mau minta maaf!" elakku keras."Kalau ngga salah, bagaimana mungkin ibu sampai nangis nelangsa begitu!?" sela Mas Yusuf cepat. Tangis ibu mertua sepertinya sudah berhasil membuat api dalam dada Mas Yusuf berkobar hebat."Mas, tadi itu aku-""Sudahlah! Jangan membela diri! Minta maaf dulu sama ibu!" sela Mas Yusuf lagi.Mataku terperanjat mendengar teriakan Mas Yusuf yang begitu keras. Debaran dalam dadaku seketika membuat darahku mengalir cepat. Aku tak menyangka jika Mas Yusuf sedemikian membela ibunya."Ayo, pulang!" ajaknya lagi. Tanpa aba-aba ia kembali menarik tanganku agar mengikuti langkahnya yang lebar.Aku membuang napas kasar. Menjelaskan titik permasalahan sepertinya tidak akan bisa merubah keadaan jika kondisi emosinya sedang memuncak. Aku pun menurut saja."Langsung balik?" tanya Ibu yang baru saja kembali dari toko dekat rumah saat melihat Mas Yusuf menarik tanganku."Kita pulang, Ma?" tanya Rumi. Ia menatapku dan ayahnya bergantian."Iya, kita pulang dulu ya? Lusa main lagi ke sini." Aku menyela ketika Mas Yusuf hanya diam saja mendengar pertanyaan putrinya.Ibu menatapku dan Mas Yusuf bergantian. Lalu berjongkok di depan Rumi dan memegang kedua pangkal lengannya.Mendapati pandangan ibu yang hangat, mataku pun terasa panas. Lalu kabut tebal menyelimutinya hingga berubah menjadi bulir-bulir air yang siap meluncur bebas."Ngga apa-apa pulang dulu. Ini es krimnya dimakan di rumah ya?""Iya, Nek. Nanti kalau aku ke sini lagi, belikan es krim ini lagi ya?" balas Rumi sambil menunjukkan sekantong plastik yang berisi dua cup es krim vanila yang baru saja diberikan oleh neneknya."Yuk," ajak Mas Yusuf setelah ibu berdiri dan melepas pegangan tangannya pada bahu Rumi."Iya Mas," jawabku pasrah. Linangan air mata segera kuusap, lalu berjalan mengambil tas yang ada di atas kursi ruang tamu.Sadar jika suamiku sedang marah, tak bisa dibantah. Bahkan tak segan memukul jika aku, sebagai istri berani melawan. Makanya aku memilih berbicara di dalam kamar, takut jika ibuku melihat wajah Mas Yusuf kala emosi."Rumi balik dulu, ya, Nek?" pamit Rumi. Ia mengulurkan tangannya pada ibu lalu menciumnya dengan takdzim."Iya. Hati-hati ya, Nak?" jawab Ibu sambil memasang wajah sumringah.Aku pun mengikuti apa yang Rumi lakukan. Lalu, aku membalas tatapan ibu dengan senyum yang kupaksakan.Pandangan mata ibu tak lepas dari wajahku, yang sedang tertekan. Aku faham jika ibu mengerti kondisiku, tetapi tak berani berbuat apa-apa. Mungkin dalam hatinya sedang berdoa untukku.Sayang di sebelahku sudah ada mas Yusuf, membuat ibu tak berani berbicara banyak kepadaku. Hanya usapan tangannya pada bahuku, yang membuat dadaku makin terasa nyerinya.Aku membuang napas kasar agar nyeri dalam dada ini tak berubah menjadi isakan yang bisa memporak-porandakan suasana ini."Pulang dulu Bu," ucap mas Yusuf setelah mencium punggung tangan ibuku, mertuanya."Iya Nak, hati-hati di jalan." Lagi, ibu berucap.Kami bertiga lantas menaiki motor butut mas Yusuf. Tak lupa juga Rumi melambaikan tangan pada sang nenek sebelum motor ayahnya melaju membelah jalan.Pandangan mata ibu terus tertuju padaku sampai mataku tak bisa lagi melihat tubuhnya melalui kaca spion.Aku faham, ibu mengerti keadaanku yang sedang dalam masalah. Tetapi aku tak serta merta menceritakan semua yang telah terjadi agar tak semakin menjadikannya beban pikiran. Nasi sudah menjadi bubur, Mas Yusuf sudah menjadi suamiku, apapun keadaannya harus kuhadapi.Bismillah, ucapku dalam hati."Ayo cepat minta maaf sama ibu!" ucap mas Yusuf setelah kami turun dari motornya. Ia lalu membawaku ke hadapan orang yang tadi berbicara kasar denganku dan anakku, seperti kesetanan menyuruhku meminta maaf pada ibunya, mertuaku.Tak menjawab ucapan mas Yusuf, aku lantas menunduk, meraih tangan ibu mertua. "Alina minta maaf ya, Bu?""Iya, jangan diulangi lagi membantah sama orang tua. Ibu ini sudah tua, nggak bisa dengar kata-kata kasar, juga nggak bisa dibentak-bentak," ucap bu Rohaya, mertuaku. Wajahnya seolah sedang diliputi kesedihan, matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.Mendengar ucapan ibu, aku lantas berpikir keras. Siapa yang membantah? Bukannya tadi saat pertengkaran itu terjadi aku hanya diam tak membantah sedikitpun?Pertengkaran batin terjadi dalam hatiku. Bagaimana mungkin Bu Rohaya bisa berucap demikian padahal aku faham kejadian dari awal sampai akhir.Ucapan mertuaku lantas menjadi suatu pertanyaan untukku. Pantas saja Mas Yusuf sampai sedemikian emosi, ibu sudah membalik fakta yang telah terjadi."Iya Bu, sekali lagi Alina minta maaf," ucapku mengalah. Aku lantas berdiri dari hadapan mertuaku, meraih tangan Rumi untuk kugandeng menuju kamarku.Kemudian mas Yusuf mengikutiku dari belakang. Kami sama-sama masuk ke dalam kamar.Aku lantas duduk di bibir ranjang bersama Rumi, sedang Mas Yusuf berdiri di hadapanku."Mas, aku tadi nggak ngelawan," ucapku berusaha menjelaskan."Kalau nggak ngelawan nggak mungkin ibu sampai nangis kayak gitu!" sahut mas Yusuf tak terima.Kutatap wajah mas Yusuf yang wajahnya sudah agak berbeda dari saat kami datang. Meskipun begitu, ucapannya masih sedikit ketus."Sudahlah apa sih salahnya minta maaf sama ibuku?!" cecarnya.Merasa sudah terpojokkan, sebaiknya aku diam. Menjelaskan juga tak mungkin diterima jika hal itu menyangkut soal ibunya. Salahku memang dulu sudah tahu ibunya tak suka denganku, aku tetap saja mau menerima pinangan mas Yusuf.Bersambung 🌸🌸🌸GENTLE and wet kisses. Warm touch. Soft moans. Hunger and thirst.Ilana could feel the growing explosion in her belly again. Pang-ilang beses na ba ito? Hindi na niya nabilang. Matagal silang hindi nagsiping at talagang sinusulit naman ng kaniyang asawa.Pawis na pawis si Ilana habang taas-baba siya sa kandungan ni Gray. Mahigpit ang hawak nito sa kaniyang hita at baywang habang mainit na nakatitig sa kaniya ang mga mata nitong nagliliyab sa pagnanasa.“Fck! Fck!” Gray was muttering curses while clenching his jaws.Ilana could feel herself nearing, and she pressed her palms against his hard chest to support her own body. She picked up the pace. Mas lalong nagpabaliw iyon kay Gray.Kapwa sila hinihingal at nalulunod sa masarap na sensasyong ibinibigay nila sa isa’t-isa. Walang pagsidlan ang kaligayahan. Walang paglagyan ng kilig. Kung may bagay man silang natutunan sa lahat ng kanilang pinagdaanan, iyon ay ang magsisi sa anumang nagawang kasalanan, magpatawad, gawing inspirasyon ang na
KASAL. Isang sagradong pag-iisa ng dalawang taong nangako ng panghabangbuhay na pagsasama. Noong unang beses na nagpakasal si Ilana, hindi niya inisip ang sariling kaligayahan. Ang tanging gusto niya ay maisalba ang ama. Hindi siya lumakad sa mahabang red carpet. Hindi siya nagsuot ng magarang traje de boda. Hindi siya humawak ng magaganda at fresh na bulaklak. Walang mga camera. Walang mga palakpakan at pasimpleng hiyaw. Sinong mag-aakala na mauulit ang kasal ni Ilana? Parehong groom at bride pero maraming nag-iba. May mahabang red carpet na nilalakaran niya. May mga taong pumapalakpak. May mga camera sa paligid. May dala siyang mabango, fresh, at magagandang bulaklak. May suot siyang magarang traje de boda na talagang pinaghandaan dahil nasa gitna na siya, ang dulo nito ay nasa entrance pa ng simbahan. Nangingilid ang luha ni Ilana pero pinipigilan niya ang maiyak. Lalo na’t sa altar ay nag-aabang ang parehong lalaki na pinakasalan niya rin noon. Ang kaibahan, umiiyak ito nga
MAGKAHARAP sa isang mesa sina Gray at Tres. Kalmado silang pareho pero kakikitaan ng galit ang mga mata ni Tres. “Pagkatapos ng pinsan mo last week, ikaw naman ngayon. Anong balak niyo, linggo linggo akong suyuin?” Kunot ang noong tanong ni Tres. “Bakit dinaan mo sa dahas? Muntik mong mapatay ang anak ko.” Natawa si Tres. “Sana inisip iyan ng lola mo nang daanin niya sa dahas ang nanay ko.” Bumuntong-hininga si Gray. “Wala tayong magagawa kay grandma dahil ganoon talaga siya. Pero alam kong pinagsisihan niya ang ginawa niya.” “You think so?” Tumaas ang kilay ni Tres. “Itinaboy niya rin ako noon. Nasaan ang pagsisisi?” “I can't justify her actions—” “Sure you can’t.” Sumandal si Tres. “At wala ring kapatawaran.” “Ilana forgave you.” Nangunot ang noo ni Tres. “Iyan ang mahirap sa mababait, mga tanga.” Nagtagis ang bagang ni Gray. “Tanga ang tingin mo sa nagpapatawad? Kaya ba hanggang ngayon puno ka ng galit? Tristan, you hate our grandmother for doing that, but you're also doin
HALOS hindi humihinga si Ilana habang nakatitig si Gray sa kaniya. Kapwa mabilis ang pintig ng kanilang puso at walang patid ang pagtawag ng kanilang damdamin sa isa’t-isa. Ilana could feel it. The sincerity. The overflowing happiness. She knows that this is where her heart and fate is leading her to. Back to the arms of the man she loved so much. “Gray…” Ibinulong ni Ilana sa hangin ang pangalan ng lalaki. Kasabay ng pagtalon ng kaniyang puso sa epekto ng taong ito sa kaniya. He caressed her cheek, staring deeply into her eyes. “Alam kong malabo pa sa tubig kanal ang posibilidad na makalimutan mo ang ginawa ko…” Mahinang natawa si Ilana. “Bakit naman tubig kanal?” Kinagat ni Gray ang pang-ibabang labi. “Ang baho ng past mo sakin e.” Napailing si Ilana at hinawakan ang kamay ng lalaki. “We hurt each other, but we can't only focus on the pain and struggles. Nagkakasundo tayo noon. We share the same thoughts, ideas. You give me surprises, you give me contentment. Masyado lan
“LEAVE my wife alone,” matigas na banta ni Gray sa pinsan. Bumuhos ang matinding galit sa kaniya nang dumating siya sa restaurant at nadatnan ang dalawa. He was about to have a lunch meeting with an investor, but he cancelled it immediately after seeing the two. Hindi niya gusto ang paraan ng pagtit
MARIING nakakuyom ang mga kamao ni Gray habang nakahiga sa kama at nakatitig sa kisame. Kumikirot ang sugat niya sa palad pero hindi niya iyon iniinda dahil sa tindi ng galit na nararamdaman. Hindi niya maintindihan ang sarili. He's not in love with Ilana, so why does the idea of his cousin pursuin
HALOS manginig ang kalamnan ni Ilana. Nagbuhol ang kaniyang hininga at hindi siya makapagsalita. Planning her ex-husband’s wedding? That would be more than torturous. That would be a nightmare.“So, Ilana? Are you still a wedding planner or have you changed your line of work?”Ilana suddenly felt s
ALAM ni Ilana na wala nang patutunguhan pa ang nararamdaman niya para kay Gray at kailangan niya na itong ibaon sa limot. She has been in a one-sided love for three years, and it's tiring.“Konti nalang iisipin ko nang imahinasyon lang kita. Hello? May kasama ba talaga ako? Nakakaloka ha! Para akon






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ratings
reviewsMore