로그인Arka berbalik cepat, merogoh ponselnya dari saku celana. Dalam hitungan detik, ekspresinya berubah menjadi dingin dan mematikan. Kehangatan pria yang tadi memeluk Naura lenyap tanpa bekas. Ia melangkah menuju sisi belakang kabin yang lebih sepi, menjauh dari jangkauan pendengaran wanita itu.Sementara itu, Naura menyandarkan tubuhnya ke dinding kabin. Seluruh tenaganya seolah luruh. Ia menarik napas panjang, membiarkan udara laut malam memenuhi paru-parunya demi meredakan debar jantung yang masih mengamuk. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia merapikan gaunnya yang sempat berantakan akibat ulah Arka.Perlahan, ujung jarinya terangkat menyentuh bibir yang masih terasa panas, basah, dan berdenyut. Dadanya kembali bergemuruh, membuatnya tanpa sadar tersenyum tipis. Namun, senyum itu hanya bertahan sesaat sebelum ia buru-buru menggelengkan kepala."Tidak, tidak! Apa yang kamu pikirkan, Naura?! Pria itu monster! Jangan gila deh!" umpatnya pada diri sendiri, berusaha membangun kembali tem
Mentari Bali tepat berada di puncak kepala, memantulkan kilau keperakan di atas hamparan laut yang mengelilingi resort mewah itu. Di balkon pribadi yang menghadap langsung ke pantai, seorang pelayan baru saja selesai menata hidangan makan siang. Aroma grilled seafood berbumbu lokal berpadu dengan segarnya irisan lemon, memenuhi udara. Namun, suasana di meja itu sama sekali tak sehangat cuaca Bali.Naura duduk dengan punggung tegak dan kaku. Jemarinya mencengkeram garpu perak begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di seberangnya, Arka menikmati makan siang dengan sikap yang terlampau santai. Pria itu memotong steak di piringnya dengan gerakan tenang, seolah semalam ia tidak baru saja menguras habis energi Naura."Makan, Naura," suara berat Arka memecah keheningan. Nadanya rendah, tetapi tak memberi ruang untuk dibantah."Aku tidak lapar," desis Naura, melemparkan tatapan tajam yang dipenuhi permusuhan.Arka meletakkan pisau dan garpunya hingga terdengar denting halus yang sengaj
"SHUT YOUR MOUTH JERK!" teriak Naura frustrasi.Arka memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit akibat tertawa. Setelah tawa itu mereda, ia berkata, "Kamu kenapa sih marah-marah terus? Lagi PMS?" tanya Arka enteng. "Eh, tapi tidak juga. Kemarin aku lihat langsung, tidak ada darahnya. Yang ada malah cairan kenikmatan tuh."Wajah Naura sudah semerah kepiting rebus. Demi Tuhan, ia sungguh ingin menangis. Kalau membunuh tidak dosa, ia ingin membunuh Arka sekarang juga."Bisa-bisanya kamu berlagak santai setelah membuatku menjadi seperti ini hah?!" semburnya marah. "Seluruh badanku sakit, brengsek! Aku bahkan tidak bisa berdiri! Milikku juga perih sekali! Kamu benar-benar menyiksaku, bahkan sampai membuat aku pingsan! Sumpah, kamu tidak punya otak! Dasar musang birahi!"Ia menerjang maju dan menghajar tubuh Arka seperti samsak. Emosinya sudah tak terkendali. Bahkan saking kesalnya, ia sempat menjambak rambut Arka kuat hingga beberapa helai terlepas. Namun Arka tetap diam, membiarkan semu
Sisa asap hitam masih membubung tipis dari jendela lantai dua sebuah bangunan studio di sudut Jakarta Selatan itu. Bau sangit benda yang menjadi arang bercampur dengan aroma plastik properti foto yang meleleh akibat amukan si jago merah. Di sekeliling area, garis polisi berwarna kuning terang telah terpasang membentang, membatasi kerumunan orang yang saling berbisik.Dion berdiri terpaku di seberang jalan. Kedua tangannya tertanam di saku jaket. Matanya yang memerah menatap nanar papan nama "Halcyon Studio" yang kini sebagian hurufnya sudah hangus tak berbentuk."Mas Dion..." sang asisten mendekat dengan wajah muram. "Petugas damkar bilang api cuma sempat membakar sebagian ruangan di lantai dua, tepat jam enam pagi tadi. Untung saja lantai satu benar-benar aman, Mas. Dan... studio sedang kosong saat itu, jadi sama sekali tidak ada korban jiwa."Dion tidak merespons. Telinganya mendadak berdenging hebat. Kalimat bariton dingin dari sambungan telepon subuh tadi kembali terngiang, mencabi
JLEBB..."AAAKHHH! ARKAA BRENGSEKK...!"Pekik Naura lirih saat milik Arka kembali memenuhi dirinya.Hantaman tanpa aba-aba itu terasa begitu telak hingga seluruh udara di paru-paru Naura seolah lenyap dalam sekejap. Posisi kedua kaki jenjangnya yang bertumpu di atas bahu kokoh Arka membuat kejantanan pria itu, melesak tanpa hambatan, menghujam hulu rahimnya."Ahhh-hngghh... A-Arka... s-sakit, bajingan... s-stop it." Jerit Naura putus asa. Kedua tangannya mencengkeram sprei yang sudah kusut dan lembap demi menahan gelombang sensasi yang menyerbu tubuhnya.Arka tak mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah Naura yang memerah. Pria itu menggeram rendah, urat-urat di lehernya menonjol tegang karena jepitan luar biasa ketat yang diberikan oleh dinding Naura yang belum sepenuhnya pulih dari orgasme sebelumnya.“Ughh! Mulutmu bisa bilang berhenti tapi milikmu ini masih mau, Sayang.” Ejek Arka sambil memompa pinggulnya kasar. Perkataannya itu memang benar terbukti dari dinding milik Naura y
“You seem loving my fingers,” goda Arka menyeringai tipis, jarinya terus menggasak lebih cepat liang itu. Ia sangat menikmati bagaimana wanitanya tunduk di bawah kungkungannya.“Onghhh….” Naura sudah akan menyerah. Namun di detik-detik menjelang pelepasan, Arka mencabut keluar jari-jarinya. Itu membuat Naura mengumpat di dalam hati.“W-why?” kalimat itu terlontar begitu saja. Itu membuat Naura sedikit terkejut dan langsung mengutuk dirinya sendiri.Arka yang melihat raut kesal dan kebingungan wanita itu membuatnya menyeringai puas. Ia kembali menyeret bibirnya di atas kulit halus Naura. Tangannya bergerak menganggkat pinggul Naura hingga bibirnya dan pusar wanita itu bersentuhan.Naura berdesir, meremang merasakan gesekan intens antara kulit mereka. Ia meremas rambut Arka ketika pria itu mencumbu pusat tubuhnya di bawah sana dengan lidahnya naik turun.“Ahhhh…” Naura terengah-engah ketika Arka menggigit kecil klitorisnya lalu menyesap rakus semua cairannya. Ia mencengkeram sprei dengan
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da







