LOGINApa jadinya jika dengan bersin bisa berubah wujud? Itulah yang dialami Isaac Davidson, seorang troll istimewa yang bisa berubah wujud menjadi manusia ketika bersin. Namun keistimewaannya tersebut justru membawa dirinya dalam petualangan panjang yang mendebarkan, bersama dengan temannya, Gwen Malfoy. Lalu bagaimana akhir dari petualangan Isaac dan Gwen?
View More"Sesuai janjiku, aku datang ke sini untuk menyerahkan putriku pada Tuan Evans," ujar Mike pada dua anggota mafia di depannya.
Ranira yang mendengar itu, sontak mengangkat wajah dan menoleh pada Mike dengan mata yang membelalak terkejut.
Pasalnya sebelum ke sini, Mike mengatakan padanya dia akan mendaftarkan Ranira di kampus tempat Cristie kuliah.
Tentu saja Ranira begitu bersemangat. Sejak dulu dia ingin kuliah, tapi dia harus mengubur impiannya karena keterbatasan biaya. Dia dan ibunya hanya bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Mike Moseley.
Tapi kini, Mike mengingkari ucapannya. Bukannya membawa Ranira ke kampus seperti yang dijanjikannya, Mike justru membawanya ke sebuah mansion mewah yang catnya didominasi warna hitam.
Entah tempat apa itu. Tapi Ranira merasa ngeri melihat dua pria berperawakan tinggi besar dengan tato naga di lengan, yang memasang wajah sangar di depannya.
"Baik. Tuan Evans sedang pergi ke luar. Mungkin dia akan pulang nanti malam. Kami akan menyampaikan kabar ini padanya," ucap salah satu dari mereka.
Ranira mengerutkan dahi. "Tunggu, ada apa ini? Apa maksud dari perkataan kalian?" tanya Ranira.
Tiba-tiba tangan Ranira ditarik masuk ke dalam mansion tersebut oleh dua bawahan Evans. Diam-diam Mike menyunggingkan senyum miring sembari membenamkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Mike berbalik dan hendak pergi. Namun terhenti saat mendengar teriakan Ranira.
"Lepaskan aku! Kalian tidak bisa menarikku masuk! Aku mau pulang!"
"Aargghh! Gadis sialan," umpat salah seorang bawahan Evans setelah Ranira menggigit tangannya, lalu berlari menghampiri Mike yang baru saja turun dari teras.
"Tuan Mike, apa maksud Anda? Bukannya Anda bilang akan membawaku untuk daftar kuliah di kampusnya Cristie?"
"Ssstt ..." Mike membekap mulut Ranira dengan telapak tangannya.
Dua orang bawahan Evans keluar dan hendak menyusul Ranira. Namun Mike memberi isyarat agar mereka memberikan waktu sesaat.
"Aku ingin berbicara sebentar dengan putriku sebelum meninggalkannya," pinta Mike. Kedua bawahan Evans pun mengangguk dan memundurkan langkah.
"Jangan sebut nama Cristie di rumah ini," tekan Mike sambil mencengkeram ketat lengan kiri Ranira. Membuat gadis belia berbulu mata lentik itu meringis pelan.
Tentu saja Mike tidak mau Evans curiga jika Ranira menyebut-nyebut nama putri kandungnya.
"Tapi kenapa Anda mengakuiku sebagai putri Anda? Anda akan meninggalkanku di rumah besar ini? Apa yang sedang Anda rencanakan, Tuan Mike?"
Senyum seringai terlukis di wajah Mike. Lelaki yang telah menginjak usia kepala lima itu makin mengetatkan cengkeramannya di tangan Ranira.
"Aku adalah anggota dari organisasi mafia yang dipimpin oleh Evander. Semua kekayaanku yang berlimpah bukan hasil dari pekerjaanku sebagai pejabat. Tapi aku diutus sebagai tikus yang menyelinap ke dalam dunia politik untuk menggerogoti banyak uang dari sana."
