เข้าสู่ระบบLintang mengelilingi rumah Eden mencoba menghafal setiap jalan dan lorong gelap yang ada. Ia juga berusaha mengingat setiap sudut yang terdapat cctv.Walaupun tak ada pengawal berjaga di dalam rumah namun cctv selalu menyala tetap membuatnya waspada dan takut. Lintang takut saat melancarkan aksi kabur terekam cctv dan semuanya akan sia-sia.Tekadnya untuk pergi dari rumah ini sangat kuat, dan ia akan melakukan apapun agar rencana itu segera terealisasi.Lintang meninggalkan lantai dua kamarnya, turun kebawah menuju lantai satu. Hal pertama yang menyambutnya adalah ruang tamu yang sangat luas dengan konsep putih berpadu coklat. Sebuah piano tua berada di sisi ruang, kemudian di sisi lain set sofa dan meja mewah.Satu pintu lurus tepat di depannya yang berdiri di anak tangga terakhir. Pintu itu berwarna hitam dengan ukiran yang rumit kemudian karpet merah terbentang sepanjang jalan dari pintu menuju dirinya berada.Rasanya tak nyambung saat konsep coklat putih kemudian terpasang karpet
Dunia seolah berhenti saat itu juga. Perkataan Julia bagai tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Eden. Amarahnya memuncak seketika tangan Eden terkepal erat, wajahnya memerah menahan geram. Dengan langkah lebar, Eden mendekat dan menarik lengan Julia dengan kasar. Perlakuan itu sontak membuat orang-orang di sekitar mereka tercengang.Para karyawan yang menonton segera mengeluarkan ponsel dan mulai merekam. Sandi dan Diego yang menyaksikan aksi tersebut hanya bisa menggeram kesal, mereka hendak membantu Julia namun kalah cepat."Apa yang kau katakan, Julia?!" napas Eden memburu. Cengkeramannya pada tangan Julia semakin kuat hingga wanita itu meringis.Namun, Julia tidak tinggal diam. Ia justru semakin memperdalam aktingnya, memasang wajah tersakiti untuk memancing iba."Anakku... aku hanya ingin mencari keadilan," isak Julia dengan suara bergetar. "Kalian tidak memberiku sepeser pun, bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mendedikasikan diri pada perusahaan ini. Lalu aku harus
“Seperti inikah sosok pemimpin Haden Group yang katanya sangat hebat itu?”Eden baru saja membuka pintu ruangan nya saat sebuah suara terdengar dari dalam.Seorang wanita paruh baya glamour dengan rambut merah menyala, dress mahal melekat di tubuhnya duduk angkuh di kursi putar kebesaran Eden. Julia duduk dengan kaki menyilang angkuh, jemarinya yang di hiasi berlian mengusap permukaan meja dengan penuh damba. Ia sudah disini sejak pagi menikmati keheningan ruangan itu membayangkan bagaimana rasanya jika papan nama diatas meja berubah menjadi namanya. Baginya kursi ini bukan sekedar tempat duduk, ini adalah takhta yang seharusnya ia kuasai.Namun begitu Eden datang khayalanya buyar tergantikan kesal.Eden berhenti tepat di tengah pintu menatap tajam Julia. Rahangnya terkatup rapat amarah datang tiba-tiba.Dari kejauhan Rendi yang melihat sang tuan diam saja segera mempercepat langkahnya. Setibanya di depan ruangan Eden tuanya itu tak kunjung masuk membuatnya bingung.“Tuan ap—”“Apak
Cahaya matahari menerobos celah gorden yang tersingkap menerpa sepasang pria wanita yang saling berpelukan diatas ranjang.Lintang dan Eden.Lintang lebih dulu bangun saat rasa berat menimpa dadanya membuatnya sedikit kesulitan bernapas. Tanganya meraba benda berat panjang dan otot yang mengelilinginya.Saat lintang menatap ke bawah ia mendapati lengan kekar Eden yang memeluknya erat, tangan pria itu menimpa dadanya yang menjadi penyebab ia kesulitan napas.Lintang memindahkan tangan Eden dengan perlahan takut mengganggu tidur pria itu. Tanpa ia tahu Eden justru semakin erat memeluknya saat merasakan pergerakan wanita itu. Kepalanya ia benamkan diantar ceruk leher menghirup aroma mawar yang menyatu dengan bekas percintaan.Eden menarik bibirnya tersenyum, mengingat kembali betapa panasnya percintaan mereka semalam. Sedangkan lintang, wanita itu memerah wajahnya bukan karena hawa panas melainkan saat hidung Eden yang menyentuh lehernya, membawa gelenyar listrik kedalam tubuhnya.Lintan
Eden menatap dalam wajah Lintang yang panik. Satu tangannya keatas mengelus bibir Lintang yang bergetar. Mata gadis itu bergerak liar. Ketakutan jelas terpancar di wajahnya. "Lintang...Kau tahu kenapa aku tak melepaskanmu?" Elusan tangan Eden semakin turun, melewati leher jenjang Lintang yang putih dan berhenti tepat di gundukan besar yang bergoyang-goyang. Napas Lintang tak beraturan, air mata sudah jatuh membasahi wajahnya. Ia sangat takut Eden kembali menyiksanya seperti beberapa hari yang lalu. "Kau tahu...awalnya aku ingin membunuhmu saja tapi..." Eden meremas lembut dada Lintang membuat mata Lintang spontan melebar. Tubuhnya mendadak kaku. Wajah Eden terkekeh menampilkan seringai puas. "Tubuhmu membuatku tertarik." bisiknya di telinga Lintang. "Bajingan!" Umpat Lintang. Wajah Eden jauh dari kata bersahabat, pria itu terlihat menggertakan giginya. Amarah menyelimutinya saat paham apa yang Lintang katakan. Sekalipun lintang bisu tapi apa yang gadis itu kataka
“Cukup, Tuan. Anda sudah terlalu mabuk!” Rendi berusaha mengingatkan Eden yang tak berhenti meneguk whisky. Sejak masalah di kantor tadi siang selesai Eden langsung menuju klub paling terkenal di pusat kota. Memesan beberapa botol wishky dan alkohol kadar tinggi lainya. Hampir sebulan tak memasuki tempat haram ini, Eden kembali pada kebiasaannya minum alkohol saat frustasi. Rendi sampai hafal karena pola itu selalu terjadi sejak atasannya itu remaja. Dan lagi-lagi ia bertugas untuk menjaga Eden dengan baik. “Tuan. Anda sudah minum terlalu banyak!” Rendi menatap dua botol kosong, satu botol masih dalam genggaman Eden. Hampir tiga botol whisky Eden habiskan dalam waktu tak sampai satu jam. Wajahnya sudah memerah, matanya bergerak liar, namun tak sedikit pun pria itu berhenti. “Tuan…” “Diam.” Eden kembali meneguk cairan coklat itu, membiarkan rasa panas mengalir di tenggorokannya. Matanya terpejam sejenak. Fisik dan pikiran yang kacau membuat rasa panas itu menghilan