LOGINWajah Nadine langsung memerah malu.“Jangan mengingatkanku soal itu…” gerutunya pelan.Lukas tersenyum kecil.“Suara perutmu cukup keras untuk mengguncang harga diri seorang Vance.”“Lukas!”Tawa kecil pria itu kembali terdengar.Dan entah kenapa, mendengar Lukas tertawa seperti ini membuat Nadine merasa jauh lebih rileks.Tanpa menunggu lebih lama, ia mengambil sendok peraknya.Ia meniup perlahan kuah sup itu sebelum menyesapnya.Begitu rasa hangat kaldu menyentuh lidahnya, Nadine langsung memejamkan mata sesaat.“…Enak sekali.”Suara lirih itu keluar nyaris seperti erangan lega.Lukas memperhatikannya diam-diam.Cara Nadine menikmati makanan sederhana seperti itu membuat dada Lukas terasa hangat dengan cara yang sulit dijelaskan.Nadine segera menyendok lagi... dan lagi.Lalu mulai memotong steak di hadapannya dengan lebih antusias.Kehamilan mudanya membuat rasa mual datang dan pergi tidak menentu, namun malam ini ar
“Lukas, kau melamun lagi. Tolong jangan mengabaikanku.” Suara Nadine memecah lamunan panjang Lukas. Gadis itu duduk di hadapannya sambil sedikit merajuk. Bibirnya mengerucut tipis, sementara jemarinya memainkan gagang sendok perak di atas meja marmer. Sorot matanya menyimpan kebingungan kecil, seolah ia benar-benar tidak mengerti ke mana pikiran pria di depannya melayang sejak tadi. Lukas terkesiap samar. Ia baru sadar bahwa sejak ia datang, dirinya hampir tidak menyentuh teh camomilenya sama sekali. Pikirannya masih terjebak jauh di masa lalu, pada seorang gadis kecil dengan kayu balok di tangan dan senyum cerah yang pernah menyelamatkannya dari kehancuran harga diri. Dan gadis kecil itu kini duduk tepat di depannya… tanpa mengingat apa pun. Lukas perlahan meletakkan cangkir teh hitamnya di atas meja. Bunyi kecil porselen beradu dengan tatakan terdengar pelan di tengah keheningan ruangan. Ia mengangkat wajah, lalu memberikan senyum tipis yang tampak tenang di permukaan,
Kalimat yang menjadi beban mental terbesarnya itu lolos begitu saja dari belenggu bibir Lukas tanpa ia sadari. Ia merasa sangat bodoh karena telah membagikan rahasia sekelam itu kepada seorang anak kecil.Nadine kecil terdiam sesaat setelah mendengar kalimat Lukas. Ia menatap wajah sedih remaja di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan oleh anak seusianya. Dan beberapa detik kemudian, sesuatu hal yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Lukas seumur hidupnya terjadi begitu saja.Gadis kecil itu tiba-tiba mengulurkan kedua tangan mungilnya yang hangat. Tanpa mempedulikan gaun putihnya yang kotor, Nadine kecil memegang kedua pipi tembam Lukas, lalu menggunakan ujung baju lengan gaunnya sendiri untuk menyeka sisa-sisa air mata yang masih basah di wajah Lukas."Kenapa kau harus menangis karena ucapan orang lain, Kakak Tampan?" kata Nadine kecil dengan nada suara yang begitu polos dan menenangkan.Tubuh Lukas seketika membeku sempurna di tempatnya. Napasny
Suara cempreng seorang anak kecil mendadak menggema nyaring di ujung gang. Semua kepala menoleh bersamaan.Di sana, tepat di bawah sorot matahari musim panas yang menembus celah bangunan, berdiri seorang gadis kecil yang diperkirakan baru berusia sekitar tujuh tahun. Rambut hitam panjangnya terlihat sedikit berantakan karena angin, dan kedua pipi mungilnya tampak kemerahan, sebuah indikasi nyata bahwa ia baru saja berlari kencang dari suatu tempat. Gaun putih sederhananya terlihat kotor di bagian bawah, namun matanya… matanya menyala penuh keberanian. Nadine kecil.Anak-anak remaja nakal yang mengerumuni Lukas sempat tertegun sejenak, sebelum akhirnya kembali meledakkan tawa mengejek yang meremehkan."Hah? Apa-apaan ini? Seorang anak ingusan?""Hei, bocah! Pergi sana bermain boneka di rumahmu sebelum kami mendorongmu masuk ke dalam selokan juga!"Namun, ancaman itu sama sekali tidak membuat Nadine kecil mundur walau satu senti pun. Sebali
Belasan tahun silam. Kota Nasan saat musim panas selalu dipenuhi udara lembap dan suara anak-anak yang berlarian di jalanan sempit. Di salah satu sudut distrik tua, seorang remaja laki-laki bertubuh tambun berdiri sendirian. Kedua tangan gembilnya memeluk sebuah tas ransel kecil di dada dengan amat erat, seolah tas itu adalah satu-satunya perisai yang tersisa untuk melindungi dirinya dari dunia luar. Lukas muda waktu itu baru menginjak usia empat belas tahun. Fisik dan pembawaannya jauh berbeda dari sekarang. Belum ada rahang tajam aristokrat Vance yang dingin dan mematikan. Belum ada postur sempurna yang membuat banyak wanita elit terpikat hanya dalam sekali tatap. Yang ada hanyalah seorang remaja gemuk, pemalu, dan canggung dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri yang akut. Jangankan memimpin sebuah dinasti bisnis bawah tanah, untuk menatap mata orang lain terlalu lama saja Lukas remaja tidak akan pernah sanggup. Hari itu adalah hari pertamanya menginjakkan kaki ditanah
Lukas mengerjapkan matanya perlahan. Detik demi detik berlalu, ia memaksa dirinya menarik kesadaran kembali dari pusaran ingatan menyakitkan tentang bisikan Dominic beberapa jam lalu. Kata-kata pria Moretti itu masih terasa seperti hantaman telak yang membakar harga diri dan akal sehatnya. Lampu gantung kristal di ruang VIP Le Mirage des Étoiles memantulkan cahaya keemasan yang hangat, menerangi pahatan wajah tampan aristokrat milik pria Vance itu. Namun, pendaran hangat tersebut sama sekali tidak mampu menyembunyikan kegelapan pekat yang kini memenuhi sorot matanya. Ada badai yang mengamuk di balik sepasang manik abu-abu sewarna es itu. Di seberang meja, Nadine masih menatapnya dengan raut bingung yang kentara. “Lukas?” Suara lembut gadis itu terdengar, memecah keheningan kedap suara di dalam ruangan dan menarik Lukas kembali sepenuhnya ke masa kini. Nadine memiringkan kepalanya sedikit, menelisik setiap gurat ketegangan yang belum sempat disembunyikan oleh Lukas. “Apa s
Hari ini restoranku, L’Eclat de Nasan, dipesan penuh. Acara ulang tahun putra seorang konglomerat properti, anak emas yang lahir dengan sendok emas, dikelilingi orang-orang yang terbiasa memerintah tanpa pernah benar-benar meminta. Aku sudah membaca berkasnya semalam. Dua ratus lima puluh tamu. Me
Aku berdiri, merapikan rok kerjaku yang sedikit berkerut di bagian paha, lalu melangkah keluar dari ruang kerja. Begitu pintu tertutup di belakangku, aroma khas restoran langsung menyergap, campuran mentega cair, anggur putih, dan daging yang baru saja keluar dari oven. Siang itu restoran penuh.
Aku segera keluar dari ruang kerja dan menyusuri area restoran. Tubuhku bergerak otomatis, digerakkan oleh kebiasaan lama, merapikan taplak meja yang sedikit miring, menggeser posisi lilin agar sejajar, memastikan jarak antar kursi VIP cukup untuk dilewati pelayan tanpa saling bertabrakan. “Lampu
Aku terbangun jauh sebelum matahari benar-benar memutuskan untuk muncul. Bukan karena mimpi buruk, karena semalam aku bahkan tidak yakin sempat bermimpi, melainkan karena tubuhku menolak untuk terus berbaring. Ada sesuatu yang berdenyut di dadaku sejak aku membuka mata. Naluriku yang berbisik bahw







