Beranda / Mafia / Dua Kakak Tiriku Yang Posesif / Bab 33 — Informasi semalam.

Share

Bab 33 — Informasi semalam.

Penulis: Za_dibah
last update Tanggal publikasi: 2026-01-18 20:28:00

Mobil melaju membelah jalanan Kota Nasan yang mulai padat oleh kendaraan pagi. Klakson bersahut-sahutan, lampu lalu lintas berganti warna dengan ritme yang terasa terlalu cepat.

Aku menatap keluar jendela, membiarkan pantulan gedung-gedung tinggi yang menjulang menyapu pandanganku. Kaca mobil memantulkan wajahku sendiri, pucat, tenang di permukaan, namun mataku menyimpan kelelahan yang belum sempat kusembunyikan. Gedung-gedung itu terlihat seperti barisan penjaga raksasa yang dingin, berdiri
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 225 — Asal kau bahagia.

    Wajah Nadine langsung memerah malu.“Jangan mengingatkanku soal itu…” gerutunya pelan.Lukas tersenyum kecil.“Suara perutmu cukup keras untuk mengguncang harga diri seorang Vance.”“Lukas!”Tawa kecil pria itu kembali terdengar.Dan entah kenapa, mendengar Lukas tertawa seperti ini membuat Nadine merasa jauh lebih rileks.Tanpa menunggu lebih lama, ia mengambil sendok peraknya.Ia meniup perlahan kuah sup itu sebelum menyesapnya.Begitu rasa hangat kaldu menyentuh lidahnya, Nadine langsung memejamkan mata sesaat.“…Enak sekali.”Suara lirih itu keluar nyaris seperti erangan lega.Lukas memperhatikannya diam-diam.Cara Nadine menikmati makanan sederhana seperti itu membuat dada Lukas terasa hangat dengan cara yang sulit dijelaskan.Nadine segera menyendok lagi... dan lagi.Lalu mulai memotong steak di hadapannya dengan lebih antusias.Kehamilan mudanya membuat rasa mual datang dan pergi tidak menentu, namun malam ini ar

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 224 — Aku tidak suka dari cara Dominic memandangmu.

    “Lukas, kau melamun lagi. Tolong jangan mengabaikanku.” Suara Nadine memecah lamunan panjang Lukas. Gadis itu duduk di hadapannya sambil sedikit merajuk. Bibirnya mengerucut tipis, sementara jemarinya memainkan gagang sendok perak di atas meja marmer. Sorot matanya menyimpan kebingungan kecil, seolah ia benar-benar tidak mengerti ke mana pikiran pria di depannya melayang sejak tadi. Lukas terkesiap samar. Ia baru sadar bahwa sejak ia datang, dirinya hampir tidak menyentuh teh camomilenya sama sekali. Pikirannya masih terjebak jauh di masa lalu, pada seorang gadis kecil dengan kayu balok di tangan dan senyum cerah yang pernah menyelamatkannya dari kehancuran harga diri. Dan gadis kecil itu kini duduk tepat di depannya… tanpa mengingat apa pun. Lukas perlahan meletakkan cangkir teh hitamnya di atas meja. Bunyi kecil porselen beradu dengan tatakan terdengar pelan di tengah keheningan ruangan. Ia mengangkat wajah, lalu memberikan senyum tipis yang tampak tenang di permukaan,

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 223 — Kilas balik; Kisah Lukas dan Nadine kecil 3.

    Kalimat yang menjadi beban mental terbesarnya itu lolos begitu saja dari belenggu bibir Lukas tanpa ia sadari. Ia merasa sangat bodoh karena telah membagikan rahasia sekelam itu kepada seorang anak kecil.​Nadine kecil terdiam sesaat setelah mendengar kalimat Lukas. Ia menatap wajah sedih remaja di hadapannya dengan pandangan yang sulit diartikan oleh anak seusianya. Dan beberapa detik kemudian, sesuatu hal yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh Lukas seumur hidupnya terjadi begitu saja.​Gadis kecil itu tiba-tiba mengulurkan kedua tangan mungilnya yang hangat. Tanpa mempedulikan gaun putihnya yang kotor, Nadine kecil memegang kedua pipi tembam Lukas, lalu menggunakan ujung baju lengan gaunnya sendiri untuk menyeka sisa-sisa air mata yang masih basah di wajah Lukas.​"Kenapa kau harus menangis karena ucapan orang lain, Kakak Tampan?" kata Nadine kecil dengan nada suara yang begitu polos dan menenangkan.​Tubuh Lukas seketika membeku sempurna di tempatnya. Napasny

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 222 — Kilas balik; Kisah Lukas dan Nadine kecil 2.

