LOGIN"Don't expect anything from me. Not my attention, not love." Hearing that, Leylah now knows that everything will never be the same again. The same man, the same voice, but it wasn't him. *** After almost three years of marriage, Leylah was still hopeful that a miracle would happen in her life. Hoping that her husband will have a change of heart and will love her again. But she was wrong. Love never happened. Not again. The universe must have conspired something behind her back to see horrendous scenes of her husband sleeping with another girl whenever he was at home. If only that alone happened then she could have forgiven him, but receiving a divorce papers from the man she love one day was a big blow she could never forget. She knew that this was bound to happen. After all, what can a one sided marriage like theirs end up, but a piece of white paper with a divorce written down on it? But no! She can't back down now! After hiding their marriage to the public for her husband's advantage, she can't back down now, looking more foolish than she has ever had! What was the purpose of those years she waited if she backed down now for nothing? So like a fool, she asked for a two months contract with her husband in turn for a divorce later on. But what do they know? Future is vague. No one knows what will happen.
View More“Cepat persiapkan semua kebutuhanmu. Sebentar lagi akan ada pengawal dari keluarga Dakasa yang akan menjemputmu ke sini,” ucap Farhan.
Lavira hanya mampu menunduk sambil memikirkan nasibnya setelah ini. Kehidupannya selama ini sudah sangat hancur dengan segala tindasan dan cacian yang selalu dia terima. Namun, sifat penakut Livara membuat gadis itu hanya diam dan tidak pernah melawan.“Apa lagi yang kau tunggu? Apa kau ingin membuat suamimu itu mengamuk nanti? Apa kau tidak tahu kalau dia adalah psikopat kejam? Cepat bergerak, jangan sampai sifat bodohmu ini menyeret kami!” bentak Marni marah.“Baik, Tante,” balah Lavira pelan.Tuk … bruk …Lavira terjatuh begitu keras ke atas lantai setelah kakinya baru saja disandung oleh Joana, saudara tirinya. Lavira diam menahan ringisannya. Joana nampak tersenyum miring sambil menatap remeh ke arah Lavira.“Heh, kau sesuai bersanding dengan laki-laki seperti itu. Manusia kejam berdarah dingin. Aku jamin umurmu sudah tidak akan lama lagi. Mungkin saja kau akan mati karena setiap hari disiksa, atau mungkin juga kau mati karena langsung dibunuh. Apalagi dia selalu menyembunyikan wajahnya. Aku jamin dia adalah laki-laki buruk rupa, pasti wajahnya hancur,” papar Joana sinis.Lavira diam, gadis itu berusaha menghilangkan rasa takutnya mengingat setiap lontaran kalimat yang diucapkan oleh Joana. ‘Tenanglah, Vira. Semuanya akan baik-baik saja, sama seperti beberapa tahun ini. Kamu pasti bisa melalui semuanya,’ batin Lavira mencoba menguatkan dirinya sendiri.“Selamat masuk ke dalam neraka yang sebenarnya, saudar tiriku tersayang,” bisik Joana licik.Berada di kediaman yang berbeda, seorang laki-laki masuk dan bersuara sopan teruntuk seseorang. “Tuan, istri Anda sudah sampai. Apa Anda akan ke sana untuk menyapanya?” ucap Rino.“Untuk apa? Dia hanya barang pembayar hutang. Tidak ada kebanggaan dia untuk aku sambut,” sahut Avram dingin.Rino hanya bisa diam tidak lagi bersuara. Laki-laki itu tahu betul bagaimana sifat atasannya itu. Avram Dakasa, laki-laki misterius yang merupakan penerus sah perusahaan Dakasa. Avram dikabarkan sebagai laki-laki dingin nan kejam sekaligus psikopat berdarah dingin.Hal yang membuat publik bertanya-tanya adalah wajah dari pemimpin utama Dakasa Group. Avram tidak pernah memperlihatkan wajahnya. Lebih tepatnya selalu mengurung diri di dalam mansion dan tidak pernah keluar dari lingkup mansion kecuali untuk mencari mangsa.“Jadi untuk nanti malam, Anda masih akan melanjutkan aksi itu, Tuan?” tanya Rino.“Hem,” sahut Avram.“Apa ada yang perlu saya persiapkan sedari sekarang?” tanya Rino lagi.“Pergi ke kantor dan pantau pekerjaan Fero. Laki-laki bodoh itu masih tidak berkembang. Masih saja bodoh,” tutur Avram begitu kasar.“Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan,” balas Rino.“Terus juga siapkan mangsaku untuk nanti malam,” tutur Avram.“Baik, Tuan,” sahut Rino patuh.Lavira menoleh keadaan sekitar mansion mewah itu. Entah sudah keberapa kali gadis itu berdecak kagum melihat bangunan mewah itu. “Astaga, apa ini istana? Pantas sih, ini kan kediaman keluarga Dakasa. Keluarga ternama se-Asia,” gumam Lavira terpana.“Hei, kau.” Suara seseorang mengejutkan Lavira dari rasa kagumnya. Gadis itu menoleh dan melihat keberadaan seorang wanita paruh baya sedang menatapnya menilai dari atas sampai bawah.“Kau putri dari keluarga Amrin itu?” tanya Siara angkuh.“Iya, Nyonya. Saya Lavira Amrin,” balas Lavira polos.Siara menatap Lavira dengan pandangan remeh dan senyum miring. ‘Heh, anak polos? Baguslah, dengan begitu dia tidak akan menjadi penghalang bagiku untuk tetap menjadi nyonya utama di mansion ini,’ batin Siara licik.“Aku Siara Dakasa, bibi Avram dan nyonya utama di sini,” ujar Siara sinis.“Oh, iya Nyonya Dakasa,” balas Lavira.‘Apa selain polos dia ini juga bodoh? Dia masih memanggilku dengan panggilan nyonya, padahal dia sudah menjadi istri sah Avram,’ batin Siara merasa tidak percaya.“Kau sadar tidak kalau kau sudah menjadi istri dari keponakan iblisku itu?” tutur Siara.Lavira cukup terkejut mendengar kalimat Siara. Gadis itu bisa melihat raut aneh dari wajah Siara saat mengucapkan keponakan. ‘Apa hubungan mereka tidak baik?’ ucap Lavira di dalam hati.“Iya, aku tahu, Nyonya,” sahut Lavira.Siara menatap Lavira dengan pandangan malas. “Sudahlah, intinya meski kau sudah menjadi istri monster itu, bukan berarti kau adalah nyonya di sini. Kau tidak lebih dari sebuah penebus hutang. Dengan kata lain, kau adalah babu di sini. Maka cepat persiapkan dirimu dan segeralah memasak untuk makan malam kami nanti,” jelas Siara angkuh.“Iya, aku tahu itu, Nyonya,” sahut Lavira pelan.‘Aku tidak pernah berpikir akan menjadi nyonya di sini. Aku juga sudah bisa membayangkan hal ini akan terjadi kepadaku. Tidak jauh berbeda dari pada di rumah. Mungkin, di sini akan lebih mengerikan lagi,’ sambung Lavira di dalam hati.“Kau, cepat antarkan perempuan ini ke kamar utama.” Siara berucap sambil menatap seorang pelayan mansion itu.“Baik, Nyonya,” sahut pelayan itu.Pelayan wanita itu berjalan mendekat ke arah Lavira. Nampak tatapan remeh yang diberikan pelayan itu kepada Lavira. “Ikuti aku,” ketus pelayan itu nampak enggan.Lavira hanya bisa diam, seperti yang ditegaskan Siara. Meski dia sudah sah menjadi istri dari pemilik mansion ini. Dia tetap tidak ada keberanian untuk mengaku sebagai seorang nyonya. Lavira juga tahu dan sadar dengan posisinya yang hanya menjadi barang penebus hutang oleh ayahnya.Beberapa menit mengikuti pergerakan pelayan itu. Akhirnya sekarang mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu hitam. Pelayan itu menoleh dan menatap Lavira sinis. “Ini kamar utama, masuk saja,” ketus pelayan itu.“Maaf, Mbak. Kamar utama maksudnya apa, ya?” tanya Lavira ragu.Pelayan itu menatap Lavira dengan pandangan malas. “Apa lagi? Kamar utama itu berarti kamar yang dihuni oleh pemilik utama bangunan ini. Itu berarti kamar ini adalah kamar hunian Tuan Dakasa,” jelas pelayan itu dengan nada angkuhnya.Lavira nampak terkejut mendengar penjelasan dari pelayan itu. Bahkan mata gadis itu sudah melotot dengan wajah memucat. “Ta-tapi kenapa aku diantar ke sini, Mbak? Sa-saya kan hanya sebagai penebus hutang di sini. Tidak benar-benar istri dari Tuan Dakasa,” tutur Lavira risau.“Heh, bukan berarti kau bisa lepas dari jeratan Tuan Dakasa, kan? Mungkin saja Tuan Dakasa ingin bermain-main denganmu.” Pelayan itu berbicara sambil tersenyum miring.Lavira terdiam semakin merasa takut memikirkan semua hal di dalam otaknya. Tubuh gadis itu semakin kaku memikirkan nasibnya saat harus berhadapan dengan Avram nanti. “Maaf, Mbak. Apa tidak bisa aku tinggal di kamar lain saja? Tidak apa-apa jika itu kumuh, tidak masalah,” tutur Lavira nampak begitu takut.