LOGIN“Dorr!!..”
Suara peluru melesat keluar meninggalkan laras tepat mengenai titik yang ditargetkan Bianca sedang melatih keahliannya dalam menembak, Bianca tidak gentar dengan terlatih Bianca memposisikan diri, mengatur keseimbangan, dan membidik. Bianca adalah anak tunggal dari keluarga Moretti dari kecil Bianca dilatih agar menjadi wanita tangguh dan kuat karena dia adalah pewaris dari keluarga Moretti. “Maaf nona” tiba-tiba seorang informan membuyarkan konsentrasi menembak Bianca. Membuat Bianca menghentikan kegiatan menembaknya dan segera meletakkan pistolnya di meja yang ada di samping dia berdiri dan melihat ke arah sang informan , “Ada apa? Apa kau sudah menemukan informasi yang aku minta?” Ucap Bianca tegas dan penasaran. “Tentu saja nona, ini dokumen informasi yang ada minta..” sang informan pun memberikan dokumen yang diminta oleh Bianca. Dengan senyum sinisnya “Hmm.. menarik.., baiklah segera kau kembali dan berikan informasi lebih lanjut” Bianca pun menyuruh sang informan untuk kembali mencari informasi lebih lanjut. “Windy, tolong daftarkan namaku untuk hadir ke acara ini.. dan jangan tambahkan nama Moretti untukku..” Bianca menyerahkan dokumen yang dia pegang dan mengintruksi Windy asisten pribadinya untuk mengatur rencana. Bianca pun melakukan persiapan untuk undangan pesta topeng tersebut, dengan wajahnya yang cantik tidak butuh waktu lama untuk dirinya menyesuaikan baju apa yang akan digunakan. Bianca selalu melakukan tugasnya dengan cara menghasut dan merayu mangsanya hingga akhirnya dia disebut wanita mawar, cantik namun penuh duri. Pesta ini adalah pesta dimana para petinggi daerah berkumpul dan banyak mafia-mafia yang mengambil kesempatan ini untuk mencari klien, namun tidak dengan Bianca yang memiliki misi lain yaitu menemukan Dante Cavallo dan membawanya ke hadapan sang ayah. Bianca tidak tahu pasti apa yang membuat ayahnya tampak membenci keluarga Cavallo, menurut Bianca kebencian ayahnya tersebut tidak serta merta hanya perkara gedung yang terbakar namun lebih dari itu. “Nona, kau tampak cantik..” ungkap seorang asisten yang cukup tua sedang membantunya merapikan gaun yang telah digunakan Bianca. “Kecantikan gaun ini mungkin akan membuat seseorang mati terbunuh..” “Kau sungguh mirip dengan ibumu..” “Apakah ibu juga pernah membunuh seseorang??” Asisten tua tersebut hanya menjawab dengan sebuah gelengan kepala, “Berarti aku tidak mirip dengan ibuku..” Bianca yang sedari kecil kehilangan sosok seorang ibu merasa tidak pernah mendapatkan rasa feminim dalam dirinya, Bianca gadis kecil yang tumbuh hanya dengan sosok ayah menjadi wanita tangguh yang harus bisa melindungi dirinya sendiri. Tidak ada pernah ada satu orang laki-laki yang berani mendekatinya, dimana itu makin membuat Bianca merasa dia mampu menghadapi apa yang ada di hadapannya tanpa sedikitpun menampakan diri yang terlihat lemah yang ada hanyalah Bianca Moretti si wanita mawar. Cermin besar di ruang ganti tersebut bukan hanya sekedar kaca, Bagi Bianca itu adalah alat pengadilan yang terlihat di pantulan kaca tersebut bukanlah seorang wanita cantik dengan gaun yang Bianca kenakan, yang Bianca lihat adalah seorang eksekutor. Bianca menyentuh lehernya, memastikan kalung berlian yang dia kenakan telah menutupi luka kecil yang ada di lehernya. namun dibalik keanggunan itu, akan terselip sebuah holster (sarung senjata) yang khusus dibuat rapi yang nantinya akan di gunakan di paha kanannya, Bianca sudah biasa menahan beban sebuah pistol kaliber kecil yang di modifikasi agar tidak terdeteksi oleh pemindai logam. Bianca yang sudah merasa pas dan puas dengan baju yang telah dia coba kenakan, memberi tahu pada asistennya untuk mempersiapkan baju tersebut untuk pesta topeng besok malam. “Tolong siapkan gaun yang ini dan topeng yang simpel namun elegan..” Bianca memberikan baju yang telah dia lepas kepada asisten tua tersebut. Tak lupa Bianca menyiapkan pistol yang nantinya akan dia sembunyikan di balik gaunnya yang berguna untuk membunuh targetnya **** Disisi lain Dante telah mendapatkan informasi dari asistennya Luca, “Tuan Dante..” suara tersebut membuyarkan pikiran seorang pria dingin tersebut, Dante pun segera menghentikan kegiatannya dan segera mematikan puntung rokok yang telah ia hisap kedalam asbak yang ada di sampingnya. Dante pun mengarahkan pandangannya yang tajam dan dingin kepada asistennya. Meletakan sebuah undangan “Tuan, Boss meminta anda untuk datang ke acara tersebut..” Dante pun segera membuka surat tersebut. “Boss berkata, kemungkinan yang kita incar ada disana..” Dante yang mendengarkan hal tersebut meletakan kembali undangan yang ia baca sambil sedikit tersenyum dingin. “Baiklah, kita siapkan untuk acara ini agar lebih menarik dan meriah..” Ujar Dante licik. Dante yang sedari tadi duduk di kursinya tersebut tiba-tiba bangkit lalu berdiri didepan cermin setinggi langit-langit, dia menatap pantulan dirinya. Bagi dunia mafia dia adalah bayangan yang tidak pernah luput dari sasaran. “Luca, tolong siapkan Baju hingga senjata terbaik yang bisa aku bawa..” Lanjut Dante memberikan instruksi pada Luca asistennya. “Baik Tuan..” Asisten Dante pun segera pergi meninggalkan Dante sendiri di dalam ruangan pribadinya. Ia pun kembali memainkan pemantik apinya yang berbahan logam tersebut “Moretti..” ucap lirih dan senyum sinis tidak sabar membunuh targetnya tersebut. Bagi Dante acar besok malam adalah acara malam yang sangat krusial baginya, Seorang yang dia incar dikabarkan akan hadir ke acara pesta topeng tersebut. lokasinya berada di gedung The Obsidian Tower. Dante berniat datang ke pesta tersebut untuk membunuh target yang diincar.Disisi lain Vito yang semakin panik kembali bersama Windy ke kamar mandi tempat dimana Bianca menunggunya, namun setelah sampai di kamar mandi Windy yang masuk kamar mandi mengatakan tidak ada siapa pun di dalam kamar mandi tersebut.“Vito, kamu mempermainkanku ya? disini tidak ada nona Bianca.”“Hah?! Jangan bercanda, dia yang menyuruhku membawamu ke kamar mandi ini.”“Jangan bilang kamu salah kamar mandi..”“Tidak Win, ini kamar mandi yang bener, tadi Bianca ada di kamar mandi ini.”“Yaudah coba kita cari kamar mandi yang lain..”Windy dan Vito pun mulai panik mencari Bianca, karena Bianca tiba-tiba menghilang entah kemana. Setelah berkeliling di setiap koridor yang terdapat kamar mandinya mereka tetap tidak menemukan Bianca.“Vit, nona gak ditemukan dimana-mana ini..” ujar Windy panik.“Coba, kamu hubungi Bianca..”“Bagaimana bisa orang dengan keadaan seperti itu dapat mengangkat telepon?”“Haduhh coba saja, barangkali di angkat.” perintah Vito yang juga panik karena kehilangan b
Di tengah kondisi Bianca yang tidak stabil, Bianca mendengar suara langkah kaki yang berat, dan ritmis yang terdengar seperti ingin mendekatinya. Bianca yang masih sedikit setengah sadar mencoba siaga dengan memegang pistol yang ada di balik dressnya.Langkah itu semakin dekat terdengar oleh Bianca, bukan suara langkah kaki seorang wanita, melainkan langkah pria yang penuh percaya diri. Dante yang mencoba mendatangi Bianca memastikan kamar mandi wanita itu kondisi sepi dan hanya terdapat Bianca disana, setelah memastikan kamar mandi sepi. Dante mencoba membuka pintu kamar mandi tersebut satu persatu namun terlihat kosong ada satu kamar mandi paling ujung yang masih tertutup rapat.Setelah mencoba mendorong dengan pelan tetapi pintu tidak bisa terbuka, Dante yakin disana ada Bianca. Dante mencoba memanggil namanya “Bianca?,” panggil dante pelan. “Windy?” jawab Bianca terlihat melantur.Setelah Dante yakin dengan jawaban itu, dante mencoba membuka pintu kamar mandi itu secara pak
Hari dimana pesta pun telah tiba, aula pesta itu terasa megah, namun bagi Dante tempat itu kini terasa seperti labirin yang menyesakkan. Cahaya lampu kristal yang memantul di gelas-gelas kristal membuatnya sulit untuk fokus terhadap pandangannya untuk mencari targetnya. Dari tempat sudut ruangan yang teduh, dia meminum whisky dengan tenang, sementara matanya tak lepas dari Mr. Moretti yang sedang tertawa lebar bersama klien-kliennya.Tangan Dante siap melancarkan tembakannya, dan berharap semua akan segera berakhir. Target sudah di depan matanya. Hanya beberapa langkah lagi.Namun, saat tepat tangannya ingin mengambil pistol yang terselip di balik jasnya, pandangannya teralihkan ke meja yang hanya berjarak beberapa meter dari target utamanya.Disana, Bianca terlihat sedang melangkah masuk dengan pakaiannya yang terlihat serasi, “Bodoh ! ” umpat Dante dalam Hati. “Mengapa mereka harus berada disana?” ujar dante dalam hati.Posisi Bianca dan Vito kini hanya berjarak beberapa meter d
