เข้าสู่ระบบSetelah Danu pergi dan Tuan Adrian mempersilakanku masuk, aku pun melangkah ke dalam ruang kerja yang cukup luas dengan desain hitam putih yang elegan namun misterius itu.
“Kau membawakanku makanan?” tanya Tuan Adrian tanpa menoleh. Aku yang awalnya masih terpana mengagumi ruangannya segera beralih pada pemiliknya. “Benar, Tuan.” “Bibi Asri yang menyuruhmu?” tanyanya lagi, masih dengan tatapan tertuju pada dokumen di atas mejanya. Aku buru-buru menjawab, “Tidak, Tuan. Ini ... inisiatif saya sendiri. Jadi, jangan marahi Bibi Asri. Beliau bahkan sudah mencegah saya.” Pulpen di tangan Tuan Adrian yang sejak tadi terus bergerak lincah di atas kertas seketika berhenti. Tatapannya terangkat, menusuk ke arahku. “Kalau begitu bawa saja makanan itu pergi.” Ia kembali menunduk, sibuk menandatangani dokumen-dokumennya. Sungguh pria yang sulit dihadapi, batinku. Aku menggigit bibir, berpikir cepat mencari cara agar usahaku tidak sia-sia. Lalu, aku teringat sesuatu. Perlahan kubuka salah satu kotak makanan yang kubawa. Seketika aroma ayam bakar madu yang menggoda menyebar memenuhi ruangan. “Tapi, Tuan ... saya sudah membawakan makanan kesukaan Anda,” ucapku pelan, berusaha terdengar tenang. Pulpen di tangannya kembali berhenti. Sekilas aku melihat ekspresinya berubah, meskipun cukup samar. Aku menunggu, akan tetapi tidak juga mendapat tanggapan. Akhirnya, dengan sedikit rasa kecewa, aku mulai menutup kembali kotak itu. Namun, sebelum aku sempat melangkah pergi, suara Tuan Adrian kembali terdengar. “Siapkan saja makanannya di meja. Aku akan makan setelah menyelesaikan ini.” Seketika kedua sudut bibirku tertarik naik. “Baik, Tuan.” Dengan riang, aku menata satu per satu hidangan di meja depan sofa yang ada di ruangan Tuan Adrian. Setelah semuanya selesai, aku menoleh ke Tuan Adrian. “Tuan, makanannya sudah siap.” Tuan Adrian akhirnya menutup dokumennya dan berdiri, lalu berjalan mendekat ke arahku. Cara berjalannya terlihat sangat indah dan berwibawa. Tatapanku pun tidak bisa lepas darinya. Semakin dekat, semakin cepat jantungku berdetak. Namun, ketika ia melewatiku begitu saja ... rasa kecewa kecil muncul di dadaku. Ayolah, Melati, apa yang kau pikirkan? Omelku pada diriku sendiri di dalam hati. Aku berbalik. Tuan Adrian kini sudah duduk di sofa, mulai mengangkat sendok, dan makan tanpa sepatah kata. Aku memperhatikannya diam-diam. Gerakannya tenang, tertib, dan terlihat berkelas. Namun entah bagaimana, ada sedikit nuansa hangat yang sulit kujelaskan, yang mana membuatku tersenyum tanpa sadar setiap kali Tuan Adrian menyuapkan makanan ke mulutnya. Benar kata Bibi Asri, hal paling menyenangkan adalah melihat Tuan Adrian makan dengan tenang dan nyaman. Tidak salah aku mengikuti sarannya untuk membawakan makanan kesukaannya, ayam bakar madu dengan sambal, ditambah sup bening, dan segelas susu jeruk hangat. Katanya, hanya dengan itu Tuan Adrian bisa ‘dijinakkan’. “Apa aku begitu tampan?” “Iya,” jawabku dengan sangat mantap. Bodoh memang, karena aku langsung mengikuti isi kepala. “Hah? Apa?” Aku tergagap panik. “Eh, tidak—bukan maksud saya—” “Duduklah.” “Ya?” Ia menatapku tanpa ekspresi, lalu mengulang perintahnya, “Aku bilang, duduk. Kau bukan pengawalku, jadi duduklah.” Aku menarik napas panjang, sementara tanganku meremas ujung baju, menahan malu. “Iya ... Tuan.” Aku lantas duduk di ujung sofa yang berseberangan dengan Tuan Adrian. Sunyi. Di ruangannya kini, hanya ada suara samar sendok yang bertemu wadah makanan. Namun, ada satu suara lain