LOGINSi Hara Del Puedo ay kilala sa buong hacienda bilang pinakamabait, pinakamadaling lapitan at higit sa lahat ay pinakamatapang na apo ni Don Ernesto. Iginagalang at minamahal siya ng mga tauhan nila. Sa edad niyang bente anyos ay marami na siyang naranasan katulad ng isang insidente limang taon na ang nakakaraan. Dahil dito ay umalis ang dalaga sa Hacienda Del Puedo upang makalimot. Ngayon, nagbabalik na si Hara sa kaniyang bayang sinilangan upang harapin ang malagim na trahedya ng kahapon. Sa kaniyang pagdating ay may isang Xandro na naghihintay sa kanya. Kasabay ng mga alaalang muling nanunumbalik ay ang pagkahulog ng loob ng dalaga sa lalaking katulad niya ay may amnesia rin. Sa tulong ng binata ay gagawin ng dalaga ang lahat upang hanapin ang mga totoong salarin sa Hacienda Del Puedo massacre. Unti-unting makakamit ng dalaga ang hustisya ngunit maraming hadlang ang sa kaniya'y naghihintay. Pakiramdam ng dalaga ay pilit ibinabaon ng sinuman ang katotohanan upang wala siyang matuklasan. Gamit ang tatag ng loob at determinasyon ay malalaman ni Hara ang mga lihim ng kahapon kasama na rin ang mga sikreto ng mga taong nakapaligid sa kanya. Ang katotohanang akala niya ay magpapalaya sa kaniya ay muli palang susugat sa puso niyang durog na durog na kaya gagawin ni Xandro ang lahat upang muling mabuo ang dalagang ngayon ay hindi na kayang magtiwala pa sa kahit sino man.
View More“Jika tidak dioperasi, ibu nona tidak akan bisa bertahan lebih lama...”
Tiba-tiba ruangan itu sunyi, hanya terisi oleh suara mesin-mesin rumah sakit yang berdenting begitu lambat.
Kanaya menahan napas, dadanya sesak hampir meledak. Di hadapannya, ibunya terbaring koma dan satu-satunya cara menyelamatkannya adalah dengan operasi transplantasi jantung.
“Apa tidak ada cara lain, Dok?”
Suara Kanaya bergetar. Sebelumnya Dokter itu juga berkata jika biayanya bisa mencapai 20an miliar. Apa yang harus ia lakukan?
Dokter yang menangani Ayunda, ibu Kanaya, menggeleng seraya mengalungkan stetoskop.
“Itu...
satu-satunya cara...”Kanaya menggenggam tangan ibunya lebih keras, ia terisak. Teringat ibunya yang menolak dibawa ke rumah sakit karena tak mau merepotkannya.
“Nona bisa pikirkan terlebih dahulu. Saya pamit,” ucap sang dokter yang mengangguk ke arah Kanaya dan langsung pergi dari ruangan itu.
Kanaya tak bergerak, ia membeku.
Sejak ayahnya meninggal, satu-satunya orang yang bisa diharapkan ibunya adalah dirinya.
Dan kali ini, setelah bertahun-tahun merawat ibunya di Emerald City, ia dihadapkan pada sebuah dinding penghalang yang besar, dinding keputusasaan.
Akankah ini menjadi masa terakhir dengan ibunya?
Kanaya menggeleng. Demi menjernihkan pikirannya yang kalut, ia melangkah keluar kamar perawatan ibunya untuk menghirup udara segar.
Langkah kedua kakinya menuntun Kanaya pada sebuah bangku taman. Dan ia duduk di bangku itu.
Angin sepoi-sepoi bertiup menyapa dedaunan, dan menyentuh kulit wajahnya. Kedua mata Kanaya menyapu tak tentu arah pada semua yang ada di sekitarnya.
Suster, dokter, dan pengunjung rumah sakit yang berlalulalang di dekatnya hadir di benaknya bagaikan sebuah delusi. Mereka semua nyata, senyata dirinya yang duduk di bangku taman itu, namun tak bisa memberikan jawaban dari permasalahannya.
Kanaya memejamkan matanya dan menarik nafas panjang.
Dalam keputusasaan, hatinya berdoa. Tuhan, berilah petunjuk, jalan keluar. Apa pun.
"Lihat, iklan ini muncul lagi."
Kanaya membuka matanya. Ia menoleh mengikuti asal suara itu. Tidak jauh darinya dua orang perawat sedang mengobrol.
Salah satu perawat memperlihatkan temannya apa yang ada di layar telepon genggam yang ia pegang.
Teman perawat itu melirik gawai yang dipegang rekannya dan berkomentar. "Sudah berapa kali dia mencari ibu pengganti? Apa masih belum dapat juga?"
