แชร์

BAB 6

ผู้เขียน: Itsuki Akari
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-01 12:12:14

Bianca yang merasakan hal itu merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Langkah kakinya terpaku di atas lantai marmer. Udara di sekitar Bianca mendadak dipenuhi sebuah aroma yang spesifik. Campuran antara aroma kayu cedar yang pekat, tembakau mahal dan sedikit sentuhan citrus dingin.

Itu bukan sekedar parfum biasa. itu adalah aroma yang sama persis dengan dihirup Bianca saat kesadarannya hampir hilang di malam pesta topeng tersebut. Aroma tubuh pria yang telah memeluknya erat, melindunginya dari kobaran api, dan menggendongnya keluar hidup-hidup. Disisi lain Bianca juga tersadar bahwa wajah pria tersebut mirip dengan target yang sedang dia cari.

Bianca membalikkan badannya dengan cepat. Matanya menyisir koridor galeri yang agak lenggang. Di ujung lorong tampak punggung seorang pria tegap berambut pangkas rapi, mengenakan mantel parit (trench coat) berwarna hitam, sedang berjalan santai mengelilingi setiap sudut pameran.

Pencarian yang berbulan-bulan yang menguras energi dan air mata ternyata kalah oleh indra penciumannya yang menolak lupa aroma pria yang telah menolongnya. Tanpa memperdulikan rasa nyeri yang terkadang masih menyerang pahanya, Bianca mencoba melangkah lebar, lalu setengah berlari mengejar pria itu. Kali ini, Bianca tidak akan membiarkan targetnya lolos lagi.

Lampu kristal di gedung pameran seni kontemporer itu berpendar dingin, memantulkan bayangan Bianca di antara deretan lukisan abstrak yang dilihatnya. Fokusnya hanya pria yang berdiri tiga meter di depannya. Dante, Target yang sudah dia intai selama dua bulan terakhir.

Bianca menyesap minuman sparkling water di tangannya, berusaha berjalan senatural mungkin. Di dalam pikirannya telah menyusun strategi Bianca akan berbasa-basi membahas tentang lukisan yang kini mereka lihat. Bianca butuh celah untuk memancing Dante ke dalam percakapan, lalu menjebaknya dalam detail-detail kecil yang akan membongkar rahasia pria itu.

“Teknik sapuan kuasnya sangat agresif, bukan?” suara Bianca terdengar lembut namun percaya diri saat dia melangkah di samping Dante.

Dante mulai menyadari kehadiran Bianca, Dante menoleh. Matanya menyipit tajam dan dingin. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Bianca, melainkan memperhatikan Bianca dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan yang membuat bulu kuduk Bianca meremang.

“Sepertinya nona sudah cukup lama mengamati saya,” ujar Dante. Suaranya rendah tanpa basi-basi.

Jantung Bianca berdegup cukup kencang, namun dia tetap berusaha untuk tenang dan mencoba mengendalikan dirinya. “Hanya kebetulan. Pameran ini memang menarik perhatian banyak orang.”

“Begitukah?” Dante melangkah mendekat, masuk ke ruangan pribadi Bianca. Dante tidak merasa terintimidasi oleh taktik Bianca, justru Dante terlihat seperti predator yang sedang mengamati mangsa yang salah arah. “Sepertinya.. saya mengenal anda nona, apakah anda adalah nona yang ada di pesta topeng?”

Dunia Bianca rasanya seakan berhenti berputar.

Tiba-tiba pikiran Bianca teringat akan kejadian saat di pesta topeng tersebut, saat dimana Bianca hampir mati tertembak namun tertolong oleh seorang pria yang kini ada di depannya.

“Anda…” suara Bianca tercekat, dan tidak percaya bahwa pria tersebut masih mengenalinya walau dia menggunakan topen waktu itu.

Dante tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak pernah mencapai matanya. “Saya cukup tau hanya dengan parfum yang anda gunakan dan tahi lalat seperti gigitan ular yang ada di pergelangan tangan anda. Terutama saat saya melihat dan menggendong anda untuk segera keluar dari gedung tersebut.”

Bianca yang mendengarkan itu merasa sedikit panik jika penyamarannya dan rencananya untuk mendekati pria itu terbongkar. Kini Dante merendahkan suaranya, hampir berbisik tepat di samping telinga Bianca, “Apakah nona mencoba merayuku? Atau mungkin ada maksud lain untuk berterima kasih atau ada hal sesuatu yang nona inginkan dariku?”

Bianca membeku. Rencananya hampir benar-benar terbongkar gestur tubuhnya tidak bisa terkendali untuk menutupi semua rencananya. Di tengah pameran yang ramai, dia sadar bahwa dia bukan lagi pemburu, melainkan target yang sedang di pojokkan.

Bianca yang takut kehilangan targetnya tersebut mencoba menarik nafas dalam-dalam, memaksakan tawa kecil yang terdengar elegan meski hatinya berdegup kencang karena perkataan Dante yang soal tahu apa rencananya. Bianca tidak bisa mundur sekarang.

