Mag-log in"Malam sudah terlalu larut." Suara Dominic terdengar rendah dan tegas di tengah sunyinya ruang kerja. "Tubuhmu butuh istirahat total di tempat yang jauh lebih aman daripada di sini." Nadine mengangkat wajahnya perlahan. Sejak terbangun beberapa menit lalu, pikirannya masih terasa kacau. Ucapan Christian, ancaman perang antara Miller dan Moretti, serta kebohongan-kebohongan yang belum berhasil ia pecahkan masih berputar liar di dalam kepalanya. Belum lagi kehamilan yang membuat tubuhnya jauh lebih sensitif dibanding biasanya. Sebelum ia sempat membantah, Dominic sudah berdiri lebih dulu. Pria itu mengulurkan tangannya. "Berdiri pelan-pelan." Nadine menatap telapak tangan besar itu beberapa detik. Lalu, tanpa sadar, ia meletakkan jemarinya di sana. Dominic membantu wanita itu bangkit dari sofa dengan sangat hati-hati. Tangannya bergerak ke pinggang Nadine secara refleks, menopang tubuhnya agar tidak kehilangan keseimbangan. Gerakan sederhana itu membuat dada Nadine b
Dominic menangkap ketakutan dan keraguan yang mendalam dari sorot mata Nadine. Dan hal itu justru menyulut api kemarahan yang luar biasa besar di dalam dada sang Moretti terhadap keluarga Miller. Christian telah berhasil menyentuh titik paling rapuh dari psikologis Nadine. "Dia berhasil," desis Dominic dengan suara yang teramat dingin, matanya berkilat penuh kegilaan obsesif yang mematikan. Nadine mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?" "Christian Miller berhasil membuatmu meragukan dirimu sendiri, meragukan apa yang kau rasakan di dalam tubuhmu." Dominic mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka hingga Nadine bisa merasakan embusan napas pria itu yang panas merayapi kulit wajahnya. "Dan fakta bahwa dia berhasil mengacaukan pikiranmu seperti ini adalah hal yang paling membuatku muak setengah mati." Ruangan kembali dilingkupi kesunyian yang mencekam. Hanya ada deru napas mereka yang saling bersahutan. "Kau tidak mengenalnya seperti aku mengenalnya, N
Jawaban tersebut seketika membuat ruangan kembali hening. Nadine kehilangan kata-kata. Ia benar-benar tidak tahu harus merasakan apa saat ini. Marah karena pria ini selalu mengendalikan hidupnya, kesal karena dirinya tidak bisa memberontak, atau justru bingung oleh perhatian ekstrem yang diberikan Dominic. Pria di hadapannya ini selalu berhasil membuatnya kehilangan arah logikanya sendiri. Di satu sisi, Dominic adalah sosok yang teramat egois, posesif, dan berbahaya, representasi nyata dari racun keluarga mafia yang manipulatif. Namun di sisi lain, di titik terburuk hidupnya, ketika dunia luar mencoba mencabik-cabiknya, Dominic adalah satu-satunya orang yang selalu berdiri di barisan paling depan. Selalu menjaga. Selalu memperhatikan dengan kelembutan. Dan dualitas karakter itulah yang membuat hubungan ini menjadi sepuluh kali jauh lebih rumit dari yang bisa dinalar oleh otak Nadine. Secara tidak sengaja, tatapan Nadine turun ke arah tangan kanan Dominic yang meng
Sementara malam kian merambat pekat di atas pelabuhan Nasan, riak konfrontasi yang ditinggalkan oleh Christian Miller masih menyisakan atmosfer dingin yang mencekam di lantai atas L'Eclat de Nasan.Keramaian jam makan malam yang biasanya memenuhi bangunan mewah berarsitektur klasik itu perlahan-lahan memudar, menyisakan gema samar dari derap langkah pelayan di lantai bawah yang sedang mengemas perkakas. Lampu-lampu gantung kristal di koridor utama masih menyala dengan pendar keemasan yang elegan, namun suasana di dalam ruang kerja pribadi Nadine terasa sangat berbeda—sunyi, beku, dan sarat akan sisa-sisa ketegangan yang belum benar-benar menguap dari udara.Di dalam ruangan yang hanya diterangi berkas cahaya bulan dari balik dinding kaca besar, Nadine perlahan-lahan membuka matanya. Kelopak matanya terasa berat. Kepalanya masih sedikit berdenyut akibat stres yang menumpuk sejak siang tadi.Selama beberapa detik pertama, Nadine hanya mampu memaku pandangannya pada langit-langit ruang
Setelah badai di kediaman Miller mereda akibat ancaman otoritas mutlak Arthur, fokus takdir bergeser ke sudut lain kota Nasan. Di sebuah penthouse eksklusif yang berdiri tinggi menjulang di atas kawasan elit pelabuhan Nasan, suasana malam itu dilingkupi keheningan yang mewah namun mencekam. Cahaya bulan dan gemerlap lampu kota masuk menembus dinding kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, membanjiri ruangan luas yang didominasi marmer putih dan kaca hitam itu dengan atmosfer dingin yang mengintimidasi. Dari ketinggian tersebut, hiruk-pikuk kesibukan dermaga di bawah sana sama sekali tidak mampu menembus kedapnya dinding tempat tinggalnya. Di dalam ruangan tersebut, Lukas Kaiser Vance duduk dengan postur tegap yang sempurna di atas kursi kulit eksekutifnya. Pria itu sedang menggenggam sebuah gelas kristal berisi wine merah tua. Genggamannya begitu erat, menyembunyikan riak emosi dari sepasang mata abu-abunya yang biasanya tenang dan terukur. Di atas meja m
"Perlu usaha dan perhitungan yang matang untuk membawa keluar seorang wanita yang berada di bawah pengawasan ketat keluarga Moretti, Christian." Suara pria tua itu terdengar pelan, namun setiap katanya mengandung tekanan yang membuat ruangan terasa lebih dingin. "Tetapi setidaknya langkah pertamamu berhasil. Nadine sekarang percaya bahwa anak yang ada di dalam kandungannya adalah darah dagingmu." Ia berhenti sejenak. Senyumnya melebar tipis. "Bukan darah daging Moretti." Kalimat itu membuat Christian mengembuskan napas berat. Alih-alih merasa puas, rahangnya justru mengeras. Karena hanya dia yang tahu betapa berantakannya semua ini. Jika malam itu berjalan sesuai rencana... Jika Dominic tidak salah masuk kamar... Jika semuanya berjalan sempurna... Situasi mereka sekarang tidak akan serumit ini. "Sial." Christian mengusap wajahnya kasar. "Kalau saja malam terkutuk itu aku tidak gagal menjebak Dominic..." Max langsung melirik kakaknya. Arthur tetap diam, memb







