Share

Hasrat Liar Paman Suamiku
Hasrat Liar Paman Suamiku
Author: CitraAurora

Mabuk Membawa Petaka

Author: CitraAurora
last update Last Updated: 2025-09-10 07:56:21

"Aku menginginkanmu, Mas…."

Di depan sebuah kamar, Laura memeluk erat punggung pria yang ada di depannya. Pandangannya kabur, sementara otaknya tidak bisa diajak bekerja sama. Alkohol yang ia tenggak beberapa saat lalu seolah telah melumpuhkan akal sehatnya.

Saat ini, ia hanya menginginkan kehangatan dan sentuhan.

"Laura, apa yang kau lakukan?!" Suara bariton pria dalam dekapannya itu terdengar menahan geraman. Tangannya yang besar dan kokoh berusaha melepas tangan Laura yang melingkari tubuh atletisnya.

"Aku sudah lelah menunggu, Mas!" seru Laura dengan suara serak, tak mau melepas dekapannya meski pria itu terus menolak.

Pria itu menyergah napas kasar, lalu menyentak tangan Laura hingga terlepas. "Hentikan, Laura!"

Bukannya menyerah, Laura justru mendorong tubuh kekar pria itu masuk ke dalam kamar.

Meski dalam pengaruh minuman keras, dia cukup mampu mengunci tubuh pria itu. Apalagi, ia tampak tidak mengantisipasi tindakan Laura sama sekali.

"Beri aku kehangatan, Mas," racau wanita itu lagi. Suaranya terdengar memohon sekaligus putus asa.

Di balik sikap beraninya itu, sepasang mata Laura justru menyiratkan kesedihan. Ia belum pernah mendapatkan nafkah batin dari suaminya yang selalu sibuk, hingga tidak ada waktu sedikit pun untuknya.

Dan malam ini, Laura sudah lelah menunggu. Ia ingin disentuh oleh suaminya. Laura bertekad melakukan apapun agar suaminya itu mau bercinta dengannya.

“Laura, kamu mabuk. Sadarlah…,” ujar David, pria itu, dengan suara tertahan. “Aku bukan....” Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Laura sudah lebih dulu membungkam David dengan bibirnya.

Serangan bertubi-tubi membuat pertahanan David akhirnya roboh. Hasrat yang meronta untuk dipenuhi tak mungkin lagi bisa ditahan. Pria itu membawa tubuh mungil Laura ke atas tempat tidur.

"Jangan salahkan aku, Laura … kamu yang memaksaku!" ujar David menatap Laura dalam.

Laura mengangguk samar, lalu mengalungkan tangan di leher David.

Kini, pria itu yang memegang kendali. Di bawah kungkungannya, Laura tampak memejamkan mata, membiarkan David menyentuh titik-titik sensitif di tubuhnya.

Tubuh Laura tersentak saat gelenyar panas menyengatnya, membuat punggungnya melengkung. Kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat kala merasakan sesuatu yang asing seolah hendak mengoyak inti tubuhnya.

Laura merintih. Bukan karena nikmat, melainkan karena rasa sakit yang membuat tubuhnya menegang.

David menghentikan gerakannya saat itu juga. "Kamu … masih perawan?"

Sepasang matanya membulat sempurna, terkejut sekaligus bertanya-tanya.

Laura mengangguk samar. Sementara David terlalu bingung, tidak tahu harus melakukan apa.

"Mas, ayo lanjutkan…." Rengekan Laura kembali terdengar. Ia menarik leher David agar mendekat, sekaligus untuk mencari kekuatan di sana.

Sudah alang tanggung, David melanjutkan lagi aktivitasnya. Ia melakukannya dengan hati-hati dan penuh kelembutan, hingga Laura bisa membiasakan dirinya.

Laura tidak lagi merintih. Kamar itu kini penuh dengan erangan dan desahan nikmat yang saling bersahutan. Laura sama sekali lupa dengan rasa sakit yang tadi ia rasakan.

Kini ia merasa penuh. Tidak hanya tubuhnya, tapi juga hatinya.

