MasukSuara langkah mendekat terdengar semakin jelas. Selina buru-buru mencondongkan tubuh, meraih cangkir di meja.
Sementara Dusan cepat mundur selangkah, menjaga jarak, lalu membungkuk memunguti pecahan keramik yang masih berserakan di lantai.
Katika Dusan selesai, dari arah tangga muncul seorang wanita bergaun tidur satin merah muda. Rambut panjangnya terurai sedikit kusut, tapi wajahnya tetap anggun.
Marissa Octavia, istri sah Dusan sekaligus ibu mertua Selina.
“Ah… Selina? Papa? Rupanya kalian di sini.” Suara Marissa terdengar lembut.
Dusan segera menghampiri istrinya. Kedua tangannya menangkup wajah Marissa. “Kamu terbangun?” tanyanya dengan nada hangat, kontras dengan hawa panas yang baru saja menyelimuti dirinya bersama Selina.
Selina menghela napas melihat adegan itu. Ia berpura-pura sibuk mengaduk cangkir, membiarkan uap hangat teh lavender menerpa wajahnya.
Di hadapannya Marissa tersenyum tipis. “Mama terbangun, tapi Papa tidak ada di kamar. Lalu Mama mendengar suara di dapur… Mama takut ada sesuatu.”
Selina lekas meletakkan sendok, mendongak dengan wajah bersalah.
“Maaf, Ma. Selina yang buat gaduh. Tadi ingin membuat teh, tapi gelasnya terjatuh sampai tangan Selina terluka.” Selina mengangkat jari yang sudah diperban tipis, senyum samar terbit di bibirnya. “Untung ada Papa yang membantu.”
Marissa langsung melepas lengan Dusan, melangkah menghampiri Selina. “Ya ampun, kamu nggak apa-apa?”
Selina cepat-cepat menggeleng, suaranya lembut, hampir manja. “Tidak apa-apa, Ma. Hanya luka kecil. Papa juga sudah mengobatinya.”
Sekilas Selina melirik ke arah Dusan. Pria itu sudah kembali duduk di kursi bar, menyalakan lagi rokok yang sempat ia padamkan. Begitu sadar tatapan mengarah padanya, Dusan buru-buru mengangguk, seakan hendak membenarkan ucapan Selina.
Marissa tampak lega, lalu tersenyum tulus pada Selina. Tulus sekali sampai wanita ini sama sekali tidak menyadari api kecil yang mulai menjilat di belakang punggungnya.
“Syukurlah, Mama jadi tenang kalau kamu baik-baik saja.”
Marissa lalu menoleh ke arah Dusan. Garis halus di pelipisnya menandakan lelah yang belum sepenuhnya hilang, tetapi nada bicaranya tetap penuh perhatian. “Maaf ya, Pa, mama terlalu capek hari ini, jadi setelah minum obat langsung tertidur. Tapi kenapa Papa nggak bangunkan mama saja? Selina baru sehari jadi menantu kita, kamu sudah merepotkannya.”
Dusan baru membuka mulut, tapi Selina lebih cepat menyela dengan nada ringan yang terdengar tulus. Ia sedikit mencondongkan tubuh, jemarinya merapikan cangkir di meja.
“Tidak merepotkan sama sekali, Ma. Selina memang mau buat teh. Papa kebetulan ada di sini, jadi sekalian Selina buatkan.”
Marissa mengangguk kecil, senyum tipis terbit di wajahnya. “Tetap saja, Sayang. Mama yang seharusnya melayani Papa, bukan kamu. Tapi… terima kasih ya, Selina. Mama senang kamu perhatian begitu.”
Tatapan Marissa melembut, lalu bergeser ke arah kemasan teh berwarna ungu di atas meja. Ia meraihnya, membuka lipatan kecil di ujung bungkus, membaca tulisan yang tercetak rapi di sana. “Wah, teh lavender, ya?” tanyanya, alisnya sedikit terangkat sambil meneliti bungkus di tangannya.
Selina mengangguk kecil, matanya sempat melirik Dusan sekilas sebelum tersenyum. “Selina biasa minum ini kalau susah tidur,”
Marissa meraih bungkus teh, membukanya sedikit lalu menghirup aromanya. Senyum kecil terbit di bibirnya. “Kamu tahu? Mama sudah lama pengen coba merek ini, tapi belum sempat beli.”
“Oh ya?” Selina menegakkan tubuhnya. “Selina kebetulan punya banyak di kantor, Ma. Besok Selina bawakan. Tapi kayaknya Mama cocok teh mawar deh, selain sehat, bagus juga buat kulit.”
