LOGINKesalahan satu malam yang tak sengaja di lakukan telah membuat Lucy Watts terpaksa harus menjadi istri kedua dari bosnya sendiri, yang bernama Daniel Noel. Sebagai aktris terkenal kehadiran Lucy tentu saja menjadi ancaman bagi Helen Noel, istri pertama dari Daniel Noel. Dia selalu berusaha menyingkirkan Lucy, hingga membuat Lucy pergi dari hidup Daniel Noel. Bersamaan saat itu kemunculan dari seorang pria misterius bernama Jacob Hayden Al Jassem telah membuka tabir kelam dari keluarga Noel sendiri, membuat kisah cinta segitiga mereka menjadi rumit dan penuh dengan konflik. Mampukah Lucy bertahan dari bahaya berulang kali? Adakah benih cinta yang belum terselesaikan antara Daniel dan Lucy atas nama masa lalu yang belum mereka tuntaskan?
View MoreSera
"Thank you all for coming tonight." Kane's voice carried across the ceremonial hall, strong and clear. I stood at the back, smoothing down my dress for the hundredth time. Blue, because he'd told me it brought out my eyes. I'd spent hours getting ready for this moment. Three years. Three years of waiting, and tonight he was finally going to make me Luna. The hall was packed. Every wolf in Blackwater had turned out for the ceremony. Kane stood on the platform in his formal Alpha robes, looking exactly like the man I'd fallen in love with three years ago. Tall, broad-shouldered, those blue eyes that had locked onto mine across a bonfire and changed everything. "Tonight marks an important moment for our pack," he continued. "Three years ago, I found my mate." My heart jumped. This was it. His eyes found mine across the crowd. "Sera has been by my side through some of our most challenging times. She's worked harder than anyone I know, proven her dedication over and over, shown this pack what real commitment looks like." People turned to look at me. I felt my face heat up but I kept my expression calm. Professional. Like a Luna should. "I want everyone here to understand how much I value what she's done for Blackwater," Kane said. "The effort she's put in, the late nights, the work she's taken on without complaint. It hasn't gone unnoticed." Someone nudged me forward. I took a step, then another. The crowd parted to let me through. My legs felt shaky but I kept walking, kept my head up. This was what I'd been waiting for. What I'd earned. "But the truth is," Kane said, and something in his tone made my stomach twist, "she can't do it all alone." I stopped walking. What did he mean by that? I frowned, trying to understand where this was going. "The role of Luna is demanding. It requires someone who can handle the political pressures, the pack dynamics, the constant demands on their time and energy. And Sera has been shouldering that burden for three years without the actual title or authority to back her up." He paused. "I think it's time we fixed that. Time we gave her the support she deserves." My chest loosened a little. Okay. He was building up to it. Making sure everyone understood why it took so long. "Which is why I'm pleased to announce that Elara Vance will serve as Luna of Blackwater Pack." The words didn't make sense at first. Then they did. The hall erupted in applause. Elara walked up from the opposite side of the crowd wearing white. An actual white dress like this was her wedding day. She climbed the platform steps and Kane took her hand, raised it high for everyone to see. The pack cheered louder. Not Second Luna. Not support. THE Luna. My position. The title I'd been working toward for three years. He'd given it to her. I turned around and left before anyone could see my face. Nobody stopped me. I made it to the corridor before my legs gave out. My back hit the wall and I slid down, hands pressed over my mouth to keep the sound inside. If I started screaming now I wouldn't be able to stop. Three years. Three years of him telling me to be patient, to prove myself, to show the pack I was capable. Three years of doing every single thing he asked. And he'd just handed my position to the woman he'd been fucking behind my back. I couldn't get enough air. Footsteps echoed down the corridor. I looked up. Elara stood there in her white dress, face carefully arranged like