Akhirnya… ia bisa merasakan rasanya bercinta.

Tak hanya satu pelepasan, malam itu mereka terus berbagi peluh hingga Laura kehabisan tenaga dan jatuh tertidur dalam dekapan David.

Keesokan harinya, Laura membuka mata terlebih dahulu. Dia memegangi kepalanya yang terasa pening.

Kilatan aktivitas semalam mencuat, membuat wanita cantik itu mengembangkan senyuman.

Laura segera memeluk pria yang tengah membelakanginya, bahkan menyatukan kulit telanjang mereka di bawah selimut. Namun, ada yang berbeda dari suaminya itu.

Tangan Laura meraba-raba, menyusuri kulit hangat pria itu, hingga berhenti di perutnya yang sixpack.

Sebentar … tubuh suaminya tidak sekekar dan seatletis ini.

Laura bangun, menopang tubuhnya dengan sebelah tangan.

Benar saja! Terlihat dengan jelas jika warna kulit suaminya sangat berbeda.

Jantung Laura seketika berdetak satu tempo lebih cepat saat menyadari siapa pria yang terlelap di sebelahnya itu.

"Pak David?!"

Ternyata yang tidur bersamanya semalam bukan Rendra suaminya, melainkan … David … paman suaminya sendiri!

Kepala Laura seolah baru saja dihantam godam. "Tidak, tidak mungkin…." Laura menggeleng, tidak mau menerima kenyataan ini.

Karena salah mengambil minuman di acara reuni semalam, Laura pulang dalam keadaan mabuk. Dan ketika melihat David, dia mengira itu adalah Rendra.

"Apa yang sudah kulakukan?" Air mata jatuh membasahi pipi Laura. Bibirnya turut bergetar saking takutnya.

Dengan hati tak karuan, Laura memakai pakaiannya kembali. Setelah itu dia keluar dengan rasa bersalah yang besar.

**

Di kamar mandi, Laura mengguyur tubuhnya di bawah pancuran shower.

Dia sungguh marah pada dirinya sendiri yang begitu bodoh dan ceroboh. Bagaimana bisa ia salah mengenali orang lain sebagai suaminya?!

Wanita itu terisak dengan keras, merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Mahkota yang seharusnya untuk Rendra, kini telah dia berikan kepada David.

Lantas bagaimana nanti jika Rendra sudah siap menyentuhnya, dan mendapati dirinya sudah tidak lagi suci?

"Maafkan aku Mas Rendra … maaf aku tidak bisa menjaga diri."

Selepas mandi, Laura duduk di depan meja rias. Bekas kecupan David di lehernya sangat banyak sehingga membuatnya jijik.

Tangannya berusaha menghapus jejak bibir pria itu. Namun, sekeras apapun dia mengusap lehernya, jejak itu tetap ada.

"Bagaimana jika Mas Rendra tahu?"

Rasa frustrasi datang menyerang dan Laura menangis kembali.

Saat itu, ia mendengar suara langkah mendekati kamar.

"Laura Sayang?"

Panggilan mesra itu membuat hatinya pilu. Buru-buru Laura menghapus air matanya lalu mengoles jejak merah keunguan di lehernya dengan alas bedak.

"Mas." Laura berdiri dengan menunjukkan senyuman manisnya saat seorang pria tampan dengan memakai jas lengkap berjalan masuk ke dalam kamar.

Dia mengambil tas jinjing yang dibawa Rendra lalu mencium tangan pria itu.

"Bagaimana perjalanan bisnisnya?" Laura menatap wajah lelah suaminya.

"Lancar, sayang. Minggu depan aku harus keluar negeri untuk mengurus proyeknya," ujar Rendra sambil tersenyum tipis.

Semenjak menggantikan posisi David sebagai CEO di perusahaan, Rendra memang terus bekerja keras. Bukan hanya demi perusahaan, tapi juga untuk memberi Laura hidup yang layak.

Laura jadi semakin merasa bersalah.

"Mas, kamu sudah sarapan?" Wanita itu kembali bertanya.

"Belum. Setelah aku membersihkan diri, kita turun sarapan ya." Rendra mengecup sekilas pucuk kepala istrinya, lalu masuk ke kamar mandi.

Laura terduduk lemas di kursi. Hatinya perih karena sudah mengkhianati suaminya.

"Maafkan aku, Mas…."

 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (8)
goodnovel comment avatar
semi ati
emang mereka sudah nikah berapa tahun sampai Laura belum disentuh oleh suaminya
goodnovel comment avatar
Noor Natifah
ya, salah siapa?! ngapain istri di sia-siain... dasar suami istri gak masuk akal hahaa ... bagus bagus... teruskan
goodnovel comment avatar
Koirul
masih baca ...udah seruh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Aku sakit

    Malam itu rumah keluarga terasa lebih ramai dari biasanya. Lampu-lampu di ruang tamu menyala terang, menerangi wajah-wajah yang berkumpul di sana. Erik dan Citra duduk di sofa utama, sementara Rania dan Angga duduk di sofa seberang. David dan Laura berada di sampingnya.Dara dan Rara duduk berdampingan di sofa samping, meski ada jarak yang terasa lebih lebar dari biasanya di antara mereka."Jadi Raymond akan pulang lusa?" tanya Erik sambil menyeruput kopi hangatnya.Angga mengangguk. "Iya. Dia bilang ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di sini. Dan tentu saja, dia ingin bertemu Rara."Rara tersenyum tipis mendengar itu. Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Dadanya masih sesak mengingat semua yang terjadi belakangan ini."Bagus kalau begitu," sambung Citra dengan nada riang. "Pasti dia kangen dengan kita semua.”"Dan kangen dengan tunangannya," tambah Rania sambil melirik Rara dengan senyum lebar. "Benar kan Rara?"Rara hanya mengangguk pelan. Tangannya terkepal di atas paha, b

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Kita Harus Selesaikan Ini

    Rara menutup pintu kamarnya dengan pelan. Tubuhnya merosot di balik pintu, punggungnya bersandar pada kayu yang dingin. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir deras membasahi pipinya.Tangannya masih gemetar memegang ponsel. Layarnya menampilkan chat dengan Raymond yang tak kunjung dibalas. Padahal tadi, ketika menggunakan ponsel Dara, pria itu langsung membalas dalam hitungan detik."Kenapa?" bisik Rara dengan suara bergetar. "Kenapa dia begitu cepat membalas Dara tapi mengabaikanku?"Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Semakin dia memikirkannya, semakin sakit dadanya. Ada sesuatu yang tidak beres. Ada sesuatu yang disembunyikan dari dirinya.Rara menatap foto Raymond di wallpaper ponselnya. Foto yang diambil saat acara pertunangan mereka. Di foto itu, Raymond tersenyum. Tapi entah kenapa, senyum itu terlihat dipaksakan. Matanya tidak berbinar seperti mata orang yang bahagia."Apa dia tidak mencintaiku?" gumam Rara pelan. Air matanya semakin deras. "Apa selama ini

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Lebih Baik Jadi Sahabatnya

    Dua minggu berlalu sejak Raymond kembali ke Inggris. Dua minggu yang terasa seperti dua tahun bagi Dara. Setiap hari dia menunggu pesan dari pria itu, meski tahu itu tidak seharusnya. Mereka sudah sepakat untuk saling menjaga jarak, untuk tidak membuat semuanya semakin rumit.Tapi bagaimana bisa menjaga jarak ketika Raymond terus menghubunginya? Setiap pagi ada pesan singkat dari pria itu. Setiap malam ada panggilan video yang berlangsung sampai larut. Raymond bercerita tentang pekerjaannya, tentang cuaca dingin di London, tentang apartemennya yang sepi.Dan Dara, bodohnya, selalu menjawab. Selalu mendengarkan. Selalu menunggu.Siang itu, Dara sedang duduk di sofa kamarnya sambil tersenyum menatap layar ponselnya. Raymond baru saja mengirim foto dirinya yang sedang makan sandwich di kantor. Wajah pria itu terlihat lelah tapi tetap tampan dengan rambut yang sedikit berantakan.[Makan yang banyak. Jangan sampai sakit.] Balas Dara dengan cepat.[Iya Nyonya. Nanti malam aku video call lag

