เข้าสู่ระบบSiren segera berbalik dengan langkah serampangan. Ia tidak peduli lagi ke mana kakinya melangkah, yang penting ia harus menjauh dari pintu kamar itu. Bayangan adegan di ranjang tadi terus berputar di kepalanya, membuat perutnya mual.Saat tiba di ujung lorong menuju lift, Siren berhenti mendadak. Ia bingung. Kalau ia turun ke bawah, ia harus melewati ruangan privat tadi, tempat pria-pria mabuk itu masih berkumpul. Tapi kalau ia diam di sini, Bagas dan Kenzi bisa keluar kapan saja dan memergokinya menguping.Siren akhirnya memilih masuk ke tangga darurat.Di sana ia duduk di salah satu anak tangga, memeluk lututnya yang masih gemetar hebat.Ia sendirian, dalam kondisi tidak pegang uang, tidak tahu jalan pulang, dan ponselnya pun tidak bisa digunakan untuk memesan ojek online."Gimana ini..." bisiknya sambil menahan tangis.Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu tangga darurat terbuka. Siren tersentak dan langsung berdiri dengan wajah pucat pasi.Ternyata itu Kenzi. Gadis itu sudah me
Gugup, bingung, dan takut langsung menyerang Siren sekaligus. Jantungnya berdegup liar. Ia tidak kenal siapa-siapa di sini. Orang-orang di ruangan itu mulai menatapnya dengan tatapan lapar dan merendahkan, seolah dia hanyalah mangsa yang ditinggalkan pemiliknya."Eh, tamengnya si Kenzi ditinggal tuh," celetuk salah satu pria sambil mendekat ke arah Siren. "Mumpung majikan lo lagi sibuk di atas, gimana kalau kita main juga?"Siren gemetar hebat, ia ingin lari tapi kakinya terasa seperti terpaku di lantai.****Sementara itu, di lantai atas klub tersebut, suasana jauh lebih sunyi namun mencekam. Bagas menarik Kenzi masuk ke dalam sebuah kamar hotel yang masih satu manajemen dengan klub malam itu.Tanpa menutup rapat pintu, Bagas langsung menyudutkan Kenzi ke dinding.Tanpa basa-basi, ia kembali mencium bibir Kenzi dengan kasar. Tangan laki-laki itu mulai bergerak liar, menyusup di balik crop top ketat yang dikenakan Kenzi."Gas
Tidak lama kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah klub malam paling hits di Jakarta Selatan, milik ayahnya Bella.Begitu mereka turun, seorang pria dewasa sudah menunggu dan dengan mudahnya membawa mereka menerobos penjagaan ketat di pintu masuk tanpa harus menunjukkan identitas.Siren gemetar saat Kenzi menarik paksa tangannya untuk masuk ke dalam.Begitu pintu terbuka, suara dentuman musik langsung menghantam indra pendengarannya, terasa memekak di telinga. Cahaya lampu yang berkedip cepat membuat pandangan Siren sedikit pening.Tak sampai di situ, Kenzi kembali menarik Siren menyusuri lorong remang-remang menuju sebuah ruangan privat yang letaknya lebih tersembunyi.Begitu pintu yang berat itu terbuka, mereka langsung disambut aroma alkohol dan asap rokok yang menyeruak tajam. Ruangannya memang tidak terlalu besar, tapi terlihat sangat eksklusif dengan sofa kulit yang melingkar dan lampu neon redup yang memberikan kesan misterius.Di sana, hanya ada enam orang.Yang pertama,
Malam harinya, Kenzi sudah siap party. Ia mengenakan dress mini ketat yang sengaja ditutupi oleh outer panjang untuk menyamarkan penampilannya.Kenzi merasa sangat lega karena Sean dan Elyssa belum pulang, sementara Kenza sudah berangkat les Mandarin sejak tadi.Di rumah hanya ada Bi Sumi dan Siren, hal yang sama sekali tidak perlu ia khawatirkan.Kenzi memantau dari koridor lantai atas, memastikan Bi Sumi masih sibuk di dapur. "Aman," gumamnya lalu buru-buru turun.Namun, baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu utama, suara deru mesin mobil terdengar memasuki halaman."Sial! Kok Mama pulang cepat sih? Kan baru jam tujuh!" gerutunya panik.Dengan gerakan kilat, Kenzi berlari kembali ke atas dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.Tak lama, terdengar suara pintu utama terbuka dan sapaan ramah Bi Sumi menyambut Elyssa."Mau dibuatkan minum, Bu? Atau perlu saya siapkan makan malam?" tanya Bi Sumi."Tidak perlu, Bi. Terima kasih. Saya sudah makan di toko tadi, kayaknya mau langsung is
Pagi itu, sarapan sudah siap. Aroma roti panggang yang wangi memenuhi ruangan.Sean dan Elyssa sudah menempati kursi mereka, sementara Kenza dan Kenzi baru saja turun dari lantai atas dengan seragam yang sudah rapi."Bi, panggil Siren ke sini. Suruh dia ikut sarapan bareng," ujar Sean saat Bi Sumi meletakkan cangkir kopi di meja.Bi Sumi tampak sungkan. "Aduh, tidak usah, Pak. Biar Siren makan di belakang saja sama saya nanti kalau pekerjaan sudah beres.""Sudah, ajak saja. Siren juga mau berangkat sekolah, kan? Biar dia sarapan di sini, jangan disuruh bantu-bantu di belakang dulu," tambah Elyssa dengan senyum ramah yang menyejukkan.Bi Sumi akhirnya mengangguk, senyumnya mengembang lebar penuh rasa syukur. "Baik, Bu. Terima kasih banyak ya, Bu."Tak lama kemudian, Siren pun muncul dengan langkah ragu. Ia mengenakan seragam SMA-nya yang tampak agak kusam dan sedikit kusut. Gadis itu memilih duduk di kursi paling ujung, berusaha mengecilkan keberadaannya agar tidak mengusik kenyamanan
[Kamu di mana? Ini sudah jam 8][Biar aku jemput sekarang. Kirim lokasinya]Kenza menatap layar ponselnya dengan seksama. Tak lama, muncul balasan singkat yang membuat suasana hatinya semakin keruh.[Urusanku belum kelar, Za. Lagian aku bisa pulang sendiri kok. Jangan bawel]Rahang Kenza mengeras seketika. Ia melempar ponselnya ke sofa dan menyandarkan punggungnya dengan kasar, mencoba meredam amarah yang mulai naik ke ubun-ubun."Dasar keras kepala," gumamnya.Merasa tenggorokannya kering, Kenza pun bangkit menuju dapur untuk mengambil minum. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat Siren sedang sibuk di depan wastafel. Gadis itu tampak sangat teliti mencuci piring, gerakannya seolah tidak ingin menimbulkan bunyi sekecil apa pun.Kenza sengaja berdeham. Siren tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan piring di tangannya. Begitu menyadari siapa yang datang, gadis itu buru-buru menunduk, tidak berani menatap mata Kenza."T-tuan Muda... Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya







