Share

Bab 91. Nihil

Author: RKamila
last update publish date: 2026-07-29 00:13:30

Di dalam mobil, menuju ke desa kecil Kieran menyetir mobilnya sendiri dan Jaxon berada di sampingnya.

Di belakang sudah ada 200 banner kecil yang masih digulung.

"Tuan, kita sudah pasang 40 banner hari ini," kata Jaxon. "Responnya... banyak yang menelpon karena iseng!”

Kieran mengangguk. "Terus pasang!”

Tiba-tiba HP Kieran bergetar, ada pesan masuk dari nomor tak dikenal.

"Pak Kieran? Saya warga desa, tadi ada ibu-ibu mirip dengan yang bapak cari tapi sudah pergi sejak sore, orangnya naik bus!
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 117. Permintaan Izin yang Gagal

    Viktor mencabut pisau dari pinggangnya. "Kalau sindikat tahu dia masih hidup, mereka akan ambil alih desa ini!"Brak! Kieran sudah menendang pergelangan tangannya terlebih dahulu, membuat pisau itu terpental. Polisi dan satpam langsung menyeret Viktor. Viktor berteriak. "Kalian tunggu! Kane Syndicated akan datang kembali! Mereka akan habisi kalian semua!"Suara itu menggema sampai keluar balai.Pak Ketua desa berdiri, tangannya gemetar. "Atas nama warga... kami minta maaf, Bu Alena! Kami salah paham,”Semua warga terdiam, tidak ada lagi bisik-bisik yang terdengar. "Kami juga memutuskan bahwa, Ibu dan anak Ibu adalah warga kami dan kami menolak segala intimidasi!” imbuh Pak Ketua desa. "Untuk Pak Kieran, kami... kami serahkan desa kami kalau memang mau tanggung jawab atas nama desa secara resmi supaya semua jelas!"Kieran mengangguk. “Baik Pak, terimakasih banyak!”Rapat akhirnya ditutup dan palu di meja Ketua desa sudah di ketik. Alena akhirnya keluar dari balai dengan lega, ka

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 116. Pengakuan

    Di balai desa setempat, langit masih mendung tak kunjung menampakkan sinarnya. Spanduk “Waspada penipu!" sebagian sudah dicoret, sebagiannya lagi masih menggantung miring.Hari ini Alena sengaja menutup tokonya untuk datang ke kantor Balai, para karyawan juga diliburkan terlebih dahulu. 200 warga sudah banyak yang berdatangan di balai desa, mereka mulai berdesakan di balai yang kecil itu. Bahkan sebagian ada yang duduk di lantai, ada pula yang berdiri melihat dari jendela.Di depan sudah ada Pak Ketua desa dan juga Viktor dengan balutan perban, ada satu lagi kursi yang kosong.Viktor mulai membuka suara dan berdiri melakukan bualan pada warga agar semakin membenci Alena, melalui pengeras suara yang berderit. "Warga! Sudah 7 hari! Dan hutang 2 Miliar! Anak itu juga anak Kieran Voss! Mereka mau menjual tanah kalian! Usir sekarang!” teriak Viktor. "Usir! Usir!" teriakan warga menggema di ruangan. Pak Ketua dengan cepat mengetuk palu. "Diam! Kita dengar alasan dari Ibu Sari terlebih d

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 115. Bimbang

    Hujan mengguyur deras dan listrik masih padam.Kieran datang lagi dengan pakaian yang basah kuyup tanpa memakai jas hujan, ia tidak membawa apa-apa, hanya dirinya saja. "Al, buka pintunya," kata Kieran. "Aku tidak akan pergi sebelum kamu mendengarnya!"Setelah menunggu cukup lama, Alena akhirnya membuka pintu itu,tapi kali ini terlihat berbeda wajahnya lelah. "Apa, Kieran?" tanya Alena dengan malas. Kieran langsung masuk tanpa a diminta dan duduk di lantai dengan jarak 1 meter. "Aku mau kita menikah! Secara hukum di depan warga, supaya mereka diam dan membiarkan Viktor tidak punya alasan!" tegas Kieran. Alena tertawa pendek dan rasanya pahit. "Menikah? Setelah semua ini?" "Iya Al! Supaya William punya kartu resmi atas nama Papanya, supaya ia tidak dipanggil anak haram lagi dan kita lawan fitnah itu dengan bukti bahwa kita ini keluarga!" jelas Kieran meyakinkan. "Kalau ada yang mengancamku lagi? Lagi pula keluarga kalian tidak setuju kan?" ucap Alena. Kieran menggeleng keras.