Ranira memasang wajah terkejut. Matanya melebar, menatap serius pada Mike yang baru saja memberitahu bahwa ia adalah anggota mafia.
Padahal selama ini Ranira berpikir kekayaan Mike murni dari hasilnya mengabdi sebagai pejabat negara.
"Sayangnya, obsesiku untuk menjadi orang terkaya di negeri ini membuatku mencoba berhianat dengan mengambil keuntungan dari organisasi mafia lain. Sekarang, Evans sudah menendangku dari organisasi karena penghianatanku terbongkar. Harusnya aku dibunuh oleh Evans sebagai hukuman atas penghianatanku. Tapi, untungnya Evans memberiku sebuah penawaran yang membuatku terbebas dari jerat hukuman. Kau mau tahu apa penawaran itu?" Mike menyeringai lagi.
Membuat kedua alis Ranira saling bertautan.
"Apa?"
"Tawarannya adalah aku bisa bebas asalkan aku harus menyerahkan putriku padanya. Kau tahu sendiri bagaimana aku sangat menyayangi putri kandungku, Cristie. Maka dari itu, aku sengaja memilih menyerahkanmu saja. Di sini, kau harus mengaku sebagai putri kandungku. Jangan sampai Evans tahu kalau kau hanya anak pembantuku. Jika sampai rahasia ini terbongkar, maka nyawa ibumu menjadi taruhannya," cetus Mike tanpa perasaan.
Lelaki setengah baya itu menghempaskan kasar lengan Ranira. Sambil memegangi lengannya yang terasa sakit, Ranira menatap Mike dengan sorot benci.
"Dasar berengsek! Jangan berani menyakiti ibuku!"
"Tenang saja, Ranira. Hal itu tidak akan terjadi selama kau tetap menjaga rahasia. Sampai kudengar kau membocorkan pada Evander tentang siapa dirimu sebenarnya, maka aku jamin saat kau pulang ke rumahku nanti, kau akan melihat mayat ibumu." Ancaman Mike membuat hati Ranira mencelos.
Ranira menyesal. Mengapa ia harus termakan oleh jebakan Mike yang mengiming-iminginya daftar kuliah? Sekarang, Riana terjebak di dalam sarang mafia.
Setelahnya, Mike berpura-pura memasang wajah sedih dan memberi instruksi pada dua orang bawahan Evander.
"Aku sudah selesai bicara dengan putriku," ucap Mike, mengusap air mata palsunya.
Ranira masih tercenung dan melamun. Ia masih syok dengan kenyataan yang menimpanya.
"Sayang, Papa pulang. Maafkan Papa." Mike mengusap rambut Ranira, kemudian melangkah pergi menuju mobilnya.
Ranira langsung ditarik masuk oleh dua bawahan Evans. Mata Ranira sempat menoleh ke arah Mike yang menyunggingkan senyum puas sebelum masuk ke mobilnya.
Sementara Ranira terus digiring masuk menuju lantai atas, lantas diantar ke sebuah kamar yang luas dan lengkap dengan berbagai furniture mewah di dalamnya.
Ada sebuah ranjang berbentuk round bed berbalut sprei warna merah darah di tengah-tengah kamar.
"Tetaplah di sini sampai Tuan Evans pulang," ucap mereka, sebelum akhirnya menutup rapat daun pintu dan mengunci Ranira dari luar.
"Mama," desah Ranira dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa yang akan dikatakan si brengsek Mike pada ibuku setelah dia melemparku ke dalam sarang mafia? Mungkin dia akan membuat cerita bohong. Sial! Kupikir dia orang yang baik, tapi ternyata dia sangat licik. Bisa-bisanya dia menyerahkanku ke tempat ini. Seharusnya Cristie yang berada di sini, sekarang."
"Aku tidak akan memaafkan lelaki tua itu jika sampai dia berani menyakiti ibuku," lanjut Ranira penuh emosi.
