แชร์

I Became the Billionaire's Fake Fiancée
I Became the Billionaire's Fake Fiancée
ผู้แต่ง: Diva

001 || Perjodohan?

ผู้เขียน: Diva
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-07 16:07:38

"Aku dijodohkan dengan pria yang sudah memiliki seorang anak!"

Hazel Lunara, menoleh kepada anak majikannya sekaligus sahabat dekatnya. Ia tampak terkejut mendengar ucapan itu, terlebih ketika melihat wajah sang sahabat yang menunjukkan kesedihan dan keputusasaan.

"Tunggu!" Hazel mengerutkan dahinya penuh kebingungan. "Dia sudah memiliki seorang anak? Bukankah itu berarti dia sudah menikah?"

Selena Morcant, wanita cantik yang merupakan putri sekaligus calon penerus keluarga Morcant, mengangguk dengan lesu. Ia duduk di tepi kolam renang dengan tubuh yang masih terbalut pakaian renang berwarna hitam. Rambut panjangnya yang basah terurai di punggung, sementara beberapa tetes air masih mengalir dari ujung rambutnya.

Selena meraih handuk yang tergeletak di sampingnya, lalu mengeringkan rambutnya dengan malas.

"Dia seorang duda," jawab Selena akhirnya.

Hazel terdiam sejenak. "Duda?"

"Ya."

Selena menghela napas panjang. Wajahnya semakin muram ketika kembali mengingat percakapan dengan Ibunya tadi pagi.

"Namanya Lucian Griffin. Keluarganya sangat kaya, tetapi dia sudah memiliki seorang anak."

Hazel mengedipkan mata beberapa kali. "Kalau begitu, kau bisa menolaknya, Selena!"

"Tidak bisa! Ibu memiliki utang budi pada keluarga Griffin!"

Selena menjatuhkan handuknya ke samping, kemudian memeluk kedua lututnya sendiri.

"Perjodohan itu sudah disepakati oleh keluarga kami sejak bertahun-tahun lalu. Aku bahkan tidak tahu mengapa mereka masih menganggapnya penting."

Hazel terdiam selama beberapa saat. Ia tahu betul bagaimana keluarga Morcant mengambil keputusan. Terutama Diana Morcant, ibu Selena sekaligus majikan Hazel. Bagi wanita itu, urusan pernikahan bukan sekadar masalah perasaan, melainkan juga tentang kepentingan keluarga dan nama besar.

Namun, Hazel tidak pernah menyangka Selena akan sampai terlihat seputus asa ini.

"Apakah kau sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Hazel.

Selena menggeleng. "Terakhir kali aku bertemu dengannya ketika kami masih berusia tujuh tahun!"

Setelah itu, keduanya saling diam. Hazel masih bingung dengan pria yang dijodohkan dengan Selena, sedangkan Selena memikirkan jalan keluar dari perjodohan yang dialaminya.

Sampai akhirnya, Selena kembali membuka suara.

"Hazel!"

Hazel menoleh pada Selena dengan satu alis terangkat. "Iya, Selena?"

"Kau menyayangiku bukan?"

Pertanyaan itu membuat Hazel mengangguk. Keluarga Morcant memperlakukan dirinya dan sang Ibu dengan sangat baik. Bahkan saat pertama kali ibunya bekerja sebagai pelayan di kediaman Morcant, Selena langsung mengajak dirinya berteman.

"Iya, aku sangat menyayangimu, Selena!"

Hazel menjawab tanpa ada keraguan sedikit pun. Membuat Selena tersenyum lebar, dengan mata berbinar.

"Kalau begitu, kau bisa membantuku, Hazel."

"Membantumu?" tanya Hazel dengan dahi berkerut.

Selena mengangguk. Ia bangkit dan berjalan menuju sebuah kursi panjang di dekat kolam renang, lalu mengambil jubah mandi yang terletak di atasnya. Setelah mengenakannya, Selena kembali menatap Hazel yang sudah berada di dekatnya.