Jika dia ingin lebih dekat dengan Dante makan dia mengubah posisi menyerang menjadi bertahan dengan cara dari “pengintai” menjadi “teman yang kebetulan memiliki hutang budi.”

“Dunia memang sempit,” ujar Bianca, sembari memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Dante, memberikan tatapan yang paling meyakinkan dan hangat yang bisa Bianca buat untuk meyakinkan targetnya. “Jujur, aku beberapa hari ini mencarimu. Karena kejadian pada malam itu aku yang hampir saja mati masih terselamatkan olehmu, aku ingin benar-benar berterima kasih karena sudah menyelamatkan nyawaku.”

Dante menatap Bianca dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah seringai tipis tersungging di bibirnya. Sebagai pria yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang kekuasaan dan ancaman, Dante tahu persis bagaimana cara untuk memanfaatkan setiap celah termasuk dengan kata-kata yang disampaikan oleh wanita yang kini ada di hadapannya.

Tatapan Dante yang terlihat bengis itu mulai perlahan menyusuri garis leher bianca hingga ke lekuk tubuh yang tersembunyi di balik busananya. Dante yang sudah mulai merasa risih sambil mengepalkan tangannya ingin rasanya memukul wajah licik pria yang ada di depannya itu.

Tanpa Bianca sadari, Dante mulai mendekatkan wajahnya ke telinga Bianca, nafasnya terasa hangat dan mengancam cukup untuk mengirimkan getaran tak terduga keseluruh tubuh Bianca. “Bagaimana kalau kita…”

Brrrtt…Brrrtt !!

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 18

    Disisi lain Vito yang semakin panik kembali bersama Windy ke kamar mandi tempat dimana Bianca menunggunya, namun setelah sampai di kamar mandi Windy yang masuk kamar mandi mengatakan tidak ada siapa pun di dalam kamar mandi tersebut.“Vito, kamu mempermainkanku ya? disini tidak ada nona Bianca.”“Hah?! Jangan bercanda, dia yang menyuruhku membawamu ke kamar mandi ini.”“Jangan bilang kamu salah kamar mandi..”“Tidak Win, ini kamar mandi yang bener, tadi Bianca ada di kamar mandi ini.”“Yaudah coba kita cari kamar mandi yang lain..”Windy dan Vito pun mulai panik mencari Bianca, karena Bianca tiba-tiba menghilang entah kemana. Setelah berkeliling di setiap koridor yang terdapat kamar mandinya mereka tetap tidak menemukan Bianca.“Vit, nona gak ditemukan dimana-mana ini..” ujar Windy panik.“Coba, kamu hubungi Bianca..”“Bagaimana bisa orang dengan keadaan seperti itu dapat mengangkat telepon?”“Haduhh coba saja, barangkali di angkat.” perintah Vito yang juga panik karena kehilangan b

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 17

    Di tengah kondisi Bianca yang tidak stabil, Bianca mendengar suara langkah kaki yang berat, dan ritmis yang terdengar seperti ingin mendekatinya. Bianca yang masih sedikit setengah sadar mencoba siaga dengan memegang pistol yang ada di balik dressnya.Langkah itu semakin dekat terdengar oleh Bianca, bukan suara langkah kaki seorang wanita, melainkan langkah pria yang penuh percaya diri. Dante yang mencoba mendatangi Bianca memastikan kamar mandi wanita itu kondisi sepi dan hanya terdapat Bianca disana, setelah memastikan kamar mandi sepi. Dante mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut satu persatu namun terlihat kosong ada satu kamar mandi paling ujung yang masih tertutup rapat.Setelah mencoba mendorong dengan pelan tetapi pintu tidak bisa terbuka, Dante yakin disana ada Bianca. Dante mencoba memanggil namanya “Bianca?,” panggil dante pelan. “Windy?” jawab Bianca terlihat melantur.Setelah Dante yakin dengan jawaban itu, dante mencoba membuka pintu kamar mandi itu secara pak

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 16

    Hari dimana pesta pun telah tiba, aula pesta itu terasa megah, namun bagi Dante tempat itu kini terasa seperti labirin yang menyesakkan. Cahaya lampu kristal yang memantul di gelas-gelas kristal membuatnya sulit untuk fokus terhadap pandangannya untuk mencari targetnya. Dari tempat sudut ruangan yang teduh, dia meminum whisky dengan tenang, sementara matanya tak lepas dari Mr. Moretti yang sedang tertawa lebar bersama klien-kliennya.Tangan Dante siap melancarkan tembakannya, dan berharap semua akan segera berakhir. Target sudah di depan matanya. Hanya beberapa langkah lagi.Namun, saat tepat tangannya ingin mengambil pistol yang terselip di balik jasnya, pandangannya teralihkan ke meja yang hanya berjarak beberapa meter dari target utamanya.Disana, Bianca terlihat sedang melangkah masuk dengan pakaiannya yang terlihat serasi, “Bodoh ! ” umpat Dante dalam Hati. “Mengapa mereka harus berada disana?” ujar dante dalam hati.Posisi Bianca dan Vito kini hanya berjarak beberapa meter d