yang sangat jelas kudengar di telingaku, yaitu detak jantungku sendiri. ** Entah mengapa, sore ini aku merasa matahari di Universitas Cahaya Bangsa tidak terlalu menyengat. Udaranya pun terasa sejuk, dan langitnya terlihat begitu cerah, sangat cantik. Tatapan sinis orang-orang pun terlihat samar di mataku. Sama sekali tidak membuatku terganggu. Aku merasa senang tanpa sebab. Entahlah, aku sendiri bingung, tetapi mungkin ini ada hubungannya dengan aku yang bisa menemani Tuan Adrian makan pagi tadi. Aku baru saja hendak berbelok ke arah gedung kelasku ketika seseorang dari arah berlawanan berbelok terlalu cepat ke arahku. Brukk. Tubuhku menabrak seseorang. Kardus dan tumpukan kertas yang dibawanya terjatuh berserakan. “Aduh!” seruku pelan. “Maaf!” ucap cepat orang yang menabrakku. Suara itu terdengar familiar. Saat aku menatapnya, aku langsung bisa mengenalinya. Dia adalah kakak tingkat yang kemarin memberiku brosur seminar. “Kakak ... yang kemarin, bukan?” “Loh ....” Ia tersenyum ramah. “Ternyata kamu, Melati. Maaf ya, tadi aku terburu-buru, jadi tidak melihat jalan.” “Oh, tidak apa-apa, Kak.” Aku mengikutinya, berjongkok dan membantu memunguti lembaran-lembaran kertas yang berserakan. Ketika kami berdua mengambil kertas terakhir, tanpa sengaja tangan kakak tingkatku itu menggenggam tanganku. Kami saling menatap untuk sejenak, sampai kemudian aku buru-buru menarik tanganku. Kami sama-sama berdiri. Dan saat melihat barang-barangnya yang berat dan banyak, aku pun berinisiatif untuk membantu. “Biar saya bantu bawakan sebagian, Kak.” “Wah, terima kasih, Melati. Maaf merepotkan.” Aku tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Kak.” Kami berjalan berdampingan menuju ruang panitia seminar. Di perjalanan, kami cukup banyak mengobrol ringan, dan pada saat itulah aku baru tahu namanya. “Oh iya, aku belum tahu nama Kakak siapa.” “Arga,” sebutnya dengan senyuman. “Kak Arga,” ucapku mengulang namanya sambil mengangguk samar. Sesampainya di depan ruang panitia, Arga menatapku. “Sampai sini saja, Melati.” “Oh, baik, Kak.” Aku menyerahkan kembali barang yang kubawa. “Terima kasih banyak, Melati,” ucapnya. “Sama-sama, Kak.” “Oh iya, kelasmu selesai jam berapa hari ini?” tanyanya. Aku berpikir sejenak. “Sekitar jam lima, Kak.” “Bagus. Setelah rapat selesai, aku traktir makan, ya. Sebagai ucapan terima kasih.” “Eh, tidak usah, Kak. Tidak perlu repot.” Arga menggeleng. “Tidak ada penolakan.” Ia berjalan mundur ke arah pintu ruangan. “Nanti aku tunggu di depan gedung kelasmu.” Sebelum aku sempat membalas, pintu ruang panitia sudah tertutup. Aku berdiri termenung di depan ruangan itu. “Bagaimana aku harus menjelaskannya ke Kak Danu nanti?” ** Sore harinya, saat aku keluar dari gedung perkuliahan. Aku sungguh melihat Arga, berdiri di depan menungguku sesuai dengan janjinya. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya begitu melihatku. Mau tidak mau, aku pada akhirnya benar-benar pergi makan malam dengan Arga, dan terpaksa bohong ke Kak Danu bahwa aku ada kerja kelompok. Aku sendiri bingung kenapa aku harus berbohong mengenai hal ini. Kak Arga membawaku ke restoran kecil tidak jauh dari kampus. Kami ke sana dengan menaiki motornya. Aku sempat berpesan bahwa aku tidak bisa pergi terlalu lama dan agar dia tidak memulangkanku terlalu malam. Namun, karena obrolan kami begitu seru, waktu terasa berjalan begitu cepat. Ketika kulirik jam di ponsel, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Aku pun meminta Kak Arga untuk segera mengantarku