แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Sherlys01
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-09-29 19:00:23

William membaringkan tubuh Eva dengan perlahan, ia mengambil selimut dan menyelimutinya hingga ke dada. William menatap Eva sejenak, pikirannya sedang kacau. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang ini.

Ponsel milik William berdering, lalu ia mengangkatnya.

‘Pak, saya sudah mencari tahu informasi tentang anak itu. Dia bernama Eva Brown, usia 19 tahun. Ibu kandung Eva sudah meninggal dunia sejak ia dilahirkan, jadi sekarang dia tinggal bersama ayah dan ibu tirinya.’

William melirik ke arah Eva, tetapi ia hanya diam mendengarkan. Terdengar lagi suara dari telepon.

‘Selama tinggal di keluarga tersebut, Eva tidak pernah makan dengan kenyang. Kamarnya juga ditempatkan di gudang yang sempit, sejauh orang yang sering memberikannya makan hanyalah para pelayan saja.’

William menghembuskan nafas panjang, ia tidak menyangka kalau Eva sudah sangat menderita selama ini. Tidak heran jika gadis itu sudah tidak memiliki semangat hidup lagi.

“Apa yang sebenarnya terjadi di malam itu? Sebelum dia kecelakaan?”

Suara dari telepon tersebut hening sejenak. Lalu ia lanjut berbicara lagi.

‘Berdasarkan informasi yang saya dapatkan, pada malam itu Eva dipukuli dengan cambuk lalu diusir oleh keluarganya. Setelah itu, dia ditelantarkan di tempat yang cukup jauh dari rumahnya.’ 

Pandangan William berubah menjadi gelap, ia juga menggenggam ponselnya dengan kuat hingga ujung jarinya memutih. “Baiklah, terima kasih atas informasinya.”

‘Baik, pak. Jika bapak ingin tahu lebih lanjut, saya sudah mengirimkan informasi detailnya melalui E-mail.’

“Hm. Terima kasih.” William mematikan panggilannya.

William menoleh ke arah Eva dan mengusap kepalanya dengan lembut. Ia tidak bisa membayangkan penderitaan yang dialami oleh gadis ini.

“Kau pasti sudah sangat menderita ya. Bahkan sampai nggak mau hidup lagi.”

William menarik tangannya perlahan, ia juga memperhatikan Eva dari ujung kepala hingga kaki. Tatapannya terhenti saat ia melihat kakinya, perasaan bersalah masih terus menghantuinya.

Dengan nada yang lembut, ia berkata “mulai hari ini aku akan terus menjagamu. Kamu nggak akan hidup menderita lagi.”

William membuka E-mail nya dan membuka sebuah dokumen. Saat sedang membaca, ia menaikkan alisnya.

---

Keesokan harinya, Eva mulai membuka matanya perlahan. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, lalu ia mencoba untuk bangun. Rasa nyeri ditubuhnya masih terasa.

Eva berhasil duduk, tetapi ia dibingungkan dengan kondisi ruangannya. Pagar besi kasur semuanya dilapisi oleh busa angin yang sangat tebal. Di lantai tergeletak beberapa kasur busa, bahkan meja yang biasanya ada di sebelah kasur juga sudah digeser hingga ke ujung ruangan.  

“Sudah bangun?”

Eva menoleh ke arah pintu dan melihat William yang sedang berdiri di pintu sambil membawa kotak makanan.

“Kamu yang menyiapkan semua ini?” pandangan Eva menyapu ke sekeliling.

William tersenyum tipis, “iya.”

Eva menghela nafas, “untuk apa melakukan sesuatu yang nggak berarti seperti ini?”

William tidak menjawab, ia berjalan masuk. Ia melepas sepatunya dan menginjak kasur busa itu lalu berjalan ke arah Eva.

“Ini bukan sesuatu yang nggak berarti. Aku melakukan ini untuk mencegah kamu menyakiti diri sendiri.”

Eva tersenyum sinis, “heh. Kamu nggak perlu sok perhatian begitu, lagipula aku juga sudah gagal mati berkali-kali.”

William menyodorkan kotak makanannya, “sudah berhari-hari kamu pingsan, pasti lapar ‘kan? Makanlah.”

Eva melirik ke arah kotak makanan, lalu ia memalingkan wajahnya, “nggak nafsu.”

William sudah menduga jawabannya, jadi ia langsung membuka kotak makannya dan menaruhnya di paha Eva.

“Kenapa maksa banget sih?!”

William tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Kemudian, terdengar suara gemuruh dari perut Eva.

‘Ah, sialan. Kenapa di saat seperti ini sih??’ Gumam Eva dalam hati.

William terkekeh kecil, “sudah kelaparan seperti itu masih nggak mau makan?”

Pipi Eva sedikit merona karena malu. “Berisik ah.”

Dengan terpaksa, Eva mengambil kotak makan tersebut dan mulai menyuap makanannya sedikit demi sedikit. William hanya berdiri di samping sambil memperhatikan Eva yang sedang makan.