“Heh, nikmati saja hari-harimu. Seharusnya kau bersyukur sebab tidak ada satupun orang yang bisa masuk ke dalam kamar ini. Ah, banyak bicara kau. Pekerjaanku masih sangat banyak, ingat jika Nyonya Besar menunggumu.”Pelayan itu pergi meninggalkan Lavira sendirian di sana. Gadis itu menatap pintu hitam itu dengan pandangan ragu dan takut. Dengan gerakan ragu Lavira meraih gagang pintu itu. “Tenanglah, Vira. Semuanya pasti akan baik-baik saja,” gumam Lavira menguatkan dirinya sendiri.Paano siya makakauwi mamaya kung may butas ang gulong ng sasakyan niya?"Ayos na. Pinaayos ko na sa talyer na dinaanan ko kanina kaya okay na," aniya. "Sabihin na lang nating may inggit sa akin ang taong gumawa n'yon kaya niya naisipang gawin iyon sa sasakyan ko. Pero ayos lang. Kilala ko naman kung sino iyong may gawa."Kumunot ang noo ko. Subalit hindi na ako nagtanong dahil alam kong magsasalita pa siya."But you know what? Never had I expected him to have a cute personality like that. That's probably why mom likes him a lot." Then he giggled.Mas lalo akong naguluhan sa kinuwento niya pero hinayaan ko na. Maya maya ay may kinuha si Cayster mula sa kaniyang bulsa. Pagkatapos ay inabo niya sa akin."Inumin mo 'yan twice a day para hindi lalong mamaga and to relieve the pain.""Thanks.""Habang may pamamaga pa rin, iwasan mo muna ang tumakbo, sumayaw, o kahit anong sports activities. Then..." he said in suspe
HE LOOKED SHOCK."Leylah?" Kung gulat na siyang makita ako ay mas lalo pa nang mapansin niya ang isa ko pang paa. Kumunot ang kaniyang noo pagkatapos ay madaling lumapit sa akin. Maging si kuya Raymond na nasa likuran niya kanina ay iyon rin ang ginawa."Anong nangyari riyan sa paa mo?" sabay na tanong nina Cayster at Kuya Raymond."I—""She sprained her ankle," bara ni Xeno sa sasabihin ko. Halata ang pagkairita sa kanyang boses and I rolled my eyes because of it. "Ikaw, anong ginagawa mo dito?" dagdag niya pang tanong. Saglit na natigilan si Cayster nang marinig ang boses ni Xeno. Nakita ko pa kung paano bumukol ang kanyang kaliwang pisngi saka niya nilingon si Xeno. He gave him a bored expression bago ulit ako binalingan ng tingin."Masakit pa rin ba?" Cayster asked me, totally ignoring Xeno."Hindi na masyado." Sabay iling ko. "Saka, why are you here? Hindi ba't dapat nasa hospital ka ngayon?" "B
Natawa ako sa huling linya. Naimagine ko kasi ang mukha ni Manang."At saka umuwi ka na raw, miss ka na niya," dagling dagdag niya.Napangiwi naman ako dahil do'n. "Sinungaling ka talaga. Hindi naman iyon sinabi ni, Manang, e," sagot ko sa kanya.Hindi naman talaga ako pinapauwi ni Manang dahil alam niya kung nasaan ako. Saka minsan nga bumibisita siya sa condo ko na may dalang kung anu-anong ulam."Bakit naman? Miss ka naman talaga ni, Manang. Kahit nga ako miss na kita." Tumigil siya sa paglalakad. "Iyong mga gamit mo, nasa kwarto mo pa. Walang pinagbago ro'n. Araw-araw iyong nililinisan ni, Manang, baka kamo raw bumalik ka. And I'm sure, malungkot iyon kasi kahit ako, wala doon."He sighed. "Promise ko kasi sa kanya papauwiin kita. And I'm glad I'm showing results. Sapat na sa akin iyong alam kong nag-aalala ka pa rin pala."Pagkatapos ay nagsimula na siyang maglakad ulit. Saka ay sinundan na naman ng katahimikan. Ma
Umurong ata ang luha ko after I heard him sighed.Wait.WAIT. WAIT. WAIT. WAIT. WAIT!Naglo-loading na naman ang kinakalawang kong utak dahil sa kagagawan ko ngayon. I'm still processing what just happened and when I finally realized my reality, para akong binuhusan ng napakalamig na tubig, iyong may yelo at umuusok pa sa lamig. WHAT THE ACTUAL F*CK HAVE I DONE AGAIN?D-Did I actually ran back here, like an actual crazy woman, lashed out to those men just because I was worried about this guy? SA LALAKING 'TO?Muli kong inangat ang tingin kay Xeno at maging siya ay nakatingin din pala sa akin. Malamlam ang kaniyang mga mata na parang nag-aalala sa akin ng husto. "You feeling fine now?" Inabot niya ang pisngi ko at pinahiran ito gamit ang kaniyang hinlalaki. Hindi ko siya sinagot. Nakatitig lang ako sa kaniya habang unti-unti na namang bumabalik sa ulirat ko ang mga nangyari. I freaking panicked think












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.