เข้าสู่ระบบ"Kau berubah," ucap Jack sambil menatap Arsen yang sedang menyelesaikan beberapa berkas di ruang kerjanya. Arsen mengangkat kepalanya. "Apa maksudmu?" Jack menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Kau bahkan bisa menahan dirimu." Arsen mengernyit. "Aku tidak mengerti." Jack terkekeh pelan. "Biasanya kalau sedang tertekan atau emosimu tidak stabil, kau selalu pergi ke bar." "Tapi sekarang tidak lagi." Arsen kembali menatap berkas di depannya. "Aku sudah berhenti." Jawaban singkat itu membuat Jack mengangkat sebelah alisnya. "Berhenti?" "Iya." Jack tersenyum tipis. "Kalau tidak salah, dulu kau bilang itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikiranmu." Arsen menghela napas pelan. "Itu dulu." "Lalu sekarang?" Arsen terdiam beberapa saat sebelum menjawab, "Sekarang aku punya alasan untuk berhenti." Jack memperhatikan ekspresi sahabatnya itu. "Aluna?" Arsen tidak menjawab. Namun diamnya sudah cukup menjadi sebuah jawaban. Jack terkekeh kecil. "Aku benar-benar tidak menyang
"Bagaimana kabarnya Bella?" tanya Arsen saat mereka sedang duduk di ruang kerjanya. Jack yang berdiri di dekat jendela hanya terdiam beberapa saat. Tatapannya menerawang ke luar. "Aku tidak tahu," jawabnya akhirnya. Arsen langsung mengernyitkan dahinya. "Kenapa begitu?" Jack tertawa kecil. Namun tidak ada kebahagiaan dalam tawanya. Justru terdengar pahit. "Aku sudah tidak lagi ingin tahu tentang dia." Arsen menatap sahabatnya lekat. Sedangkan Jack mengembuskan napas panjang. "Karena aku begitu kecewa berat dengannya." Suasana ruangan mendadak menjadi hening. Arsen memahami perasaan itu. Bagaimanapun juga, Jack mencintai Bella selama bertahun-tahun. Bukan sebentar. Bukan satu atau dua bulan. Melainkan bertahun-tahun. Dan semua perasaan itu berakhir dengan cara yang sangat menyakitkan. "Aku tidak marah karena dia hamil," lanjut Jack dengan nada tenang. "Aku juga tidak marah karena anak itu bukan anakku." Arsen tetap diam mendengarkan. "Tapi aku kecewa karena dia m
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jack kepada Aluna dengan bahasa isyarat. "Sudah sangat membaik," balas Aluna dengan bahasa isyarat. Senyuman kecil terukir di bibirnya. "Jangan tersenyum kepada Jack," tegur Arsen tiba-tiba. Seketika Jack mengernyitkan dahinya. "Apa maksudmu?" tanyanya heran. Arsen yang sedang duduk di sofa hanya menatap Aluna dengan wajah datar. "Aku tidak suka." Jack langsung menatap sahabatnya itu beberapa saat. Lalu dia menunjuk dirinya sendiri. "Kamu sedang berbicara tentang aku?" "Iya." Jack langsung memegangi dahinya. "Arsen, kamu serius?" "Tentu saja." Jawaban cepat itu membuat Jack benar-benar tidak percaya. Sementara Aluna hanya memandang mereka bergantian dengan wajah bingung. "Kamu cemburu kepadaku?" tanya Jack sambil terkekeh kecil. Arsen langsung menatap tajam ke arahnya. "Aku tidak cemburu." "Kamu jelas cemburu." "Aku hanya tidak suka." Jack langsung tertawa. "Bedanya di mana?" Arsen terdiam. Membuat Jack semakin yakin dengan dugaanny
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Arsen sambil memperhatikan Aluna yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit. Aluna langsung menganggukkan kepalanya pelan. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa minggu lalu. Bahkan warna pucat di wajahnya sudah mulai berkurang. Melihat itu, Arsen akhirnya merasa sedikit lega. "Baiklah." Arsen berdiri dari kursinya lalu merapikan jas yang dikenakannya. "Hari ini kita pulang." Seketika mata Aluna langsung berbinar. Senyuman kecil muncul di wajahnya. Hal itu membuat Arsen terkekeh pelan. "Kamu senang sekali?" Aluna langsung mengangguk cepat. Sejak dua minggu berada di rumah sakit, akhirnya hari yang ditunggunya datang juga. Sebenarnya, sejak beberapa hari lalu Aluna sudah ingin pulang. Dia sudah bosan melihat dinding kamar rumah sakit setiap hari. Namun Arsen selalu menolaknya. Pria itu terus memaksanya untuk tetap dirawat sampai dokter benar-benar mengizinkan pulang. Dan karena tidak punya pilihan lain— Aluna ak