Marissa tampak antusias. “Wah, kamu serius? Tapi Mama dengar teh ini harus impor dari luar negeri.” Ia menatap bungkus di tangannya sejenak, lalu meletakkannya kembali. “Mama dengar pesannya susah dan lama. Kalau tehnya kamu kasih ke mama, bukannya kamu harus menunggu lama lagi?”
“Mama tenang saja,” ucap Selina seraya merapikan sisa sachet yang berserakan. “Selina punya kenalan distributor resmi. Kalau Selina yang pesan, biasanya langsung dikirim.”
Marissa tersenyum lega, tangannya singgah sejenak di punggung tangan Selina. “Terima kasih, ya. Mama sungguh beruntung punya menantu seperti kamu.”
Selina mengangguk. “Cuma teh saja, kok.”
Marissa kemudian beralih pada suaminya yang sejak tadi hanya diam. Rokok di diantara jarinya masih tersisa beberapa centi. Marissa lalu mengusap lengan Dusan sebentar sebelum beranjak. “Ayo tidur, Pa. Besok masih harus kerja.”
Dusan mengangguk. “Mama duluan saja. Papa habiskan tehnya sebentar.”
Marissa membalas anggukan lalu menoleh terakhir kalinya pada Selina. “Selina, Mama duluan ya, kamu juga cepat kembali istirahat.”
“Selamat malam, Ma,” jawab Selina, sambil melambaikan tangan pada sang ibu mertua.
Marissa pun menaiki tangga. Begitu sosoknya lenyap di lantai atas, keheningan kembali menyelimuti mereka.
Dusan meraih cangkir yang masih mengepul hangat. Ia meneguknya perlahan hingga tandas, lalu menaruhnya kembali ke meja. “Terima kasih untuk tehnya.”
Selina tak menjawab langsung. Rambut panjangnya ia kibaskan, helaian lembut itu jatuh melintas di bahu. “Kalau Papa mau lagi… jangan ragu bilang Selina.
Dusan seharusnya berpaling, menyusul istrinya ke kamar.
Tapi yang ia lakukan justru sebaliknya.
Tangannya terulur, menyentuh perban di jari Selina.
“Menantu seperti kamu…” suara Dusan sangat pelan, ia sengaja menggantung kalimatnya. Badannya sedikit maju ke depan mendekat pada Selina, “…sangat murah hati.”
Selina tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, ia pun mengikis jarak dan mendekat pada Dusan. Kedua tangannya bertumpu pada meja bar.
“Kalau Papa menganggap begitu… Selina tidak keberatan memberi lebih banyak lagi.”
Aroma lavender bercampur dengan napas hangat mereka saling bersentuhan.
Namun alih-alih mencuri jarak terakhir, Dusan menarik tubuhnya, lalu mendorong cangkir kosong ke arah Selina.
“Besok pagi…” katanya pelan, tatapannya masih intens pada wajah Selina, “…buatkan teh seperti ini lagi untuk Papa.”
Sudut bibir Selina terangkat halus ketika Dusan mendorong cangkir kosong ke arahnya. Kata-katanya sederhana, tetapi bagi Selina itu terdengar seperti pengakuan bahwa pria itu mulai luluh.
Dengan gerakan santai, telunjuknya berputar pelan menyusuri bibir cangkir. “Baik, Selina akan buatkan teh paling spesial untuk Papa.”
Dusan tidak menjawab lagi, ia lalu berbalik menaiki tangga.
Selina tidak buru-buru mengalihkan pandangan, matanya mengikuti punggung tegap itu hingga menghilang di balik lantai atas.
Sesaat kemudian Selina menunduk pada cangkir di tangannya. Senyum tipis perlahan mengembang hingga mata sipitnya berkilat puas. Ia tahu benih yang ditanamnya sudah mulai tumbuh.
***
Aroma roti panggang dan teh masih hangat memenuhi udara di meja makan keluarga Mathias.
Di ujung meja, Dusan hanya diam, menikmati daging panggang tanpa nasi di piringnya.
Di sisi kanannya, Marissa duduk berhadapan dengan Giovanni yang berada di seberang meja. Mereka bercanda sambil menikmati roti, membuat suasana pagi itu terasa ringan.
Selina sendiri duduk di sisi kiri Dusan, sehingga ia berada di antara sang papa mertua dan Giovanni.
Ketika menuang teh, Selina sadar tatapan papa mertuanya bertahan lama di tangannya. Bukannya terganggu, ia justru menanggapi tatapan Dusan dengan senyum tipis dan mengabaikan obrolan suami dan ibu mertuanya.
Hingga tiba-tiba saja Marissa menoleh pada Selina. “Selina, kapan kamu dan Giovanni mau kasih Mama cucu?” tanyanya polos.
