MasukTerhitung sudah dua kali hari ini hidung Nabila mencium bau menyengat yang menusuk, hingga membuatnya mual. Bau yang kedua ini malah semakin membuat perutnya tak nyaman, ditambah rasanya hari ini begitu lelah.
Mobil yang dikendarai suaminya sudah tiba di rumah mereka, dengan perlahan Nabila turun, ia tak mengindahkan makanan yang dibeli tadi saat di perjalanan pulang. Ia langsung membersihkan diri di kamar mandi, guyuran air dari shower begitu terasa menyegarkan. Nikmat sekali bisaDari posisi rebah di atas ranjang periksa, di hadapannya terpampang jelas layar LCD yang memperlihatkan apa yang sedang ditangkap oleh USG. Sedikit demi sedikit Nabila paham apa yang digambarkan di layar tersebut. Di layar itu menampakkan buah hatinya yang tumbuh sempurna, berat badannya pun normal. Banyak syukur Nabila panjatkan atas karunia ini. Suaminya masih terus memeriksa, rasanya tak ingin cepat-cepat mengakhiri sesi ini. Satu hal lagi yang membuat Fahmi sangat penasaran, begitu juga Nabila, yaitu soal jenis kelamin. Transduser yang dipegang Fahmi terus mencoba mencari celah untuk menemukan jenis kelamin buah hati mereka, namun ternyata tak semudah itu. Janinnya bergerak menutupi bagian sensitif tersebut. “Abi, si Adek ngajakin main tebak-tebakan nih,” ucap Nabila. Ia tahu apa yang sedang ditelusuri sang suami. Fahmi tersenyum. “Iya, nih, Bunda. Kayaknya kita belum boleh tahu nih, mau ngasih kejutan si adek,” balasnya. Keduany
Sembari berdiri di dekat kompor, Fahmi menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan dr. Agni saat sore tadi. Ia menjelaskan apa adanya, tanpa ada yang ditambah maupun dikurangi. Nabila yang habis menggoreng telur, mendengar dan menyimak tanpa menyela. Setelah mendengar semuanya, ia merasa malu. Malu, karena sudah berburuk sangka dan menimbulkan kecemburuan. “Jadi malu aku,” gumam Nabila dengan sedikit menunduk. Fahmi mendengar gumaman sang istri, ia hanya tersenyum tipis memaklumi. “Nggak apa-apa, Sayang, justru Mas suka kamu cemburu,” ucapnya. Nabila menoleh, memandang suaminya yang tengah tersenyum bersamaan ucapannya barusan. “Maaf, ya, Mas. Aku udah buruk sangka, sebetulnya mau bersikap biasa aja, tapi nggak tahu kenapa rasanya nggak tahan, tiba-tiba langsung cemburu dan mau nangis,” jelasnya dengan nada rendah dan bibirnya sedikit tertekuk. Fahmi melangkah lebih dekat pada istrinya, ia membawa tubuh mungil itu ke dalam dekap
Terhitung sudah dua kali hari ini hidung Nabila mencium bau menyengat yang menusuk, hingga membuatnya mual. Bau yang kedua ini malah semakin membuat perutnya tak nyaman, ditambah rasanya hari ini begitu lelah. Mobil yang dikendarai suaminya sudah tiba di rumah mereka, dengan perlahan Nabila turun, ia tak mengindahkan makanan yang dibeli tadi saat di perjalanan pulang. Ia langsung membersihkan diri di kamar mandi, guyuran air dari shower begitu terasa menyegarkan. Nikmat sekali bisa mandi dengan air bersih dan segar itu. Rasa cemburu yang menyerangnya cukup membuat separuh tenaganya terkuras. Ia sebetulnya juga bingung, kenapa sampai sebegitunya bersikap, tapi entahlah seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam dirinya. Melihat suaminya sedang berinteraksi dengan perempuan lain, langsung tersulut cemburu. Selesai mandi, Nabila mengenakan pakaian ternyaman, yaitu homedress alias daster. Bahan katun rayon premium bermotif bunga-bunga kecil menyentuh kul
Menghadapi istri yang sedang mengandung ternyata tak semudah yang dibayangkan Fahmi. Ia pikir, sepertinya Nabila akan mengalami hal-hal pada umumnya ibu hamil, namun ternyata ia melupakan satu hal. Selain, mual, muntah, dan keluhan lainnya, ada juga suasana hati yang gampang berubah atau mood swing. Di awal trimester pertama ini, Nabila memang belum merasakan mual dan muntah, biasanya seterusnya akan seperti itu. Fahmi juga memang berdoa, agar kehamilan sang istri diberi kemudahan dan kelancaran. Tapi, namanya juga manusia biasa, ada satu hal yang luput dari pengawasannya. Dengan mata yang berkaca-kaca dan terisak, Nabila menyampaikan pertanyaannya itu. “Mas, cinta nggak sama aku?” Pertanyaan itu membuat Fahmi bernapas lega. Pertanyaan yang seharusnya tak perlu diragukan lagi perihal jawabannya, namun akan menjadi masalah jika dijawab asal-asalan dan tidak sungguh-sungguh. “Ana uhibbuki fillah, Istriku,” jawab Fahmi apa adanya perasaannya seperti itu. I
“Ada apa Mas sama Dokter Agni?” begitulah pertanyaan yang terlontar dari mulut Nabila saat melihat sang suami berinteraksi dengan perempuan lain. Ia sendiri merasa cemburu mendapati hal itu, apalagi tadi melihat dr. Agni yang mengambil sebuah tas kertas di tangan suaminya. Hadiah apa itu? Jangan-jangan selama ini, suaminya masih menerima pemberian perempuan lain seperti dulu saat mereka sama-sama masih lajang. Entahlah, baru melihat itu saja, perasaan Nabila sudah bercampur aduk. Ia cemburu dan marah. Ia tahu perasaannya ini seperti berlebihan, tapi ia tak mampu menahannya. Rasa cemburu itu meledak-ledak, mendorongnya untuk mengeluarkan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Hati Fahmi mencelos saat mendengar pertanyaan itu. Istrinya cemburu. Ia tahu itu. Akan tetapi, sebelumnya tak pernah wanitanya itu bersikap seperti demikian. Nabila bersikap biasa dan sewajarnya saja saat Fahmi harus berhadapan dengan perempuan lain. Namu
Mobil kesayangan milik Fahmi baru saja masuk ke area parkir di rumah sakit milik keluarganya. Sore ini ia pulang lebih awal dari biasanya, sehingga bisa menjemput sang istri dengan cepat. Biasanya Nabila menunggu suaminya di lobby, tapi kini lelaki itu yang berjalan menuju ruangan tersebut. Setibanya di lobby, belum nampak batang hidung wanitanya itu. Fahmi ingin melanjutkan langkahnya, namun terhenti saat ada yang memanggil dirinya. “Dokter Fahmi,” panggil seorang perempuan yang tidak begitu asing di telinga Fahmi sendiri. Fahmi menoleh ke sumber suara. “Ya?” Perempuan yang memanggil Fahmi ialah dr. Agni—salah satu dokter jantung yang bertugas di rumah sakit ini. Dengan mempercepat langkah, dr. Agni langsung mendekat ke arah Fahmi. “Dok, maaf mengganggu, ada yang mau saya tanyakan,” ucap dr. Agni sopan. “Iya, silakan, mau tanya apa, Dok?” tanya Fahmi sama-sama sopan. Nampak wajah dr. Agni seperti malu-malu, namu
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







