FAZER LOGIN“Aku ingat!” suara Alena pecah. “Aku mulai mengingat semuanya!”Kieran lalu mengusap punggungnya. “Apa yang kamu ingat?”Alena mengangkat wajah. “Ayah!”“Richard?” tanya Kieran. Alena langsung mengangguk. “Mama Eleanor!”Kieran terdiam.“Dan Kak Adrian!” seketika air mata Alena kembali mengalir. “Mereka bukan meninggalkanku,”“Mereka jahat selama ini karena mencoba untuk melindungiku,” ucap Alena. Kieran menatapnya dalam.Lalu Alena menyerahkan foto tadi dan Kieran melihatnya, tatapannya langsung berubah. Lambang itu Teratai Hitam, Kieran seperti mengenalnya.Tetapi sebelum Kieran sempat berkata apa-apa, Alena kembali menggenggam tangannya.“Jangan cari Raven dulu,” kata Alena. Kieran menatapnya. “Kenapa?”“Karena mungkin Raven bukan orang yang harus kita cari,” Alena menarik napas panjang dan tatapannya perlahan berubah menjadi tegas.“Yang harus kita cari adalah orang yang menghancurkan keluarga Volkov,”Kieran terdiam.Alena menggenggam foto itu erat. “Aku tidak mau lagi hanya
Hujan masih terus turun ketika Alena keluar dari rumah tahanan, tapi langkahnya tidak lagi sama.Karena ada sesuatu yang berubah dalam dirinya, setelah mendengar kembali kisah tentang keluarganya.Bukan karena ia baru mengetahui bahwa keluarganya memiliki masa lalu yang kelam, bukan pula karena nama Volkov kembali disebut setelah sekian lama. Melainkan karena selama ini Alena mengira semua masalah yang datang ke dalam hidupnya adalah akibat dari Kieran, akibat masa lalu Kieran sebagai mafia. Akibat musuh-musuh Kieran, akibat dunia gelap yang pernah ditinggalkan lelaki itu. Tetapi kini, perlahan-lahan, Alena menyadari satu hal.Mungkin sejak awal, semua itu memang datang karena dirinya. Karena darah yang mengalir di tubuhnya dan karena nama yang selama ini ia coba untuk tinggalkan.Yaitu Volkov, Alena menutup matanya dan kenangan masa lalu yang selama ini terkubur, kembali terbuka.___Kilas BalikBertahun-tahun yang lalu… Alena masih sangat kecil ketika keluarganya dihancurkan, Ia m
“Aku harus bicara dengan ayah sebagai anaknya!” bentak Alena. Kieran menatapnya cukup lama. “Kalau terjadi sesuatu… bagaimana?”“Aku akan memanggilmu,” ucap Alena. Kieran akhirnya mengangguk dan sebelum Alena masuk, Kieran langsung menggenggam tangannya.“Jangan membawa semua kesalahan keluargamu seorang diri,” bisik Kieran. Alena menatapnya. “Iya aku tahu Kieran,”Kemudian Alena tersenyum tipis. “Karena sekarang aku sudah punya keluarga sendiri,”Kieran hanya terdiam karena kalimat sederhana itu, jauh terasa lebih dalam daripada apa pun.Alena berjalan masuk, Richard tampak jauh lebih tua. Rambutnya telah memutih, wajah yang dahulu keras kini penuh dengan kerutan.Namun ketika melihat Alena, lelaki itu langsung berdiri. “Alena!”Suara itu masih sama, suara yang dahulu memanggilnya pulang ketika hari tidak adil pada Alena. Alena duduk di hadapannya, tidak ada pelukan, tidak ada tangisan. Hanya jarak panjang yang tercipta setelah bertahun-tahun kebohongan.“Ayah!” panggil Alena. L