    Suara cempreng seorang anak kecil mendadak menggema nyaring di ujung gang. Semua kepala menoleh bersamaan.Di sana, tepat di bawah sorot matahari musim panas yang menembus celah bangunan, berdiri seorang gadis kecil yang diperkirakan baru berusia sekitar tujuh tahun. Rambut hitam panjangnya terlihat sedikit berantakan karena angin, dan kedua pipi mungilnya tampak kemerahan, sebuah indikasi nyata bahwa ia baru saja berlari kencang dari suatu tempat. Gaun putih sederhananya terlihat kotor di bagian bawah, namun matanya… matanya menyala penuh keberanian. Nadine kecil.Anak-anak remaja nakal yang mengerumuni Lukas sempat tertegun sejenak, sebelum akhirnya kembali meledakkan tawa mengejek yang meremehkan.​"Hah? Apa-apaan ini? Seorang anak ingusan?"​"Hei, bocah! Pergi sana bermain boneka di rumahmu sebelum kami mendorongmu masuk ke dalam selokan juga!"​Namun, ancaman itu sama sekali tidak membuat Nadine kecil mundur walau satu senti pun. Sebali

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 221 — Kilas balik; Kisah Lukas dan Nadine kecil.

    Belasan tahun silam. Kota Nasan saat musim panas selalu dipenuhi udara lembap dan suara anak-anak yang berlarian di jalanan sempit. Di salah satu sudut distrik tua, seorang remaja laki-laki bertubuh tambun berdiri sendirian. Kedua tangan gembilnya memeluk sebuah tas ransel kecil di dada dengan amat erat, seolah tas itu adalah satu-satunya perisai yang tersisa untuk melindungi dirinya dari dunia luar. Lukas muda waktu itu baru menginjak usia empat belas tahun. Fisik dan pembawaannya jauh berbeda dari sekarang. Belum ada rahang tajam aristokrat Vance yang dingin dan mematikan. Belum ada postur sempurna yang membuat banyak wanita elit terpikat hanya dalam sekali tatap. Yang ada hanyalah seorang remaja gemuk, pemalu, dan canggung dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri yang akut. Jangankan memimpin sebuah dinasti bisnis bawah tanah, untuk menatap mata orang lain terlalu lama saja Lukas remaja tidak akan pernah sanggup. Hari itu adalah hari pertamanya menginjakkan kaki ditanah

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 220 — Lukaslah yang berhak.

    ​Lukas mengerjapkan matanya perlahan. Detik demi detik berlalu, ia memaksa dirinya menarik kesadaran kembali dari pusaran ingatan menyakitkan tentang bisikan Dominic beberapa jam lalu. Kata-kata pria Moretti itu masih terasa seperti hantaman telak yang membakar harga diri dan akal sehatnya. ​Lampu gantung kristal di ruang VIP Le Mirage des Étoiles memantulkan cahaya keemasan yang hangat, menerangi pahatan wajah tampan aristokrat milik pria Vance itu. Namun, pendaran hangat tersebut sama sekali tidak mampu menyembunyikan kegelapan pekat yang kini memenuhi sorot matanya. Ada badai yang mengamuk di balik sepasang manik abu-abu sewarna es itu. ​Di seberang meja, Nadine masih menatapnya dengan raut bingung yang kentara. ​“Lukas?” ​Suara lembut gadis itu terdengar, memecah keheningan kedap suara di dalam ruangan dan menarik Lukas kembali sepenuhnya ke masa kini. ​Nadine memiringkan kepalanya sedikit, menelisik setiap gurat ketegangan yang belum sempat disembunyikan oleh Lukas. “Apa s

  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 103 — Hadiah yang sebenarnya.

    Angin laut berembus tipis, membawa aroma asin dan kayu basah. Sarah masih berdiri beberapa langkah di belakangku, sorot matanya masih menyisir area sekitar dengan kewaspadaan profesional. Setelah beberapa detik yang terasa panjang, ia mengangguk kecil."Tidak ada apapun, Nona," ucap Sarah lirih.A

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 107 — Dibuntuti SUV hitam.

    Pukul dua pagi. Musik melambat. Beberapa lampu dimatikan. Lantai lengket oleh sisa minuman dan rahasia yang tumpah. Para tamu tersisa berjalan sempoyongan keluar, sebagian tertawa, sebagian bertengkar kecil. Aku mengusap tengkukku yang terasa kaku. Rasa lelah mulai menggerogoti pertahananku “Kit

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 8 - Sisi gelap Mansion 2.

    Jantungku berhenti berdetak sesaat. Aku ditarik dengan paksa ke dalam kegelapan yang lebih pekat di balik bayangan pohon besar. Punggungku menabrak dada yang bidang dan keras seperti dinding batu. Sesaat, aku pikir Matteo telah menyadari keberadaanku dan akan menghabisiku di sini juga. ​Tapi kemu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Dua Kakak Tiriku Yang Posesif   Bab 14 — Intimidasi di Balik Pintu

    “Duduk.” ucapnya singkat tanpa mengalihkan pandangan. Aku duduk di kursi di hadapannya, punggungku menegang, jemariku meremas satu sama lain di pangkuan untuk menahan getaran halus yang merambat naik dari perut ke dada. Keheningan kembali turun, lebih berat dari sebelumnya. Detak jam dinding tu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status