ログイン"Kowe... kenapa harus muncul sekarang, Elena?"
Arya mendesis, suaranya parau tertelan deru angin jembatan layang yang membawa bau garam dan amis pelabuhan. Ia mencengkeram besi pembatas jembatan hingga karatnya menusuk telapak tangan, menatap wanita di dalam sedan hitam yang tampak seperti berlian di atas tumpukan arang. Elena hanya tersenyum tipis, menyesap aroma parfum musk mahal yang beradu tajam dengan bau solar dan mesiu dari tubuh Arya yang hancur-hancuran.
"Jakar
"Injak pedal gas Fuso itu sekarang, Slamet, robohkan helikopter musuh sebelum bajingan itu sempat menekan tombol pemicu avtur!" bentak Arya Baswira menggelegar dari saluran HT taktis di atap gedung.Kabin Fuso raksasa nomor satu bergetar hebat saat Slamet menghantamkan telapak kakinya ke pedal gas, menyemburkan asap solar pekat dari knalpot samping.Roda gajah enam belas inchi mencengkeram aspal pelataran kaku, memutar drum winch kawat baja dengan derit mesin bertenaga ratusan tenaga kuda."Waduhhh… te-te-tetapi Kang Slamet, kalau tali baja itu ditarik terlalu kencang, helikopternya beneran bisa jatuh menghantam tangki solar!" jerit Juna agak gagap panik dari samping kabin."Tahan posisi badanmu di tangga, Juna! Fuso ini beneran dilarang akan biarkan burung besi musuh meledakkan atap pangkalan!" potong Slamet kaku membumi.'Tarik terus, Fuso! Beban gajah ini sanggup merubu
"Panjat tangga darurat atap ini sekarang, Arya, jangan beri kesempatan helikopter bajingan itu terangkat membawa Jessy!" bentak Brian Baskoro menggelegar seraya menerobos pintu besi atap gedung.Angin kencang menyambar keras di ketinggian lantai sepuluh fajar hari ini, memutar debu dan kepulan asap dari baling-baling helikopter Sektor Barat.Arya Baswira melompat dua anak tangga sekaligus satset, membawa gulungan kabel kait kawat baja dari winch Fuso di pundaknya."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Brian, komandan helikopter itu beneran sudah mencengkeram leher Mbak Jessy di dekat pintu palka!" jerit Juna agak gagap panik dari bawah tangga."Tutup mulut konyolmu dan tahan pintu bawah, Juna! Nyawa Jessy beneran dilarang melayang di helipad ini!" potong Brian tegap menghunus.'Pengacara korporat seperti saya dilarang akan tunduk pada bentakan teroris asing! Brian, tembak baling-bali
"Kunci pintu kabin jip siber ini sekarang, Kang Slamet, sebelum napas saya putus karena saking tegangnya melihat ancaman di atap!" rintih Cindy seraya mendesah pasrah di dalam kabin mobil kontrol siber.Aroma minyak solar bercampur uap hangat dari raga dua manusia yang saling berhimpitan membakar udara pengap di antara deretan monitor komputer.Slamet merengkuh panggul mulus istrinya satset, mendudukkan raga molek Cindy tepat di atas pangkatan paha berototnya di atas kursi putar konsol."Waduhhh… te-te-tetapi Dek Cindy, badan Kang Slamet beneran masih penuh noda oli dan darah preman bekas adu fisik di depo!" sahut Slamet agak gagap terpana."Masa bodoh sama bau oli itu, Kang, garap dan kocok tempat basah saya sekarang juga biar rasa gemetar ini hilang!" potong Cindy memutar badannya seraya meremas bahu otot Slamet.'Sialan, melihat Dek Cindy bertelanjang paha di atas konso
"Injak kabel server itu dan kamu dilarang akan pernah keluar bernapas dari ruangan ini, Bajingan!" bentak Arya Baswira menggelegar dari ambang pintu besi ruang server.Arya menerjang kilat menembus pecahan kaca lobby, melompati dua agen musuh seraya menyapu lurus ke arah lorong bawah tanah server utama.Pimpinan eksekutor Sektor Barat yang sedang menarik tuas rak server induk memutar badannya kilat, mencabut pisau taktis bermata dua."Waduhhh… te-te-tetapi Mas Arya, pimpinan musuh itu beneran sudah mencabut soket harddisk induk Master Freeze!" jerit Juna agak gagap panik lewat radio taktis."Abaikan kepanikanmu, Juna! Harddisk induk itu dilarang akan pernah berpindah tangan ke kartel asing!" balas Arya berdarah dingin.'Sialan, Mas Arya adu jotos di dalam ruang server! Kalau kabel komputernya putus, bonus THR saya amsyong!' gerutu Juna komikal dalam batinnya yang
"Sabet pergelangan tangannya sekarang, Arya, jangan beri kesempatan bajingan itu melempar granat asam ke tangki solar!" bentak Brian Baskoro menggelegar dari atas kap jip komando.Brakkk…!Tembakan lemparan kayu pengganjal ban dari Juna menghantam telak siku pimpinan preman, memicu granat asam terlempar jatuh liar ke celah parit semen kotor tanpa sempat meledakkan tangki.Arya Baswira meremukkan tengkuk pimpinan preman satset, mengamankan perimeter depo empat seraya memutar pandangan mata berdarah dinginnya ke arah gerbang utama gedung direksi."Sapu sisa preman itu dan putar seluruh bodi Fuso untuk mengepung gedung direksi utama, Brian!" jerit Sonya Baskoro memancarkan keangkuhan Ratu Besi."Gedung direksi utama beneran akan jadi benteng baja tak tembus fajar ini, Sonya!" jawab Brian Baskoro tegap menghunus.'Kalian bawa jip lapis baja? Kita
"Maju lima langkah lagi kalian, Bajingan, dan besi kunci pas sepanjang setengah meter ini beneran melayang meretakkan rahang kalian!" bentak Slamet menggelegar dari tengah pelataran depo empat.Sepatu taktis berdebu milik Slamet mencengkeram tanah berkerikil kaku, memosisikan raga tua berototnya bagai benteng semen cor tak tergoyahkan.Dua puluh preman sewaan Sektor Selatan serba hitam bergerak melingkar beringas, mengayunkan balok kayu berlapis paku dan pipa besi."Waduhhh… te-te-tetapi Kang Slamet, mereka beneran rombongan preman bayaran dua puluh orang!" jerit Juna agak gagap panik dari balik ban Fuso."Abaikan jumlah mereka, Juna! Selama raga supir tua ini bernapas, dilarang ada satu bajingan pun yang melewati jalur evakuasi Arya dan Mbak Sonya!" balas Slamet tegap membumi.'Supir tua ini memang cuma pegang kunci pas, tapi selama raga saya bernapas, dilarang ada bajing