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 114. Pintu yang Tidak Dibuka

    Menjalani hari pertama dari 7 Hari yang Kieran janjikan. Hujan tipis-tipis masih mengguyur desa, bahkan spanduk masih tergantung di pasar. Rajut Asri dibuka tapi sepi, para karyawan banyak yang mengundurkan diri karena takut berurusan dengan pemerintah. Hanya Bu Yein dan 2 karyawan yang masih duduk sembari melipat kain dengan kepala menunduk.Alena sedang berada di meja kasir, matanya bengkak karena semalaman tidak tidur. Memikirkan keberlangsungan usahanya dan William yang belum mau berangkat ke sekolah lagi. William sedang menggambar di lantai, dengan sesekali melirik ke luar pagar. Ke arah mobil hitam yang biasanya terparkir.Tok tok! Pintu diketuk dari luar. Kieran datang dengan membawa coklat panas 2 gelas dan juga roti. Alena membuka pintu sedikit."Kieran," kata Alena. "Kalau kamu kesini terus, warga akan semakin yakin!"Kieran mengangkat gelasnya. "Aku hanya mau mengantar sarapan untuk Adwin!”Dari dalam, William langsung berlari menghampiri. "Papa!" Namun Alena menaha

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 113. Tembok Warga

    “Mari Bu!” sapa Alena sembari mengayuh sepeda. Warga desa mulai berbisik-bisik, saat Alena lewat. Alena merasa ada yang tidak beres sekarang. Setelah menjemput William, Alena bergegas pulang dengan sepeda yang ia gayuh secara cepat. Di ruko sedang tidak ada pembeli yang datang, maupun pesanan yang masuk. Alena bertanya-tanya dengan apa yang terjadi. Bu Yein datang dengan wajah takut. "Bu... tadi ada ibu-ibu berkata bahwa kita ini adalah keluarga perusak! Katanya kita mau jual tanah desa ke orang Novara City. Bu Yein adalah salah satu orang kepercayaan Alena di desa tersebut, seorang janda yang suaminya sudah meninggal. Ia menghidupi anak semata wayangnya seorang diri. Maka dari itu Alena mengajak Bu Yein untuk bekerja dengannya, juga di persilahkan tinggal bersama Alena di rumahnya. Alena duduk dengan tangan yang memegang kening, tangannya dingin dan William sedang bermain di dalam, belum mengganti seragam sekolahnya. Tok tok! Ketukan pintu terdengar dari luar. Alena mengint

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 112. Tembok yang Belum Runtuh

    Dada Kieran seperti ditusuk dan dielus secara bersamaan.Alena yang berdiri di belakang langsung menutup matanya, untuk menutupi air matanya yang jatuh. Kieran tidak menjawab iya dan tidak pula menjawab tidak, Kieran hanya membalas pelukan itu. "Papa di sini, Adwin! Papa yang jaga!" bisik Kieran. Satu kata yang William tunggu itu akhirnya keluar, untuk pertama kalinya William mendengar. Alena menoleh. "Jangan dibiasakan, Kieran!” Kieran menatap Alena selama beberapa saat. "Aku tidak minta kamu percaya sekarang, Al! Aku hanya minta waktu selama 1 minggu, untuk membuktikan aku bisa jaga kalian!"Jam 04.00Polisi sudah pergi dan satpam sudah mulai berjaga keliling lagi, tapi listrik belum juga menyala.Akhirnya William sudah tertidur di pangkuan Kieran, mereka berada di sofa ruko. Kieran duduk di lantai, membiarkan William tertidur di dadanya. Alena duduk di seberang dengan jarak 2 meter, masih memakai tameng masker dan kacamata."Kenapa kamu mau menolong sampai sejauh ini?" tanya

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 4. Tidak Ada Jalan Keluar

    “Ayo, aku antar ke kamarmu!” kata Jaxon. Alena hanya menunduk pelan, berjalan tertatih mengikuti arah Jaxon. Sebelum itu Jaxon memotong kabel yang mengikat tangan Alena terlebih dahulu, terlihat tangannya sudah terluka parah akibat ikatan yang terlalu kencang. Jaxon lalu memberinya handuk dengan

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 3. Di Penthouse

    Kriet! Tubuh Alena berjengit kaget, saat pintu mobil terbuka. Ia masih berdiam diri di mobil, takut kalau-kalau melakukan kesalahan. Alena tertegun melihat bangunan Penthouse mewah yang berada di ketinggian 300 meter dari permukaan laut, dengan pemandangan indah kota Novara City. “Sepertinya

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 6. Bukti Pertama

    “A—apa? Bekerja? Bekerja apa?” Alena bertanya-tanya. Kieran menatap datar ke arah Alena, kesal karena masih harus menjelaskan. Ia kemudian mengedikkan kepala ke arah Jaxon dan memberi perintah, “Jax, jelaskan!” Jaxon menyalakan laptop dan membuka map hitam itu di depan Alena, memintanya untuk mem

  • Gadis Tawanan Tuan Mafia   Bab 5. Malam Pertama di Penthouse

    “Ugh! Sialan!”Alena mendengus kesal setelah sudah berada di kamarnya sendirian. Rencana melarikan dirinya gagal. Tidak di rumah, tidak juga di penthouse mafia ini, ia tidak pernah berhasil lepas dari cengkraman mereka.Tak merasa mengantuk, Alena memutuskan untuk membuka map hitam yang dilempar K

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status