"Yang aku dengar, sudah beberapa kali mereka gagal implan. Mungkin belum rejeki," jawab perawat pertama. "Padahal kalau sampai berhasil, aku dengar uang yang ditawarkan sangat besar, lho!"
Mendengar ucapan perawat itu, Kanaya mempertajam indera pendengarannya.
"Benar. Yang aku dengar, kalau berhasil, si ibu pengganti bisa dapat milyaran! Kalau aku masih gadis, boleh juga tuh, lumayan buat beli hp ipon dan jalan-jalan ke luar negeri. Dan yang pasti, tidak perlu kerja seumur hidup!" celetuk perawat yang satu lagi dengan canda sambil mereka berjalan melewati Kanaya.
Mata Kanaya membulat. Milyaran? Ibu pengganti? Tiba-tiba percakapan kedua suster itu bagai sebuah petunjuk untuknya. Apakah ini jalan keluar yang ia cari?
Istilah ibu pengganti pernah Kanaya dengar sebelumnya. Namun, bagaimana prosesnya tidak banyak ia ketahui.
“Maaf, suster. Boleh saya bertanya?”
Tiba-tiba dua suster yang dari tadi cekikikan berhenti dan menatap Kanaya dengan canggung.
Merasa mendapatkan atensi, Kanaya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Boleh tahu iklan apa yang suster bicarakan?”
Mereka berdua saling menatap. Lalu setelah saling menyikut, seorang suster berambut cepol berkata pelan-pelan.
“Seseorang dari keluarga kaya sedang mencari seorang ibu pengganti dengan imbalan yang fantastis.”
“Apa saya bisa mendapatkan info iklan tersebut?” pinta Kanaya dengan mata berbinar.
Permintaan Kanaya kembali membuat kedua suster saling pandang.
“Urungkan saja niatmu itu, Nona. Walaupun bayarannya besar, tetapi presentase keberhasilannya sangat kecil. Jangan buang-buang waktumu.”
Kanaya tak peduli. Ia tetap tersenyum sambil menatap suster tersebut dengan penuh harap.
Setelah menghela nafas panjang, salah seorang suster memberikan Kanaya link iklan tersebut.
“Terima kasih, Suster!”
Dada Kanaya membuncah dengan secercah harapan. Ia segera kembali ke ruangan ibunya.
Optimisme yang pada awalnya begitu gelap, kali ini memunculkan asa baru!
Sekembalinya ke kamar perawatan ibunya, Kanaya masih fokus membaca iklan yang sebelumnya ia dapatkan.
Dikatakan dalam iklan tersebut imbalan yang begitu besar akan diberikan jika program itu berhasil ditunaikan.
Terbersit keraguan di dada Kanaya. Ia dituntut untuk mengandung seorang anak selama sembilan bulan, untuk kemudian memberikan anak itu kepada orang lain? Kanaya seketika menahan nafas.
Meskipun anak yang dikandungnya nanti bukan darah dagingnya, bisakah ia menyerahkannya begitu saja?
Di tengah kontradiksi pikirannya, tiba-tiba tangan yang sedari tadi ia genggam bergerak.
“Ibu, ibu sudah sadar?”
Ayunda berusaha menggerakkan tubuhnya, namun seketika ditahan oleh anak sematawayangnya itu.
“Ibu jangan bergerak dulu, kata dokter ibu harus istirahat yang cukup.”
Ayunda mengelus pipi kiri anaknya itu seraya menatapnya dengan sayu. "Naya, Ibu mau pulang. Ibu merasa sudah lebih baik."
"Nanti Bu, kalau Dokter sudah mengizinkan." Kanaya memaksakan sebuah senyuman. Ia tidak ingin ibunya tahu apa yang tengah dipikirkannya.
"Ibu sudah tidak apa-apa, kemarin ibu hanya kecapean saja. Sekarang sudah sehat! Lihat?!" Ayunda juga bersikukuh menunjukkan jika ia baik-baik saja.
Kedua mata Kanaya menggenang dan hatinya pilu memperhatikan ibunya yang berpura-pura tidak menahan sakit di depan matanya. Padahal Kanaya mengetahui kondisi ibunya sebenarnya sedang tidak baik-baik saja.
"Ibu, maafin Naya ya Bu." Kanaya memeluk ibunya dengan hati yang sedih. Ia merasa tidak berguna.
Ayunda melepas pelukannya dan menghapus airmata di pipi Kanaya. Ia menggeleng tidak ingin putrinya menyalahkan dirinya sendiri.
"Ibu sangat bangga padamu, Naya. Selama ini kamu sudah menjaga dan merawat ibu dengan sangat baik. Dan sekarang sudah waktunya kamu memikirkan masa depanmu. Jangan khawatirkan ibu, ya?"
Kanaya tidak ada jalan lain selain tersenyum, meski hatinya begitu sedih.
