LOGINArion tersenyum puas. Ternyata sangat mudah sekali menjerat Esther. Arion terus melancarkan aksinya, dan ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.
Arion mengangkat tubuh Esther dan membuat wanita itu kebingungan.“Hei, mau kau bawa ke mana aku?” protes Esther dengan kening mengkerut.“Ruang pribadi, pegangan! Kau bisa jatuh!”Esther seketika mengalungkan kedua lengannya ke leher Arion.Pria itu berjalan ke arah rak buku yang berada di belakang kursi. Satu kaki mendorong rak tersebut yang ternyata adalah pintu.Berhasil masuk, Esther dikejutkan oleh isi dalam ruangan tersebut yang ternyata adalah kamar, cukup luas. Terdapat ranjang king size dengan selimut bulu, di dekat kasur terdapat sebuah nakas yang berdampingan dengan bufet. Di atasnya, terpanjang beberapa patung aneh, namun terlihat bernilai.Lukisan-lukisan mahal, serta sofa empuk di sudut ruangan. Tak lupa lemari pakaian, meja rias dan juga kamar mandi.Arion menegang, semua terjadi begitu cepat sehingga ia tidak sempat menghindar. Pelukan Valencia begitu erat sehingga Arion tidak bisa lepas dengan mudah. Ia juga tidak bisa melepaskan diri begitu saja mengingat Valencia sedang dalam kondisi tidak sehat. Arion merasa jantungnya berdegup kencang. Tetapi ia yakin ini bukan perasaan semacam itu karena ia hanya mencintai Esther. “Nona Vale.” Arion memegang kedua bahu Valencia, perlahan menjauhkan tubuh wanita itu darinya. Membuat jarak. “Maaf, Tuan Arion.” Wajah Valencia bersemu merah. Ia baru sadar dengan apa yang ia lakukan. Ketika aroma tubuh pria itu tercium olehnya, Valencia merasa melayang. “Kau bukalah dulu, apa sesuai dengan keinginanmu,” kata Arion mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Valencia membuka segel kotak ponsel. Dari luarnya saja, Valencia bisa melihat merek ponsel dan ia bisa menebak harga. “Ini lebih bagus dan lebih canggih dari ponselku yang sebelumnya,” kata Valencia sambil meneliti detail benda pipih keluara
Kedua tangan Arion mengepal kuat. Sudah ia duga sebelumnya, bahwa semua yang terjadi sudah diatur oleh seseorang. Tujuannya adalah ingin menghabisi dirinya. Dan Arion bisa menebak siapa orang yang memiliki kemungkinan besar melakukannya. Yaitu Corrina. “Kau belum menjawab pertanyaanku. Sebenarnya kau sudah membuat sakit hati berapa wanita sampai-sampai mereka ingin mencelakaimu?” Suara Inspektur Willy menyadarkan Arion dari lamunannya. Pria itu menatap pria berseragam di depannya dengan tatapan tajam. “Tutup mulutmu!” sergah Arion yang membuat Inspektur Willy tergelak. Sebenarnya ia tahu Inspektur Willy tidak benar-benar menanyakannya, pria itu hanya ingin menggodanya. Tetapi waktunya memang kurang pas. Alhasil pria itu membuatnya kesal. Arion mengenal Inspektur Willy sejak di bangku SMP dan mereka cukup dekat. Sempat terpisah saat Inspektur Willy memasuki akademi kepolisian. Namun, hubungan mereka sama sekali tidak merenggang. Bahkan Arion kerap kali menyelesaikan masalah admist
“Tuan Arion? Kau datang?” Valencia tidak dapat menahan rasa bahagianya ketika melihat kemunculan Arion. Ia seketika melupakan kebingungannya. Wajahnya terlihat berbinar dengan senyum yang terus terukir di bibir tipisnya. Valencia menahan napas, menekan detak jantungnya yang tidak karuan. Valencia membenahi rambutnya yang sedikit berantakan. Dalam kondisi apa pun, ia harus terlihat cantik di depan Arion. “Nona Vale, bagaimana keadaanmu?” tanya Arion berdiri di dekat brankar Valencia. “Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit luka lecet saja. Em…tapi pahaku sedikit robek.” Valencia menyibak selimutnya, kemudian menaikkan dress rumah sakitnya, menunjukkan bagian pahanya yang kini diperban. Arion refleks menatapnya, namun dengan segera mengangkat pandangannya. Bisa-bisanya wanita itu dengan terang-terangan menunjukkan area tubuh yang menurut Arion cukup sensitif. Sementara Eric hanya bisa menahan senyumnya. Ia sudah tahu luka itu, tetapi ia tidak menyangka bahwa Valencia akan menunjukkannya
