LOGINRan Cecilia— seorang 'Janda Muda' yang belum lama diceraikan suaminya ini menyamar sebagai anak SMA. Sementara Ran harus menutupi identitasnya, dia juga harus berurusan dengan Gilang Kertarajasa--lelaki buaya di sekolah itu yang diam-diam tertarik dengan tubuhnya. "Dasar playboy IQ jongkok!" —Ran Cecilia. "Kasih gue waktu sebulan untuk buat Ran tergila-gila sama gue." —Gilang Kertarajasa. Di sini Ran diuji kesabarannya. Terlebih dengan godaan berondong buaya sekelas Gilang. Bagaimana aksi Ran Cecilia dalam mempertahankan identitas dan juga hatinya?
View MoreIt was a stormy night that fateful day. The loud rumble of thunder overhead did nothing to drown out the screams of the woman in labour.
A nurse wiped at the sweat dribbling down her forehead as her breathing became even more erratic.
Her legs were spread open and the doctor placed a gloved hand on her swollen stomach, encouraging her to push one more time.
With all her might, the woman pushed and the cry of a new born filled the room. A smile formed on her chapped lips as joy filled her heart.
An exhausted exhale fell past her lips as she stared idly at the white ceiling.
The new born continued to wail as the umbilical cord was cut off and the baby was wrapped securely in a white blanket.
The new mother stretched out her arms, wanting to hold her baby. A nurse carefully placed the new born in it's mother's awaiting arms.
Looking down at the now sleeping child in her arms, tears of joy filled her eyes, slowly, she placed a gentle kiss on it's forehead.
Hours later, the baby was already cleaned and was sleeping soundly in a cot near it's mother. With the raging storm outside, the hallway of the hospital was eerily silent and empty save for the occasional deafening claps of thunder.
The fluorescent lights on the ceiling flickered, going off before turning back on. A cloaked figure appeared at the end of the hallway.
The figure began to move, barely making a sound with the heavy boots on their feet.
It stopped at a door and turned the brass knob. The door creaked as it was pushed open revealing a dark room. The lightening from the thunder overhead lit the room briefly, revealing a sleeping woman and a cot beside her bed.
The figure walked inside quietly. Nearing the cot, they peered down at the sleeping child, before their eyes drifted to the mother who was clueless to their presence.
Gloved hands reached down and scooped the baby up. The infant whined softly in it's sleep as it was moved from it's previous position.
The figure used the dark cloak to conceal the baby and disappeared into the night, leaving the cot empty.
The crack of thunder jolted the mother awake, on instinct, she looked to her left where the cot was and found it empty.
Alarmed she sat up immediately, searching the cot thoroughly, she found nothing. Panicked, a stream of hot tears rolled down her cheeks.
“Who took my baby!”, Her scream caught the attention of some nurses and they rushed into her room. Quickly the lights were turned on as the mother searched the room.
“My baby”, she mumbled repeatedly as she searched under the bed. When she found nothing, s ahead, seemingly unaware of the danger the figure exuded.
The cloaked figure stared down at the infant with scorn before storming out of the room and sl
PLAKK!Gilang meringis karena Ecca menamparnya."Apa-apaan sih lo?” ujar Gilang."Sekali lagi lo ngelecehin adek gue, gue bukan cuma nampar dan banting lo ke lantai, tapi dari roftop sampe aspal!" Ecca berkecak pinggang.Gilang menatap Ecca tak kalah menantang. Dia tidak ada takut-takutnya.Ran cekikikan sendiri. Lalu Ecca menarik rambut perempuan itu."Eccaaaa!""Diem lu curut! Lu juga, kalo gue pergokin lu gituan lagi, gue potong uang jajan lu!" Ecca bersandiwara, dalam hati dia bersorak senang karena berhasil menganiaya sahabatnya.Ran menyipitkan mata.'Uang jajan dari hongkong! Yang ada dia yang minjem ke gue,' batin Ran."Eh lu anak SMA, keluar sono!" usir Ecca.Gilang berdecak, dia menatap Ran lalu menjulurkan lidahnya. Lantas ia keluar dari rumah dua adik kakak gadungan itu.PLETAK!Ran menjitak kepala Ecca. "Balesan karena lo ngejambak rambut gue.”Ecca mendengus, l
"KALIAN NGAPAIN?!"Perempuan dengan rambut dicepol ke atas ini melongo, terlebih lagi melihat dua orang yang beraksi di lift tidak terpengaruh dengan teriakannya.Gilang tetap melanjutkan aksinya, dia sudah berhasil membawa Ran larut dalam permainannya. Ran melingkarkan tangannya di leher Gilang, membalas setiap permainan Gilang."OOY! STOP NAPAH! GUE JUGA JADI MAU, ASTOGE!"Tetap saja kedua orang itu tidak terpengaruh. Hebat bukan? Mereka tak tahu malu."Ran!"Ya dia tahu siapa Ran, karena dia adalah Ecca sahabatnya. Dia tidak menyangka saat ingin menaiki lift melihat sahabatnya tengah melakukan hal tidak baik dengan lelki berseragam SMA. Apa Ran waras? Dia tidak sadar akan statusnya sekarang?Gilang maupun Ran mulai kehabisan napas, lalu keduanya menghentikan aksi mereka.Ecca menatap kedua makhluk itu datar, dia memasuki lift dan menekan lantai tujuannya."Udah?" tanya Ecca dengan nada putus asa.Ran masih berp
Hari ke sepuluh Ran bersekolah dia mulai mengerti pelajaran walau belum sepenuhnya. Itulah untungnya jika dulu dia selalu berprestasi di sekolah. Dan sepuluh hari ini juga dia harus berhadapan dengan cowok bernama Gilang Kertarajasa. Di sekolah dia harus beradu mulut sebelum masuk kelas, dan saat keluar kelas pun sama. Dan sekarang, saat dia kembali ke kediamannya, sama saja, karena ternyata Gilang adalah tetangganya, apartemen mereka hanya berjarak satu kamar.Lalu saat dia hendak menaiki lift ada pria itu juga. Tuhan memang selalu ingin mengujinya!"Ck, lu bisa gak sih gak nyampah di depan mata gue? Bosen gue lihat lo lagi lo lagi!" Ran mencengkeram rok saking frustrasinya.Gilang melakukan kebiasaannya, yaitu memainkan kunci mobil. Dia tersenyum sinis, lalu ia berjalan memasuki lift, mendahului cewek yang sudah mengajaknya adu mulut.Ran melihat arloji di tangannya, lalu dia juga ikut memasuki lift. Dia ingin segera berbaring di kamar dan mengerjakan s
Rakha menghela napas gusar, Leon yang melihat itu langsung berdecap kesal."Si Gilang mana sih? Ninggalin kita di apart seenaknya sekarang malah telat ke kantin, gue congkel matanya baru tau rasa!"Rakha mengangkat garpu yang dia pegang, kini giliran Leon yang menghela napas."Serem lu njerr! Mentang-mentang ketahuan anu sama Nisa jadi gini,” sindir Leon."Ck diem lu, jangan tambahin mood gue jadi buruk!" ujar Rakha tak santai.Rakha memang baru saja dilabrak oleh Lisa karena kepergok bermesraan dengan kembarannya Nisa di belakang sekolah. Jika diperhatikan lebih jeli, tingkat ke playboyan Rakha memang tidak tenar, tapi dia satu-satunya orang dari kedua sahabatnya yang sudah pernah berhubungan sangat jauh dengan pacarnya. Jadi dia lebih berpengalaman dibandingkan Gilang. Jika dia mau dia bisa menjadi buaya tenar seperti Gilang Kertarajasa."Shit! Lo bisa gak sih gak ikutin gue Gilang peak!""Lo bisa gak manggil nama gue gak pake
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews