LOGINDiandra bergegas meninggalkan ruang kerja pak Mihardo, membiarkan mbak Mirna dan Hafid mengurus pak Mihardo. Hafid rupanya tahu caranya menangani sesak nafas yang dialami pak Mihardo. Sambil berlari kecil menuju ruangannya, pikiran Diandra flashback ke masa lalu , luka lama kembali membawa ketakutan dalam dirinya, takut jika pak Mihardo adalah Feliks Kartamihardo owner PT Kencana Mulia Abadi minta maaf dan meminta Diandra kembali kepadanya. 'Oh... tidak! Bagaimana kalau dia tahu anak yang ditabraknya adalah anak kandungnya?' batin Diandra. Dengan tubuh gemetar, wajah pucat Diandra masuk ke ruang kerja nya,"Hai,ada apa denganmu. Seperti kau dikejar setan."teriak Rieke. Diandra tidak merespons, mengambil Tumbler nya langsung meneguk air karena tergesa-gesa menyebabkan Diandra tersedak diikuti dengan batuk -batuk. Rieke langsung berdiri dari kursinya mendekati Diandra menepuk lembut punggung Diandra. Setelah melihat Diandra tenang Rieke menatap wajah Diandra lekat -lekat ingi
Baby boy diajak para pengawal pribadi jalan-jalan ke mall membeli apapun yang baby boy inginkan, tentunya atas perintah Mike. Diandra marah ketika Mike menyerahkan kartu kreditnya kepada baby boy."Belanja apa yang baby inginkan.""Baby ingin makan pizza.""Ok, nanti oom Brian akan mengantarmu."Mike menelpon Brian mengatakan dalam bahasa ibu mereka, tidak lama pintu kamar apartemen terbuka, Brian masuk disambut baby boy dengan teriakan gembira."Oom kita ke mall makan pizza,""Baby boy, ayo." lalu menggandeng tangan mungil ke dalam genggaman tangannya yang besar.Baby boy menyerahkan kartu kredit kepada Brian,"Kata puppy nanti bayar pakai ini,"Mike mengangguk ketika Brian meminta persetujuannya.Kepergian mereka berdua ditatap Diandra,'Belum pernah aku melepaskan anakku ke tangan orang asing, baby boy terlihat enjoy-enjoy saja, berbeda dengan diriku ada rasa tidak bisa menerimanya. ' Batin Diandra."Ada sesuatu yang memberatkan hatimu?" bisik Mike di telinga Diandra."Rasanya ber
Diandra terbangun dari tidur lelapnya,udara dingin menyergap tubuhnya yang terlentang tanpa sehelai benangpun. Sesuatu yang berat membuatnya sulit bergerak. Sebagian tubuh Mike Kaiser menumpu di tubuhnya, posisi yang paling disukai Mike, wajahnya menempel di dada Diandra, tangannya memeluk pinggang Diandra. Diandra ingin melihat baby boy. Perlahan-lahan Diandra berusaha melepaskan diri dari pelukan Mike tangan Mike semakin mempererat pelukannya. "Mike,aku ingin melihat baby boy." "Dia masih tidur," "Siapa tahu dia sudah bangun. Please,aku ingin melihat nya, baby boy tidak pernah tidur sendiri." Mike tahu baby boy adalah bagian dari hidup Diandra, melepaskan tangannya membiarkan Diandra melihat baby boy. Lepas dari belenggu tangan Mike, Diandra memakai pakaian seadanya melihat baby boy. Betapa leganya Diandra melihat baby boy masih tertidur pulas. "Dia tidur seperti malaikat kecil tersenyum entah mengapa dia tersenyum, mungkin ia telah mendapatkan perhatian dari Mike?"
