Share

Tatapan Tajam

Penulis: Nona Lee
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-12 10:33:06

Pagi itu, kediaman Pratama tampak tenang di permukaan, namun di dalamnya, Nyonya Lydia sedang berdiri di balkon lantai dua, menyesap kopi hitamnya tanpa gula. Matanya yang tajam bak burung elang tak sedetik pun lepas dari halaman bawah. Di sana, Arka sedang sibuk mengelap kaca mobil, sementara Sri yang baru saja keluar dari dapur membawakan segelas air putih untuk suaminya itu.

Lydia memperhatikan bagaimana Arka tersenyum lebar menyambut pemberian Sri, dan bagaimana Sri membalasnya dengan anggukan lembut. Namun, yang menarik perhatian Lydia bukanlah kemesraan pasangan pengantin baru itu, melainkan sosok pria yang berdiri mematung di balik pintu kaca ruang tengah.

Andra. Pria itu berdiri di sana dengan rahang mengeras dan kepalan tangan yang tersembunyi di saku celananya. Tatapannya pada Arka bukan lagi tatapan seorang majikan pada bawahannya, melainkan tatapan penuh kebencian yang mendalam.

Lydia meletakkan cangkir kopinya dan turun ke lantai bawah. Ia melangkah anggun menuju ruang
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Tatapan Tajam

    Pagi itu, kediaman Pratama tampak tenang di permukaan, namun di dalamnya, Nyonya Lydia sedang berdiri di balkon lantai dua, menyesap kopi hitamnya tanpa gula. Matanya yang tajam bak burung elang tak sedetik pun lepas dari halaman bawah. Di sana, Arka sedang sibuk mengelap kaca mobil, sementara Sri yang baru saja keluar dari dapur membawakan segelas air putih untuk suaminya itu. Lydia memperhatikan bagaimana Arka tersenyum lebar menyambut pemberian Sri, dan bagaimana Sri membalasnya dengan anggukan lembut. Namun, yang menarik perhatian Lydia bukanlah kemesraan pasangan pengantin baru itu, melainkan sosok pria yang berdiri mematung di balik pintu kaca ruang tengah. Andra. Pria itu berdiri di sana dengan rahang mengeras dan kepalan tangan yang tersembunyi di saku celananya. Tatapannya pada Arka bukan lagi tatapan seorang majikan pada bawahannya, melainkan tatapan penuh kebencian yang mendalam. Lydia meletakkan cangkir kopinya dan turun ke lantai bawah. Ia melangkah anggun menuju ruang

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Hari Pernikahan

    Hari yang ditentukan itu akhirnya tiba. Tidak ada pesta mewah, tidak ada dekorasi bunga yang melimpah. Pernikahan itu dilangsungkan di ruang tengah rumah keluarga Pratama, hanya dihadiri oleh penghulu, Nyonya Lydia, Sarah, Andra, dan Bi Minah yang berdiri dengan wajah kaku di sudut ruangan. Arka mengenakan kemeja batik sederhana yang dibelikan oleh Andra, sementara Sri tampak sangat cantik meski hanya mengenakan kebaya putih polos milik Bi Minah. Namun, kecantikan itu terasa dingin. Saat Arka menjabat tangan penghulu dan mengucapkan ijab kabul dengan suara yang sedikit bergetar, mata Sri tidak menatap suaminya. Ia justru menatap lurus ke arah Andra yang berdiri di belakang Sarah. Andra mencengkeram sandaran kursi hingga urat-urat di tangannya menonjol. Mendengar pria lain menyebut nama Sri dalam sebuah janji suci meskipun itu sandiwar, terasa seperti belati yang dihunus ke jantungnya. Ia merasa baru saja menyerahkan belahan jiwanya kepada orang asing. "Sah?" tanya penghulu. "Sah!"

