Share

BAB 2

Author: Itsuki Akari
last update publish date: 2026-06-01 12:08:57

Di malam sebelum terjadinya kebakaran gudang di Distrik 4 wilayah kekuasaan Moretti. “Malam ini kamu memiliki tugas untuk menyelidiki distrik 4, kita akan harus memperluas kekuasaan kita” Ujar Mr. Cavallo pada Dante. Dante pun yang telah ditugaskan sang ayah langsung melaksanakan tugasnya dan berangkat menuju lokasi yang telah ditentukan.

Ketika sampai di lokasi Dante yang masih di dalam mobilnya melihat kearah sekitarnya tempat dimana yang telah ditentukan sang ayah setelah dirasa aman dia pun segera turun dari dalam mobilnya, dan membuka bagasi mobilnya untuk mengambil minyak tanah, Dante pun segera bergegas mencari titik lokasi yang akan dia bakar.

Setelah Dante menentukan titik yang akan dia bakar, Dante pun menuangkan minyak tanah tersebut di sekitar gedung yang akan dia bakar. Tanpa berfikir panjang Dante terus menuangkan minyak tersebut sembari melihat sekelilingnya setelah selesai menuangkan minyak tanah tersebut dia mengambil korek api yang ada di sakunya dan mengambil sepuntung rokok untuk dia hisap.

“Ini untukku” sembari Dante menyulut putung rokoknya dengan korek yang dia pegang. “Dan Ini untuk Moretti!!” Dante segera melemparkan korek yang telah dia nyalakan ke arah lokasi minyak yang telah dia dituangkan, dengan senyum puas Dante telah berhasil melakukannya.

Dante segera berjalan kembali kedalam mobilnya tanpa melihat api yang di belakangnya yang semakin membesar. Namun ketika dia akan kembali ke dalam mobilnya tak sengaja wajahnya terlihat oleh salah satu anggota Moretti. “Hei!!!” Teriak salah satu anggota Moretti “Oh, Shit!!!”

Dante pun sontak terkejut lalu menembakan senjata yang dibawa pada salah satu anggota Moretti yang hampir mendekatinya “Dorr !!” suara tembakan menggema anggota Moretti itu tumbang Dante yang melihat hal itu segera berlari menuju mobilnya.

Geng Moretti mencoba Mengejar Dante, Namun sayang Dante berhasil kembali masuk kedalam mobilnya, Dante pun memacu mobilnya dengan kencang dan membunyikan klakson mobilnya pertanda bahwa dia telah berhasil membakar gudang milik geng Moretti.

Anggota geng Moretti yang mencoba mengejar Dante pun segera memberi kabar atasannya agar segera mengetahui bahwa gedung telah terbakar “Hallo, Nona Bianca saya ingin mengabarkan bahwa gedung yang ada di distrik 4 terbakar!” Ujar anggota tersebut.

“Apa?! Siapa pelakunya?!” Bianca pun mulai kesal setelah mendapatkan informasi tersebut.

“Sepertinya anggota geng Cavallo, namun saya tidak sempat melihat wajah pelakunya.” masih berusaha menjelaskan dengan keadaan panik “baiklah, aku akan mempercepat menuju kesana dan segera padamkan apinya.” Ujar Bianca di telepon. Bianca pun mengutus supirnya agar sedikit cepat menuju lokasi.

Disisi lain Dante yang menuju markas utama melaporkan kepada ayahnya bahwa misinya telah berhasil, “Untuk saat ini misi telah berhasil.” Ujar Dante dalam telefon, “Bagus, ayah bangga padamu!” Mr. Cavallo pun memberikan apresiasi atas kinerja anaknya. “Segeralah kembali ke markas ayah akan memberimu tugas kembali.” Dante dengan wajah sangar dan tubuh yang kekar mendengar hal itu pun segera mematikan ponselnya dan menancapkan gas mobil untuk menuju markas.

