登入Helena tertegun setelah mendengar perkenalan pria itu.
Sesaat, ia benar-benar mengira bahwa lelaki yang baru saja memasuki aula adalah Rezef Laurent, suaminya. Entah karena posturnya yang tinggi, suaranya yang rendah, atau aura dingin yang mengelilinginya, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuat jantung Helena sempat berdebar tidak wajar.
Tapi kenyataan bahwa ia adalah Rion Laurent, adik dari suaminya, membuat Helena segera menertawakan dirinya sendiri dalam hati.
Ia menelan ludah pelan. Perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya belum juga hilang. Semuanya terasa terlalu familiar.
Cara pria itu menatapnya, nada suaranya, bahkan kehadirannya yang begitu mendominasi ruangan. Untuk sesaat, pikiran yang tidak masuk akal melintas di kepalanya, bahwa lelaki inilah yang semalam berada di dalam kegelapan bersamanya.
Helena segera membuang pikiran itu jauh-jauh.
Mustahil.
Rion adalah adik Rezef. Tidak mungkin ia mencurigai hal semacam itu hanya karena beberapa kesamaan yang mungkin tidak berarti apa-apa.
"Kakak ipar?"
Panggilan itu membuat Helena tersentak. Ia baru menyadari bahwa dirinya terlalu lama diam hingga membuat suasana menjadi canggung.
Dengan cepat ia mengulurkan tangannya. "Senang berkenalan dengan Anda, Tuan Muda Rion."
Rion menatap tangan yang ia sodorkan sesaat sebelum menerimanya. Jemarinya yang besar dan kasar menutup tangan Helena dengan mudah. Sentuhan itu membuat Helena kembali teringat pada sesuatu yang tidak ingin ia pikirkan, sehingga ia segera berniat menarik tangannya.
Namun sebelum sempat melakukannya, Rion menahannya.
Bukan dengan kasar, hanya cukup lama untuk membuat Helena mengangkat pandangan ke arahnya.
Sudut bibir pria itu terangkat tipis. Senyumannya terlihat kaku dan tidak terbiasa, seolah ia jarang melakukannya. Meski begitu, Helena bisa melihat bahwa pria itu benar-benar sedang berusaha bersikap sopan kepadanya.
"Tidak perlu formal, Kakak Ipar." Ucap Rion, "Panggil saya Rion saja."
Entah mengapa, sapaan itu membuat wajah Helena memanas.
Ia langsung mengalihkan pandangan, mendadak merasa tidak nyaman berada di bawah tatapan mata merah gelap itu. Dengan sedikit lebih banyak tenaga, ia menarik tangannya dari genggaman Rion.
“Baik, Rion,” ucap Helena tenang. “Saya tidak tahu suami saya memiliki seorang adik.”
Rion tidak langsung menjawab. Ia justru menarik kursi untuk Helena lebih dulu, gerakannya lambat dan tenang, seolah semua yang ia lakukan memang sudah diperhitungkan sejak awal.
“Silakan duduk, Kakak Ipar.”
Suara berat itu kembali membuat tengkuk Helena meremang.
Ia duduk perlahan sambil berusaha menjaga ekspresinya tetap biasa saja. Sebagai putri kerajaan, Helena diajarkan untuk tidak menunjukkan keterkejutan terlalu jelas di depan orang lain, terlebih di tempat asing seperti ini.
Namun semakin lama berada di dekat Rion Laurent, semakin sulit baginya untuk tetap benar-benar tenang.
Rion berjalan menuju kursinya di ujung meja makan dengan langkah santai. Bahunya tegap, pakaiannya serba hitam dan rapi hingga leher, Helena diam-diam memperhatikannya.
Para pelayan mulai menyajikan sarapan dalam diam. Tidak ada suara obrolan kecil seperti yang biasa Helena dengar di istana dulu. Semua orang di kastel Laurent bergerak terlalu hati-hati, seolah takut melakukan kesalahan kecil.
“Suami saya tidak ikut sarapan?” tanya Helena akhirnya.
Rion mengangkat cangkir tehnya pelan sebelum menjawab.
“Kakak saya jarang keluar dari sayap timur.”
“Jarang?” ulang Helena pelan.
“Keadaannya memburuk beberapa bulan terakhir.”
Jemari Helena langsung berhenti bergerak. Ia mengangkat wajah perlahan, ia bingung.
“Memburuk?”
Rion mengangguk kecil. Ekspresinya tetap tenang, seolah ia sedang membicarakan sesuatu yang biasa.
“Karena itu beliau lebih banyak mengurung diri.”
Helena tertegun.