Untungnya, sebelum Selina membuka suara Giovanni buru-buru menjawab sambil terkekeh. “Ma, kami baru sehari menikah. Tentu belum berpikir sejauh itu.”
Marissa terkekeh kecil, menepuk lengannya sendiri. “Mama cuma tidak sabar. Pasti anak kalian lucu sekali.”
“Kami sudah bicara soal itu,” suara Giovanni kembali terdengar. “Setidaknya satu tahun ke depan kami belum berencana punya anak. Fokus kerja dulu.”
Marissa mendesah panjang, lalu menoleh ke suaminya. “Lihatlah anakmu ini, Pa. Sama saja dengan kamu, gila kerja.”
Dusan hanya menoleh singkat pada istrinya. “Buat apa buru-buru? Papa juga belum siap dipanggil Kakek.”
“Ya, maksud Mama, selagi mereka masih muda. Lagipula, apa yang ditunggu? Karier mereka sudah mapan, usia juga sudah cukup,” sanggah Marissa.
Giovanni kembali mendongak, menatap ibunya. “Ma, waktu kami masih panjang. Lagi pula sekarang Gio masih harus membantu Papa menangani proyek. Selama adikku belum kembali dari luar negeri, kerjaan Gio masih padat.”
Selina spontan mengerutkan dahi. Sepanjang kedekatannya dengan keluarga Mathias, tak sekalipun ia mendengar kabar tentang keberadaan seorang adik. Hanya tahu Giovanni adalah anak tunggal Dusan dan Marissa.
Saat itu, Dusan meletakkan sendoknya. Ia mengambil tisu, menyeka bibir, lalu berucap tenang, “Nanti Papa coba hubungi adikmu lagi, supaya dia pulang secepatnya.”
“Adik?” tanpa sadar Selina mengulangi kata itu.
Seketika itu, suasana hening menyelimuti meja makan. Semua pasang mata memandang ke arahnya dengan ekspresi canggung.
“Dengan cara apa aku membuat mereka berantakan, biarlah jadi urusanku.”Raven yang duduk di kursi kemudi memiringkan kepala, lalu kembali menatap Selina. Pandangannya menyusuri sepasang bulu mata lentik itu sesaat sebelum ia menyeringai tipis. “Sungguh, nggak butuh bantuanku?”Selina memajukan tubuhnya beberapa senti. Jarak di antara mereka menyempit, membuat suaranya terdengar lebih rendah. Tatapannya mengunci Raven, dalam dan penuh perhitungan. “Tentu aku perlu bantuanmu,” ujarnya pelan, “buatlah Giovanni lebih sibuk beberapa waktu ke depan.”"Dari kata-katamu ini kamu mau main rahasia denganku?" ulang Raven penuh tatapan menyelidik. "Selina, bukannya kita sepakat untuk kerjasama?"Hela napas pelan meluncur dari bibirnya sebelum Selina menerbitkan senyum. "Raven ... Gimana kali ini, aku ingin kasih kamu kejutan besar?""Oh, ya? Aku harap kejutan kamu memuaskan buatku." Selina semakin melebarkan senyumnya, lalu menambahkan dengan nada lebih tegas, “Kamu tenang saja ... Kalau sudah t
Raven menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Tatapannya sempat beralih ke arah lain sebelum kembali pada Gracie.“Mm, bukan begitu,” ujarnya pelan. “Aku hanya tidak ingin menebak-nebak keinginan kakakmu. Dan kalau tahu sedikit tentang masa lalunya, mungkin aku bisa lebih memahaminya sebagai bawahan.”Gracie terkekeh kecil, lalu menepuk lengan Raven dengan santai. Senyum tipis mengembang di wajahnya saat ia menatap pria bermasker hitam itu.“Aku cuma bercanda, Kakak. Lagipula soal itu aku juga tidak tahu. Kakakku lama tinggal di Norvast. Tidak menutup kemungkinan dia pernah punya kekasih di sana.”Raven mengangguk pelan. Rahangnya sedikit mengeras, seolah ia sedang menimbang sesuatu, tetapi pada akhirnya ia memilih diam. Tidak ada jawaban yang keluar darinya.Gracie kembali membuka suara, kali ini dengan nada yang lebih tenang.“Soal memahami kakakku… dia tidak pernah kekurangan uang. Dia bisa melakukan apa pun dengan uangnya.” Gracie menarik napas sejenak. “Dia terbi
