Home / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 207 — Perdebatan dua pria.

Share

Bab 207 — Perdebatan dua pria.

Author: Za_dibah
last update publish date: 2026-05-16 01:57:30

Aku mengernyitkan dahi.

Dominic hari ini benar-benar aneh, seperti orang yang berbeda.

Biasanya, pria ini bisa menahan rasa sakit seekstrem apa pun tanpa mengedipkan mata, tapi sekarang...?

Sikapnya yang manja ini membuatku bertanya-tanya: apakah ini sisi aslinya yang baru ditunjukkannya sekarang, ataukah ini hanya permainan baru?

​Lukas yang berdiri di belakangku tertawa dingin, sebuah tawa yang merendahkan. "Berhenti, Dominic. Jangan konyol."

Suaranya tajam seperti pecahan kaca.

Aku menol
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 334 — Kembalilah...

    BEEP! BEEP! BEEP!​Suara sirene bahaya di dalam ruang ICU terisolasi melengking tajam, memotong keheningan malam yang sunyi.​Pintu ganda berlapis baja seketika terbuka kasar. Tim medis darurat bersama dua dokter spesialis jantung berhamburan masuk dengan langkah tergesa-gesa. Mereka bergerak cepat mengelilingi ranjang Dominic yang terbaring kaku.​"Tekanan darah merosot drastis! Cardiac arrest!" teriak dokter utama seraya menarik alat defibrillator mesin kejut jantung mendekati ranjang. "Siapkan 200 Joules! Cepat!"​Di luar ruang ICU, panik melanda tanpa ampun.​"KAK DOMINIC! KAKAK!"​Nadine menjerit histeris. Wajahnya yang pucat bertambah hilang darah. Kedua tangannya menghantam dinding kaca tebal yang memisahkan mereka, matanya menyaksikan dengan jelas bagaimana tubuh tegap Dominic tersentak keras ke atas setiap kali sengatan listrik menghantam dadanya yang terbalut perban.​"Tenang, Nadine! Jangan maju!" seru Matteo serak. Pria itu merangkul dan menah

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 333 — Hidupmu jauh lebih berharga

    ​Aroma sabun pembersih menggantikan bau amis darah yang menyengat.Nadine berdiri mematung di depan cermin kamar mandi VIP. Pakaian gaun pengantin krem yang penuh noda darah telah tergantikan oleh pakaian piyama katun longgar berwarna biru muda. Wajahnya yang polos tampak begitu kuyu, dengan lingkaran hitam memayungi matanya yang bengkak.Di atas meja rias, jemari Sarah Maheswari mengusap lembut punggung putri tunggalnya. "Nadine... makanlah sedikit sup hangat ini. Kau belum menyentuh makanan sejak pagi."Nadine menggeleng pelan, suaranya terdengar begitu tipis dan serak. "Tidak lapar, Bu...""Ingat anak di dalam rahimmu, Nak," pangkas Sarah lembut namun menyiratkan ketegasan seorang ibu. "Kalau kau sakit dan tubuhmu drop, bayimu yang akan menanggung akibatnya. Kau mau anak ini kenapa-kenapa?"Mendengar penekanan ibunya, Nadine menunduk kaku. Pandangannya jatuh ke arah perutnya yang masih datar. Ada gejolak rasa bersalah yang teramat dalam. Demi melindungi anak i

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 332 — Koma

    ​"Koma...?" Bisikan lirih itu meluncur sangat pelan dari bibir Nadine yang pucat. Dunia di sekitarnya terasa berputar hebat. Rasa bising di koridor mendadak senyap, menyisakan gema kata mematikan itu di dalam kepalanya. "Pendarahan berhasil dikendalikan," lanjut dokter bedah dengan nada berhati-hati, menatap lurus pada Sebastian. "Namun, benturan trauma pada organ vital serta kehilangan banyak darah membuat tubuhnya masuk ke fase kritis. Duapuluh empat jam ke depan adalah masa paling krusial. Kami harus memindahkannya ke ruang ICU terisolasi." Sebastian memejamkan mata rapat-rapat. Bahunya yang tegap tampak sedikit merosot, sebuah pertanda langka dari sesosok pria berhati besi yang kini hancur melihat putranya di ambang kematian. "Lakukan apa saja," desis Sebastian dengan suara serak yang bergetar. "Gunakan seluruh fasilitas dan ahli medis terbaik yang kita miliki. Jangan biarkan dia kehilangan nyawanya." "Kami akan berusaha semaksim