Arion memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, membelah padatnya lalu lintas seolah tidak ada satu pun yang mampu menghalangi langkahnya. Sorot matanya tajam dan penuh kegelisahan, ketika ia mendengar kabar tentang kecelakaan yang menimpa Eric. Eric adalah orang kepercayaannya yang paling setia. Arion bahkan menganggap pria itu sebagai saudara laki-lakinya. Saat mendengar bahwa pria itu mengalami kecelakaan, Arion segera meninggalkan rumah, dan berpesan kepada Sui untuk menjaga Esther. Sebab mungkin saja urusannya kali ini akan panjang, dan saat bangun, bisa saja wanita itu menanyakan keberdaan dirinya. Tangan Arion mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara deru mesin mobil berpadu dengan detak jantungnya yang kian memburu. Lampu-lampu jalan dan gedung-gedung di sepanjang perjalanan hanya tampak sebagai bayang-bayang yang melintas cepat di balik kaca jendela. Dalam pikirannya, Arion membayangkan berbagai kemungkinan terburuk, membuat dadanya terasa semakin sesak.Terlebih ada
Tiara duduk termenung di bibir ranjang. Setelah Erland pergi meninggalkannya, Tiara hanya bisa terdiam. Ucapan Erland terus terngiang-ngiang di telinganya. “Apa maksudnya ini?” gumam Tiara. “Apa Kak Erland sedang mengancamku?” Tiara tidak mengerti, sebenarnya dirinya sedang terlibat dengan apa. Keluarga Dawson dikenal memiliki reputasi yang sangat baik. Tetapi hari ini Tiara mendapati kenyataan yang berbeda. Salah satu alasan Tiara menerima tawaran menjadi ibu pengganti adalah karena keluarga Dawson memiliki nama baik dan reputasinya di muka publik. Tetapi sepertinya Tiara harus menampik semua itu. Tiara kembali teringat ucapan Erland. Pria itu berkata supaya dirinya tidak banyak ikut campur dalam urusannya dengan Corrina. Semakin sedikit dirinya tahu tentang rumah ini, maka dirinya akan selamat. Itu artinya dirinya harus hati-hati. Sementara itu, Erland segera menemui ibunya setelah memberi peringatan pada Tiara. Ia pikir itu bukan hal yang sulit mengingat Tiara mudah dikendali
Tiara jelas saja terkejut dengan apa yang didengarnya. Corrina ingin menghabisi Arion? Tapi kenapa? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala Tiara. Wanita itu membeku sejenak, mencoba menetralisir rasa kagetnya. Tiara menarik napas panjang, mencoba mengamati sekitar. Para pelayan memang sedang sibuk di belakang. Lalu Erland, tampak sibuk di ruang kerja. Sebuah pertanyaan kembali terlintas di benak Tiara. Apa Erland mengetahui ini semua? Tiara kembali melongokkan kepalanya. Ia dapat melihat orang suruhan Corrina menundukkan kepalanya. Seperti yang ia dengar, pria itu telah gagal melakukan tugasnya. Itu artinya, Arion masih hidup. Lalu siapa wanita berada di mobil itu? “Kami sudah melakukan sesuai dengan instruksi Anda, Nyonya?” “Tapi harusnya kau memastikan terlebih dahulu, jangan sampai ada orang lain yang turut menjadi korban kecuali asistennya itu!” cecar Corrina. “Maafkan saya, Nyonya.” Orang suruhan itu pun mengakui kesalahannya. Corrina mengurut pelipisnya. “Apa kau ta