“Kamu ada ponsel?”

Eva menggelengkan kepalanya, “enggak.”

William mengambil sebuah ponsel dari kantong kemejanya dan menyodorkannya kepada Eva, “ini untukmu.”

Tatapan Eva beralih ke ponsel yang ada di tangannya, ia memperhatikannya sekilas. Lalu ia mengernyitkan dahinya.

“Untuk apa kau berikan ponsel ini?”

William tersenyum, “anak muda sepertimu pasti memerlukan ponsel, ‘kan? Aku baru beli tadi pagi, ambillah.”

Eva terlihat ragu sejenak, lalu ia mengambil ponsel itu dan menyalakannya. Ponsel itu ternyata sudah disetting sangat rapi, sudah dimasukkan nomor baru, bahkan Wi-Fi rumah sakit juga sudah disambungkan.

Eva berdeham, “terima kasih...”

Mendengar kata-kata itu, William tidak dapat menahan senyumnya.

“Mulai hari ini, aku akan terus menjagamu. Jadi, kalau kamu butuh bantuan, kamu tinggal bilang saja padaku.”

Eva tersenyum sinis. Kalimat itu persis seperti yang dikatakan oleh pelayan di rumahnya, kata-kata yang cukup indah dan juga hangat. Tapi nyatanya apa? Mereka mengkhianati dirinya, tidak ada satupun dari mereka yang mau membelanya.

Dunia ini memang sangat tidak adil!

Eva menatap William dengan tajam, “lalu? Apakah hanya dengan kata-kata itu aku harus  menyerahkan diriku pada orang yang sudah menabrakku? Bahkan kamu saja nggak tahu apa yang sudah aku lalui..”

William terdiam.

“Aku…”

Eva mengibaskan tangannya, “sudahlah. Nggak ada gunanya juga aku berbicara seperti ini padamu. Karena nggak ada satupun orang yang bisa dipercaya.”

Eva menutup kotak makanannya lalu menaruhnya dipinggir kasur. Ia membaringkan tubuhnya dengan perlahan, William membantunya. Setelah berbaring, Eva membelakangi William.

William melihat jam tangannya lalu menoleh ke arah Eva, “aku mau pergi dulu sebentar karena ada urusan kerjaan. Kamu istirahat dulu ya disini.”

Eva tidak menjawab. William menghela nafas lalu mengenakan sepatunya, saat ia berjalan ke arah pintu, William menghentikan langkahnya.

“Aku serius dengan perkataanku barusan. Aku akan membuktikannya padamu.”

William berjalan keluar dan menutup pintunya. Setelah mendengar suara pintu ditutup, Eva mendongakkan kepalanya dan melirik ke pintu sekilas.

‘Hmph. Janji palsu… lagipula nggak ada orang yang akan benar-benar menjagaku.’ Pikir Eva.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 156

    Di depan kantor dosen, William sedang menikmati secangkir kopi yang ia bawa, sambil menatap ke luar jendela. Melihat birunya langit yang disertai dengan awan-awan yang berjalan dengan perlahan. Pikirannya saat ini sedang dipenuhi oleh berbagai macam hal.Tetapi, lamunan itu akhirnya terpecah saat seseorang menepuk pundaknya. "Yo, brother."William mendecak. "Bisa nggak, kamu jangan panggil aku begitu? Kita ini masih di kampus, kau ingat?"Surya menutup mulut dengan tangannya. "Ups, maaf. Kebiasaan soalnya, hehe."William menghela nafas kecil, lalu ia kembali menyeruput kopi. Surya menatap sejenak cangkir yang dipegang oleh William. "Ngomong-ngomong, apa yang bapak lakukan di sini? Dan ... kenapa bapak bawa cangkir kopi keluar ruangan?"William diam sejenak, tatapannya tidak beralih sedikit pun dari jendela. "Cuman mau cari udara segar."Surya menaikkan alisnya. "Udara segar? Di sini?" Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu menoleh kembali ke

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 155

    Di kelas, Eva sedang mencatat beberapa poin penting yang baru saja ia pelajari. Catatan itu ia buat dengan serapi mungkin agar ia bisa dengan mudah memahaminya. Di catatan tersebut, terdapat beberapa poin yang diwarnai menggunakan stabilo, lalu terdapat beberapa tulisan yang diberi kotak.Saat sedang mencatat, Eva sesekali melirik ke arah Clara yang ada di sebelahnya. Clara menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya. Semenjak mereka dipanggil ke ruang meeting, sikap Clara yang awalnya ceria dan juga cerewet, berubah menjadi pendiam. Bahkan, saat mereka berdua bertemu saja, Clara hanya menyapanya dengan senyuman saja.Eva hendak melanjutkan mencatat lagi, tetapi ia masih tidak terbiasa dengan sikap Clara yang seperti ini. Tubuhnnya berputar hingga menghadap Clara. "Clara, kamu nggak apa-apa?" Eva menggoyangkan tangannya."Hmm ..." Clara hanya menjawab tanpa melirik sedikit pun."Kamu mau pergi ke kantin, nggak? Kita beli makanan kesukaanmu."Clar

