Share

BAB 4

Author: Itsuki Akari
last update publish date: 2026-06-01 12:10:19

Tepat pukul sembilan hari dimana pesta yang dinanti pun tiba, Bianca hadir dengan gaun merahnya yang indah dan topeng putih yang elegan. Musik Orkestra mulai mengalun lembut, namun tatap Bianca tidak lepas dari para tamu berharap segera menemukan orang yang ingin dia tangkap.

“Apakah kau mendeteksi pergerakan dari target kita?” bisik Bianca berbicara pada asistennya melalui handsfree yang ada di telinganya.

“Maaf nona, saya tidak dapat mendeteksi dengan jeli karena mereka semua hampir mengenakan topeng” Ucap Windy yang mulai panik.

“Sial !!!” ungkap Bianca kesal, “Nona ada cara menemukan target kita tersebut..”

“Bagaimana?! Cepat katakana..”

“Target kita memiliki tato teratai di belakang lehernya, Nona dapat menemukannya dengan melihat tanda tersebut..” Ungkap Windy memberikan informasi.

“Baiklah, aku akan mencarinya dan kau awasi terus para tamu yang datang..” Bianca pun memutuskan percakapannya dengan Windy.

Bianca pun mulai ke arah sekelilingnya dan melangkah dengan anggun dalam balutan gaun merah yang memeluk tubuhnya. Dibalik keindahan gaun yang dikenakan oleh Bianca, sebuah pistol tersembunyi dengan aman. Wajahnya yang tertutup dengan topeng putih yang tampak elegan, dapat menyembunyikan wajahnya yang cantik namun memiliki paras yang sedingin es.

Bianca mencoba berbaur sambil melihat sekitarnya, “Nona, Sepertinya target terdeteksi berada pada posisi jam 12..” Bisik suara handsfree yang ada di telinga Bianca. “Jas navy, dengan tato di leher bergambar teratai, namun berhati-hatilah dia tidak sendirian..” Bianca tersenyum tipis, ia mencoba berjalan senatural mungkin dengan mengambil segelas sampanye dari nampan pelayan yang dia lewati untuk sekedar sebagai aksesoris di tangannya, Bianca pun berjalan menuju targetnya hingga membelah kerumunan para elit yangs sedag berkumpul dengan relasi-relasi mereka.

Bianca sudah mulai meraba pistol di balik gaun merahnya, Bersiap mendekati target. Namun sayang belum sempat mendekat suara rentetan tembakan bersenjata otomatis memecah malam.

“RATATATATATA…!!!!”

Kaca-kaca jendela hancur berkeping-keping terkena senjata tersebut. Jeritan histeris para tamu pesta menggema mereka lari berhamburan tanpa arah, sekelompok pria dengan wajah tertutup topi sebo gerombolan bersenjata itu mulai masuk. Menembak secara membabi buta tampaknya bukan hanya Bianca yang ingin mengacaukan pesta dengan menangkap Dante. Ada faksi mafia lain yang datang mengacau untuk mendapatkan sesuatu yang mereka incar.

Suara baku tembak terus terdengar, “Nona..nona…” Windy yang dari kejauhan mencoba menghubungi Bianca namun bianca terfokus pada targetnya walau keadaan sedang kacau. Bianca semakin terpisah jauh dari jalur evakuasi, dia tidak memperdulikan itu dia terus berjalan mencari targetnya.

“Dorrr..!!”

Sialnya, salah satu peluru menyerempet pada paha kirinya, dengan sangat sigap dia merobek gaun merah yang dia kenakan lalu membalutkannya pada pahanya yang terluka, namun sayang darah di pahanya kirinya terlalu banyak mengeluarkan darah. Bianca mulai kehilangan keseimbangan, Bianca ambruk di balik meja perjamuan yang terbalik.

Bianca mencoba menghubungi Windy kembali “Sial !!”

“Hallo, nona… nona anda tidak ap?”

“Kakiku tertembak cepat kemari, aku ada di area meja jamuan makan di ballroom..” sambil menahan sakitnya Bianca mencoba menghubungi asistennya tersebut.

“Baik nona, bertahanlah..” asisten Bianca memberi instruksi pada anggota geng untuk menolong Bianca.

Bianca yang mulai kehilangan pandangannya samar-samar dia melihat dari cela meja, dua orang saling menyerang bergerak ke arah posisinya. Bianca mulai mengangkat pistol yang sedari tadi sudah dipegangnya namun gerakannya mulai melambat karena darah pada lukanya mengalir cukup deras hingga membuatnya makin melemah.

“Sial, mungkin ini adalah cara terbaik untukku mati..” bisiknya dalam hati, dimana Bianca bersiap kemungkinan buruk yang terjadi padanya.

Tepat ketika tubuh Bianca makin melemah, salah satu penyerang mengarahkan moncong senjatanya ke arah Bianca, namun dengan pandangan samarnya Bianca melihat sebuah bayangan sosok lelaki yang melompat dari kegelapan.

“Dorr..!!Dorrr..!!”