"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."

Hazel menatapnya dengan penuh perhatian. "Apa itu?"

Selena duduk dengan anggun sambil menyilangkan kedua kakinya. "Kau tahu aku tidak ingin menikah dengan Lucian Griffin."

Hazel mengangguk perlahan.

"Aku ingin kau menggantikanku," lanjut Selena dengan santai.

Hazel terkejut mendengar permintaan Selena. Ia membeku selama beberapa saat. "Menggantikanmu?"

"Ya." Selena tersenyum, seolah-olah permintaan itu hal yang biasa. "Kau harus berpura-pura menjadi aku di depan Lucian."

Hazel menatap Selena dengan tidak percaya. Menggantikan Selena? Yang benar saja, ini sangat mustahil. Belum mencoba saja, hanya membayangkan dirinya bertemu Lucian sebagai Selena sudah membuat dirinya frustrasi. Karena ia yakin, Lucian pasti akan menyadari kalau dirinya bukan Selena.

"Selena, tidak mungkin bisa aku menggantikanmu!"

Hazel menggeleng, menolak permintaan aneh dari Selena.

"Tenang saja." Selena segera menggenggam tangan Hazel. "Keluarga Griffin sudah bertahun-tahun tidak melihatku. Mereka tidak akan tahu perbedaannya."

Kalimat itu tidak membuat dirinya tenang begitu saja. Ia tetap menolak. "Maaf, Selena, aku tidak bisa membantumu! Lebih baik kau bicarakan ini pada Nyonya Diana!"

"Aku yakin, Nyonya Diana pasti akan mencari jalan keluar agar kau bisa menolak perjodohan ini!"

Hazel menunduk merasa bersalah, karena sudah menolak permintaan Selena.

"Hazel, kau serius menolak membantuku?" Selena mengangkat wajahnya, tatapan tajamnya menatap Hazel yang masih setia menunduk. "Kau tega melihat aku menikah dengan seorang duda?"

"Kau tahu kalau aku sudah memiliki seorang kekasih! Dan aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat, aku ingin menikmati masa mudaku!"

Nada suara Selena yang semula meninggi, perlahan memelan menyiratkan keputusasaan dan kesedihan yang mendalam.

"Dengan menerima perjodohan ini, aku harus mengubur semua impian aku! Aku harus meninggalkan Andrew, dan aku harus mengurus anak yang bukan darah dagingku sendiri!"

Mendengar semua itu, Hazel perlahan mengangkat kepalanya. Rasa bersalahnya semakin besar melihat Selena yang kini menangis tersedu-sedu.

Ia berjalan mendekat, dan mengambil duduk di sisi Selena.

"Maaf, Selena. Aku tidak bermaksud menolakmu, hanya sa—"

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Hazel. Aku akan membantumu nanti!"

"Tap—"

"Aku akan mengatakan ini pada Mama, aku yakin Mama setuju dengan keputusanku. Keluarga Lucian juga tidak akan curiga, kalau kau menggantikanku nanti!"

Selena mengusap air matanya yang membasahi pipi cantiknya. Ia memiringkan posisi duduknya agar berhadapan dengan Hazel yang wajahnya kini dipenuhi kebingungan.

"Selena?"

Hazel menatap sahabatnya dengan tatapan penuh keraguan.

"Iya?"

Selena membalas tatapan Hazel penuh keyakinan.

"Aku takut ...," cicit Hazel yang kini dipenuhi perasaan campur aduk. Antara bingung, takut, ragu, dan juga rasa bersalah. "Bagaimana kalau nanti calon tunanganmu tahu kalau aku bukan kamu?"

Selena menghela napas pelan. "Itu tidak akan pernah terjadi, Hazel."

"Tolong, Hazel. Aku tidak bisa menerima perjodohan ini!"

