Mag-log in"Casey, kenapa kamu membawa Siska ke sini?" tanya Melody dengan raut wajah bingung, matanya bergantian menatap Casey dan sosok Siska yang gemetaran di bawah apitan dua pengawal bertubuh tegap."Dominic, bawa dia masuk," perintah Casey dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari Melody.Casey melangkah makin dekat. Sebuah senyum tipis penuh misteri terukir di bibir tegasnya, berpadu dengan tatapan mata yang begitu tajam dan mengintimidasi. "Bukankah dia orang yang sudah menyusahkanmu, Melody? Orang yang membuatmu tersandung masalah hak cipta hingga butikmu hampir gulung tikar?"Siska yang kini diseret melangkah masuk ke dalam ruangan mewah itu langsung meluruh berlutut di atas lantai marmer. Tubuhnya menggigil hebat, air mata membasahi wajahnya yang pucat pasi."Nona Melody... maafkan saya, Nona! Saya mohon maafkan saya!" ratap Siska histeris seraya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. "Saya khilaf melakukannya, Nona... Saya benar-benar kepepet uang!"Melody melongo, terteg
"Aku beneran nggak apa-apa, Len. Masalah butik udah selesai kok. Sekarang aku cuma mau fokus istirahat dulu," ketik Melody lambat, berusaha menyusun kata sehati-hati mungkin."Yaudah kalau gitu. Pokoknya kalau ada apa-apa, kamu harus cerita ya! Nanti pas jadwal libur aku main ke rumah kamu!"Melody mengulum senyum hambar membaca balasan Helena sebelum mengunci layar ponselnya. Rumah? Pikirnya ironis. Tempatnya berada saat ini bahkan bukan rumah yang bisa ia bagikan alamatnya kepada siapa pun.Tok! Tok! Tok!Pintu kamar terdorong pelan. Mbok Nah berdiri di ambang pintu dengan senyum ramah khasnya. "Nona Melody, makan siang sudah siap. Nona mau makan di meja makan lantai bawah atau diantar ke atas saja?"Jantung Melody berdesir pelan. Bayangan harus duduk di meja makan luas lantai bawah, berhadapan dengan tatapan para pelayan dan pengawal, membuat nyalinya ciut. Apalagi kondisi perutnya yang mulai rentan mual akibat kehamilan mudanya, ia tak mau ada orang rumah yang curiga jika ia tiba-
"Ayo masuk, Bi," sapa Melody lembut, membuka pintu kamar lebih lebar dan membiarkan aroma gurih bubur ayam serta keharuman teh hangat menguar memenuhi ruangan.Bi Ani melangkah masuk dengan nampan kayu di tangannya. Matanya melirik sekeliling kamar yang begitu luas dan serba mewah itu dengan binar takjub bercampur canggung. Ia perlahan meletakkan nampan tersebut di atas meja kecil dekat sofa."Non, ini sebenarnya rumah siapa?" Tanya Bi Ani menatap ke arah Melody."Ini rumahnya Casey, Bi. Inget, kan? Sepupu nya Melody yang papa mama nya kecelakaan?" Tanya Melody."Loh! Iyakah?""Iya, Bi.""Soalnya bibi kira orangnya sombong, soalnya kan di bilang katanya monster kejam atau apalah. Tapi buktinya dia yang bawa non Melody kesini.""Iya, Bi. Dia yang bantuin Melody.""Syukurlah, Non. Bibi jadi tenang dengerinnya. Pantes orang-orangnya ramah banget, bibi ngerasa nyaman tinggal di sini..."Melody melangkah mendekati sofa, mengulas senyum tipis untuk menenangkan pengasuhnya. "Udah ngobrol tad
"Mbok Nah, kamar Non Melody di sebelah mana ya?" tanya Bi Ani seraya memegangi lengan Melody yang masih terasa dingin dan agak gemetaran.Mbok Nah tersenyum amat sopan, memiringkan tubuhnya untuk memberi jalan. "Kamar utama ada di lantai dua, Bi. Mari saya antarkan. Seluruh fasilitas sudah disiapkan langsung atas instruksi pribadi Tuan."Langkah kaki mereka bergema halus di atas lantai marmer impor yang mengilap. Rumah dua lantai itu terasa sangat luas, megah, namun sunyi mencekam. Tidak ada pajangan foto keluarga atau ornamen hangat khas rumah tinggal. Setiap sudutnya dirancang dengan estetika modern minimalis bernuansa hitam, abu-abu, dan putih, mencerminkan selera Casey yang dingin, rapi, dan tak terjangkau.Saat pintu kayu berukuran besar di lantai dua dibuka, mata Melody disambut oleh kamar tidur super luas yang langsung menghadap ke balkon pribadi. Cahaya matahari pagi menerobos masuk dari balik tirai tipis, menerangi ranjang berukuran besar dengan merk ternama Amerika yang tert
"Jangan menyamakan posisiku denganmu, Melody. Apa yang kulakukan adalah urusan penting, sementara kau sibuk bermain api dengan pria lain di belakangku."Pipi Melody memerah padam. Emosi yang tertahan di dadanya meluap, membakar seluruh rasa takut yang sempat menghantuinya sepanjang malam. Jemarinya yang gemetar mengetik balasan dengan penuh amarah."Bermain api? Maksud mu aku?" Ketik Melody cepat, lalu dia kembali mengetik dengan cepat. "Kamu yang sama cewe lain, bisa-bisanya kamu tuduh aku! Aku bukan barang yang bisa diperlakukan sesukamu!" Hening sejenak di seberang sana. Luapan emosi di kepala Melody belum juga mereda ketika ponselnya tiba-tiba bergetar panjang. Sebuah panggilan suara masuk dari nomor pribadi.Melody menelan ludah dia tahu pasti itu Casey. Ia melirik Bi Ani di sampingnya yang sedang memandang keluar jendela dengan raut cemas. Melody menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa bersuara."Kau berani menaikkan nadamu padaku, Melody?" suara b
Melody mengembuskan napas panjang yang terasa begitu berat, menatap pendar layar ponsel di tangannya dengan binar mata yang redup. Perhatian manis dari Harvey membenturkan dua rasa yang saling bertolak belakang di dalam dadanya. Di satu sisi, ketulusan pria itu terasa bagai oase sejuk yang menyiram jiwanya yang dahaga akan kasih sayang. Namun di sisi lain, kenyataan pahit terus menampar kesadarannya. Mengizinkan Harvey makin dalam masuk ke dalam hidupnya sama saja menyodorkan publik figure itu ke dalam mulut serigala.Casey tidak akan pernah tinggal diam. Bayangan ancaman pria itu di telepon tadi sore kembali terngiang, begitu dingin dan mengarahkan belenggu tak terlihat ke lehernya.Dengan jemari yang bergetar pelan, Melody mengetikkan balasan untuk Harvey.“Vey, terima kasih banyak untuk perhatian kamu. Tapi besok kamu nggak usah jemput, ya? Keluargaku jemput udahan. Kamu fokus aja sama jadwal syuting dan latihan film baru kamu. Please, demi aku.”Pesan itu terkirim. Melody menatap







