ログインDominic tidak menjawab. Namun perubahan kecil pada wajahnya sudah cukup memberikan jawaban.Rahangnya mengeras, tatapan abu-abunya menjadi semakin gelap. Lukas menangkap reaksi itu, dan ia tahu bahwa Dominic Moretti benar-benar terguncang. Pria yang selama ini dikenal tidak pernah kehilangan kendali ternyata memiliki satu titik lemah.Nadine.Dengan langkah perlahan, Lukas mendekat.Ia menurunkan suaranya, cukup agar hanya Dominic yang bisa mendengarnya."Dominic..."Lukas berhenti tepat di sampingnya."Tahukah kau?"Tatapan Dominic tetap lurus ke depan, tetapi seluruh tubuhnya menegang."Aku mengenal Nadine jauh sebelum kau."Alis Dominic terangkat tipis.Untuk sesaat, ekspresi dinginnya berubah menjadi penuh pertanyaan."Maksudmu?"Lukas menoleh sedikit, menatap sisi wajah Dominic."Setahun sebelum kau diselamatkan di pantai..."Ia berhenti sejenak, membiarkan kalimat itu menggantung."...akulah yang lebih dulu bertem
Sementara gelombang emosi masih menghancurkan ketenangan di dalam kamar Nadine, sebuah Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam meluncur perlahan melewati gerbang utama Mansion Saint Noire. Mesin mobil itu nyaris tak mengeluarkan suara, hanya menyisakan desir halus yang memecah sunyi malam. Mobil berhenti tepat di depan pintu utama mansion. Seorang sopir bergegas membuka pintu belakang. Sepasang sepatu pantofel hitam menginjak lantai marmer dengan mantap. Sesaat kemudian, sosok pria bertubuh jangkung keluar dari dalam kendaraan. Setelan jas abu-abu gelap yang dikenakannya tampak sempurna membalut tubuh tegap atletisnya, sementara sorot matanya yang tenang memancarkan wibawa seorang pria yang terbiasa berdiri di puncak kekuasaan. Lukas Kaiser Vance. Penguasa Vance Global itu merapikan ujung jasnya dengan gerakan santai sebelum melangkah menuju pintu mansion. Ekspresinya nyaris tanpa cela, seolah apa pun yang menunggunya malam ini hanyalah urusan biasa. Padahal... Sebastian M
Suara Dominic terdengar lebih berat. "Selama ini aku mencari gadis kecil yang pernah menyelamatkan hidupku. Aku tidak pernah berhenti mencarinya." Mata sembap Nadine perlahan beralih pada jepit rambut perak tersebut. Hatinya berdesir pilu menyadari benda peninggalan almarhum ayahnya ada di sana, namun benaknya terlalu kacau untuk memproses kenyataan itu. Dominic melanjutkan dengan suara tenang. "Victor telah menemukan seluruh kebenarannya. Kau memang gadis yang menyelamatkanku di pantai. Ayahku menyembunyikan identitasmu selama bertahun-tahun agar Arthur Miller tidak menemukanmu. Semua terjadi... karena kau telah menggagalkan rencana besar Arthur yang telah membunuh pewaris Moretti yaitu aku.""Victor telah menemukan seluruh kebenarannya," lanjut Dominic pelan. "Kau memang gadis kecil di pantai itu. Ayahku memalsukan identitasmu selama belasan tahun agar Arthur Miller tidak menemukanmu. Semua malapetaka ini terjadi... karena kau telah menggagalkan rencana pembunuhan terhadapku
Pintu kamar terbuka perlahan. Engselnya mengeluarkan bunyi lirih yang memecah kesunyian. Ruangan itu gelap. Gorden tebal masih tertutup rapat sehingga hanya sedikit cahaya bulan yang menyelinap melalui celah kain. Dominic berhenti di ambang pintu. Sorot matanya menyapu seluruh ruangan. "Nadine..." Tak ada sahutan. Pandangannya akhirnya terkunci pada ranjang di sudut kamar. Di sanalah Nadine meringkuk. Tubuhnya dibungkus selimut hingga ke bahu. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya pucat, sementara kedua matanya sembap karena terlalu lama menangis. Melihat langkah Dominic mendekat, tubuh Nadine mendadak kaku. Secara refleks ia merapatkan punggungnya ke sandaran ranjang, melingkarkan lengan memeluk dirinya sendiri. Dominic menghentikan gerakan. Dadanya serasa dihantam beban berat melihat kondisi gadis itu. "Jangan... Jangan mendekat!" jerit Nadine tipis. Suaranya pecah, parau, dan nyaris habis. "Aku tidak akan menyakitimu," bisik Dominic lembut. "Aku hanya ingin mema
Dominic mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Tuan Besar Sebastian mengambil tindakan yang sangat ekstrem," lanjut Victor. Ia mengeluarkan satu bundel dokumen resmi bertempel stempel kepolisian. "Seluruh dokumen kematian Nona Nadine dan keluarganya sengaja direkayasa. Secara hukum, mereka dinyatakan tewas dalam insiden kebakaran." "Direkayasa?" ulangi Dominic. "Benar. Identitas mereka dihapus total, diganti dengan nama baru, lalu dipindahkan ke kota kecil di utara. Mereka dibiarkan hidup dalam serba kekurangan agar tidak memicu kecurigaan jaringan intelijen Miller, namun mereka selamat." Dominic membaca cepat dokumen-dokumen itu. Victor berkata pelan, "Ada satu fakta lagi." "Apa?" Victor menarik napas panjang sebelum membuka dokumen krusial lainnya. "Termasuk pernikahan Tuan Besar dengan Nyonya Sarah dua bulan lalu." Dominic menatap Victor tajam. "Apa maksudmu?" "Pernikahan itu sepenuhnya adalah operasi perlindungan," papar Victor jujur. "Berdasarkan arsip priba
Dua hari telah berlalu sejak insiden berdarah di kolam renang lantai tiga Mansion Saint Noire.Namun, kemegahan bangunan itu justru terasa makin dingin dan mencekam. Koridor-koridor marmer yang biasanya dipenuhi langkah para pelayan kini diliputi kesunyian yang menyesakkan. Semua orang bergerak berjingkat dan berbicara dalam bisikan, seolah takut menyulut amarah sang penguasa muda.Satu rumor menyebar diam-diam di antara para staf. Nona Nadine mengurung diri di dalam kamar, dan tak seorang pun berhasil menemuinya.Seorang pelayan wanita berdiri gugup di depan pintu ruang kerja Dominic sambil memeluk nampan makan siang yang masih utuh. Pintu kayu ek tebal itu terdorong dari dalam, menampilkan sosok Victor."Ada apa?" tanya Victor bernada rendah.Pelayan itu menunduk makin dalam. "Nona Nadine hanya menyentuh dua suap sup, Tuan Victor. Selebihnya... sama sekali tidak dimakan."Victor memandangi piring yang mendingin itu beberapa saat. "Bagaimana dengan susu hamilnya?""Hanya bebe