Biaya yang dibutuhkan untuk menyembuhkan ibunya begitu besar. Ia tak akan mendapatkannya bahkan dengan bekerja puluhan tahun.
Ia pandangi lagi nomor yang tertera pada iklan tersebut. Dadanya bergemuruh.
“Ibu, percaya sama Naya, ibu akan sembuh! Naya janji!”
Nakatulala si Hara habang nakatingin sa kabaong na nasa pavilion ng Hacienda Del Puedo. Tradisyon na ng pamilya na rito iburol ang sino mang kamag-anak na namatay. Malungkot niyang tinitingnan ang mga bulaklak na maayos na nakahilera sa loob. "Hindi talaga maganda ang paghihiganti," wika ni Klein sa kaniyang tabi. "Oo nga, Klein. Hindi ko talaga inakala na ampon pala si Kuya Ryan." "Maraming lihim ang pamilya natin. Kahit ako ay hindi rin makapaniwala." "Oh, bawal ma-stress ang asawa ko ha. Kabuwanan mo na," wika ni Xandro na niyakap ang asawa niya mula sa likuran. "Oy, huwag kayong mag-PDA diyan kasi naiinggit ako," pabirong wika ni Mia. "Iniisip ko lang naman ang asawa ko kaya nagpapaalala ako. Baka maglupasay na naman ito katulad ng nangyari sa ospital sa Makilala. Sa sobrang pagmamahal niya sa akin, ayun g
Isang nanghihinang James ang pumasok sa kweba pagkatapos ng sunod-sunod na putok na narinig ng lahat. Nakangisi ito habang nakatingin kay Ryan na noon ay nakadapa sa lupa."Tang-*na, sino ang nagpatakas sa iyo?" namimilipit sa sakit na tanong ni Ryan."Ang sakit ng tiyan ko," iyak ni Mia. "Tulungan n'yo ako, please.""Xandro, Xandro, please, lumaban ka," pagmamakaawa naman ni Hara sa kasintahang kalong-kalong niya. "Huwag mong hayaang lumaki ang anak nating walang ama. Please, lumaban ka. Mahal kita. Hindi ko kakayaning mawala ka."Mahigpit na hinawakan ni Xandro ang kamay ni Hara na punong-puno ng kaniyang dugo. Pinipilit niyang pakalmahin ang babae dahil baka makasama ang pag-aalala sa baby nila ngunit walang salitang lumalabas sa bibig niya."Tulong! Parang awa n'yo na, tulungan n'yo kami!" Ubod lakas na sigaw ni Hara. Pilit tinatakpan ng dalaga ang dibdib ng binatang pa
Parang batang naglalaro si Ryan habang pinahihirapan si James."Ah, f*ck you! Hayop ka talaga Ryan!! Papatayin kita kapag…""Kapag nakatakas ka?" humalakhak si Ryan. "Malabong mangyari iyon, James, kasi papatayin na kita ngayong araw na ito.""Do it faster! Puro ka salita, puro ka angas, wala ka namang buto!""Oh-oh, will you please wait?! I'm still enjoying the show!" Mala-demonyong sabi ni Ryan at pinukpok nito ng baril ang mga ulo ni James.Matinding sakit ang nadama ng binata. Pilit niyang pinaglalaban ang tindi ng kirot at sa isip niya ay bumabalik ang masayang alaala nila ni Hara. Habang unti-unting nawawalan siya ng malay ay bumabalik ang isip niya sa mga naganap noon."Bata, ikaw ba si James Santillano?" wika ng isang lalaki sa noo'y binatilyo pa lamang na si James."Opo, bakit po? Paano n'yo po akon
Kinuha ni James ang papel sa mga kamay ni Xandro. Nang mabasa ng binata ang laman noon ay agad na nagdilim ang mukha nito."Fuck! It's him again!" Sinuntok pa ni James ang bintana ng kotse na dapat ay sasakyan ni Xandro paalis. Nanginginig ang buong katawan nito ngunit hindi dahil sa sugat sa mga kamay kung hindi sa tindi ng emosyon na nararamdaman."May idea ba kayo, sir, kung sino ang may kagagawan nito?" tanong ng mga pulis."Sino ang may gawa nito 'tol?" segundang tanong ni Xandro.Lahat ng nalalaman ni James ay ibinahagi n'ya sa mga alagad ng batas. Sinasabi niya sa sarili na panahon na para bunutin ang tinik sa kaniyang dibdib. Handa siyang makulong kung kinakailangan pero ng mga panahong iyon ay ang kaligtasan ni Hara ang nasa isip niya.Matagal na nawalan ng kibo si Xandro. Hindi n'ya alam kung paano tanggapin ng pamilya Del Puedo ang lahat ng mga sinabi ni Ja







![Kapag Ako Ay Nagmahal [Book 2]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ratings
reviewsMore