****

Dengan kecepatan 40 km/jam Dante mengendarai mobilnya dengan kencang menuju markas, hingga akhirnya dia sampai di depan gerbang yang besar dan tinggi “Tin..Tiiinnn…” Bunyi klakson Dante membuat para anggota yang berjaga membukakan pintu untuknya telah sampai di markas Utama segera bertemu Mr. Cavallo dan melaporkan misinya tersebut, dia pun dipersilahkan masuk ke ruangan pribadi Mr. Cavallo. “Bagaimana sudah kamu pastikan terbakar semua?” Ujar Mr. Cavallo

“Tenang saja Gudang penyimpanan Properti milik geng Moretti dan para pejabat kepercayaan Moretti mungkin telah hangus terbakar hingga menjadi abu.” Dengan gaya yang tegas dan wajah yang tampan namun misterius Dante telah membuat laporan pada Mr. Cavallo, dengan senyumnya yang sinis Dante puas atas hasil kerjanya.

“Baguslah!” ujar Mr. Cavallo sambil menuangkan wine kesukaannya.

“Namun kali ini akan ku berikan misi baru untukmu.” Lanjut Mr. Cavallo

“Sepertinya kau benar-benar tidak ingin memberiku hari libur.” Kata Dante menyindir sang Mr. Cavallo.

“Hahaha, Sebagai gantinya aku akan memberimu distrik 4 jika kau berhasil membunuh Ketua dari Moretti.” Mr. Cavallo mencoba memberikan tawaran menarik pada Dante.

Dante pun mulai tertarik oleh tawaran Mr. Cavallo tersebut dimana dia sangat tertarik dengan distrik 4 yang memiliki potensi berkembang yang sangat pesat untuk jalur bisnis.

“Ini foto orang yang akan kamu bunuh” Mr. Cavallo pun memberikan foto laki-laki paruh baya berbadan tinggi besar dan gagah dengan wajah penuh jambang namun tipis dan tegas. Dante pun menerima foto tersebut dengan wajah seperti haus darah dan kekuasaan.

“Sepertinya ini menarik!” Dante pun mengiyakan apa yang diinginkan Mr. Cavallo.

Setelah melakukan laporan pada Mr. Cavallo, Dante segera mengundurkan diri dari ruangan tersebut dan segera menemui asistennya yang telah menunggunya di depan pintu ruangan Mr. Cavallo. “Luca tolong cari tau tentang orang ini !” sambil memberikan foto yang dia bawa.

“Baik Tuan,” dengan cepat asisten Dante melaksanakan tugas yang diberikannya, Dante pun segera kembali ke ruangan pribadinya sambil menunggu informasi yang didapatkan oleh asistennya tersebut.

Dante yang sedang menyandar santai di kursi kulitnya yang besar, menatap kosong ke arah jendela ruang kerjanya yang gelap. Di tangan kanannya, sebuah pemantik api logam berdenting ritmis—buka, tutup, buka, tutup—seiring dengan jempolnya yang memutar roda gerigi hingga memercikkan api kecil yang menari-nari di ujung matanya.

Sesekali ia menghisap puntung rokok dalam-dalam, membiarkan asap abu-abu tipis mengepul lambat menyelimuti wajahnya yang tampak dingin di bawah temaram lampu meja.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 18

    Disisi lain Vito yang semakin panik kembali bersama Windy ke kamar mandi tempat dimana Bianca menunggunya, namun setelah sampai di kamar mandi Windy yang masuk kamar mandi mengatakan tidak ada siapa pun di dalam kamar mandi tersebut.“Vito, kamu mempermainkanku ya? disini tidak ada nona Bianca.”“Hah?! Jangan bercanda, dia yang menyuruhku membawamu ke kamar mandi ini.”“Jangan bilang kamu salah kamar mandi..”“Tidak Win, ini kamar mandi yang bener, tadi Bianca ada di kamar mandi ini.”“Yaudah coba kita cari kamar mandi yang lain..”Windy dan Vito pun mulai panik mencari Bianca, karena Bianca tiba-tiba menghilang entah kemana. Setelah berkeliling di setiap koridor yang terdapat kamar mandinya mereka tetap tidak menemukan Bianca.“Vit, nona gak ditemukan dimana-mana ini..” ujar Windy panik.“Coba, kamu hubungi Bianca..”“Bagaimana bisa orang dengan keadaan seperti itu dapat mengangkat telepon?”“Haduhh coba saja, barangkali di angkat.” perintah Vito yang juga panik karena kehilangan b