Diandra melihat sinar kebahagiaan di mata hitam bulat baby boy,'Oh Tuhan baby ku butuh seorang ayah. Aku kira sebagai ibu tunggal aku bisa mengambil alih peran ayah dan ibu sekaligus ternyata anakku butuh dekapan hangat seorang ayah. Selama ini Diandra mampu secara finansial tapi tidak sanggup menghadapi tekanan psikologis, tatapan ibu - ibu yang biasanya menatapnya dengan perasaan kasihan. Terdengar tawa riang baby boy ketika Mike mengangkat tubuh nya dengan gaya menerbangkan pesawat terbang ,"Lebih tinggi oom...eh..Poppy." Diandra mendengar tawa lirih, melirik ke arah Rieke yang tersenyum kecil melihat tingkah baby boy lalu dengan isyarat mengajak Diandra untuk sarapan. "Kamu belum sarapan,ajak celap celup mu ikut sarapan," bisik Rieke dengan nada menggoda disambut Diandra dengan wajah kesal. "Baby boy, sudah cukup! " tegur Diandra. "Mbak Kinasih tolong urus baby boy. Usahakan dia habiskan susunya." "Baik Bu. Baby, ayok mandi." ujar mbak Kinasih sambil membujuk baby boy. "Mom
Di dalam kamar tidur nya,Diandra menatap baby boy yang menangis kedua tangan mungilnya memegang erat-erat pesawat tempur.Untuk menenangkan dirinya karena stres menghadapi baby boy yang terus menangis Diandra menyilangkan tangan di dada dengan ujung jari menepuk-nepuk bahu secara bergantian. "Baby kemari," ujar Diandra. Bukannya maju ke arah Diandra, baby boy malah mundur tangisnya semakin besar tangan mungilnya memegang erat-erat pesawat tempur takut diambil dari tangannya. "Mommy mau memeluk baby boy." ujar Diandra . "Ndak mau, nanti mommy ambil pecawat tempul baby," Diandra tersenyum kecil mendengar perkataan baby boy, lalu mengulurkan tangannya,"Kemari, mommy mau peluk dan minta maaf," Baby boy terlihat ragu-ragu, menatap Diandra yang semula terlihat marah dengan tatapan mata tajam berangsur-angsur mulai melunak, wajah Diandra menjadi lebih lembut. "Mommy tidak malah sama baby?" tanya baby boy menatap wajah Diandra. "Mommy tidak marah, mommy mau minta maaf," Terdengar helaa
Mike Kaiser yang sedang menelepon seseorang tiba-tiba memberi kode kepada pengawal pribadinya yang langsung mencegat Diandra yang berlari -lari kecil sambil menangis. Selesai menelpon dengan langkah cepat menuju ke arah Diandra,"Was passiert?" "Baby boy kecelakaan." ujar Diandra sambil menangis,"Seandainya aku kemarin pulang my baby boy tidak mengalami kecelakaan." Ponsel Diandra berdering, dilihatnya log panggilan,"Mengapa baby boy bisa celaka?" tanya Diandra dengan nada histeris. "Mengapa kamu histeris banget! Kami ada di RS Panti Rahayu. Baby boy sudah ditangani." terdengar suara Rieke dari seberang. Diandra mengacuhkan Mike bergegas menuju ke pintu keluar mengambil taksi bandara tanpa menoleh ke arah Mike. Taksi segera meluncur meninggalkan bandara ditatap Mike Kaiser yang bingung tidak tahu harus berbuat apa. Para pengawal pribadi mencegat taksi bandara, Mike bersama Brian langsung masuk. "Ikuti taksi di depan."perintah Brian. Sesampainya di rumah sakit Panti Rah
Pertanyaan itu selalu menggelayut di pikiran Diandra. Mengapa aku dilahirkan? Mengapa mama membenciku, apakah salahku ?Setiap aku berbuat kesalahan segala sumpah serapah keluar dari mulut mama. Tiada hari tanpa ada cinta, tak ada senyum yang ada hanyalah muka datar, dingin ,bibir tipis mengurat kua
Dua tahun di Jerman, Diandra berusaha menyimpan luka di hatinya, luka meninggalkan mamanya yang tidak peduli dirinya setelah tiga tahun meninggalkan rumah. Tidak pernah mamanya mencarinya atau sekedar menanyakan dirinya ke tante Deasy ,'Aku anak yang tidak diharapkan kehadirannya.Kalau aku tidak dih
Dua tahun kemudian. Diandra berdiri tegak di tengah kerumunan orang yang berseliweran di bandara Soetta,rambut panjang yang hitam dibiarkan terurai di punggung, fitur tubuh yang menawan beralaskan kulitnya putih dipadukan dress ungu panjang semakin nampak mempesona.Diandra telah bermetamorfosis da
“Wouww, tinggi banget!”Teriak Diandra begitu melihat bangunan apartemen yang terbentang di hadapan mereka ketika memasuki halaman bangunan bertingkat yang menjulang tinggi ke angkasa. “Mbak Elvi, ini namanya apartemen? Di sini kita tinggal? Kakiku bisa pegal kalau kita tinggal di atas.” Seru Diand