pulang. Namun, siapa sangka jika nasib buruk menimpa kami di perjalanan. Saat hampir sampai di rumah Cempaka, segerombolan pengendara motor mengganggu kami. Salah satu dari mereka menendang motor Kak Arga, membuatnya kehilangan keseimbangan dan jatuh ke aspal. Setelah melihat kami terjatuh, para pengendara itu pun melaju pergi sambil tertawa puas. Kak Arga segera melepas helm dan bangkit untuk menghampiriku. “Melati!” Aku bisa melihat wajah paniknya saat membantuku duduk dan melepas helm. “Kamu tidak apa-apa?” Aku bisa merasakan sakit di tubuhku, terutama di bagian siku kiriku yang ternyata berdarah. “Melati, kamu berdarah.” “Sakit, Kak,” rintihku pelan. “Kamu bisa bangun? Aku akan membawamu ke rumah sakit.” “Menjauh darinya.” Suara berat yang sangat kukenal tiba-tiba menginterupsi. Aku menoleh ke arah sumber suara. “Tuan Adrian?” Sosok itu benar-benar berdiri di sana, dengan sorot mata tajam dan wajah murka. Ia melangkah cepat, menarik kerah baju Arga, lalu mendorongnya kasar menjauh dariku.Bandara selalu memiliki caranya sendiri untuk membuat perpisahan terasa lebih menggetarkan.Aku berdiri di dekat pintu keberangkatan, menatap layar besar yang terus memperbarui jadwal penerbangan. Di sebelahku, Kak Adel menggenggam dokumennya erat, sebuah legalitas yang kini menjadi penanda akhir dari masa tinggalnya di ibu kota.“Melati,” panggilnya pelan.Aku menoleh. Wajahnya tampak berbeda hari ini. Lebih jujur, lebih terbuka, seolah semua lapisan yang biasa ia kenakan akhirnya luruh.Kami berdiri saling berhadapan.“Aku ingin meminta maaf,” ucapnya.Aku tidak segera menjawab. Kuberi ia ruang untuk menyelesaikan kalimatnya.“Mengenai makanan untuk Adrian yang pernah kamu titipkan padaku ....” Ia berhenti sejenak, menarik napas. “Aku tidak pernah menyampaikannya.”Aku tidak benar-benar terkejut. Namun tetap saja, dadaku terasa seperti dihantam sesuatu yang keras saat pengakuan itu keluar langsung dari bibirnya.“Aku iri,” lanjutnya lirih. “Merasa masih punya kesempatan, aku sempat
Bab 127Aku tidak pernah menyangka bahwa kejutan besar masih menungguku.Tuan Adrian mengungkapkan sebuah kebenaran tentang diriku, bahwa aku adalah anak kandung ayahku.Selama ini, ayah hanya salah paham terhadap ibuku. Aku adalah darah daging mereka.Tidak pernah ada perselingkuhan. Ibuku tidak bersalah. Ia hanya difitnah. Hasil tes DNA-ku telah dipalsukan oleh nenekku sendiri.Mengetahui semua itu, aku bergegas meninggalkan tempat tidur dan bersiap mencari ayah. Aku ingin menjelaskan segalanya. Aku ingin ia tahu kebenaran yang selama ini mengurung kami dalam luka.Namun, belum sampai aku meninggalkan rumah, aku melihat ayah sudah menungguku di ruang tamu.Ayah yang semula duduk segera berdiri saat melihatku. “Melati ....”Aku berlari kecil menghampirinya. “Ayah ....”Kami saling mendekat tanpa perlu aba-aba. Pelukan itu terjadi begitu saja, erat, lama, dan penuh isak yang tidak lagi bisa ditahan.Sudah begitu lama aku mendambakan momen ini. Ini adalah pengalaman pertamaku, merasaka
Hari ini, kebenaran tidak lagi dibungkus rapi. Ia berdiri telanjang, tanpa bisa disangkal.Nama Nyonya Vanya disebut berkali-kali oleh petugas kepolisian. Laporan demi laporan dibacakan.Penyalahgunaan wewenang di perusahaan, penggelapan, manipulasi dokumen, serta tekanan terhadap pihak internal, semuanya memiliki bukti yang konkret dan tak terbantahkan.Selama ini, Nyonya Vanya memang sudah mempersiapkan segalanya dengan rapi. Namun ... siapa sangka, ternyata semua tidak berjalan semulus yang ia harapkan.Dan dari semua itu, ada satu poin yang membuat dadaku menegang pelan.Tentang kematian Tuan Bakrie.Ternyata, itu bukan disebabkan oleh serangan jantung seperti yang selama ini diberitakan. Melainkan, kematian itu adalah sebuah upaya pelenyapan yang dilakukan dengan sengaja oleh Nyonya Vanya.Kematian Tuan Bakrie yang begitu cepat rupanya merupakan hasil dari kesengajaan yang terencana. Semua itu terekam jelas oleh kamera rahasia milik pengawal Tuan Adrian yang terpasang di ruang pe