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 17

    Di tengah kondisi Bianca yang tidak stabil, Bianca mendengar suara langkah kaki yang berat, dan ritmis yang terdengar seperti ingin mendekatinya. Bianca yang masih sedikit setengah sadar mencoba siaga dengan memegang pistol yang ada di balik dressnya.Langkah itu semakin dekat terdengar oleh Bianca, bukan suara langkah kaki seorang wanita, melainkan langkah pria yang penuh percaya diri. Dante yang mencoba mendatangi Bianca memastikan kamar mandi wanita itu kondisi sepi dan hanya terdapat Bianca disana, setelah memastikan kamar mandi sepi. Dante mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut satu persatu namun terlihat kosong ada satu kamar mandi paling ujung yang masih tertutup rapat.Setelah mencoba mendorong dengan pelan tetapi pintu tidak bisa terbuka, Dante yakin disana ada Bianca. Dante mencoba memanggil namanya “Bianca?,” panggil dante pelan. “Windy?” jawab Bianca terlihat melantur.Setelah Dante yakin dengan jawaban itu, dante mencoba membuka pintu kamar mandi itu secara pak

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 16

    Hari dimana pesta pun telah tiba, aula pesta itu terasa megah, namun bagi Dante tempat itu kini terasa seperti labirin yang menyesakkan. Cahaya lampu kristal yang memantul di gelas-gelas kristal membuatnya sulit untuk fokus terhadap pandangannya untuk mencari targetnya. Dari tempat sudut ruangan yang teduh, dia meminum whisky dengan tenang, sementara matanya tak lepas dari Mr. Moretti yang sedang tertawa lebar bersama klien-kliennya.Tangan Dante siap melancarkan tembakannya, dan berharap semua akan segera berakhir. Target sudah di depan matanya. Hanya beberapa langkah lagi.Namun, saat tepat tangannya ingin mengambil pistol yang terselip di balik jasnya, pandangannya teralihkan ke meja yang hanya berjarak beberapa meter dari target utamanya.Disana, Bianca terlihat sedang melangkah masuk dengan pakaiannya yang terlihat serasi, “Bodoh ! ” umpat Dante dalam Hati. “Mengapa mereka harus berada disana?” ujar dante dalam hati.Posisi Bianca dan Vito kini hanya berjarak beberapa meter d

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 15

    Sofia yang mengetahui bahwa Bianca dan Vito hanya bersandiwara menimbulkan rasa Amarah dan rasa penasaran yang menghantui Sofia yang seketika berubah menjadi senyuman kemenangan.Sofia yang sempat kalah dan tidak berdaya akibat telah dipermalukan Bianca di depan Dante, kini telah memegang kartu AS yang kuat untuk melawan Bianca.Sofia yang sedari tadi mendengarkan percakapan Bianca dan Vito diam diam mencoba mengendalikan dirinya, sofia mencengkeram tas tangannya hingga kuku jarinya memutih.Sebuah ide jahat mulai berkecambah di benaknya, jika yang barusan hanyalah hubungan sandiwara maka Sofia akan membongkar kebohongan itu di depan Dante. Sofia ingin Bianca di permalukan di depan Dante.“Baiklah Bianca, sekarang aku memegang kartu AS mu dan kita lihat sejauh mana kamu akan mempertahankan itu semua.” Setelah percakapan itu Sofia melihat Bianca dan Vito kembali dengan menggunakan kendaraan yang berbeda, Sofia yang juga sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan percakapan Bian