Sofia yang mengetahui bahwa Bianca dan Vito hanya bersandiwara menimbulkan rasa Amarah dan rasa penasaran yang menghantui Sofia yang seketika berubah menjadi senyuman kemenangan.Sofia yang sempat kalah dan tidak berdaya akibat telah dipermalukan Bianca di depan Dante, kini telah memegang kartu AS yang kuat untuk melawan Bianca.Sofia yang sedari tadi mendengarkan percakapan Bianca dan Vito diam diam mencoba mengendalikan dirinya, sofia mencengkeram tas tangannya hingga kuku jarinya memutih.Sebuah ide jahat mulai berkecambah di benaknya, jika yang barusan hanyalah hubungan sandiwara maka Sofia akan membongkar kebohongan itu di depan Dante. Sofia ingin Bianca di permalukan di depan Dante.“Baiklah Bianca, sekarang aku memegang kartu AS mu dan kita lihat sejauh mana kamu akan mempertahankan itu semua.” Setelah percakapan itu Sofia melihat Bianca dan Vito kembali dengan menggunakan kendaraan yang berbeda, Sofia yang juga sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan percakapan Bian
Perkataan Mr. Cavallo bagaikan sebuah tamparan realitas Dante terdiam. Selama beberapa hari yang lalu fokusnya hanya tertuju pada Bianca, dimana hal itu membuatnya hampir melupakan misi utamanya yaitu membunuh ketua geng Moretti yang sudah direncanakan dengan teliti.Permainan emosi Dante dan Bianca kini mulai terasa seperti sebuah distraksi yang membahayakan Dante dalam melaksanakan misinya.Dante terlalu terobsesi dengan kehadiran Bianca, padahal diluar sana misinya menunggu untuk segera dibersihkan, sebuah misi yang tidak boleh gagal.Dante menghela nafas panjang, mencoba menekan gejolak amarahnya dan obsesinya terhadap Bianca dan mencoba kembali fokus pada misinya untuk menangkap ketua geng Moretti.Setelah membuka kembali ponsel yang telah dia genggang dan menghubungi kembali asistennya untuk mencari informasi mengenai Moretti.Dante pun kembali duduk tenang di kursi kulitnya sambil menunggu informasi mengenai Bianca dan laki-laki bersamanya, di tambah lagi informasi pentin
Tanpa membuang waktu, Bianca meraih ponselnya di bawah meja dan mengirim pesan singkat pada seseorang. Tak sampai 5 menit kemudian, pintu kafe terbuka.Seorang pria yang berpenampilan menarik dengan setelan kasual yang rapi berjalan masuk, matanya langsung tertuju pada Bianca.Dante yang awalanya bersikap santai sambil mengamati perseteruan sepupu itu, tiba-tiba menegakkan tubuhnya melihat seorang pria yang mendekat kearah meja mereka.Dan tanpa ragu memeluk pinggang Bianca dari belakang. Bianca membalasnya dengan menarik pria itu ke arahnya, memberikan kecupan mesra di pipi, lalu menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu pria itu.“Maaf aku terlambat menjemputmu, sayang,” ujar suara pria itu dengan suara yang sengaja dibuat cukup keras untuk didengar Dante.“Tidak apa-apa,” jawab Bianca dengan nada bicara yang manis dan Bianca sengaja membelai tangan pria yang ada di sampingnya itu agar dapat dilihat oleh Dante.Wajah Dante yang tadinya penuh dengan rasa percaya diri yang tinggi ki
Bianca yang merasakan hal itu merasa jantungnya seolah berhenti berdetak. Langkah kakinya terpaku di atas lantai marmer. Udara di sekitar Bianca mendadak dipenuhi sebuah aroma yang spesifik. Campuran antara aroma kayu cedar yang pekat, tembakau mahal dan sedikit sentuhan citrus dingin.Itu bukan se
Setelah kejadian itu Windy membawa Bianca kembali untuk mendapatkan pertolongan atas luka yang didapatnya, di rumah sakit pribadi pribadi miliki geng Moretti Bianca mendapatkan perawatan. Bianca yang telah banyak kehabisan darah akibat tembakan itu masih belum sadarkan diri, “Bianca??Bianca?? kemar
Tepat pukul sembilan hari dimana pesta yang dinanti pun tiba, Bianca hadir dengan gaun merahnya yang indah dan topeng putih yang elegan. Musik Orkestra mulai mengalun lembut, namun tatap Bianca tidak lepas dari para tamu berharap segera menemukan orang yang ingin dia tangkap.“Apakah kau mend
Di malam sebelum terjadinya kebakaran gudang di Distrik 4 wilayah kekuasaan Moretti. “Malam ini kamu memiliki tugas untuk menyelidiki distrik 4, kita akan harus memperluas kekuasaan kita” Ujar Mr. Cavallo pada Dante. Dante pun yang telah ditugaskan sang ayah langsung melaksanakan tugasnya dan







