Se connecter“Anak kamu?” tanya Marsha.
Di telinga Rafli pertanyaan itu terdengar seperti menggema. Ia berdiri mematung, tak sengaja bertemu dengan Marsha membuatnya kembali mengingat kesalahannya pada masa lalu.“Iya,” jawab Rafli akhirnya. Suaranya kecil, bahkan ia tak berani membalas tatapan Marsha yang terasa menghunjam ke dadanya.Marsha tak mengindahkan jawaban Rafli, ia berlutut mensejajarkan tingginya dengan anak mantan kekasihnya itu. Ia tersenyum lembut. “Hei, kamuKantuk itu belum kunjung datang, netra Nabila masih cukup segar. Ia masih memerhatikan sosok tampan yang sudah tertidur di sebelahnya. Suara dengkuran halus terdengar menghiasi lelapnya Fahmi setelah menjalani hari istimewa ini. Tubuh memang lelah, namun hati dan pikiran terasa tentram juga damai. Segaris ekspresi bahagia terbit di wajah tampan itu. Nabila mengembuskan napasnya dengan pelan, khawatir tidurnya sang suami terganggu. Ia menekuri setiap pahatan indah yang terbentuk di wajah Fahmi. Alisnya yang tebal tersusun rapi, netra yang tertutup kelopak dengan susunan bulu mata sedikit lentik dan lebat, hidung yang mancung, serta cambang tipis yang memberikan kesan maskulin. ‘Apa aku mimpi, ya?’ tanya Nabila dalam hati. Jika, memang mimpi, tapi terlalu terasa nyata. Ia pun mencubit tangannya, tentu saja terasa sakit. “Aw…” Nabila mengaduh pelan. “Hnggh…” Fahmi sedikit menggeliat, namun ia tetap terpejam. Tidurnya nyenyak sekali
Tatapan tajam nan seksi terpancar dari mata yang indah itu. Tatapan yang hanya tertuju pada sosok cantik di hadapannya. Napasnya mulai memburu, ia nampak sangat berbeda dari biasanya. Sisi lainnya muncul di sini, namun hanya untuk satu orang wanita yabg beruntung saja, yaitu sang istri.Wanita di hadapannya tengah berpikir, bagaimana malam yang paling dinanti oleh pasangan baru menikah ini akan dilewati. Sebelum hari itu tiba, ia belajar dan mencari tahu agar malam itu terasa lebih berkesan. Rambut yang tergerai menutupi sebagian keindahan pahatan sang Maha Pencipta, disingkap dengan lembut oleh jemari kokoh itu. Matanya tak lepas menatap keindahan di hadapannya. Wangi aroma tubuh dan sampo menguar menggelitik indra penciumannya, semakin membuatnya tertantang. Mata indah milik sang istri mulai berani membalas tatapan itu. Sosok bercambang tipis di hadapannya memberikan sinyal bahwa malam ini akan menjadi milik mereka berdua.
Musik jazz mengalun indah di restoran hotel tersebut. Menemani setiap momen pengunjung yang sedang menikmati makanan mereka bersama keluarga, termasuk pasangan pengantin baru ini. Fahmi dan Nabila tengah menikmati makanan mereka setelah makanan pembuka sudah habis. Kini, menu utama yaitu beef wellington dan lobster thermidor. Kedua menu itu dipilih sendiri oleh Fahmi dan Nabila. Saat menu tersebut disajikan oleh pelayan di atas meja, lagi-lagi Nabila terkagum-kagum pada penataannya yang amat rapi dan cantik. Aroma kedua menu tersebut juga wangi, berbeda dengan menu makanan sehari-hari. “Begini ya, aroma makanan mahal,” gumam Nabila diiringi senyum ceria. Ia pun berpikir, mungkin jika tidak menikah dengan Fahmi, tak akan ia terpikirkan untuk sengaja datang ke restoran mewah ini. Fahmi mendengar ucapan Nabila, ia tersenyum kecil. Senyum yang terbit di wajah istrinya merepresentasikan bahagia dirinya juga. Ia pun mulai memotong daging sapi fillet yang dila