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 14

    Perkataan Mr. Cavallo bagaikan sebuah tamparan realitas Dante terdiam. Selama beberapa hari yang lalu fokusnya hanya tertuju pada Bianca, dimana hal itu membuatnya hampir melupakan misi utamanya yaitu membunuh ketua geng Moretti yang sudah direncanakan dengan teliti.Permainan emosi Dante dan Bianca kini mulai terasa seperti sebuah distraksi yang membahayakan Dante dalam melaksanakan misinya.Dante terlalu terobsesi dengan kehadiran Bianca, padahal diluar sana misinya menunggu untuk segera dibersihkan, sebuah misi yang tidak boleh gagal.Dante menghela nafas panjang, mencoba menekan gejolak amarahnya dan obsesinya terhadap Bianca dan mencoba kembali fokus pada misinya untuk menangkap ketua geng Moretti.Setelah membuka kembali ponsel yang telah dia genggang dan menghubungi kembali asistennya untuk mencari informasi mengenai Moretti.Dante pun kembali duduk tenang di kursi kulitnya sambil menunggu informasi mengenai Bianca dan laki-laki bersamanya, di tambah lagi informasi pentin

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 13

    Tanpa membuang waktu, Bianca meraih ponselnya di bawah meja dan mengirim pesan singkat pada seseorang. Tak sampai 5 menit kemudian, pintu kafe terbuka.Seorang pria yang berpenampilan menarik dengan setelan kasual yang rapi berjalan masuk, matanya langsung tertuju pada Bianca.Dante yang awalanya bersikap santai sambil mengamati perseteruan sepupu itu, tiba-tiba menegakkan tubuhnya melihat seorang pria yang mendekat kearah meja mereka.Dan tanpa ragu memeluk pinggang Bianca dari belakang. Bianca membalasnya dengan menarik pria itu ke arahnya, memberikan kecupan mesra di pipi, lalu menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu pria itu.“Maaf aku terlambat menjemputmu, sayang,” ujar suara pria itu dengan suara yang sengaja dibuat cukup keras untuk didengar Dante.“Tidak apa-apa,” jawab Bianca dengan nada bicara yang manis dan Bianca sengaja membelai tangan pria yang ada di sampingnya itu agar dapat dilihat oleh Dante.Wajah Dante yang tadinya penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi ki

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 6

    Bianca yang merasakan hal itu merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Langkah kakinya terpaku di atas lantai marmer. Udara di sekitar Bianca mendadak dipenuhi sebuah aroma yang spesifik. Campuran antara aroma kayu cedar yang pekat, tembakau mahal dan sedikit sentuhan citrus dingin.Itu bukan se

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 5

    Setelah kejadian itu Windy membawa Bianca kembali untuk mendapatkan pertolongan atas luka yang didapatnya, di rumah sakit pribadi pribadi miliki geng Moretti Bianca mendapatkan perawatan. Bianca yang telah banyak kehabisan darah akibat tembakan itu masih belum sadarkan diri, “Bianca??Bianca?? kemar

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 4

    Tepat pukul sembilan hari dimana pesta yang dinanti pun tiba, Bianca hadir dengan gaun merahnya yang indah dan topeng putih yang elegan. Musik Orkestra mulai mengalun lembut, namun tatap Bianca tidak lepas dari para tamu berharap segera menemukan orang yang ingin dia tangkap.“Apakah kau mend

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 3

    “Dorr!!..” Suara peluru melesat keluar meninggalkan laras tepat mengenai titik yang ditargetkan Bianca sedang melatih keahliannya dalam menembak, Bianca tidak gentar dengan terlatih Bianca memposisikan diri, mengatur keseimbangan, dan membidik. Bianca adalah anak tunggal dari keluarga Morett

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status