Pikirannya langsung kacau. Jika keadaan Rezef benar-benar seburuk itu, lalu semalam siapa yang datang ke kamarnya?
Helena menggenggam serbet di pangkuannya perlahan. Ia tidak boleh berpikir sejauh itu.
“Apa penyakit suami saya benar-benar separah itu?” tanya Helena hati-hati.
Rion tersenyum tipis, membuat wajah tampannya terlihat semakin sulit ditebak.
“Cukup parah untuk membuat keluarga kami menjaga privasinya.” Jawaban yang rapi.
Tidak menjelaskan apa pun, tetapi cukup untuk menghentikan pertanyaan lain.
Helena mulai menyadari sesuatu.
Rion Laurent bukan tipe pria yang banyak bicara. Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati, lalu membiarkan lawan bicaranya tenggelam dalam pikirannya sendiri, membuat Helena semakin penasaran.
“Lambat laun,” lanjut Rion pelan sambil menatap Helena dari balik cangkir tehnya, “Anda akan segera terbiasa dengan keadaan di kastel ini.”
Tatapan mata merah gelap itu terlalu tenang, terlalu tajam, hingga Helena kembali teringat pada pria di kegelapan semalam. Semuanya terasa saling tumpang tindih dengan sosok Rion.
Helena segera menepis pikirannya.
Tidak mungkin.
Pria semalam adalah suaminya, harus begitu.
Namun jantungnya kembali berdetak cepat saat Rion berdiri dan mendekat. Ia berhenti tepat di samping kursi Helena, terlalu dekat.
Aroma dingin yang samar langsung mengisi udara di sekitarnya terlalu familiar.
Helena menegang.
“Jika Anda membutuhkan sesuatu,” ucap Rion rendah, “kepala pelayan akan membantu Anda.”
Nada suaranya sopan, terkontrol. Namun entah kenapa tetap terdengar seperti ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di baliknya.
Helena mengangkat wajah perlahan. “Rion.”
Pria itu masih menatapnya.
“Anda bilang keadaan suami saya yang buruk membuat ia mengurung diri,” Ia berhenti sejenak, menahan napas. “Tapi semalam kami menghabiskan malam pertama berdua saja.”
Helena akhirnya tersadar dari kebingungan yang sempat menguasai dirinya.Dengan cepat ia mengangkat kedua tangannya lalu mendorong dada Rion hingga pria itu mundur satu langkah. Jarak yang tercipta membuatnya bisa bernapas lebih lega.Dadanya naik turun menahan emosi yang sejak tadi berusaha ia tekan. Entah sejak kapan percakapan sederhana itu berubah menjadi sesuatu yang membuatnya merasa terpojok."Saya kakak ipar Anda," ucapnya tegas. Dagunya terangkat, berusaha mengembalikan martabat yang nyaris terguncang oleh kedekatan mereka barusan. "Jadi tolong hormati saya."Rion tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di tempatnya, menatap Helena dengan ketenangan yang mulai membuat wanita itu kesal.Seolah apa pun yang dilakukan Helena tidak cukup untuk menggoyahkan kendalinya. Beberapa saat kemudian, sudut bibir pria itu bergerak tipis."Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."Helena mengernyit. "Maksud Anda?""Apa yang bisa kau dapatkan dari kakakku?"Pertanyaan itu membuat Helena terdi
Helena keluar dari ruangan kerja Tom dengan langkah tenang. Dokumen yang baru saja diberikan kepadanya masih berada di tangannya, tetapi pikirannya sama sekali tidak tertuju pada lembaran-lembaran kertas itu.Ucapan Tom terus terngiang di kepalanya.Pria itu tidak pernah berbicara kasar. Bahkan selama percakapan mereka berlangsung, nada suaranya selalu sopan dan penuh hormat. Namun Helena cukup cerdas untuk memahami makna yang tersembunyi di balik kata-kata yang dipilih dengan hati-hati itu.Ia tidak perlu menuntut lebih dan tidak perlu mempertanyakan terlalu banyak hal. Tugasnya hanya menjadi istri Marquess Laurent dan melahirkan seorang pewaris.Itu saja.Helena menundukkan pandangan ke arah dokumen yang digenggamnya erat.Dunia bangsawan memang kejam.Sejak kecil ia sudah mengetahui kenyataan itu. Pernikahan bukan tentang cinta. Bukan pula tentang kebahagiaan. Yang terpenting adalah keluarga, kekuasaan, dan keturunan. Semua orang yang lahir sebagai bangsawan memahami aturan tersebu
