LOGINAryo masuk ke dalam rumah sambil menahan emosinya.
"Siapa yang datang?" ucap Wulan yang masih tak menyadarinya jika Aryo sudah mengetahui segalanya. "Wulan!" seru Aryo. "Mas? Kenapa Mas pulang?" "Kau mau menceritakan yang sesungguhnya, atau aku yang harus membongkarnya?" "Apa maksudnya ini Mas?" Wulan bingung. "Kau sudah tidak bekerja di restoran lagi kan?" Aryo mengungkapkan apa yang sudah ia dengarSuara seorang pria membuat Viko menoleh. Langkah kaki terdengar mantap memasuki ruangan.Seorang pria berdiri di ambang pintu.Tegap. Tenang. Tatapannya lurus, dia lah Andrew. Mata Viko langsung menyipit. "Kau…?" suaranya penuh curiga.Ana tidak menoleh. Namun bahunya sedikit mengendur. Seakan kehadiran pria itu… memberi kekuatan.“Ayo, Ana,” ucap Andrew lagi, kali ini lebih tegas. "Kita tidak perlu membuang waktu di tempat seperti ini.” Kata-katanya dingin terasa menusuk.Johan langsung melangkah maju.“Andrew, kau benar benar licik! Kau menekan kami untuk menyerahkan saham milik Viko!” bentaknya.Andrew menatapnya sekilas." Pak Johan yang terhormat, kebenaran sudah terbongkar. Dan sekarang, anda ada pada posisi yang salah. Anda mendukung perbuatan zinah yang dilakukan oleh anak anda!" Andrew menjawab spontan. Kalimat itu membuat suasana semakin panas.Viko mengepalkan tangan. "Ana," suaranya menekan
Kalimat itu menggantung di udara.“Tentang anak Viko dari mantan pembantu anda!”Senyum di wajah Aurelia perlahan menghilang.Wajahnya memucat.“A-apa maksudmu, Ana?” suaranya bergetar, berusaha terdengar tenang.Ana menolak untuk duduk apalagi berbasa basi. Ia tetap berdiri.Tatapannya lurus, tajam, tanpa ragu.“Jangan berpura-pura tidak tahu, Ma,” ucapnya pelan.Nada suara Ana terdengarrendah… tapi menusuk. "Aku sudah melihatnya sendiri. Di rumah sakit. Asih… dan anaknya."Suasana menegang. Detik jam terasa lambat. Aurelia menelan ludah.“Itu tidak seperti yang kamu pikirkan—"“Kalimat itu terlalu sering dipakai untuk menutupi kebohongan,” potong Ana. Ia melangkah maju satu langkah.“Yang ingin aku tahu sekarang cuma satu.” Tatapannya mengeras. “Sejak kapan Mama tahu hubungan Viko dan pembantu itu?”Pertanyaan itu jatuh seperti palu. Membuat Aurelia terdiam. Bibirnya terbuka… tapi tak ada kata yang keluar
Sandra menelepon Levin, anak tertuanya. Ia mengatakan persis seperti dengan apa yang dikatakan oleh Ana. "Jadi Ana ingin bercerai dengan Viko?" sahut Levin dari sebrang telepon. "Iya! Tapi entah apa yang terjadi di antara mereka berdua. Mama juga tidak tahu. Levin, tolong pergi temui adikmu. Mama juga akan ke sana sebentar lagi. Perceraian di saat hamil, itu konyol sekali!" Sandra menggenggam erat ponselnya. "Hmm! Baik lah. Aku akan ke rumah Ana." Levin mengakhiri pembicaraan. Sandra turun ke bawah. Ia meminta asisten rumah tangganya untuk memasak. Setelah itu, ia pergi dengan supir. *****Levin sudah tiba di rumah Ana. Security rumah menyapanya. Tapi orang yang dia cari ternyata tidak ada di rumah. "Ana belum pulang?" Levin mengerutkan kening. "Belum, Pak. Bu Ana pergi pagi-pagi sekali. Dan sampai sekarang belum kembali.""Kemana Ana pergi?" "Saya juga tidak tahu, Pak. Bu Ana tidak men
