تسجيل الدخولSiang terik itu Wiro sudah kembali dari pasar. Ia mengajak putra angkatnya untuk pergi ke kamar mandi ala wong ndeso. Bapak angkat Warseno itu sibuk menimba air di sumur kemudian menampung airnya ke dalam bak.
Lagi-lagi Warseno celingak-celinguk keheranan melihat bentuk kamar mandi milik Wiro, "Pak.." Panggilnya."Hm?" Jawabnya singkat sambil mengerek timba.Warseno masih celingak-celinguk, "Kok kamar mandi Bapak tidak ada atapnya?" Ucapnya. Kamar mandi itu hanyalah sebuah sumur d"Heh! mantannya istrimu datang!" Ucap salah satu buruh erek yang melihat Warseno datang. Ia meledek Arya sebab Warseno memang mantan pacar Wandari."Ck!" Arya hanya berdecak kesal melihat laki-laki itu lagi. (Kenapa harus ke sini lagi sih) batinnya. Meski sudah punya hak membalas saat dieksekusi tapi rasa dendam di hati Arya masih ada. Setiap pukulan yang ia terima di depan Wandari membuatnya malas kembali berurusan dengan mantan Pangeran itu."Loh le? kok melu rene?" Tanya Wiro."Kulo mau bantu bawa gabah Pak" Jawabnya.Para buruh pun tertawa meledek Warseno. "Walah saiki dadi tukang angkut gabah mas?" ledeknya. Segala macam ejekan terus keluar dari mulut mereka.Dalam hal ini Warseno tak mau ambil pusing. Ia lalu mengambil satu karung gabah dan mengangkatnya di pundak dengan mudah. Begitu pun dengan Joko yang sudah lebih dulu mengangkat karung gabah lainnya. Mereka berjalan depan belakang menuju kediaman Wiro untuk meletakkan gabah di sana..Waktu teru
Di waktu yang sama, di Keraton Giritirta. Prameswari Sekar berjalan cepat menuju kamar menantunya. Ibu Argapati itu baru saja mendapat kabar bahwa menantunya pingsan di sanggar keraton saat melihat penari sedang berlatih menari untuk acara-acara penting. Sesampainya di kamar Kirana ia melihat perempuan itu memang pucat sedang berbaring masih belum sadarkan diri dan sedang diperiksa oleh tabib.Sebentar kemudian tabib pun berbalik badan pertanda ia sudah selesai memeriksa Kirana."Bagaimana keadaan menantuku?" Tanya Prameswari Sekar yang cemas.Tabib pun membungkuk, "Nuwunsewu Prameswari. Raden Ayu tidak apa-apa. Keraton Giritirta sebentar lagi akan mendapatkan cucu. Raden Ayu sedang hamil" Jawab Tabib.Prameswari Sekar pun menangis bahagia. Benih-benih Argapati tumbuh dalam rahim Kirana. Meski sedang masa pengasingan setidaknya kelahiran putranya pasti akan menjadi hadiah besar untuk Argapati saat ia kembali ke Keraton Giritirta lagi nanti.Beberapa saat kem
Hari sudah pagi, matahari sudah setinggi galah. Udara dingin perlahan berganti menjadi lebih hangat. Warseno masih tertidur lelap setelah semalam ia tak begitu mendapatkan kualitas tidur yang baik. Perlahan ia mendengar suara yang memanggilnya. "Le.. bangun le sudah siang, ayo makan dulu" Wiro membangunkan putra angkatnya.Warseno perlahan membuka matanya yang masih mengantuk. Demamnya sudah sedikit lebih turun meski masih dalam kategori panas."Tadi Bapak tinggal ke sawah sebentar buat gilir air. Ini bapak belikan nasi pecel buat sarapan" Ucap Wiro sambil menghidangkan dua nasi pecel yang dibungkus daun jati. "Tadi Bapak juga sudah belikan sendok buat kamu makan. Ayo makan" Lanjutnya.Wiro pun sigap membantu putra angkatnya untuk duduk sebab masih belum bisa duduk sendiri.Mereka pun makan bersama. Warseno yang masih demam itu pun tak begitu nafsu makan, sambil menahan tubuhnya yang lemas ia memakan beberapa suap untuk mengisi perutnya supaya tidak kosong.
Siang terik itu Wiro sudah kembali dari pasar. Ia mengajak putra angkatnya untuk pergi ke kamar mandi ala wong ndeso. Bapak angkat Warseno itu sibuk menimba air di sumur kemudian menampung airnya ke dalam bak.Lagi-lagi Warseno celingak-celinguk keheranan melihat bentuk kamar mandi milik Wiro, "Pak.." Panggilnya."Hm?" Jawabnya singkat sambil mengerek timba.Warseno masih celingak-celinguk, "Kok kamar mandi Bapak tidak ada atapnya?" Ucapnya. Kamar mandi itu hanyalah sebuah sumur dengan beberapa alat mandi di sekitarnya dan asbes berbentuk kotak sebagai dinding penutupnya yang tingginya sebatas leher Warseno."Ya kan sudah ada tutupnya" Jawabnya sambil menyiram air hasil kerekannya ke dalam bak."Iya sih, tapi kan masih bisa diintip dari atas" Warseno masih melayangkan protes."Iya bisa diintip kalau yang ngintip naik pohon. Lagian siapa juga yang mau ngintipin kita mandi? gadis desa?" Jawaban konyol dari Wiro. "Sudah ayo duduk sini, bapak mandikan" Ucapnya sa
Mentari pagi sudah menyapa. Di meja makan, makanan sudah siap untuk disantap. Arya duduk bersama Wandari untuk makan bersama. Arya melihat wajah istrinya masih murung sejak pulang dari sidang kemarin. Ia juga sadar bahwa sejauh ini istrinya selalu menutupi murungnya dengan senyum palsu. Namun ia tak mau menyinggung, ia hanya akan berusaha mencairkan suasana supaya terasa lebih hangat.Mereka sudah mulai memasukan makanan ke dalam mulut, tak menggunakan sendok, tapi menggunakan tangan. Arya melihat istrinya makan sambil menunduk, "Dik!" Panggilnya.Wandari menoleh cepat, "Hm? ada apa kang?" Tanya istri Arya tersebut."Makannya kok sambil melamun? kenapa?" Tanya Arya.Wandari tersenyum kikuk, "Owh.. masa sih? Tidak. Tidak melamun, Kang" Jawabnya.Arya tersenyum lalu mengangguk. Ia kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya sendiri. (Kamu bohong Dik) ucapnya dalam hati.Arya tak kehabisan akal, dia coba cara lain. Ia menyeruput kopi hangat di mejanya, "Slurp
Sidang sudah selesai, semua membubarkan diri satu per satu. Saat itu Arya sedang mengajak istrinya jalan-jalan di Pasar Gedhe untuk menghiburnya dan menepati janji untuk membeli gulali.Adipati Surenggana sempat menawari kereta kuda untuk kembali ke Luhurwangi. Namun, Arya menolak lembut dengan alasan ingin menghibur istrinya dulu dengan jajan di pasar.Beruntung Arya masih ada sisa uang, ia bisa mengajak Wandari jalan-jalan dan menyewa delman untuk perjalanan pulangnya nanti.Sesaat sebelumnya ia menitip salam kepada orangtua dan mertuanya di desa lewat Ki Lurah. Jadi sekarang ia bisa lebih lama berada jauh dari desa. Sebab kabar darinya sudah bukan gaib lagi bagi orangtua dan mertuanya.Saat ini mereka sedang duduk di warung kopi pinggir jalan. Ada segelas kopi dan segelas teh hangat di atas meja mereka. Tak lupa ada gulali ditangan Wandari dan gulungan kertas berisi tembakau cengkeh ditangan Arya.Arya melihat wajah istrinya melamun sambil memegangi gulali dit