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 15

    Sofia yang mengetahui bahwa Bianca dan Vito hanya bersandiwara menimbulkan rasa Amarah dan rasa penasaran yang menghantui Sofia yang seketika berubah menjadi senyuman kemenangan.Sofia yang sempat kalah dan tidak berdaya akibat telah dipermalukan Bianca di depan Dante, kini telah memegang kartu AS yang kuat untuk melawan Bianca.Sofia yang sedari tadi mendengarkan percakapan Bianca dan Vito diam diam mencoba mengendalikan dirinya, sofia mencengkeram tas tangannya hingga kuku jarinya memutih.Sebuah ide jahat mulai berkecambah di benaknya, jika yang barusan hanyalah hubungan sandiwara maka Sofia akan membongkar kebohongan itu di depan Dante. Sofia ingin Bianca di permalukan di depan Dante.“Baiklah Bianca, sekarang aku memegang kartu AS mu dan kita lihat sejauh mana kamu akan mempertahankan itu semua.” Setelah percakapan itu Sofia melihat Bianca dan Vito kembali dengan menggunakan kendaraan yang berbeda, Sofia yang juga sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan percakapan Bian

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 14

    Perkataan Mr. Cavallo bagaikan sebuah tamparan realitas Dante terdiam. Selama beberapa hari yang lalu fokusnya hanya tertuju pada Bianca, dimana hal itu membuatnya hampir melupakan misi utamanya yaitu membunuh ketua geng Moretti yang sudah direncanakan dengan teliti.Permainan emosi Dante dan Bianca kini mulai terasa seperti sebuah distraksi yang membahayakan Dante dalam melaksanakan misinya.Dante terlalu terobsesi dengan kehadiran Bianca, padahal diluar sana misinya menunggu untuk segera dibersihkan, sebuah misi yang tidak boleh gagal.Dante menghela nafas panjang, mencoba menekan gejolak amarahnya dan obsesinya terhadap Bianca dan mencoba kembali fokus pada misinya untuk menangkap ketua geng Moretti.Setelah membuka kembali ponsel yang telah dia genggang dan menghubungi kembali asistennya untuk mencari informasi mengenai Moretti.Dante pun kembali duduk tenang di kursi kulitnya sambil menunggu informasi mengenai Bianca dan laki-laki bersamanya, di tambah lagi informasi pentin

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 13

    Tanpa membuang waktu, Bianca meraih ponselnya di bawah meja dan mengirim pesan singkat pada seseorang. Tak sampai 5 menit kemudian, pintu kafe terbuka.Seorang pria yang berpenampilan menarik dengan setelan kasual yang rapi berjalan masuk, matanya langsung tertuju pada Bianca.Dante yang awalanya bersikap santai sambil mengamati perseteruan sepupu itu, tiba-tiba menegakkan tubuhnya melihat seorang pria yang mendekat kearah meja mereka.Dan tanpa ragu memeluk pinggang Bianca dari belakang. Bianca membalasnya dengan menarik pria itu ke arahnya, memberikan kecupan mesra di pipi, lalu menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu pria itu.“Maaf aku terlambat menjemputmu, sayang,” ujar suara pria itu dengan suara yang sengaja dibuat cukup keras untuk didengar Dante.“Tidak apa-apa,” jawab Bianca dengan nada bicara yang manis dan Bianca sengaja membelai tangan pria yang ada di sampingnya itu agar dapat dilihat oleh Dante.Wajah Dante yang tadinya penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi ki

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 4

    Tepat pukul sembilan hari dimana pesta yang dinanti pun tiba, Bianca hadir dengan gaun merahnya yang indah dan topeng putih yang elegan. Musik Orkestra mulai mengalun lembut, namun tatap Bianca tidak lepas dari para tamu berharap segera menemukan orang yang ingin dia tangkap.“Apakah kau mend

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 3

    “Dorr!!..” Suara peluru melesat keluar meninggalkan laras tepat mengenai titik yang ditargetkan Bianca sedang melatih keahliannya dalam menembak, Bianca tidak gentar dengan terlatih Bianca memposisikan diri, mengatur keseimbangan, dan membidik. Bianca adalah anak tunggal dari keluarga Morett

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 5

    Setelah kejadian itu Windy membawa Bianca kembali untuk mendapatkan pertolongan atas luka yang didapatnya, di rumah sakit pribadi pribadi miliki geng Moretti Bianca mendapatkan perawatan. Bianca yang telah banyak kehabisan darah akibat tembakan itu masih belum sadarkan diri, “Bianca??Bianca?? kemar

  • Gelora Mafia, Cinta di Bayang-Bayang Peluru   BAB 1

    Malam itu di Gudang daerah distrik 4 yang bertempat di Jakarta mengalami kebakaran hebat, dalam sekejap gudang tersebut berubah menjadi lautan api. Gudang itu berisi senjata-senjata milik geng mafia Moretti yang telah banyak di pesan para pejabat elit. Bianca yang telah sampai di lokasi melih

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status