“Ayah?”Suara itu keluar begitu saja dari bibirku, lirih. Dadaku mendadak terasa kosong, seperti ada sesuatu yang tercabut paksa.Pria itu melangkah masuk perlahan. Seringai tipis di wajahnya seolah menegaskan bahwa ia telah mengetahui segalanya, dan kini siap untuk membukanya.“A-apa—apa maksudmu?” sahut Nyonya Vanya tergagap. “Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu.”Ayah tersenyum samar.“Kenapa Anda berpura-pura tidak mengenal saya, Nyonya Vanya?” ucapnya tenang. “Oh, atau ... haruskah saya memanggil Anda Mr. Y agar Anda ingat?”Ia berhenti sejenak, menatap Nyonya Vanya lurus-lurus.“Y itu ... inisial nama ayah Anda, bukan?” lanjutnya. “Yusa Hutama.”Nyonya Vanya diam terpaku. Dia seolah tidak bisa bersuara.Sementara itu, Tuan Adrian kembali berucap, mengungkapkan beberapa hal yang membuatku kembali dilanda keterkejutan.Dari penjelasannya, akhirnya aku memahami alasan di balik kedatangan ayahku ke Kediaman Cempaka untuk mencariku.Ternyata, Nyonya Vanya mengatasnamakan dirinya sebagai
Usai berpelukan lama dalam diam, akhirnya Tuan Adrian berucap, “Ikutlah aku ke rumah utama.”Aku menarik diri dari pelukannya. Kutatap kedua matanya, meminta kejelasan atas apa yang kudengar barusan.“Ada yang harus kamu ketahui,” ucapnya menjelaskan.Nada suaranya tenang, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa kuterjemahkan. Tampak seperti ada keputusan bulat yang telah ia ambil.Aku tidak tahu alasannya, dan entah kenapa, aku juga tidak merasa punya keberanian untuk bertanya. Aku hanya patuh dan mengikutinya, seperti yang selalu kulakukan.Setelah ajakan itu ... malam itu juga aku dan Tuan Adrian menuju kediaman utama Keluarga Hartono.Begitu mobil memasuki halaman, suasana dingin langsung menyergapku. Rumah itu seolah menyambut kami dengan keheningan yang tidak ramah.Kami berdua masuk dan langsung menuju ruang tengah. Di sana, ternyata Nyonya Vanya dan Nona Amara sudah menunggu.“Adrian.”Nyonya Vanya langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Tuan Adrian. Ia m
Upacara pemakaman Tuan Bakrie dilangsungkan tertutup.Seorang pengawal menghentikan langkahku, ketika aku dan para nona akan mengikuti peti jenazah keluar dari aula.Tidak ada penjelasan panjang. Hanya satu kalimat singkat dan kaku, bahwa tidak ada seorang pun yang boleh ikut selain Tuan Adrian, adiknya, serta pengawal masing-masing.Aku berdiri terpaku. Dari kejauhan, kulihat Tuan Adrian sudah melangkah keluar ruangan dengan punggung tegap. Rasanya, seperti semua kekacauan yang terjadi beberapa waktu lalu sama sekali tidak meninggalkan bekas apa pun untuknya.Entah kenapa, aku merasa aneh. Bukan karena kesedihan atas kematian Tuan Bakrie, melainkan karena sunyi yang terasa terlalu disengaja.Pemakaman ini ... terlalu steril. Terlalu tertutup, seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikan dari dunia luar.Namun aku segera menepis pikiran itu. Aku tidak ingin berpikir berlebihan. Hari ini sudah cukup berat tanpa harus menambah beban dengan prasangka.“Para nona, silakan kembali ke mobi