“Terima kasih juga, sudah menerima cintaku,” balas Fahmi dengan sepenuh hati. Kata-kata yang sederhana, namun berhasil membuat Nabila terenyuh. Ia menatap hangat sang suami, lalu memeluk tubuh kekar itu. Ada rasa hangat yang tak dapat ia deskripsikan. Wangi aroma tubuh Fahmi sudah menyatu dengan kulitnya. Dalam beberapa menit pelukan itu berlangsung, rasanya Nabila enggan melepaskan dirinya dalam dekapan tersebut. Rasa aman, nyaman, dan cinta menjadi satu dalam peluk itu. Nabila mengangkat kepalanya, ia menatap sang suami yang masih menautkan kedua tangannya yang kokoh pada tubuh mungilnya.“Nanti malam kita dinner di resto hotel,” ucap Fahmi sambil terus melekatkan pandangan pada sang istri.Nabila mengangguk. Pernikahan ini sungguh di luar sangkaannya, ia tak sampai berharap mendapatkan pernikahan hingga sampai menginap di hotel mewah ini. Yang ia pikirkan hanyalah, bagaimana proses pernikahannya berjalan dengan lancar. “Ka
Wajah Nabila terasa hangat, ia sampai menutupinya dengan kedua tangan. Fahmi masih berada di atasnya, dengan posisi mengungkung. Kemudian, perlahan Fahmi melepas tangan Nabila yang menutupi wajah cantik itu. Dilihatnya wajah sang istri yang nampak bersemu merah muda. Pupil matanya berkilau, mengedip satu kali, menatap paras tampan yang tepat berada di atasnya. “Aku malu…” desis Nabila. Suaranya kecil dan pelan sekali. Matanya beralih ke arah lain, lalu menatap ke arah sang suami lagi. Fahmi tersenyum mendengar perkataan sang istri. Ia memaklumi hal itu, karena ini adalah yang pertama kali bagi mereka berdua. Jemari Fahmi yang kokoh membelai lembut rambut hitam legam Nabila. “Nggak apa-apa, namanya juga pengantin baru. Kalau nggak malu-malu, baru aneh rasanya,” balas Fahmi halus. Nabila menatap Fahmi, ia tersenyum. “Mas, aku boleh tanya sesuatu?” Fahmi mengangguk. “Waktu itu, aku lagi rapihin meja Mas di poli, teru
“Anak kamu?” tanya Marsha. Di telinga Rafli pertanyaan itu terdengar seperti menggema. Ia berdiri mematung, tak sengaja bertemu dengan Marsha membuatnya kembali mengingat kesalahannya pada masa lalu. “Iya,” jawab Rafli akhirnya. Suaranya kecil, bahkan ia tak berani membalas tatapan Marsha yang terasa menghunjam ke dadanya. Marsha tak mengindahkan jawaban Rafli, ia berlutut mensejajarkan tingginya dengan anak mantan kekasihnya itu. Ia tersenyum lembut. “Hei, kamu lucu sekali, nama kamu siapa?” tanya Marsha dengan lembut. Anak lelaki Rafli itu tersenyum manis yang menggemaskan, menampilkan deretan gigi susu yang kecil-kecil dan bersih. “Nama atu Yakaaa…” jawabnya dengan ceria dan suara yang menggemaskan.Marsha tertawa kecil mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Rafli versi saset itu. “Namanya Raka,” ujar Rafli memperjelas, karena pelafalan anaknya belum jelas. Marsha mendongak, lalu Raka kembali berlari-lari, namu
Kaget bukan main. Kondisi Nabila saat ini membuatnya menjadi lebih sensitif. Sentuhan seperti tadi tentu membangkitkan rasa takutnya. Nabila menghela napas saat melihat sosok yang ia kenal berada di hadapannya. Kemudian, ia tersadar kunci kartu itu jatuh, lalu segera memungutnya.
Bukan pertanyaan bodoh. Inilah yang ada di kepala Nabila. Ia ingin tahu apa yang menjadi alasan Fahmi menyelematkannya tadi. Fahmi masih menatap Nabila, lalu ia membuangnya pada arah lurus ke depan. “Karena harus ditolong,” jawabnya dengan logis dan tenang. Nabila mengembuskan
Suara Fahmi terdengar rendah dan sangat dingin, membuat semua orang di dalam lift seketika menoleh ke belakang dengan terkejut.Nabila langsung mencengkeram scrub pria itu erat-erat, jemarinya bergetar hebat. Jantungnya berdetak kacau sampai terasa sakit.Wajah Fahmi terlihat te
Fahmi bersandar di kursi kerjanya dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajah tampannya nampak tenang sekali, tapi senyum tipisnya terasa mengintimidasi bagi Nabila. Nabila benar-benar menyesal telah mengeluarkan pertanyaan bodoh itu, namun mau bagaimana lagi, emosinya lebih dulu b







