ANMELDEN“AYAH! IBU!”Suara Lily yang menggelegar, menjadi penyambut paling pertama atas kepulanganku dan Mark ke penthouse.Ketika kami bertemu dengannya, dapat kami lihat dengan jelas betapa murung wajah imut gadis kecil itu.Bibirnya terus mengerucut, kepalanya sedikit tertunduk, tatapannya sendu, dan dia berjalan mendekati kami dengan tangan yang memeluk boneka kelinci putih dan kaki yang agak menghentak-hentak.“Selamat malam, Cantik!” sapaku ceria.“Selamat malam, Ibu.” Dia merespons sambil cemberut. “Aku merajuk pada Ibu.”“Benarkah? Kenapa? Apakah Ibu membuatmu kesal?”Dia mengangguk dengan polosnya.Selepas berjongkok untuk menaruh bonekanya di dekat kaki, dia berdiri di hadapan kami sambil bertolak pinggang, lantas mendongak untuk menatap kami dan bertanya serius, “Ayah dan Ibu dari mana saja? Apakah Ayah dan Ibu tidak tahu sudah jam berapa sekarang?”Aku mengulum bibirku ke dalam, memaksa diriku untuk tidak tersenyum ataupun tertawa, sebab tak tahan melihat betapa menggemaskannya Li
Sesuai bisikan instingku.Aku dan Mark melakukan ‘itu’.Kami masuk kembali ke gedung hotel, lalu menyewa salah satu kamar suite di hotel bintang lima itu.Dan sekarang, dia ada di atasku, berpacu dalam nafsu yang membakar sekujur tubuh kami, membiarkan sekeliling kamar dipenuhi oleh deru peraduan yang tak seharusnya terjadi—secara moral.“Mark... ahh, pelan... pelan-pelan saja.”Dia mendengarkanku. Jari-jemarinya bertautan denganku di samping bantal dalam genggaman yang dia perkuat, tetapi ritme dorongannya padaku berangsur menurun.Menit demi menit berlalu, begitu kami menemukan puncak yang kami incar, napas berat kami beradu di tengah suara lenguh yang tertahan.Mark hampir ambruk di atasku.Namun, karena sepertinya dia teringat bahwa aku sedang hamil, dia risau untuk menindihku, sehingga dia segera menjatuhkan tubuhnya ke samping kiriku, lantas menarik selimut untuk kami.Keheningan terjalin sejenak, bunyi penghangat ruangan yang seharusnya halus dan samar pun sampai terdengar di t
“Persetan. Aku bahkan tak yakin dia hamil. Kalaupun dia memang hamil, aku tak yakin itu anakku.”“A-apa?”Aku setengah tak percaya. Yang Mark ucapkan tentang istrinya sendiri, terdengar sangat tidak masuk akal.Namun tampaknya, Mark tidak main-main dengan ucapannya tersebut. Sayangnya, dia enggan membahas lebih jauh.Setelah kudapati rahangnya mengeras selama beberapa saat, dia kembali berkonsentrasi pada komputer dan berhenti menatapku. Aku pun tak berani berkutik, karena takut dianggap ikut campur.“Keluarlah dulu. Jangan ganggu aku sampai sudah waktunya kita pulang,” titah Mark.“Baik. Aku... permisi dulu,” jawabku seraya berbalik dan beranjak meninggalkan ruangan itu.Kulanjutkan pekerjaanku sembari terus memikirkan ucapan Mark mengenai kehamilan Paula.Kalau memang Mark benar bahwa Paula tak sungguhan hamil, apa alasan yang membuat Paula berbohong? Apakah karena dia tak mau Mark menceraikannya?Dan kalau ternyata dia hamil namun bukan anak Mark, lantas... anak siapa?Pertanyaan i
Karyawan yang dipanggil oleh Mark untuk ke ruangannya, berjumlah lima orang. Mereka berasal dari dua departemen yang berbeda.Sejak tiga puluh menit yang lalu, kepala dari masing-masing departemen dan kepala HRD, menyusul ke dalam ruangan Mark setelah dipanggil juga.Aku tahu, lima karyawan itu akan... dipecat.Hal tersebut membuatku gundah.Aku tak tahu apa yang menjadi pertimbangan Mark untuk memecat mereka, tetapi jika alasan utamanya adalah karena mereka menghinaku, aku tidak tahu harus bagaimana selain merasa bersalah.Sebelum pukul empat sore, mereka semua keluar dari ruangan Mark. Dapat kulihat betapa sedih dan murungnya wajah mereka, mereka bahkan tak berani menatapku yang duduk di meja kubikalku.Seorang wanita paruh baya yang merupakan kepala HRD, keluar paling belakang. Dia mendatangi mejaku, sementara yang lain sudah beranjak menuju lift.“Nona Walter?” panggil wanita itu.“Ada yang bisa aku bantu?” responsku seraya bangkit dari duduk.“Maaf atas keributan yang terjadi har
“Hati-hati kalau bicara! Mulutmu itu ternyata jauh lebih kotor daripada sampah! Pengkhianat dan tukang selingkuh seperti dirimu itulah yang justru wanita nakal!”“APA KAU BILANG?!”Aku tidak mengerti, Paula sepertinya bernafsu sekali ingin berbuat kasar dan main tangan terhadapku, sekalipun anaknya sedang ada di sini dan bisa menyaksikan perbuatannya.Tapi beruntung, sebelum tangannya yang sudah terangkat melakukan sesuatu kepadaku, Mark sudah lebih dulu menghalangi.Pria itu berdecak marah.Tak ingin pertengkaran terjadi di hadapan si mungil Lily, Mark langsung menarik tangan Paula, menyeretnya pergi dari dapur, persis seperti yang tadi dilakukan William Harold.Setelah mereka pergi, aku menopang tanganku pada pinggiran meja makan, lantas menghela napas berat, berupaya menenangkan diri dan meredakan emosiku.“Ibu...,” Lily merengek pelan.Menyadari tentang Lily yang masih di dekatku, aku segera tersadar dan berbalik lagi.“Ya, Sayang? Ayo, kembali ke kursimu dan habiskan buah potongm
Paula muncul di dapur.William langsung melepaskan pelukannya padaku, setelah menyadari bahwa teguran tegas barusan berasal dari putrinya yang seakan siap mengamuk.Aku pun segera mundur satu setengah langkah, menjauh dari ayahnya Paula tersebut.“Apa-apaan ini?!” tanya Paula.Dia mengambil langkah mendekat ke arahku dan William. Dengan wajahnya yang kaku oleh amarah, mendadak dia mendorongku kencang.Dorongannya itu membuatku mundur beberapa langkah dan nyaris hilang keseimbangan, tetapi untungnya ada counter dapur di sebelah kiriku, sehingga aku bisa segera menumpukan tanganku di sana untuk mempertahankan diri.“Apa kau sudah gila?!” bentak Paula. “Setelah menggoda suamiku, sekarang kau mengincar ayahku juga?!”Aku menggeleng cepat. “Aku tidak bermaksud.... Aku tidak melakukan apa-apa, Paula.”“KAU MEMANG JALANG MURAHAN!!”Paula mengangkat tangan kanannya untuk menamparku.Aku refleks memejamkan mata dan menundukkan kepala.Tapi untungnya, William langsung mencengkeram pergelangan t