she gave a shit about how I was feeling. "Sera, I wanted to check on you—" "Get away from me." "I know this is difficult, but you have to understand Kane's position. The pack needs strong leadership, and he's trying to do what's best for—" "I said get the fuck away from me." Something shifted in her expression. The fake sympathy disappeared and I saw what was actually there. She'd won and she knew it. "You really should try to handle this maturely," she said, and her voice was different now. Sharper. "Kane made the right choice for the pack. Surely even you can see that." "I've been doing everything he asked for three years." "You've been trying," Elara said. "I'll give you credit for that. You really gave it your best shot." She stepped closer. "But let's be realistic here, Sera. You were never actually going to be Luna. An omega playing dress-up, hoping everyone would be polite enough to pretend they didn't notice what you really are." The words hit me in the chest. I felt my claws starting to come out and I forced them back. "Kane marked me. We're mated." "Kane marked an omega," Elara said. "Did you honestly think the pack was going to accept that? An omega Luna?" She smiled, small and cruel. "You've been patient, I have to admit. Three whole years of waiting for something you were never going to get. But it's over now. Kane chose me. The pack chose me. Time to accept reality." "He's my mate." "And he's my Alpha." Her hand moved down to rest on her stomach. Just sat there, casual. "I'm carrying his child, Sera. The pack's heir. So tell me, what exactly are you bringing to this relationship?" Everything stopped. The noise from the ceremony faded out. The corridor went silent. All I could see was Elara's hand on her stomach and that small, satisfied smile on her face. "You're lying." "Am I?" She shrugged. "You should ask him yourself. I'm sure he was planning to tell you eventually. When the time was right." She turned to leave, then paused. "Oh, and Sera? You might want to start looking for somewhere else to stay. It's going to get awkward once I'm showing." Then she walked back toward the ceremony and I was left standing there trying to process what she'd just said. * * *“Jerome??” Laura terkejut setelah menyadari pria yang paling dihindarinya tiba-tiba ada di hadapannya saat ini.Pria tinggi besar berparas maskulin dengan jambang tipis bernama Jerome itu mengalihkan pandangannya pada Alex yang tetap tampak tenang seolah tak terpengaruh sama sekali dengan kehadirannya.“Jadi kau teman kencan Laura yang baru?!” sergahnya dengan tatapan tajam yang menusuk, tersenyum mengejek pada Alex.Alex tak menjawab, ia tak bereaksi apa pun. Dengan sikap cueknya Alex meminum gelas berisi minuman yang sudah dipesannya. Merasa kesal tak ditanggapi, Jerome melotot pada Alex sembari memukul meja dengan keras.Brakk!!“Hey, aku sedang bertanya padamu, pengecut?!” Jerome berkata keras hingga menarik perhatian orang yang ada dalam restoran itu.“Jerome?! Jaga bicaramu di tempat seperti ini! Siapa pun dia, kau tak berhak berkata kasar padanya!” Laura memperingati.“Kau selesaikan urusanmu dengan pria ini, Laura. Aku pergi, terima kasih kau sudah mentraktirku.” Alex bangkit d
Ellyzabet Smith memang sudah tak lagi bersamanya, akan tetapi Alex tetap merasa kalau Ellyzabet selalu ada bersama dengannya, tepatnya di hatinya. Seperti sekarang ini, Alex begitu menikmati malam-malamnya di Paris meskipun seorang diri. Puas menikmati malam di tempat itu, Alex pun melangkah untuk pulang menuju ke apartemen yang disewanya selama tinggal di Paris untuk menenangkan diri. Jarak yang tidak terlalu jauh membuat Alex hanya perlu berjalan kaki untuk sampai ke apartemennya. Namun, di tengah jalan Alex melihat seorang pria yang berlari kencang dari arah berlawanan dengan membawa sebuah tas wanita. Merasa ada yang aneh, tanpa banyak berpikir Alex sengaja membuat pria itu jatuh tersandung kaki Alex, lalu dengan gerakan cepat Alex langsung mengambil tas dari tangan sang pria.Bruk!! “Arght! Sialan!” pria itu mengumpat, jatuh tersungkur tak jauh di dekat Alex.Beberapa detik kemudian, seorang wanita muda tampak berlari dengan wajah pucat.“Tolong! Tasku! Pria itu mengambil tasku!