Dengan mata yang basah dan memerah, Ranira memendarkan pandangan ke sekeliling. Hanya ada beberapa lukisan berlatar hitam dan abu. Tidak ada satu pun foto sosok Evander yang katanya sang ketua mafia itu.
“Apa yang akan dia lakukan padaku jika dia pulang nanti?" gumam Ranira, bertanya dengan perasaan cemas yang menyergap hatinya.
***
Malam hari, ketika Ranira merasa kelopak matanya berat dan hampir saja jatuh tertidur di atas ranjangnya, tiba-tiba ia terkejut mendengar suara gemerincing kunci dari luar kamar.
"Siapa itu?" panik Ranira, segera mengubah posisinya menjadi duduk. Matanya terus tertuju pada daun pintu yang ini berayun terbuka.
Ranira mengerutkan kening saat ia hanya melihat seorang bawahan Evans yang berdiri di ambang pintu.
"Tuan Evans sudah datang," beritahunya pada Ranira.
Apa? Ketua mafia yang bengis itu telah datang?
Ranira segera bangkit dari ranjangnya dan berdiri dengan wajah tegang. Selanjutnya, melangkah masuk seorang lelaki barparas tampan, berambut hitam kecokelatan, serta tubuhnya yang tinggi menjulang.
Mulanya, Ranira sempat terkesiap melihat lelaki yang kini berdiri di dekat pintu. Hati kecilnya mengakui ketampanan dari sosok lelaki karismatik tersebut.
"Apakah dia sang ketua mafia yang dimaksud oleh Tuan Mike?" tanya Ranira dalam batinnya.
Tak ada sahutan yang terdengar, Lord Malfoy dan Lady Malfoy sudah mengetuk pintu rumah Isaac berkali-kali. Mereka berdua ingin sekali mengunjungi anak sulungnya, ada daging cicak asap kesukaan Gwen sebagai oleh-oleh."Gwen, Isaac ...." Lord Malfoy masih berusaha memanggil.Sepi, mungkin saja Gwen dan Isaac sedang pergi ke luar. Mereka berdua tidak punya waktu lama, bisa-bisa Filbert menangis dan marah-marah di rumah sendirian.Lady Malfoy meninggalkan makanan yang dia bawa, meletakkannya persis di depan pintu. Aroma daging cicak yang lezat pasti akan tercium oleh hidung mungil Gwen. Dia tidak pernah tahan jika sudah berurusan dengan makanan apalagi buatan ibunya sendiri.Lord Malfoy dan Lady Malfoy beranjak, mereka pergi dan meninggalkan rumah Isaac. Jika menunggu sampai malam perjalanan mereka akan terancam nantinya, oleh para predator yang berbahaya.Lord Malfoy tidak mau mengambil banyak resiko bagi dia dan istrinya.***Isaa
Chelsea kembali ke taman, dia melangkah dengan riang menuju taman. Hati kecilnya berkata kalau Isaac pasti sedang menunggu kedatangannya sekarang. Kali ini Chelsea tidak membawa mainannya, dia sudah mencuci bersih kaos biru Isaac, meletakkannya dalam tas kertas. Chelsea tersenyum riang. Benar, Isaac sudah berada di taman, pria itu tengah merebahkan tubuhnya di atas tumpukan dedaunan. Chelsea berjalan mendekat, dia menemani langkah dengan senyuman tanpa henti. "Isaac," panggil Chelsea dengan nada gembira. Dia mengambil duduk di samping Isaac yang masih terbaring lemah. Isaac tidak menyahut panggilan yang Chelsea serukan, apa pria tersebut sedang ketiduran? Chelsea memandangi Isaac, dia tidak mengenakan baju untuk membungkus tubuhnya. Hanya celana coklat ketat yang membalut bagian atas paha pria tersebut. Chelsea membalikkan tubuh Isaac, lemas, suhu badan Isaac sangat dingin. Bibir Isaac juga terlihat pucat pasi, apa yang terjadi padanya