“Aku harus bicara dengan ayahku sebagai anaknya,” ungkap Alena. Bukan sebagai istri seorang mantan mafia, bukan sebagai perempuan yang selalu dilindungi oleh Kieran. Tetapi sebagai Alena.Putri dari seorang pria yang selama bertahun-tahun sudah menyimpan terlalu banyak rahasia.Ketika pintu ruang kunjungan terbuka, ayah Alena sudah duduk di sana. Wajahnya terlihat lebih tua, jauh lebih tua daripada terakhir kali Alena melihatnya.Pria itu mengangkat kepalanya dan matanya membesar. “A– aalena…?”Alena duduk di hadapannya. “Ayah tahu tentang lambang ini?”Alena langsung meletakkan foto itu di atas meja, seketika wajah ayahnya langsung berubah.Untuk beberapa detik, Richard tidak berkata apa-apa. Lalu ia menghela napas panjang.“Akhirnya mereka menemukannya,” ucap Richard berat. “Siapa mereka?” tanya Alena. Lalu Richard menatap putrinya. “Bukan mereka yang menemukanmu,”Alena mendengarkan dengan seksama. Richard pun menggeleng. “Mereka menemukan jalan menuju keluargamu!”Alena menaha
William menyambutnya dengan berlari.“Papa!”Kieran langsung berjongkok.William memeluknya dan Kieran membalas pelukan itu lebih erat dari biasanya.“Kenapa Papa peluk William kuat sekali?” tanya William. “Karena Papa rindu Nak,” ucap Kieran. “Padahal Papa baru pergi sebentar?” kata William. “Tetap saja Papa rindu,” seru Kieran. William pun tertawa dan Kieran mencium kepalanya, kemudian ia memandangi Alena dan tatapan mereka bertemu.Alena tahu bahwa ada sesuatu yang telah berubah. Malam itu, setelah William tidur, Kieran membuka koper lamanya sekali lagi. Ia kembali mengeluarkan benda-benda yang selama ini disimpannya.Foto lama, surat, dokumen dan sebuah cincin.Cincin dengan lambang Voss, Kieran menatapnya. Dulu ia menganggap cincin itu hanya peninggalan masa lalu belaka. Sekarang Kieran mulai menyadari bahwa benda itu mungkin merupakan kunci menuju seluruh kehidupannya.Alena sedang berdiri di belakangnya. “Kalau Darko masih hidup, apa yang akan kamu lakukan?”Kieran diam c
Alena langsung menggenggam tangan Kieran dengan erat. “Apakah… kamu pernah bertemu dengannya?”Kieran tidak langsung menjawabnya. “Aku pernah melihatnya,”“Di mana?” tanya Alena. “Hanya sekali,” kata Kieran. “Dia memandangku seperti sudah mengenalku sejak aku masih kecil!”Alena semakin dibuat penasaran. “Kenapa kamu tidak pernah menceritakannya padaku Kieran?”Kieran lalu menatap Alena. “Karena aku pikir semuanya sudah berakhir, Al”Pagi berikutnya, Kieran menerima telepon sebelum matahari benar-benar naik terlalu tinggi.“Tuan,” suara di seberang terdengar tergesa.“Kami menemukan tempat lama yang diyakini milik Darko!”Kieran langsung berdiri. “Di mana?”“Tidak jauh dari sini,” ucap Jaxon di telepon. Kieran terdiam. “Seberapa dekat tempat itu dari desa? ”“Sekitar dua puluh menit dari desa, Tuan,” kata Jaxon di telepon. Kieran lalu mengerutkan keningnya. “Kenapa baru ditemukan sekarang?”“Kami tidak tahu kalau tempat itu berkaitan dengan Darko,” ucap Jaxon. “Sekarang?” tanya Ki
“Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan
Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya
“Ini barangnya bos!” kata tangan kanan Kieran yang ia panggil Jax. Alena masih menunduk, tapi matanya berusaha melirik pandangan yang tertutupi rambutnya. Rupanya Jax masih tersambung dengan Kieran. ‘Tidak, ia tampak sedang video call kearahku!’ kata Alena dalam hati. Ia terus melirik kearah Jax
"Senyum, Alena! semua ini demi keluarga kita!" bentak Richard volkov, matanya membidik kasar putrinya. Suara itu menusuk lebih dalam dari angin malam yang menyusup lewat celah seng. Alena berdiri kaku di tengah Gudang Tua pinggir Pelabuhan kota Novara City. Alena mendengus geli mendengar ucapan R







