เข้าสู่ระบบSementara itu, di belahan kota yang lain, atmosfer yang sepenuhnya berbeda sedang mendominasi kediaman mewah keluarga Miller. Christian Miller baru saja tiba di mansionnya yang megah. Dengan langkah kaki yang mantap namun sarat akan aura amarah yang meledak-ledak, ia berjalan cepat melintasi koridor utama, lalu menghempaskan tubuh atletisnya ke atas sofa kulit di ruang tamu dengan kekesalan yang teramat sangat. "Sialan! Dominic Moretti... akan kubalas seluruh pukulanmu ini sepuluh kali lipat!" geram Christian penuh amarah, suaranya menggelegar memenuhi ruangan yang sepi. Ia menarik napas kasar, lalu menggunakan ibu jarinya untuk menyeka sudut bibirnya yang kini pecah dan mengeluarkan sedikit darah segar—sisa dari hantaman keras tinju Dominic di dermaga tadi. Rasa perih di bibirnya justru semakin membakar dendam yang membara di dalam dadanya. Seorang pria muda yang sejak tadi duduk santai di sisi lain sofa panjang itu hanya menyeringai
Suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa dan dentingan moncong senjata yang bergesekan di koridor luar perlahan-lahan menjauh. Badai ketegangan yang dibawa oleh Christian Alexander Miller baru saja bergeser meninggalkan lantai atas restoran L'Eclat de Nasan. Namun, di dalam ruangan kerja yang kini sunyi, takdir seolah menyisakan puing-puing emosi yang hancur berantakan.Di luar pintu, sebagian besar pengawal Moretti segera bergerak membagi tugas atas perintah tak tertulis; sebagian dari mereka ikut mengawal Dominic untuk mengawasi setiap pergerakan keluarga Miller, sementara sebagian lainnya tetap tinggal di lantai atas untuk menjaga keselamatan mutlak sang Nona Moretti, Nadine. Nadine berdiri lemas di balik meja kerjanya. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu.Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin pria malam itu adalah Christian Miller?Bagaimana mungkin takdir bisa sekejam ini?Dua minggu terakhir hidupnya sudah cukup kacau karena Dominic.Dan seka
Christian tersenyam tipis, merasa memenangkan ronde pertama pertempuran mental ini karena berhasil mengusik ketenangan Moretti. Ia merapikan sedikit kerah jas mahalnya yang sempat kusut."Baiklah."Sebelum melangkah pergi mengikuti Dominic, Christian memalingkan wajahnya kembali ke arah Nadine. Detik itu juga, seluruh raut kejam dan licik di wajah Christian Miller lenyap tanpa bekas. Wajahnya melunak sepenuhnya, dan sebuah senyuman hangat yang teramat tulus terpancar di sana, sebuah ekspresi yang hanya ia dedikasikan untuk wanita yang berhasil mencuri hatinya."Dear... aku akan pergi sekarang demi ketenanganmu," ucap Christian dengan nada suara yang teramat lembut, mengabaikan fakta bahwa ada puluhan senjata yang siap mengarah padanya di koridor. "Tapi ingatlah, lain waktu kita pasti akan bertemu lagi di tempat yang lebih baik. Jaga baik-baik bayi kita di dalam sana, Dear. I love...""KELUAR KUBILANG, BRENGSEK!" potong Dominic cepat dengan teriakan yang meng
Christian memandangi Nadine yang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang mendadak melunak sepenuhnya. Sorot mata elangnya yang biasanya kejam kini memancarkan rasa bersalah yang samar, namun di balik kelembutan sesaat itu, sebuah seringai misterius yang jauh lebih berbahaya kembali terukir di sudut bibirnya saat ia melirik Dominic. Christian mengabaikan napas kasar Dominic yang terdengar berat di dekatnya. Ia juga mengabaikan moncong pistol yang beberapa saat lalu hampir menembus dahinya. Sebaliknya, ia sedikit mencondongkan tubuh ke depan melewati bahu Dominic, mencari Nadine dan mengunci pandangannya tepat pada wanita itu. "Tenanglah, Dear," suaranya terdengar begitu lembut, kontras dengan ketegangan yang mencekam di ruangan itu. "Aku tidak akan pernah mengotori tempat indah ini." Nadine menelan ludah. Christian tersenyum tipis, lalu perlahan melirik Dominic. Dan senyum itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih tajam. "Tapi kurasa..." katanya sant
Ruangan kerja itu mendadak kehilangan atmosfernya. Suasana berubah menjadi teramat sunyi, laksana sebuah ruang hampa udara yang mencekam. Di antara dinding-dinding kaca yang kokoh, hanya ada suara deru konstan dari pendingin ruangan yang berbaur dengan helaan napas berat milik mereka.Nadine menatap kedua pria raksasa di hadapannya dengan pandangan mata yang bergetar hebat. Rasa pening yang sempat menguasai kepalanya seolah dipaksa mundur oleh luapan emosi yang sudah membubung hingga ke tenggorokan. "Aku manusia."Dua kata itu lolos dari bibir Nadine, memecah kesunyian dengan getaran yang teramat menyakitkan. Bersamaan dengan itu, setitik air mata pertama luruh, membasahi pipinya yang pucat pasi. "Aku bukan wilayah. Aku bukan hadiah perang." Dominic mengatupkan rahangnya. Christian menurunkan pandangan sesaat. Namun Nadine belum selesai meluapkan rasa sakitnya. "Selama ini..." Ia tertawa hambar. "...aku selalu dipaksa memilih di antara keputusan orang lain." Senyum pahit muncul d
Kata-kata itu laksana sebuah petir yang menyambar di siang bolong, meruntuhkan seluruh dunia yang selama ini dipertahankan oleh Nadine. Jantungnya berdenyut begitu dahsyat, menghantarkan rasa sakit yang nyata dan menusuk di dalam rongga dadanya. Seluruh persendian di tubuh Nadine mendadak lemas kehilangan daya, memaksanya untuk bertumpu kuat menggunakan kedua telapak tangannya pada tepian meja kayu agar tubuhnya tidak jatuh tersungkur di atas lantai marmer yang dingin. 'Tidak...' Pikirannya kacau. Berkeping-keping. 'Tidak mungkin...' Malam itu, malam yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Malam yang hanya tersisa sebagai serpihan ingatan kabur yang menyakitkan. Malam yang menjadi awal dari seluruh kekacauan hidupnya. Bagaimana mungkin pria itu adalah Christian Miller? Bagaimana mungkin aku terjebak dengannya? Kepalanya berdenyut hebat. Semakin keras, semakin menyakitkan.Aura di sekitar Dominic seketika berubah.Jika sebelumnya pria itu masih mampu mempertahankan lapisan tipis