"Di mana mereka?" tanya Arsen begitu tiba di apartemen Bella. Wajahnya terlihat dingin. Tatapannya tajam. Sementara Jack yang berdiri di depan pintu apartemen hanya mengusap wajahnya lelah sebelum menjawab, "Mereka ada di kamar Bella." Suara Jack terdengar lirih. Benar-benar menunjukkan betapa lelahnya dirinya menghadapi semua ini. "Bawa aku ke sana." Jack langsung menatap Arsen serius. "Arsen…" "Apa?" "Kamu tidak akan macam-macam, kan?" Arsen menatap balik sahabatnya itu. Rahangnya perlahan menegang. "Aku mendapatkan informasi dan bukti." "Bukti apa?" tanya Jack mengernyit. "Bahwa Roy memang pria brengsek." Seketika Jack langsung terdiam. Tatapannya berubah serius. "Maksudmu?" Arsen mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan beberapa foto dan data yang tadi dikirim asistennya. "Pria itu bukan hanya meninggalkan Bella." "Dia juga beberapa kali terlihat bersama wanita lain." Jack langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Emosinya perlahan mulai naik. Namun Arse
"Bagaimana? Apa perasaanmu sudah benar-benar membaik?" tanya Arsen pelan kepada Aluna. Aluna yang sedang duduk bersandar di ranjang langsung menganggukkan kepalanya kecil. Wajahnya terlihat sedikit lebih segar dibanding beberapa hari sebelumnya. Bahkan senyum kecil kini mulai sering terlihat di wajah pucatnya. Melihat itu, Arsen akhirnya bisa sedikit bernapas lega. "Syukurlah." Tangannya perlahan merapikan selimut Aluna yang sedikit berantakan. "Sekarang kamu harus banyak makan." "Supaya cepat sembuh dan bisa pulang dari sini." Aluna kembali mengangguk kecil sambil tersenyum. Namun beberapa detik kemudian— Tatapannya justru terus tertuju pada Arsen. Membuat pria itu mengernyit pelan. "Kenapa melihatku seperti itu?" tanyanya. Aluna hanya tersenyum kecil tanpa menjawab. Hal itu justru membuat Bi Ina yang sedang berada di sofa terkekeh pelan. "Nona Aluna sekarang lebih sering tersenyum kalau bersama Tuan." "Bi Ina," tegur Arsen pelan. Namun wajahnya justru terlihat sedi
"Aluna, ada apa?" tanya Arsen panik saat melihat mata Aluna mulai terbuka. Saat ini, Aluna sudah dipindahkan ke ruang VVIP. Namun dari raut wajahnya terlihat jelas. Ia sedang menahan rasa sakit. Keningnya berkerut. Napasnya tidak teratur. Dan sesekali terdengar suara erangan kecil dari bibirnya.
"Kondisinya sudah jauh membaik selama beberapa hari ini," ucap dokter setelah selesai memeriksa keadaan Aluna. Arsen yang sejak tadi berdiri di samping ranjang langsung menatap dokter itu dengan serius. "Jadi, sepertinya kami sudah bisa melakukan tindakan selanjutnya." Mendengar itu, Aluna langs
"J-Jack… jangan tinggalkan aku…" gumam Bella lirih. Tubuhnya lemah. Kepalanya terkulai di bahu Jack. Belum sempat Jack menjawab— Tiba-tiba Bella muntah. "Ugh—" Jack langsung sigap menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Dengan cepat ia memiringkan posisi Bella agar tidak tersedak. Wajahnya la
"T-Tuan… mata Aluna bergerak," ucap Bi Ina dengan suara bergetar. Sejak tadi ia tidak berhenti memperhatikan Aluna. Mendengar itu, Arsen langsung mengangkat wajahnya. Tatapannya tertuju pada gadis di depannya. Dan benar— Kelopak mata Aluna mulai bergerak perlahan. Jantung Arsen langsung berde