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 331 — Kritis

    ​Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung, menggantikan wangi mawar putih dan parfum mewah yang beberapa jam lalu memenuhi ballroom. ​Lampu indikator berwarna merah menyala terang di atas pintu ganda berlapis baja bertuliskan Operating Theater 01 di St. Jude Private Hospital, rumah sakit milik konsorsium Moretti. Suara ritmis dari peralatan medis di dalam ruangan samar-samar terdengar, beradu dengan suara derap langkah gelisah di sepanjang koridor VIP yang steril. ​Nadine duduk bersandar kaku di kursi tunggu. Gaun krem mewahnya kini dipenuhi noda darah mengering yang berubah warna menjadi cokelat pekat, darah milik Dominic. Jemari mungilnya saling bertaut erat di atas pangkuan, bergetar tanpa henti.Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan merah akibat air mata yang tak kunjung berhenti menetes. ​"Nadine... minumlah sedikit air," bisik Sarah Maheswari penuh kelembutan. Ibu kandungnya itu berlutut di hadapan Nadine, menyodorkan segelas air mineral dengan raut wa

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 330 — Ratapan pilu Nadine

    ​"KAK DOMINIC! BUKA MATAMU! KAKAK... TOLONG BUKA MATAMU!" ​Jeritan histeris Nadine pecah tak terbendung. Tubuh ringkihnya berguncang hebat di atas panggung marmer. Tangannya yang berlumuran darah terus menekan luka tembak di dada Dominic, berusaha menahan cairan merah pekat yang kian membasahi lantai dan gaun mewahnya. ​Namun, mata abu-abu yang biasanya menatap penuh dominasi itu kini terpejam rapat. Wajah tampan Dominic kian pucat bagai pualam, dan dada tegapnya tak lagi menghembuskan napas secara beraturan."TOLONG SIAPAPUN PANGGIL DOKTER SEGERA...!" jerit Nadine menoleh kearah Matteo dan Lukas bergantian. "KUMOHON...!" ​"Hiks... jangan tinggalkan aku kak... kumohon bertahanlah!" tangis Nadine meratap pilu, memeluk kepala Dominic erat-erat ke dadanya, tak peduli lagi pada gaun yang kini hancur bernoda darah. ​Matteo menyapu kasar air mata yang mendadak menetes di pipinya. Pria itu menepuk bahu Nadine dengan tangan gemetar, lalu berteriak murka ke arah korid

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 329 — Suasana Chaos

    Moncong pistol berperedam suara itu telah terkunci lurus pada dada Nadine. ​Maximillian Miller menyunggingkan senyum gila. Ibu jarinya menekan pelatuk tanpa ragu. Senjata itu hanya melepaskan sekelebat angin tumpul, bersamaan dengan sebutir selongsong kuningan yang jatuh berdenting di lantai ballroom. Sedetik kemudian, timah panas sudah meluncur cepat membelah udara, mengincar tepat jantung wanita yang dianggapnya sebagai biang kehancuran keluarga Miller. ​Lukas yang berada paling dekat dengan Nadine baru saja hendak menarik tangan wanita itu. Namun, refleks seorang Dominic Moretti melampaui batas kecepatan manusia biasa. ​Melihat kilatan senjata dari balik kerumunan, Dominic tidak membuang waktu sedetik pun. Dengan sisa tenaga dari tubuhnya yang sebenarnya belum pulih, Dominic menerjang maju, memasang tubuh tegapnya tepat di depan Nadine seraya memeluk erat kepala dan tubuh gadis itu ke dalam dadanya. ​BAMM! ​Hantaman telak merobek daging. Peluru tajam itu melesat tepat di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status