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Hanya Bayangan

    Malam itu, angin berhembus kencang, menggoyangkan dedaunan di halaman belakang rumah keluarga Pratama. Namun, kegelisahan yang dirasakan Andra jauh lebih hebat daripada badai mana pun. Sejak Nyonya Lydia dan Sarah mengusulkan pernikahan antara Arka dan Sri, Andra tidak bisa tenang. Pikirannya terus berputar pada satu kemungkinan yang menakutkan. Bagaimana jika sandiwara ini menjadi nyata? Bagaimana jika Arka, pemuda yang jauh lebih muda dan tampak tulus itu, benar-benar jatuh cinta pada Sri? Dan yang lebih buruk, bagaimana jika Sri, wanita yang kini menjadi candunya mulai merasa nyaman dalam perlindungan Arka? Andra merasa seperti seorang penjudi yang baru saja mempertaruhkan seluruh hartanya pada satu kartu yang salah. Di sudut garasi yang remang, jauh dari jangkauan telinga Nyonya Lydia dan Sarah, tiga orang itu berdiri melingkar. Suasana terasa sangat kaku, dipenuhi dengan kecurigaan dan rahasia yang menyesakkan. "Mungkin dalam waktu dekat, kalian akan aku nikahkan," ucap Andra

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Kebohongan Bi Minah

    Pagi itu, suasana di kediaman Pratama terasa sangat asing bagi Bi Minah. Baru saja ia menginjakkan kaki di dapur setelah beberapa hari pulang kampung, ia sudah disuguhi pemandangan yang tak masuk akal. Di depan wastafel, seorang pemuda asing berpakaian rapi namun tampak canggung sedang sibuk mencuci piring kotor. "Loh, siapa ya? Supir baru?" tanya Bi Minah dengan dahi berkerut, meletakkan tas jinjingnya di atas meja dapur. Arka menoleh, wajahnya memerah karena malu. Ia menghentikan kegiatannya dan mencoba memberi salam dengan sopan. "Eh, bukan. Aku... itu... aku..." Sebelum Arka sempat menyelesaikan kalimatnya, langkah kaki yang berat dan penuh wibawa terdengar mendekat. Nyonya Lydia muncul dengan tatapan tajamnya yang biasa. "Pacarnya Sri, Bi. Masa Bibi tidak tahu?" sahut Lydia dengan nada bicara yang datar namun mengandung sindiran halus. Bi Minah ternganga. "Pacar? Sri punya pacar, Nyonya?" "Iya, dan dia sedang bertanggung jawab sekarang karena Sri sedang mengandung," lanjut

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Bagaimana Jika Kita Menikah Nanti?

    Malam itu, paviliun belakang terasa jauh lebih sesak. Atas perintah Nyonya Lydia, Arka diwajibkan untuk tetap tinggal di rumah itu sementara waktu demi membuktikan keseriusannya bertanggung jawab pada Sri. Lydia ingin melihat sejauh mana pasangan ini berinteraksi. Arka duduk di ujung ranjang kayu milik Sri dengan tubuh kaku. Ruangan itu hanya diterangi lampu tidur yang remang, menciptakan suasana yang sangat intim namun canggung. Arka, yang hanyalah seorang pemuda jujur dari desa, merasa sangat tertekan. Ia hanya bisa menunduk, menatapi ujung sepatunya yang kusam, tidak berani menatap Sri yang sejak tadi duduk tak jauh darinya sambil terus memperhatikan gerak-geriknya. "Maaf, kau jadi harus ikut terseret ke dalam masalah pelik ini. Aku jadi merasa benar-benar bersalah padamu, Arka," ucap Sri dengan nada yang sangat lembut, seolah ia adalah wanita paling malang yang butuh perlindungan. Arka perlahan mengangkat kepalanya. Ia menatap wajah Sri yang tampak begitu cantik di bawah caha

  • Hasrat Terlarang Sang Pelakor   Kambing Hitam

    Malam merayap sunyi di rumah besar itu, namun di paviliun belakang, udara terasa begitu berat. Andra menyelinap masuk ke kamar Sri dengan napas yang memburu. Tanpa suara, ia langsung menghampiri ranjang dan mendekap tubuh Sri dari belakang. Pelukannya terasa posesif, seolah ia sedang mendekap harta karun yang nyaris hilang. "Sri... kau membuatku hampir mati berdiri tadi," bisik Andra di ceruk leher Sri. Suaranya bergetar antara rasa takut dan gairah yang masih tersisa. "Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Jika kau tidak menyebutkan nama, Mama Lydia benar-benar akan menyeretmu keluar besok pagi." Sri berbalik perlahan dalam pelukan Andra, menatap wajah pria itu dengan mata yang tampak sayu namun penuh perhitungan. "Tuan tidak perlu terburu-buru menikahi saya. Saya tahu posisi saya. Saya hanya ingin Tuan melindungi saya... biarkan saya tetap di sini, di dekat Tuan. Jangan biarkan Nyonya Lydia mengusir saya dan calon anak kita." Mendengar kata "anak kita", jantung Andra seolah mele

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status