Dua tembakan tersebut tersebut tepat mengenai dada kedua orang penyerang tersebut, hingga akhirnya membuat mereka tumbang seketika. Bianca berusaha melihat orang yang mencoba menolongnya tersebut namun bianca sudah tidak mampu untuk membuka matanya lebar-lebar. Pria itu memegang pistol SIG Sauer dengan sangat tenang tanda bahwa dia adalah seorang pembunuh profesional.

“Nona, bisakah kau berdiri?” tanya pria itu pada Bianca. Suaranya tampak samar namun berat Bianca yang mendengarkan pertanyaan itu sudah tidak mampu untuk menjawab dia hanya meringis kesakitan dan mencoba menahan lukanya agar tidak terlalu banyak mengeluarkan darah.

Tanpa sepatah kata pun, pria itu menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung Bianca, mencoba mengangkat Bianca dalam gendongan bridal style. Di tengah hujan peluru dan baku tembak pria itu bergerak dengan tangkas. Dia menembak dua penyerang lagi dengan tangan kirinya sambil mendekap Bianca sambil melindunginya.

Pria itu membawa Valerie menuruni tangga darurat yang sepi, melalui jalur belakang gedung pesta dan langsung mengarah menuju area parkir bawah tanah. Di tengah perjalanan pria itu menyelamatkan Bianca seseorang mencoba memanggil

“Nona, Nona…” Windy yang tau tuannya sedang dibawa oleh orang asing mencoba menghampiri.

Pria itu tau bahwa dia adalah orang dari wanita yang dia selamatkan. Segera menyerahkan wanita dalam dekapannya itu. Dia meletakan Bianca secara perlahan di sebuah lantai.

“Terima kasih tuan..” Ungkap Windy kepada pria yang telah menolong tuannya tersebut. Pria itu tidak mengatakan sepatah kata pun berbalik arah dan segera meninggalkan wanita tersebut, bianca yang masih melihat sosok pria itu menyadari satu hal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 18

    Disisi lain Vito yang semakin panik kembali bersama Windy ke kamar mandi tempat dimana Bianca menunggunya, namun setelah sampai di kamar mandi Windy yang masuk kamar mandi mengatakan tidak ada siapa pun di dalam kamar mandi tersebut.“Vito, kamu mempermainkanku ya? disini tidak ada nona Bianca.”“Hah?! Jangan bercanda, dia yang menyuruhku membawamu ke kamar mandi ini.”“Jangan bilang kamu salah kamar mandi..”“Tidak Win, ini kamar mandi yang bener, tadi Bianca ada di kamar mandi ini.”“Yaudah coba kita cari kamar mandi yang lain..”Windy dan Vito pun mulai panik mencari Bianca, karena Bianca tiba-tiba menghilang entah kemana. Setelah berkeliling di setiap koridor yang terdapat kamar mandinya mereka tetap tidak menemukan Bianca.“Vit, nona gak ditemukan dimana-mana ini..” ujar Windy panik.“Coba, kamu hubungi Bianca..”“Bagaimana bisa orang dengan keadaan seperti itu dapat mengangkat telepon?”“Haduhh coba saja, barangkali di angkat.” perintah Vito yang juga panik karena kehilangan b

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 17

    Di tengah kondisi Bianca yang tidak stabil, Bianca mendengar suara langkah kaki yang berat, dan ritmis yang terdengar seperti ingin mendekatinya. Bianca yang masih sedikit setengah sadar mencoba siaga dengan memegang pistol yang ada di balik dressnya.Langkah itu semakin dekat terdengar oleh Bianca, bukan suara langkah kaki seorang wanita, melainkan langkah pria yang penuh percaya diri. Dante yang mencoba mendatangi Bianca memastikan kamar mandi wanita itu kondisi sepi dan hanya terdapat Bianca disana, setelah memastikan kamar mandi sepi. Dante mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut satu persatu namun terlihat kosong ada satu kamar mandi paling ujung yang masih tertutup rapat.Setelah mencoba mendorong dengan pelan tetapi pintu tidak bisa terbuka, Dante yakin disana ada Bianca. Dante mencoba memanggil namanya “Bianca?,” panggil dante pelan. “Windy?” jawab Bianca terlihat melantur.Setelah Dante yakin dengan jawaban itu, dante mencoba membuka pintu kamar mandi itu secara pak

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 16

    Hari dimana pesta pun telah tiba, aula pesta itu terasa megah, namun bagi Dante tempat itu kini terasa seperti labirin yang menyesakkan. Cahaya lampu kristal yang memantul di gelas-gelas kristal membuatnya sulit untuk fokus terhadap pandangannya untuk mencari targetnya. Dari tempat sudut ruangan yang teduh, dia meminum whisky dengan tenang, sementara matanya tak lepas dari Mr. Moretti yang sedang tertawa lebar bersama klien-kliennya.Tangan Dante siap melancarkan tembakannya, dan berharap semua akan segera berakhir. Target sudah di depan matanya. Hanya beberapa langkah lagi.Namun, saat tepat tangannya ingin mengambil pistol yang terselip di balik jasnya, pandangannya teralihkan ke meja yang hanya berjarak beberapa meter dari target utamanya.Disana, Bianca terlihat sedang melangkah masuk dengan pakaiannya yang terlihat serasi, “Bodoh ! ” umpat Dante dalam Hati. “Mengapa mereka harus berada disana?” ujar dante dalam hati.Posisi Bianca dan Vito kini hanya berjarak beberapa meter d