“Kau bajingan sialan, Brian Noel!! Akan aku pastikan setelah ini aku akan menghancurkanmu!” Teriakan seorang pria di sebuah ruangan tertutup dan kedap suara terdengar lantang. Pria tersebut baru saja menjalani rangkaian pemeriksaan oleh beberapa orang dari lembaga penegak hukum.Pria yang tak lain adalah Antony Buggs itu terus mengumpat tanpa henti. Ia benar-benar tak menyangka jika hanya dalam waktu semalam dirinya kini sudah berada di dalam ruangan yang mirip seperti penjara. Antony sudah menghubungi pengacara terbaik untuk mengurus kasusnya. Namun, selama kasusnya masih belum ditangani, selama itu pun setiap gerak-gerik Antony akan selalu diawasi. Seperti sekarang ini, ia harus bermalam di ruangan dingin tanpa fasilitas apa pun di dalamnya. Bagi Antony tempat itu tentu saja sama halnya dengan penjara. Brian Noel telah menghancurkan nama baiknya sebagai seorang Antony Buggs.Antony yakin dirinya dapat lolos dari jeratan hukum yang dituduhkan Brian Noel padanya, akan tetapi fakta istr
Suara langkah kaki terdengar masuk di sebuah ruangan perawatan rumah sakit, sosok itu mendekat ke ranjang pasien di mana seorang wanita terbaring lemah. Kedua mata wanita itu masih terpejam masih dalam pengaruh obat bius setelah operasi yang baru saja dijalaninya. Kini sosok pria yang tak lain adalah Brian Noel itu bisa lebih dekat melihat wajah wanita yang baru saja melahirkan bayi dalam kondisi prematur akibat pendarahan yang dialaminya. Jari tangan Brian menyentuh lembut wajah April yang terlihat pucat. Netra birunya menatap sendu April dengan tatapan penuh cinta. “Maafkan aku karena terlambat menyelamatkanmu, April,” sesal Brian lirih tanpa melepas pandangannya pada wajah cantik April yang tampak pucat.“Seandainya aku datang lebih awal, mungkin kau tidak harus mengalami kejadian seperti ini. Tetapi aku bersyukur kau dan bayimu selamat. Dia cantik sepertimu, April Spencer.” Brian mengulum senyuman diagonalnya sebagai wujud rasa syukur.Brian tak ingin melepaskan genggaman tangann
Cukup! Hentikan Brian! Apa yang sebenarnya yang kau inginkan?!” April berkata cukup keras merasa tersudutkan. “Tinggalkan Antony! Itu yang aku inginkan!” tegas Brian serius. “Apa?? Apa kau sudah hilang akal, Brian? Dengan menyuruhku untuk meninggalkan suamiku sendiri dalam keadaan hamil seperti ini?
Suara langkah kaki terdengar semakin jelas. Senyum Mattew semakin merekah ketika orang yang sudah ditunggunya telah datang. “Selamat datang Mr. Diego Constanzo,” Mattew menyapa pada seorang pria berjambang yang tampil paling mencolok mata di antara beberapa pria yang lain datang bersama dengannya. “
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden berdarah yang merenggut nyawa Ellyzabet Smith. Masa itu adalah masa berduka untuk Alex, tak hanya kehilangan kekasih hatinya. Adik kandungnya, Diane Noel juga telah mengalami trauma akibat pelecehan seksual yang dilakukan oleh pengkhianat, Mattew Regan. Alex
Ellyzabet sampai di sebuah tempat yang menurut petunjuk adalah tempat di mana Diane dan Mattew Regan berada. Ellyzabet menepikan mobilnya di depan bangunan yang terlihat sunyi dan tak berpenghuni. Sejauh mata memandang tak ada kehidupan di sekitar bangunan tersebut, dan Ellyzabet yakin jika di bangu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore