Beranda / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 33 — Informasi semalam.

Share

Bab 33 — Informasi semalam.

Penulis: Za_dibah
last update Tanggal publikasi: 2026-01-18 20:28:00

Mobil melaju membelah jalanan Kota Nasan yang mulai padat oleh kendaraan pagi. Klakson bersahut-sahutan, lampu lalu lintas berganti warna dengan ritme yang terasa terlalu cepat.

Aku menatap keluar jendela, membiarkan pantulan gedung-gedung tinggi yang menjulang menyapu pandanganku. Kaca mobil memantulkan wajahku sendiri, pucat, tenang di permukaan, namun mataku menyimpan kelelahan yang belum sempat kusembunyikan. Gedung-gedung itu terlihat seperti barisan penjaga raksasa yang dingin, berdiri
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 313 — Jangan sampai terlambat lagi.

    Kening Sebastian berkerut."Sandiwara apa yang kau maksud?"Dominic akhirnya menoleh. Tatapannya kini beralih kepada sang ayah, dipenuhi kekecewaan yang jauh lebih dalam daripada kemarahan."Memaksa seorang wanita yang sedang hancur untuk menerima pertunangan demi mengamankan sebuah aliansi."Suasana kembali hening. Hanya terdengar embusan napas pelan yang terasa begitu berat. "Semua yang kulakukan... demi keselamatannya." "Demi keselamatannya?" Dominic mengulang pelan, lalu menggeleng tipis. "Kalau Ayah benar-benar ingin melindunginya..." nada suaranya meninggi, "...kenapa Ayah terus memaksanya menjalani hidup yang bahkan tidak pernah ia pilih?" ​"Dominic..." "Setidaknya berikan dia ruang!" bentaknya, memotong ucapan Sebastian, suaranya menggema memenuhi ruangan. "Jangan terus memaksakan kehendak Ayah atas hidupnya!" Dadanya naik turun. Tatapan matanya mulai memerah oleh amarah yang selama ini ia tahan. "Ingat satu hal..." Suara D

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 312 — Menolak pertunangan.

    ​Suara berat Sebastian menggema tajam, memecah ketegangan di ruang utama Mansion Saint Noire. Dengan langkah panjang dan mantap, pria tua itu menuruni tangga marmer. Wajahnya mengeras, sorot matanya menyapu dua pria yang hanya tinggal sejengkal lagi berubah menjadi pembunuh satu sama lain. Pandangannya berhenti saat melihat tangan Dominic masih mencengkeram kuat kerah jas Lukas Vance. Di belakangnya, Hans segera mengangkat satu tangan, memberi isyarat kepada seluruh pengawal agar tetap di posisi. Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun berani mengangkat senjata lebih dulu. "Dominic." Suara Sebastian rendah, namun sarat wibawa seorang kepala keluarga. "Lepaskan." Dominic tidak bereaksi. Tatapan abu-abunya tetap terpaku pada Lukas, sedingin bilah pisau yang siap menggorok leher mangsanya. "AKU BILANG, LEPASKAN DIA." Kali ini suara Sebastian menggelegar memenuhi ruangan. Keheningan berlangsung b

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 311 — Kemarahan Dominic

    Dominic tidak menjawab. Namun perubahan kecil pada wajahnya sudah cukup memberikan jawaban.Rahangnya mengeras, tatapan abu-abunya menjadi semakin gelap. Lukas menangkap reaksi itu, dan ia tahu bahwa Dominic Moretti benar-benar terguncang. Pria yang selama ini dikenal tidak pernah kehilangan kendali ternyata memiliki satu titik lemah.Nadine.Dengan langkah perlahan, Lukas mendekat.Ia menurunkan suaranya, cukup agar hanya Dominic yang bisa mendengarnya."Dominic..."Lukas berhenti tepat di sampingnya."Tahukah kau?"Tatapan Dominic tetap lurus ke depan, tetapi seluruh tubuhnya menegang."Aku mengenal Nadine jauh sebelum kau."Alis Dominic terangkat tipis.Untuk sesaat, ekspresi dinginnya berubah menjadi penuh pertanyaan."Maksudmu?"Lukas menoleh sedikit, menatap sisi wajah Dominic."Setahun sebelum kau diselamatkan di pantai..."Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu menggantung."...akulah yang lebih dulu bertem

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 310 — Kedatangan Lukas

    Sementara gelombang emosi masih menghancurkan ketenangan di dalam kamar Nadine, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam meluncur perlahan melewati gerbang utama Mansion Saint Noire. Mesin mobil itu nyaris tak mengeluarkan suara, hanya menyisakan desir halus yang memecah sunyi malam. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama mansion. Seorang sopir bergegas membuka pintu belakang. Sepasang sepatu pantofel hitam menginjak lantai marmer dengan mantap. Sesaat kemudian, sosok pria bertubuh jangkung keluar dari dalam kendaraan. Setelan jas abu-abu gelap yang dikenakannya tampak sempurna membalut tubuh tegap atletisnya, sementara sorot matanya yang tenang memancarkan wibawa seorang pria yang terbiasa berdiri di puncak kekuasaan. Lukas Kaiser Vance. Penguasa Vance Global itu merapikan ujung jasnya dengan gerakan santai sebelum melangkah menuju pintu mansion. Ekspresinya nyaris tanpa cela, seolah apa pun yang menunggunya malam ini hanyalah urusan biasa. Padahal... Sebastian M

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 309 — Tekad Dominic

    Suara Dominic terdengar lebih berat. "Selama ini aku mencari gadis kecil yang pernah menyelamatkan hidupku. Aku tidak pernah berhenti mencarinya." Mata sembap Nadine perlahan beralih pada jepit rambut perak tersebut. Hatinya berdesir pilu menyadari benda peninggalan almarhum ayahnya ada di sana, namun benaknya terlalu kacau untuk memproses kenyataan itu. Dominic melanjutkan dengan suara tenang. "Victor telah menemukan seluruh kebenarannya. Kau memang gadis yang menyelamatkanku di pantai. Ayahku menyembunyikan identitasmu selama bertahun-tahun agar Arthur Miller tidak menemukanmu. Semua terjadi... karena kau telah menggagalkan rencana besar Arthur yang telah membunuh pewaris Moretti yaitu aku.""Victor telah menemukan seluruh kebenarannya," lanjut Dominic pelan. "Kau memang gadis kecil di pantai itu. Ayahku memalsukan identitasmu selama belasan tahun agar Arthur Miller tidak menemukanmu. Semua malapetaka ini terjadi... karena kau telah menggagalkan rencana pembunuhan terhadapku

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 308 — Begitu takut

    ​Pintu kamar terbuka perlahan. Engselnya mengeluarkan bunyi lirih yang memecah kesunyian. Ruangan itu gelap. Gorden tebal masih tertutup rapat sehingga hanya sedikit cahaya bulan yang menyelinap melalui celah kain. Dominic berhenti di ambang pintu. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan. "Nadine..." Tak ada sahutan. Pandangannya akhirnya terkunci pada ranjang di sudut kamar. Di sanalah Nadine meringkuk. Tubuhnya dibungkus selimut hingga ke bahu. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya pucat, sementara kedua matanya sembap karena terlalu lama menangis. Melihat langkah Dominic mendekat, tubuh Nadine mendadak kaku. Secara refleks ia merapatkan punggungnya ke sandaran ranjang, melingkarkan lengan memeluk dirinya sendiri. ​Dominic menghentikan gerakan. Dadanya serasa dihantam beban berat melihat kondisi gadis itu. ​"Jangan... Jangan mendekat!" jerit Nadine tipis. Suaranya pecah, parau, dan nyaris habis. "Aku tidak akan menyakitimu," bisik Dominic lembut. "Aku hanya ingin mema

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status