Helena menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya bergerak pelan di atas tepi dokumen yang masih terbuka di hadapannya.“Tidak seperti itu maksud saya.”Tom menunggu dengan sabar, memberi ruang baginya untuk melanjutkan tanpa menyela.Helena menarik napas pendek.“Saya tidak pernah melihat wajahnya.” Tambah Helena. “Malam itu terlalu gelap. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu seperti apa rupa suami saya.”Tom tampak benar-benar memahami apa yang ingin ia katakan. Pria itu menganggukkan kepala kecil.“Saya mengerti, Nyonya.”Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka.Helena menunggu beberapa saat, berharap Tom akan melanjutkan ucapannya. Namun kepala pelayan itu tetap duduk dengan tenang di kursinya, seolah apa yang baru saja dikatakannya sudah cukup menjawab semuanya.Dan itulah yang mulai membuat Helena frustrasi.Semua orang di kastel ini memiliki kebiasaan yang sama. Mereka menjawab pertanyaan, tetapi tidak pernah benar-benar memberikan jawaban.“Kondisi Tuan Marquess b
Helena duduk tegak di kursinya sambil menatap dokumen yang terbuka di hadapannya.Sejak beberapa menit terakhir, pandangannya terus bergerak dari satu halaman ke halaman lain, tetapi pikirannya tidak benar-benar fokus membaca.Ruangan kerja kepala pelayan itu terasa jauh lebih resmi dibanding tempat-tempat lain yang telah ia lihat di kastel. Rak-rak tinggi dipenuhi buku catatan dan arsip, sementara meja besar dari kayu gelap di tengah ruangan dipenuhi dokumen yang tersusun rapi.Pria yang duduk di seberangnya juga jauh berbeda dari bayangannya.Sebelum datang, Helena membayangkan kepala pelayan kastel Laurent adalah seorang pria tua berusia lanjut yang telah mengabdi selama puluhan tahun.Namun Tom sama sekali tidak sesuai dengan gambaran itu. Usianya memang terlihat lebih dewasa dibanding Rion, tetapi tidak terlalu jauh.Wajahnya tampan dengan kesan matang dan tenang, rambutnya tersisir rapi ke belakang tanpa satu helai pun yang keluar dari tempatnya, sementara seragam kepala pelayan
Tidak ada perubahan sedikit pun pada wajah Rion setelah mendengar pertanyaan itu.Pria itu hanya menatap Helena dalam diam selama beberapa detik. Wajah tampannya tetap tenang, nyaris tanpa ekspresi, sementara sorot mata merah gelapnya sulit ditebak seperti biasa.Tidak terlihat terkejut. Tidak terlihat gugup. Seolah pertanyaan yang baru saja diajukan Helena bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkan terlalu lama.Kemudian Rion sedikit membungkukkan tubuhnya. Gerakan itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat jarak di antara mereka menyempit.Helena refleks menahan napas.“Sepertinya kakak saya tidak ingin melewatkan malam pertamanya bersama sang istri,” ucap Rion akhirnya. Suaranya rendah dan tenang, mengalir begitu saja tanpa keraguan sedikit pun. “Jadi semalam beliau memutuskan untuk datang ke kamar Anda.”Helena terdiam karena jawaban itu terdengar sangat masuk akal.Bukankah memang itu yang seharusnya terjadi? Rezef Laurent adalah suaminya. Tidak peduli seburuk apa pun kondisi kesehata
Helena tertegun setelah mendengar perkenalan pria itu.Sesaat, ia benar-benar mengira bahwa lelaki yang baru saja memasuki aula adalah Rezef Laurent, suaminya. Entah karena posturnya yang tinggi, suaranya yang rendah, atau aura dingin yang mengelilinginya, ada sesuatu dalam diri pria itu yang membuat jantung Helena sempat berdebar tidak wajar.Tapi kenyataan bahwa ia adalah Rion Laurent, adik dari suaminya, membuat Helena segera menertawakan dirinya sendiri dalam hati.Ia menelan ludah pelan. Perasaan aneh yang sejak tadi mengganggunya belum juga hilang. Semuanya terasa terlalu familiar.Cara pria itu menatapnya, nada suaranya, bahkan kehadirannya yang begitu mendominasi ruangan. Untuk sesaat, pikiran yang tidak masuk akal melintas di kepalanya, bahwa lelaki inilah yang semalam berada di dalam kegelapan bersamanya.Helena segera membuang pikiran itu jauh-jauh.Mustahil.Rion adalah adik Rezef. Tidak mungkin ia mencurigai hal semacam itu hanya karena beberapa kesamaan yang mungkin tida