“Dia….” Bibir Selina kelu. Ia menoleh sekilas ke arah pria di sampingnya, lalu kembali menatap Gracie. Kepalanya sibuk menimbang kata yang tepat untuk menjelaskan keberadaan Raven pada adik tercintanya. Jantungnya berdegup tidak beraturan, seolah waktu sengaja melambat hanya untuk mempermalukannya. Namun sebelum Selina sempat membuka suara, Raven sudah lebih dulu melangkah setengah langkah ke depan. Suaranya terdengar tenang saat ia berkata, “Bodyguard baru kakakmu.” Ucapan itu membuat suasana mendadak hening. Gracie terdiam dengan sorot mata penuh ragu, sementara Selina menyipitkan mata tajam ke arah Raven, seolah ingin menegurnya tanpa suara. Alasan macam apa itu? Selina bahkan tidak pernah memikirkan jawaban semacam itu sebelumnya. Namun, setelah dipikirkan kembali, penjelasan Raven terdengar masuk akal. Gracie menaikkan alisnya beberapa detik. Ia lalu mengalihkan pandangan kembali pada Selina. “Untuk apa kakak sewa bodyguard? Kakak tidak lagi menghadapi bahaya, kan?” Se
Entahlah. Saat ini bukan waktunya menerka terlalu jauh. Selina menahan rasa ingin tahunya, menyingkirkan berbagai kemungkinan yang berkelebat di benaknya. Mungkin lain kali ia akan mencari tahu tentang Raven lebih jauh. Yang jelas, bila Raven benar memiliki pengaruh besar di Sylan, fakta itu bisa menjadi kartu penting. Sebuah keuntungan yang kelak dapat ia manfaatkan, entah untuk melindungi diri atau mencapai tujuan yang belum tercapai. Menyadari dirinya sudah terlalu lama berdiri di sana, Selina menarik napas perlahan. Ia menata kembali ekspresinya, memastikan tak ada kegugupan yang tersisa. Lalu, dengan langkah ringan dan hati-hati, ia menjauh dari tempat itu, memastikan Raven tidak menyadari keberadaannya yang sempat menguping. *** Siang itu, tepat ketika sesi pemotretan terakhir selesai, seluruh kru telah meninggalkan lokasi. Ruangan yang sebelumnya riuh kini berubah lengang. Lampu-lampu studio mulai dipadamkan satu per satu, menyisakan suasana sunyi yang terasa canggung.
Selina melongo mendengar jawaban Raven. Dari sekian banyak pertanyaan yang ia ulang dan lontarkan pada lelaki itu, dan dari sekian banyak jawaban kabur yang selalu diterimanya, kali ini Raven justru menjawab tanpa berkelit. Terlalu jelas sampai membuat Selina menelan ludahnya kasar. Benarkah demikian? Entahlah tapi Selina merasa tatapan Yang diberikan Raven tadi bukanlah sebuah candaan apalagi main-main. Manik hitam pria itu seolah telah berbalut kabut dendam yang tebal. “Tapi kenapa?” Selina akhirnya bertanya cepat. Alisnya berkerut, jemarinya mencengkeram tepi kursi tanpa sadar. “Mereka orang tuamu sendiri, bukan?” Sudut senyum Raven bergerak tipis. Pria itu lantas membuang napas panjang sebelum mendekat. Lelaki berkaos polo itu memiringkan tubuhnya, mencondongkan wajah hingga jarak mereka hanya terpaut sedikit. Tatapannya gelap, suaranya rendah namun tenang, seolah sudah lama menyimpan semua itu. “Karena mereka lebih memilih anak angkat daripada keturunan keluarga Mathias,
“Aku terima telepon sebentar,” ujar Selina sambil mendorong kursinya dan bersiap berdiri.Namun, sebelum ia benar-benar beranjak, tangan Raven lebih dulu menangkap lengannya. Cengkeramannya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Selina kembali duduk. Dengan tangan yang lain, Raven memberi isyarat singkat ke arah Shifa agar kembali ke ruangan bersama Rani.Shifa mengangguk pelan, lalu berbalik dan meninggalkan ruang makan tanpa berkata apa-apa.Selina menoleh tajam ke arah Raven. Dahinya berkerut, jelas tidak setuju dengan sikap pria itu. Ia menarik lengannya, tetapi Raven belum juga melepaskan.“Raven,” ucapnya memperingatkan pria itu.Namun, Raven justru menatapnya lurus, sorot matanya tenang tetapi penuh tekanan. “Kita sudah sepakat untuk saling mendukung,” katanya pelan. “Lalu kenapa sekarang kamu memilih bermain rahasia denganku, Cantik?”Ditatap sedemikian rupa membuat Selina waspada. Tidak biasanya Raven bersikap seserius ini. Kali ini, aura yang ia pancarkan bahkan terasa lebi