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Jangan Begini

    Pagi buta, ketika langit masih berwarna kelabu dan matahari belum sepenuhnya muncul, ponsel Dara bergetar di atas meja nakas. Gadis itu sebenarnya belum tidur sama sekali. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar sejak tengah malam tadi.Terlalu banyak yang terjadi kemarin. Terlalu banyak emosi yang harus diproses. Tidur adalah kemewahan yang tidak bisa dicapai malam ini.Bunyi getar ponsel membuatnya menoleh. Dengan gerakan lambat, dia meraih ponsel dan melihat layarnya.Satu pesan dari Raymond.Jantung Dara langsung berdegup kencang. Tangannya gemetar saat membuka pesan itu.[Dara, bisa kita bicara? Sekarang. Aku tunggu di kamarku. Kamar 402. Ini penting.]Dara menatap pesan itu dengan perasaan campur aduk. Sebagian dirinya ingin mengabaikan pesan itu. Tapi sebagian yang lain, sebagian yang lebih besar, ingin sekali bertemu Raymond.Dengan gerakan cepat, dia mengetik balasan.[Baik. Aku kesana sekarang.]Dara bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Dia membasuh wa

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Aku Raymond bukan Reyhan

    Dara menutup pintu kamarnya dengan keras. Tubuhnya merosot jatuh di lantai, punggungnya bersandar pada pintu yang baru saja ditutupnya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya mengalir deras membasahi pipinya."Kenapa harus seperti ini?" isak Dara sambil memeluk lututnya. Wajahnya terbenam di antara kedua lututnya yang ditekuk. "Kenapa semua jadi berantakan?"Tangannya gemetar, dadanya naik turun dengan cepat. Rasanya sesak sekali. Seolah ada beban berton-ton yang menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas.Dia teringat wajah Raymond saat mengatakan mencintai Rara. Dia cukup tahu jika cinta itu miliknya tapi dia sakit… dan semua rasa sakitnya karena dirinya sendiri yang begitu pengecut mengakui semua. Semua itu salah. Sangat salah. Tapi semua itu karena kesalahannya sendiri."Bodoh," umpat Dara pada dirinya sendiri. "Kenapa aku harus menggunakan nama Rara waktu itu? Kenapa aku tidak jujur dari awal?"Dia menggeleng keras, air matanya semakin deras. Isakan keluar dari mulutnya yang

  • Hasrat Liar Paman Suamiku    Pilih Aku atau Dia

    Ballroom yang tadinya penuh sesak kini mulai sepi. Hanya tersisa beberapa orang yang masih mengobrol di sana-sini. Dan juga para pelayan hotel yang siap bersih-bersih. Rara yang sejak tadi terlihat sangat bersemangat tiba-tiba mengusulkan ide. "Eh, Raymond, Dara gimana kalau kita berempat main game? Kan sayang acara sudah selesai tapi masih sore. Rugi dong kalau kita langsung tidur."Reyhan langsung mengangguk antusias. "Setuju! Tapi kita ke kamar saja. Main game seperti ini enak di kamar, gimana?"“Iya, para pelayan hotel mulai beres-beres.” Sambung Rara. Dara yang mendengar usulan itu langsung menatap Reyhan, dia sebenarnya enggan. Raymond yang sejak tadi diam saja tiba-tiba angkat bicara. "Aku setuju, ayo kita ke kamar Rara saja."Dara menatap Raymond dengan tatapan terluka. Kenapa Raymond malah mendukung ide ini? Apa dia tidak lelah dengan situasi yang menyakitkan ini?Tapi melihat mata Raymond yang menatapnya dengan tatapan memohon, Dara akhirnya menghela nafas dan mengangguk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status