Ekspresi wajah Selena tampak memelas. Membuat Hazel tidak bisa menolak lagi, dengan penuh keterpaksaan dan keraguan ia mengangguk perlahan.

Selena tersenyum lebar, ia langsung memeluk Hazel dengan erat. "Terima kasih, Hazel."

"Jadi, kapan semua ini akan dimulai, Selena?" tanya Hazel setelah pelukan mereka terlepas.

"Besok, kau bisa memulai jadi aku, Hazel!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   009 || Victoria

    “Mama sangat ingin bertemu denganmu, Selena."Hazel langsung terdiam. Matanya membesar mendengar jawaban Lucian. Untuk sesaat, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Ia sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk bertemu dengan ibu kandung Lucian, terlebih sekarang ia sedang menyamar sebagai Selena. Bagaimana jika wanita itu mengetahui bahwa dirinya bukanlah Selena? Bagaimana jika beliau mengajukan pertanyaan tentang masa lalu yang tidak dapat ia jawab?“Ma-mamamu?” tanya Hazel memastikan.Lucian mengangguk santai. “Ya. Mama sedang berada di dalam bersama Raiden. Sejak pagi, beliau yang menjaganya.”Hazel menelan ludah. Ia hanya bisa mengangguk kecil sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tak lama kemudian, Lucian mematikan mesin mobil dan keluar lebih dahulu. Ia berjalan ke sisi Hazel, lalu membukakan pintu untuknya seperti sebelumnya. Hazel turun dengan langkah hati-hati, kemudian mengikuti Lucian memasuki gedung rumah sakit.Mereka berjalan melewati lorong yang cukup tenang

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   008 || Sebastian

    Selena terdiam cukup lama. Pelukannya perlahan terlepas, tetapi kedua tangannya masih berada di bahu Hazel. Wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan sahabatnya.“Aku juga tidak tahu, Hazel,” ucap Selena lirih. “Tapi aku akan berusaha mencari jalan keluar.”Hazel menatapnya penuh harap. “Jalan keluar seperti apa?”Selena mengalihkan pandangan ke taman. “Aku akan membantu Ibu mencari uang. Kalau kita bisa membayar denda yang harus ditanggung keluarga Morcant, mungkin perjodohan ini bisa dibatalkan tanpa menghancurkan keluargaku.”Hazel terdiam. Ia baru menyadari bahwa masalah yang dihadapi Selena jauh lebih besar daripada sekadar tidak ingin menikah dengan Lucian. Perjodohan itu bukan keputusan sederhana yang bisa dibatalkan sesuka hati. Ada kerja sama bisnis antara keluarga Morcant dan keluarga Griffin yang ikut dipertaruhkan.“Berapa besar dendanya?” tanya Hazel hati-hati.Selena menggeleng. “Aku tidak tahu jumlah

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   007 || Ketakutan Hazel

    “Hazel, potong wortelnya lebih tipis. Nyonya Diana tidak suka kalau ukurannya terlalu besar.”“Baik, Ibu.”Hazel berdiri di dapur kediaman Morcant bersama ibunya, Ayunda Lunara. Tangannya sibuk mengiris wortel di atas talenan, sementara aroma masakan memenuhi ruangan.Semalam rasanya waktu berjalan lambat. Pertanyaan Lucian tentang pekerjaannya tidak sempat ia jawab. Raiden tiba-tiba mengalami demam yang semakin tinggi sehingga Lucian harus membawanya ke rumah sakit. Hazel sempat menawarkan diri untuk ikut, tetapi Lucian justru meminta Calvin mengantarnya pulang. Beruntung, perhatian Lucian sepenuhnya tertuju pada putranya sehingga Hazel berhasil menghindari pertanyaan yang mungkin saja semakin menyulitkan penyamarannya.Kini, setelah kembali ke kediaman Morcant, Hazel berusaha menganggap semuanya telah berlalu. Namun, pikirannya masih tertuju pada Raiden.“Menurutmu, demam anak itu sudah turun?” tanya Ayunda sambil mengaduk masakan di atas kompor.Hazel menghentikan gerakan tangannya

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   006 || Raiden

    Raiden mengangkat wajahnya perlahan. Matanya yang masih terlihat sayu menatap Hazel dengan rasa penasaran. Tubuh kecilnya tampak lemas, bahkan pipinya sedikit pucat. Namun, ia tetap berusaha duduk tegak di kursinya.“Halo,” ucap Raiden pelan.Hazel tersenyum lembut. Entah mengapa, melihat anak kecil itu membuat rasa gugupnya sedikit menghilang. “Halo, Raiden. Senang bertemu denganmu.”Raiden hanya mengangguk kecil. Tatapannya masih tertuju pada Hazel, seolah sedang mencoba mengingat sesuatu dari wajah wanita di hadapannya. Setelah beberapa saat, ia justru bertanya dengan suara polos, “Tante Selena teman Papi?”“Benar.” Hazel mengangguk. “Kami sudah saling mengenal sejak kecil.”Raiden kembali mengangguk. Kemudian, ia menyandarkan tubuhnya pada kursi karena terlihat semakin lemas. Hazel yang memperhatikannya langsung merasa khawatir.“Raiden sakit?” tanyanya spontan.Lucian menoleh kepadanya. “Sejak tadi siang demamnya cukup tinggi. Kondisinya sempat membaik, tetapi menjelang sore kemb

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   005 || Gugup?

    Hazel terdiam selama beberapa saat. Ia menatap Lucian dengan wajah panik, berusaha mencari alasan yang masuk akal untuk menjelaskan kesalahannya. Dalam situasi seperti ini, ia tidak boleh sampai membuat Lucian curiga. Namun, semakin lama ia diam, semakin jelas pula kebingungan di wajah pria itu.“Maaf,” jawab Hazel akhirnya. “Aku hanya terlalu gugup.”Lucian mengangkat sebelah alisnya. “Gugup?”Hazel mengangguk cepat. “Ya. Sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapanmu.”Ekspresi Lucian perlahan melunak. “Kau tidak perlu bersikap terlalu formal padaku, Selena.”Hazel menghela napas lega. Setidaknya, alasan itu berhasil membuat Lucian berhenti bertanya.“Baik, aku coba bersikap santai di hadapanmu,” jawabnya pelan.“Kalau begitu, panggil aku Lucian.”Hazel membeku sesaat. Panggilan itu terdengar sederhana, tetapi baginya terasa sangat sulit. Selama ini, ia hanya mengenal pria itu dari cerita Selena. Sekarang, ia harus berpura-pura menjad

  • I Became the Billionaire's Fake Fiancée   004 || Tuan?

    Hazel menoleh secara perlahan. Kedua matanya membelalak, bibirnya terbuka. Pria dengan tinggi 185 cm itu berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya sangat tampan, alisnya tebal, rahangnya tegas.Tatapan Hazel tanpa sadar menyusuri penampilan pria itu. Kemeja hitam yang membalut tubuh atletisnya itu tampak sempurna. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah tenang, sementara tatapannya tidak pernah lepas dari Hazel.“Selena?”Suara berat itu membuat Hazel tersentak. Ia berdiri dengan canggung.“Ah, ya?" jawabnya gugup.Lucian berhenti tepat di hadapannya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Hazel dalam diam.“Bagaimana kabarmu, Selena?" tanya Lucian dengan suara beratnya.Hazel menelan ludah. Jantungnya berdegup semakin kencang.“B-baik, sangat baik," jawabnya terbata-bata.Hazel tidak berani menatap Lucian. Hazel menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia takut jika terlalu lama menatap Lucian, pria itu akan menyadari sesuatu yang aneh dari dirinya. Lucian justru memp

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status