Para troll akan berubah menjadi batu ketika mereka terkena cahaya matahari secara langsung dan dalam keadaan takut. Hal ini sudah menjadi adaptasi alami yang terjadi pada semua Drawf. Kulit mereka juga akan mengeras mengikuti seperti tekstur batu lalu diikuti lagi dengan warnanya yang berubah menjadi kelabu. Mereka akan kembali lagi menjadi troll ketika suasana hatinya sudah membaik. Bentuk mereka akan berubah dengan sendirinya, secara otomatis. Jadi pastikan alasmu berpijak atau batu di sekitar kalian bukanlah para troll yang sedang menyamar karena ketakutan. Kasian jika mereka terinjak, pasti rasanya sangat sakit. Ini semua salah Isaac, seharusnya dia tidak keluar rumah begitu lama dan membiarkan Gwen pergi mencarinya sendirian. Sekarang siapa yang bisa membantu Isaac menyelamatkan Gwen. Isaac pesimis, dia tidak bisa melakukan ini sendiri, Isaac memerlukan bantuan, apalagi jika dia harus berurusan dengan manusia, mahluk itu adalah sumber uta
Filbert sudah pulang kurang lebih setengah jam yang lalu, Lord Malfoy dan Lady Malfoy telah menjemput anak bungsunya tersebut, kenapa mereka tidak sekalian membawa Gwen juga. Padahal lebih repot saat pemalas itu berada di sini. Gwen hanya membuat masalah di rumah Isaac, jika tidak kerjanya hanya bermalas-malasan lalu tidur. Tapi jika tidak ada Gwen, Isaac juga merasa kesepian. Sebab tak ada seorangpun yang bisa dirinya ajak bercanda di rumah. "Isaac ... Isaac!" Gwen memanggil nama Isaac, dari tadi pagi dia belum melihat teman kecilnya tersebut. Ke mana Isaac pergi. Sudah lama sekali tapi Isaac tak kunjung kembali. Jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi padanya Gwen mendadak khawatir, ia berfirasat buruk pada Isaac. Bagaimana kondisi Isaac sekarang, apa yang sedang temannya lewati saat ini. Gwen memakai rompinya dan berjalan keluar dari gorong-gorong. Hidungnya mulai mengendus, Gwen mengenali bau badan Isaac. Baunya seperti permen gul
Sepertinya hari ini Isaac akan dibuat sangat sibuk. Sekarang pria itu tengah dalam perjalanan pulang menuju ke rumah, tangannya membawa banyak sekali jamur. Ada banyak jenisnya yang tumbuh pada sekeliling pohon besar di tengah taman, lumayan untuk campuran membuat sup jamur bersama Gwen nanti.
Gwen terlelap dalam tidurnya, sesekali dia juga mendengkur dengan suara pelan, sepertinya Gwen merasa kelelahan karena perjalanannya menuju gorong-gorong Isaac berjarak lumayan jauh. Kondisi rumah terlihat sangat berantakan, seperti kapal pecah dan terombang ambing di lautan. Dasar Gwen b
Chelsea mengemasi mainnya. Setelah ini ia berniat pergi menuju ke taman klorofil. Semoga saja Isaac sudah ada di sana. Chelsea mempercepat langkahnya, berharap hari ini akan seindah kemarin. "Isaac!" panggil Chelsea lantang. Gadis itu melambaikan tangan, menyapa Isaac
Chelsea terus tersenyum saat memandang raut lucu Isaac, gemas sekali. Isaac terlihat sangat imut saat berpose ketakutan seperti sekarang. Matanya yang coklat hazel masih terus melotot ke arah Chelsea. Gadis itu bermain lempar daun dengan riang, menumpukan gugurannya yang kering pada kep












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore