Teilen

Bab 139 Model Dewasa

last update Veröffentlichungsdatum: 05.11.2026 05:42:04

Javier menatap kamera polaroid itu selama beberapa detik sebelum mengangkat kepala. Kamera putih di atas meja kecil itu tampak sederhana, tetapi dia tahu persis berapa banyak keberanian yang dibutuhkan untuk membawanya masuk ke ruangan ini.

"Aku mau," jawab Javier.

"Pikir dulu, jangan buru-buru," tahan Andin.

"Aku sudah memik

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 140 'Pose Terakhir'

    Klik. Kilatan lampu putih memenuhi kamar jaga, lalu kertas ketiga meluncur dari celah kamera dengan bunyi mendengung kecil. Javier menyerahkannya ke tangan Andin tanpa melihat gambarnya, sesuai aturan yang dia buat sendiri.Andin duduk di tepi ranjang besi dan menunggu gambar itu muncul pelan-pelan dari balik warna hitam. Dia melihat dirinya berbaring menyamping dengan tali bahu yang turun satu, dan sorot mata yang menatap lensa tanpa menghindar. Dia menaruh foto itu di samping dua foto lain di atas meja."Bagus?" tanya Javier."Bagus. Tanganmu masih gemetar waktu memotret, tapi hasilnya nggak buram," jawab Andin."Mungkin lensanya yang menyesuaikan diri dengan tanganku," gumam Javier.Andin tertawa pendek, lalu tawa itu suru

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 139 Model Dewasa

    Javier menatap kamera polaroid itu selama beberapa detik sebelum mengangkat kepala. Kamera putih di atas meja kecil itu tampak sederhana, tetapi dia tahu persis berapa banyak keberanian yang dibutuhkan untuk membawanya masuk ke ruangan ini."Aku mau," jawab Javier."Pikir dulu, jangan buru-buru," tahan Andin."Aku sudah memikirkannya sejak kamu menaruh kamera itu. Ada tiga aturan dariku, dan kamu boleh menolak semuanya," ujar Javier.Andin melipat tangan di depan dada dan mengangguk. Dia sudah menyiapkan diri untuk jawaban apa pun, kecuali jawaban yang datang secepat itu."Pertama, kedua ponsel kita masuk ke tasmu, lalu tasmu kamu taruh di luar pintu. Kedua, hanya kamera ini yang dipakai. Ketiga, setiap foto yang keluar langs

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 138 Aku yang Atur

    Selasa sore pukul 15.40 WIB, Andin berdiri di lantai dua mal, tepat di depan toko pakaian dalam yang sama. Dia menarik napas, mengeratkan tali tas kanvasnya, lalu masuk sendirian untuk pertama kali.Pramuniaga yang dulu melayaninya sedang menata hanger di dekat kasir. Perempuan berseragam merah muda itu mengangkat kepala dan langsung tersenyum lebar, karena dia ingat betul pelanggan yang dulu datang ditunggui pria berkemeja biru muda."Kak, selamat sore! Suaminya nggak ikut hari ini?" tanya pramuniaga itu."Saya belum menikah, Mbak. Hari ini saya belanja sendiri, pakai uang saya sendiri," jawab Andin."Wah, maaf ya, Kak. Habis waktu itu kelihatannya kompak sekali," ujar pramuniaga itu sambil menahan senyum.Andin tidak menanggapi. Dia berjalan menyusuri deretan gantungan dan berhenti di depan satu set lingerie merah tua yang tergantung agak ke dalam. Kainnya tipis dengan renda kecil di tepi, dan warnanya merah pekat yang jarang dipilih orang."Kali ini aku yang milih, dan aku yang bay

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 137 Disalahartikan

    Javier sudah duduk di ruang kerjanya sejak pukul 06.30 WIB, dan ponselnya tertelungkup di sudut meja dengan layar menghadap kayu. Dia menepati permintaan Andin sampai ke hurufnya: tidak ada panggilan, tidak ada pesan, dan tidak ada sopir yang dia kirim ke gang kos.Setiap lima menit dia melirik ke sudut meja. Setiap lima menit pula dia mengambil pulpen dan menandatangani berkas yang tidak dia baca.Pukul 08.40 WIB, Pak Jul mengantar kopi ke lantai dua, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan, dan dia berdiri di ambang pintu sambil menggenggam cangkir dengan dua tangan."Dok, Mbak Andin hari ini tidak datang ya?" tanya Pak Jul hati-hati."Tidak ada jadwal untuknya hari ini," jawab Javier tanpa mengangkat kepala."Oh, begitu. Kopinya saya taruh di sini, jangan diminum panas-panas, Dok," pesan Pak Jul, lalu mundur dua langkah dan menutup pintu.Pukul 09.15 WIB, Rendi mengetuk dan masuk dengan buku jadwal terbuka di tangan. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah menyiapkan permintaan maaf sej

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 136 Kehilangan Kata-kata

    Ojek berhenti di depan klinik Jalan Senopati pukul 13.05 WIB. Andin menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribu dan turun sebelum pengojek sempat mencari kembalian."Selamat siang, Mbak Andin!" sapa Pak Jul dari pos satpam. Andin sudah melewatinya dan tidak menoleh.Di meja resepsionis, Rendi berdiri setengah dari kursinya dengan gagang telepon masih di telinga. Dia melihat wajah Andin, lalu meletakkan gagang itu pelan-pelan, karena dia tahu tidak ada telepon yang lebih penting daripada perempuan yang baru melewati pintu depan."Mbak, Dokter ada pasien jam satu lewat seperempat!" seru Rendi."Tolong ditunda, Ren," sahut Andin tanpa memperlambat langkah.Rendi menatap punggung Andin yang menjauh, lalu menatap Pak Jul yang berdiri di ambang pintu depan."Pasien jam satu lewat seperempat saya suruh nunggu di mana, Pak?" bisik Rendi."Suruh minum teh dulu, Ren. Banyak-banyak," saran Pak Jul sambil menggeleng.Andin menaiki tangga ke lantai dua, dua anak tangga sekaligus. Di lorong, Suster Ma

  • Dokter Javier, Jangan Lakukan Itu!   Bab 135 Dibayar Setengah

    Pukul 11.50 WIB, ponsel Andin bergetar di saku jaket ketika dia turun dari angkot di depan rumah sakit daerah. Notifikasi bank menampilkan satu baris pendek: honor bulan ketiga, Rp5.000.000, sudah masuk.Andin berhenti di trotoar dan membaca angka itu dua kali. Tiga bulan lalu dia masih menghitung uang receh di mesin setor tunai dengan tangan gemetar. Hari ini dia datang membawa uang sendiri untuk melunasi sisa tagihan ibunya."Semua ini hasil kerjaku sendiri. Hari ini aku bayar sendiri, tanpa pinjam siapa pun."Kelas pagi tadi dia lewati dengan setengah hati, karena telepon Suster Rahma terus terngiang di kepalanya. Dia sudah menyiapkan dua dugaan: tagihan Ibu naik, atau ada berkas yang hilang.Di bangsal saraf lantai dua, Suster Rahma duduk di balik meja jaga dengan map tebal yang menggunung di sisi kanan. Perempuan berusia lima puluhan itu mengangkat kepala, lalu tersenyum lebar begitu melihat Andin."Mbak Andin, sini duduk dulu," sapa Suster Rahma sambil menarik kursi plastik."Se

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status