LOGINAryo masuk ke dalam rumah sambil menahan emosinya.
"Siapa yang datang?" ucap Wulan yang masih tak menyadarinya jika Aryo sudah mengetahui segalanya. "Wulan!" seru Aryo. "Mas? Kenapa Mas pulang?" "Kau mau menceritakan yang sesungguhnya, atau aku yang harus membongkarnya?" "Apa maksudnya ini Mas?" Wulan bingung. "Kau sudah tidak bekerja di restoran lagi kan?" Aryo mengungkapkan apa yang sudah ia dengar. Wulan hanya menunduk. Ia tak menanggapi ucapan Aryo. "Lalu kau mencuri uang sebanyak 10 juta dari sana. Itu sebabnya kau dipecat. Iya kan!" seru Aryo. Wulan hanya melengos. Enggan menanggapi ucapan Aryo. "Kau benar benar tidak berubah Wulan!" "Tidak berubah? Apa maksudmu! Apa aku yang mau menemanimu saat melarat seperti ini, masih kurang?" Wulan malah berteriak balik. "Aku tahu itu Wulan! Aku tahu kalauMakan malam hari ini dimasak oleh Aurelia. Ana juga membantunya untuk menyelesaikan menu makanan penutup. Semua orang duduk di kursi dengan canggung. Johan sudah mendengar soal Asih yang dipecat oleh istrinya tanpa bermusyawarah dulu padanya, ia hendak bertanya tapi ada ragu yang membelenggu. Ia tak mau bahasan soal pembantu, membuatnya dan sang istri berdebat atau mungkin malah bertengkar hebat."Aku sudah memecat Asih." Tanpa diduga, obrolan Aurelia setelah makan malam langsung ke arah sana."Ya, Viko sudah menceritakannya. Papa hanya ingin tahu, kenapa Mama begitu marah hanya karena Asih pergi keluar sebentar.""Pergi ke toko perhiasan lebih tepatnya. Toko perhiasan langganan Mama! Seorang pembantu pergi ke toko perhiasan mewah, apa yang akan dia gunakan untuk membayar?" "Ma, dia kan sudah menikah. Sudah ada suami. Jadi wajar saja kalau dia pergi berbelanja perhiasan." Jawaban Johan masih terkesan membela Asih."Suaminya hanya karyawan biasa di perusahaan kita. Gajinya 2 bulan, ba
Aurelia memindai ke seluruh ruangan dan dengan cepat, ia menemukan Asih yang sedang bicara dengan kasir."Benar benar keterlaluan!" Aurelia geram, ia berjalan menghampiri Asih. "Jadi, ini lah yang kau kerjakan jika tak ada orang di rumah. Kau keluar dari rumah dengan memperdaya anakku?!" Aurelia melotot, tatapannya membuat nyali Asih menciut.Semua orang yang ada di sana, melihat ke arah mereka berdua. Viko melongo, melihat Aurelia telah berhasil menemukan Asih. "Ma, kenapa Mama berteriak di tempat umum? Semua orang sedang melihat ke arah Mama, sekarang." Viko berusaha untuk mendinginkan hati ibunya."Benar sekali Nyonya. Lagi pula, aku datang ke sini bersama dengan suamiku," ucap Asih dengan suara bergetar."Suami? Mana suamimu? Ha! Mana suamimu!" Aurelia berteriak makin kencang. Dan satu t4mpar4n melayang ke wajah Asih."PLak!" Telinga Asih berdengung karenanya. Ia menutupi wajahnya, berusaha untuk melindungi diri."M
"Asih! Semalam Andrew meneleponku! Dia bilang, ponselmu tidak bisa dihubungi!" Tiba tiba Viko datang dan menyela pembicaraan.Aurelia menoleh ke arah Viko, begitu juga dengan Asih. Pembicaraan yang sempat terjadi di antara mereka berdua pun, terhenti. Aurelia kembali ke kamarnya untuk mandi. "Asih, ingat jangan pernah bocorkan rahasia kita kepada siapapun. Jika tidak, anak yang ada di dalam perutmu itu, mungkin akan kehilangan ayah untuk selamanya." Viko mengancam.Asih hanya bisa mengangguk setuju. Viko pun pergi dari hadapan Asih, kembali ke lantai atas.*****Jam 7 pagi, semua orang berkumpul di ruang makan. Viko makan dengan lahap, begitu juga dengan Johan. Kemampuan memasak Ana, tidak diragukan lagi. Semua orang yang menikmati sarapan, memuji makanan buatannya."Wah! Sarapan hari ini, enak sekali! Asih memang pintar memasak!" Johan bicara sambil mengunyah sisa makanan di mulutnya."Bukan dia yang memasak! Dia mana
"Aku hanya meminta Asih untuk membuatkan teh. Itu saja kok." Viko berbohong."Teh? Di tengah malam seperti ini?""Iya, teh hangat! Memang kenapa kalau tengah malam, aku minum teh hangat?" "Kan ada aku, kenapa kamu harus minta bantuan Asih?" Nada suara Ana terdengar makin meninggi, dan terdengar jelas oleh Asih."Ana, ini hanya hal sepele. Kamu seharusnya tidak perlu bereaksi berlebihan." "Jadi aku yang berlebihan?" Ana mengerutkan kening."Sudahlah, aku malas berdebat. Aku mau tidur lagi." Viko pergi melewati Ana begitu saja. Ana menghembuskan nafas, ia melihat ke arah jam dinding. Karena tak mau perdebatan yang terjadi di antara mereka, sampai terdengar di telinga orang tuanya, Ana memilih untuk kembali ke kamar tamu.Ana merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia melupakan rasa hausnya yang melandanya, tadi. "Tidak mungkin Viko ke kamar pembantu di tengah malam, hanya untuk dibuatkan teh." Pikiran Ana mulai tida
"Menikah?" Andrew tampak mengerutkan kening. Tak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Aurelia."Andrew, ayo masuk dulu. Duduk dengan tenang dan mengobrol di dalam." Viko menarik tangan Andrew, membawanya masuk ke dalam rumah."Tolong aku, Andrew. Apapun yang ditanyakan oleh ibuku, kau harus mengangguk." Viko bicara pelan, tapi suaranya masih terdengar oleh Andrew."Kenapa? Kenapa aku harus menjawab iya?""Aku akan membayarmu, sebanyak yang kau mau. Setelah pulang dari sini, akan kuberikan selembar cek kosong atas namamu dan kau bisa mengisinya sesuai dengan kemauanmu." Viko berbisik di telinga Andrew."Ada apa? Kenapa kalian berdua bicara berbisik-bisik? Apa yang ingin kalian sembunyikan dariku?" celetuk Aurelia yang berjalan di belakang mereka berdua."Tidak ada Ma. Aku dan Andrew hanya membicarakan masalah kantor." Viko dan Andrew duduk berdampingan. Aurelia duduk di depan mereka."Sekarang katakan yang sejujurnya. Ap
"Bu Sandra, kenapa anda memanggilku dengan sebutan Nyonya? I- ini kan masalah sepele. Tidak seperti yang anda pikirkan." Aurelia merasa tidak enak hati. Tapi, ia juga tak pandai mencari alasan untuk membela Viko. Viko langsung melepaskan tangannya dari tub*h Asih. Ia berdiri tegak dan menjaga jarak. Sementara Asih, ia berjalan dengan tertatih, kembali ke dalam kamarnya."Apakah Viko masih tidak paham, jika sekarang dia sudah menikah?" sahut Sandra."Tentu saja Viko paham. Viko bahkan memahami tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Bu Sandra, tolonglah jangan terlalu khawatir. Semua hal butuh penyesuaian. Dan Viko, dia orang yang tidak tegaan dan suka menolong." Johan menyela pembicaraan. Ia berusaha menenangkan situasi yang mulai memanas."Sayang, sudahlah. Viko hanya menolong pembantu rumahnya. Itu hal yang sangat wajar." Arya memegang tangan istrinya."Ma," ucap Ana sambil menggelengkan kepala, memberikan tanda agar ibunya berhenti b