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 154

    Di sebuah kamar yang diterangi oleh lampu, William mengoleskan obat salep ke tangan Eva yang terkena pukulan. Ujung jarinya menyentuh kulit tangan sang istri dengan lembut dan hati-hati, memastikan agar tidak menimbulkan rasa nyeri.Eva tidak berkata apa-apa, ia hanya diam saja sambil menatap wajah William yang sangat serius. Alisnya sedikit menurun dan terlihat kerutan samar di dahinya. Tetapi, Eva memilih diam sambil menikmati pemandangan ini. Padahal pria ini baru saja meluapkan emosinya, tapi ia masih bisa merawat lukanya seperti ini.Terdengar sebuah suara berat yang memecah keheningan. "Kenapa kamu begitu ceroboh sampai membuat dirimu terluka, hm?"Eva menghela nafas kecil. "Aku cuman nggak mau kamu kena pukul ayahmu. Itu saja."William setengah melirik ke arah Eva, menatapnya sejenak. "Seharusnya kamu nggak perlu melakukan itu ... aku sendiri juga masih bisa menghindar, kok. Kamu lupa dengan janjimu padaku?""Aku masih ingat dengan janjiku untuk menjaga diri, tapi yang tadi itu

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 153

    William menyeringai lebar, ia merasa sangat puas ketika melihat wajah terkejut mereka. "Kalian semua pasti sangat terkejut, 'kan? Kalau aku sih sama sekali nggak kaget, karena istriku itu ... bukanlah wanita lemah yang mau diinjak begitu saja oleh kalian. Dia sangat kuat."Eva mengulum bibirnya, ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh sekuat tenaga. Ia sama sekali tidak ingin terlihat lemah di depan mertua dan juga musuh bebuyutannya itu. Ia ingin bisa menjadi seorang istri yang baik dan juga kuat bagi William, bisa berada di sisinya dan menghadapi banyak rintangan bersama-sama.Itu adalah impiannya.William menoleh ke arah jam tangannya. "Sudah mulai larut malam. Aku rasa percakapan kita cukup sampai di sini saja."Michael mengerutkan dahinya. "Apa?! Jadi kamu berniat mengusir kami?""Maaf, pak Michael. Bukan bermaksud untuk mengusir, tapi ini memang sudah larut malam dan kami harus istirahat. Jika ingin berbincang lagi, kita bisa a

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 152

    Caroline buru-buru menggelengkan kepalanya. "Tentu saja, aku cinta karena dirimu, William. Aku sama sekali nggak peduli, kamu berasal dari keluarga mana, aku cinta kamu karena kamu sangat lah keren bagiku. Aku sudah hidup berkecukupan, jadi untuk apa aku mengincar hartamu?""Hmph. Ternyata bukan cuman matre saja, tapi seorang pembual handal."Mata Caroline semakin berkaca-kaca. "William, kamu ngomong apa? Kamu sebegitu bencinya kah padaku? Jadi, kamu nggak percaya dengan perkataanku?""Apa kamu lupa, waktu kita masih kecil, aku sering membantumu? Bahkan waktu aku dengar kamu sakit pun, aku juga sudah berniat untuk menjengukmu, apakah semua yang aku lakukan ini sama sekali nggak ada artinya di matamu?"Pelayan rumah datang dan menyerahkan sebuah kompresan kepada William. William menerimanya dan langsung berjalan menuju sofa. Mereka melewati Caroline begitu saja. Sesampainya di sofa, William menurunkan Eva.Ia berlutut di depan Eva, dan menarik tanga

  • Dosenku Penyembuh Lukaku   Bab 151

    Pelayan rumah membantu membukakan pintu, begitu mereka masuk ke dalam, raut wajah William langsung berubah menjadi masam, saat ia melihat keluarganya berkumpul di ruang tamu. William berbisik kepada pelayan rumah yang mengikuti mereka."Begitu mereka pulang, tolong bersihkan sofa-sofanya sekalian, ya."Pelayan rumah tersebut mengangguk. "Baik, Tuan."Caroline yang melihat William datang, ia langsung bangkit berdiri dan menghampirinya. "William, akhirnya kamu pulang—"Matanya langsung membelalak ketika melihat Eva yang ada di depannya. Eva memiringkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Halo, kak Caroline. Kita bertemu lagi.""Eva? Kamu lagi ngapain di sini? Kok ... kamu bisa sama William?"Eva menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Lho, kenapa kamu bingung? Ini 'kan rumahku, jadi bukan hal yang aneh 'kan kalau aku ada di sini?""Apa?"Ujung bibir William berkedut, ia menahan senyumnya. Lalu, dua orang lagi muncul dar

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status