Pagi itu terasa berbeda. Biasanya Ana akan menyibukkan dirinya di dapur untuk memasak menu makan siang dan makan makan malam. Tapi sekarang, ia hanya duduk diam di ruang makan, secangkir teh di depannya sudah dingin tanpa tersentuh. Tatapannya kosong, namun pikirannya bekerja tanpa henti."Tagihan rumah sakit itu sebenarnya milik siapa?" Ana bermonolog. Deretan angka yang ada di lembar tagihan itu terus berputar di kepalanya.Bukan angka kecil. Bukan angka untuk luka ringan. Itu adalah angka… untuk sesuatu yang besar.Ana menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia berjalan menuju kamar, mengambil tasnya, dan bersiap tanpa banyak suara."Aku harus tahu semuanya." Hari ini, ia tidak akan menunggu, ia akan mencari tahu.****Rumah Sakit Royal Pyruz tampak megah dari luar. Bersih dan juga tenang. Ana berdiri beberapa detik di depan pintu masuk, menatap bangunan itu dengan perasaan campur aduk."Ini temp
"Untuk apa aku harus menjawab pertanyaan dari orang asing?” Asih melengos, membuang muka ke arah lain.“Kau wanita yang tidak punya hati! Kau merusak kehidupan pernikahan wanita lain! Dan sekarang kau berlagak seperti orang suci!” Levin tersulut emosi.Suster tiba-tiba masuk ke dalam kamar, membuat Levin menghentikan kata-katanya.“Maaf, pasien harus beristirahat sekarang,” ucapnya singkat, namun cukup jelas—itu adalah bentuk pengusiran yang halus.Levin tak ingin membuat keributan di rumah sakit. Ia pun keluar dari ruangan Asih.Begitu langkah Levin menghilang, Asih segera mengirim pesan teks pada Viko. Ia menuliskan bahwa ada seorang lelaki asing yang masuk ke kamarnya dan mempertanyakan hubungan mereka.Namun sayang, ponsel Viko sedang mati. Pesan itu tak pernah terbaca.Di tempat lain, Viko baru saja tiba di rumah. Ana menyambutnya dengan wajah berseri.“Kenapa pulang terlambat? Aku sudah menunggumu sejak tadi,” prote
"Lakukan saja apa yang kau mau! Tes DNA atau apa pun itu! Aku tidak takut.”Suara Viko menggema lantang. Tatapannya tajam, sama sekali tak menunjukkan rasa gentar.“Dan jika hasilnya tidak sesuai dengan tuduhanmu barusan, aku akan menuntutmu atas pencemaran nama baik!”Levin terdiam. Keragu-raguan mulai menyusup ke benaknya. Namun bukti bahwa Viko adalah penanggung jawab Asih masih tak terbantahkan.Atau… apakah dia hanya menolong Asih atas dasar kemanusiaan semata? batin Levin.“DRrrt!”Ponsel Levin bergetar. Satu panggilan masuk—dari orang tuanya.“Levin! Kau pergi ke mana? Kenapa belum kembali ke sini? Mamamu mencarimu sejak tadi!” suara Arya terdengar tegas dari seberang telepon.“Iya, Dad. Aku akan ke sana. Tidak usah khawatir. Aku tadi cuma ke kantin,” jawab Levin beralasan.Viko melirik tajam ke arahnya.“Siapa yang sedang dirawat di sini?” tanyanya curiga.“Bukan urusanmu!” balas Levin ketus. Ia l
Aurelia melangkah dengan hati-hati tapi sorot matanya tajam seperti elang yang si4p menerkam mangsa. Ia menatap 3 orang lelaki berusia sekitar 27 tahunan, yang sedang duduk di kursi tamunya."Ada keperluan apa? Kenapa wartawan datang ke rumahku?" "Selamat pagi, Bu. Kami datang ke sini untuk mewawa
Viko pulang dengan tangan kosong, ibu mertuanya menolaknya sebelum ia bertemu dengan istrinya. "Ini tidak bisa dibiarkan."Viko kembali ke rumahnya sendiri. Malam ini, ia hanya akan tidur ditemani oleh dinginnya angin malam. Belum juga matanya terpejam, sang ibu kembali menelepon dan men
Bayangan yang berdiri di kejauhan, terlihat mendekat. Awalnya Viko mengerutkan kening, mencoba untuk mengenali siapa orang yang sudah mendukung Asih. Sebab tanpa dukungan siapapun, Asih tak mungkin berani menentang ucapannya. Sosok seorang pria berjalan pelan, setiap langkah kakinya seakan mengata
Andrew menoleh, ia tersenyum pahit ke arah Viko. Kedua mata saling menatap penuh amarah. "Kau benar-benar kelewatan! Beraninya kau mengganggu istriku!" Viko melotot sambil berteriak."Aku datang ke sini, untuk menagih sisa uang yang belum kau bayarkan." Andrew menjawab dengan s