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 15

    Sofia yang mengetahui bahwa Bianca dan Vito hanya bersandiwara menimbulkan rasa Amarah dan rasa penasaran yang menghantui Sofia yang seketika berubah menjadi senyuman kemenangan.Sofia yang sempat kalah dan tidak berdaya akibat telah dipermalukan Bianca di depan Dante, kini telah memegang kartu AS yang kuat untuk melawan Bianca.Sofia yang sedari tadi mendengarkan percakapan Bianca dan Vito diam diam mencoba mengendalikan dirinya, sofia mencengkeram tas tangannya hingga kuku jarinya memutih.Sebuah ide jahat mulai berkecambah di benaknya, jika yang barusan hanyalah hubungan sandiwara maka Sofia akan membongkar kebohongan itu di depan Dante. Sofia ingin Bianca di permalukan di depan Dante.“Baiklah Bianca, sekarang aku memegang kartu AS mu dan kita lihat sejauh mana kamu akan mempertahankan itu semua.” Setelah percakapan itu Sofia melihat Bianca dan Vito kembali dengan menggunakan kendaraan yang berbeda, Sofia yang juga sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan percakapan Bian

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 14

    Perkataan Mr. Cavallo bagaikan sebuah tamparan realitas Dante terdiam. Selama beberapa hari yang lalu fokusnya hanya tertuju pada Bianca, dimana hal itu membuatnya hampir melupakan misi utamanya yaitu membunuh ketua geng Moretti yang sudah direncanakan dengan teliti.Permainan emosi Dante dan Bianca kini mulai terasa seperti sebuah distraksi yang membahayakan Dante dalam melaksanakan misinya.Dante terlalu terobsesi dengan kehadiran Bianca, padahal diluar sana misinya menunggu untuk segera dibersihkan, sebuah misi yang tidak boleh gagal.Dante menghela nafas panjang, mencoba menekan gejolak amarahnya dan obsesinya terhadap Bianca dan mencoba kembali fokus pada misinya untuk menangkap ketua geng Moretti.Setelah membuka kembali ponsel yang telah dia genggang dan menghubungi kembali asistennya untuk mencari informasi mengenai Moretti.Dante pun kembali duduk tenang di kursi kulitnya sambil menunggu informasi mengenai Bianca dan laki-laki bersamanya, di tambah lagi informasi pentin

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 13

    Tanpa membuang waktu, Bianca meraih ponselnya di bawah meja dan mengirim pesan singkat pada seseorang. Tak sampai 5 menit kemudian, pintu kafe terbuka.Seorang pria yang berpenampilan menarik dengan setelan kasual yang rapi berjalan masuk, matanya langsung tertuju pada Bianca.Dante yang awalanya bersikap santai sambil mengamati perseteruan sepupu itu, tiba-tiba menegakkan tubuhnya melihat seorang pria yang mendekat kearah meja mereka.Dan tanpa ragu memeluk pinggang Bianca dari belakang. Bianca membalasnya dengan menarik pria itu ke arahnya, memberikan kecupan mesra di pipi, lalu menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu pria itu.“Maaf aku terlambat menjemputmu, sayang,” ujar suara pria itu dengan suara yang sengaja dibuat cukup keras untuk didengar Dante.“Tidak apa-apa,” jawab Bianca dengan nada bicara yang manis dan Bianca sengaja membelai tangan pria yang ada di sampingnya itu agar dapat dilihat oleh Dante.Wajah Dante yang tadinya penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi ki

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 5

    Setelah kejadian itu Windy membawa Bianca kembali untuk mendapatkan pertolongan atas luka yang didapatnya, di rumah sakit pribadi pribadi miliki geng Moretti Bianca mendapatkan perawatan. Bianca yang telah banyak kehabisan darah akibat tembakan itu masih belum sadarkan diri, “Bianca??Bianca?? kemar

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 3

    “Dorr!!..” Suara peluru melesat keluar meninggalkan laras tepat mengenai titik yang ditargetkan Bianca sedang melatih keahliannya dalam menembak, Bianca tidak gentar dengan terlatih Bianca memposisikan diri, mengatur keseimbangan, dan membidik. Bianca adalah anak tunggal dari keluarga Morett

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 2

    Di malam sebelum terjadinya kebakaran gudang di Distrik 4 wilayah kekuasaan Moretti. “Malam ini kamu memiliki tugas untuk menyelidiki distrik 4, kita akan harus memperluas kekuasaan kita” Ujar Mr. Cavallo pada Dante. Dante pun yang telah ditugaskan sang ayah langsung melaksanakan tugasnya dan

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 1

    Malam itu di Gudang daerah distrik 4 yang bertempat di Jakarta mengalami kebakaran hebat, dalam sekejap gudang tersebut berubah menjadi lautan api. Gudang itu berisi senjata-senjata milik geng mafia Moretti yang telah banyak di pesan para pejabat elit. Bianca yang telah sampai di lokasi melih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status