ANMELDENHari berikutnya.Kian berbaring di ranjang pesakitan memakai baju khusus untuk operasi.Kedua tangannya menyentuh perut. Berkali-kali dia mengembuskan napas pelan.“Anda jangan terlalu tegang. Semuanya akan berjalan dengan lancar.”Kian menoleh pada perawat yang baru saja bicara. Kepalanya mengangguk pelan.Sudah waktunya Kian dibawa ke ruang operasi.Kian semakin gugup. Tubuhnya tiba-tiba begitu dingin.Saat itu, telapak tangannya digenggam erat. Kian menoleh, suaminya sudah berdiri di samping ranjang.“Aku akan menemanimu di ruang operasi, kamu jangan khawatir.” Arthur menatap penuh perhatian pada Kian.Kian mengangguk-angguk. Ketegangannya perlahan-lahan mengendur.Arthur berjalan di samping ranjang yang didorong perawat menuju ruang operasi.Kian masuk ke dalam ruang operasi lebih dulu. Sedangkan Arthur harus bersiap-siap sesuai aturan sebelum masuk ke dalam ruang operasi.Dokter dan perawat sudah bersiap di dalam.Arthur masuk ke dalam ruang operasi memakai pakaian khusus. Dia du
Keesokan harinya.Arthur duduk di tepian ranjang. Dia dengan telaten menyuapi Kian.“Padahal aku bisa makan sendiri, kenapa kamu repot-repot menyuapi?” Kian menatap Arthur yang sejak tadi menolak menyerahkan sendok padanya.“Selama ada aku. Jika kamu sakit, kamu tidak perlu susah-payah menggerakkan tanganmu hanya untuk menyuapkan makanan ke mulut.” Setelah bicara, Arthur kembali menyuapkan makanan ke mulut Kian.Kian tersenyum sambil mengunyah makanan.Dia benar-benar tidak menyangka Arthur akan seperhatian ini padanya.“Lusa kamu akan menjalani operasi. Aku ingin kamu sehat dan tenang. Jangan sampai kamu panik dan kondisimu menurun.” Tatapan Arthur menyorot cemas dan khawatir.Kian mengangguk-angguk.“Kamu tenang saja. Aku tidak akan panik, apalagi kita akan segera melihat bayi kita. Harusnya aku tidak sabar dan sangat senang.”Mendengar balasan Kian, Arthur kini lega.Setelah menyuapi Kian.Arthur pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.Kian duduk bersandar headboard sambil me
Sore hari.Arthur berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang dokter kandungan yang merawat Kian.Dia meninggalkan perusahaan lebih awal setelah Arron memberitahukan apa yang dokter sampaikan siang tadi.Mengetuk pintu lebih dahulu, Arthur masuk ke dalam ruang dokter setelah dipersilakan.“Pak Arthur, silakan duduk.”Arthur mengangguk.Dia mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja dokter.“Bagaimana dengan kondisi istri saya, Dok?” Arthur langsung bertanya.“Begini Pak Arthur. Usia kehamilan Bu Kian sudah menginjak tiga puluh delapan minggu. Jadi, mengingat kondisi Bu Kian saat ini, saya menyarankan agar beliau menjalani operasi cesar.”Arthur diam beberapa saat mendengar penjelasan Dokter.“Jika mau menunggu kontraksi alami dan melahirkan normal, memang masih bisa. Tapi saya takutnya malah ada kendala lain mengingat Bu Kian sebelumnya sudah mengalami pendarahan.”Arthur mengembuskan napas kasar.Dia diam sepersekian detik menerima penjelasan Dokter.“Kalau memang operasi
Tatapan Arthur tertuju pada pria di depannya.“Kamu yakin dia pelakunya? Asal kamu tahu, dia sudah dipecat dari perusahaan ini sudah hampir satu tahun lalu.” Arthur membanting kertas yang ada di tangan ke meja.“Saya tidak berani berbohong, Pak Arthur.” Pria ini menunduk dalam. “Anda bisa lihat sendiri, nama penerima uang pembayaran itu. Mana mungkin saya memanipulasinya? Saya sampai mencetak rekening koran untuk memastikan kalau saya tidak salah.”Kendrick mengambil kertas informasi yang ada di atas meja. Dia membaca dengan teliti nama pemilik email, email, sampai nama rekening yang tertera.“Tuan, ada kemungkinan Alice mencuri informasi milik Kian sebelum dia dipecat. Apalagi waktu itu, Kian sempat cuti karena terluka. Bukankah tidak menutup kemungkinan informasi ini benar?” Kendrick meyakinkan.Kepala Desain Air Company mengangguk-angguk mendengar penjelasan Kendrick.“Saya sudah melaporkan ini ke perusahaan. Saya akan menerima konsekuensi dan hukuman atas tindakan saya ini. Dan,
Arthur dan Kendrick pergi ke ruang departemen desain.Sesampainya di sana, tatapan Arthur langsung tertuju ke salah satu staff yang kemarin ikut rapat dengan Air Company.Langkah Arthur begitu lebar, mendekat dengan sorot mata yang siap menyambar apa pun yang ada di hadapannya.Para staff di departemen desain langsung berdiri melihat kedatangan Arthur.Sampai Arthur tiba di depan meja salah satu staff.Tatapannya seolah siap melahap staffnya ini.“Si-siang, Pak. Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Staff tergagap.“Apa instruksi kemarin kurang jelas?” Suara Arthur tegas dan penuh penekanan.
Arthur menatap Hendra.Keningnya berkerut dalam mendengar Hendra satu pendapat dengannya.Hendra menatap pada Arthur yang diam. Dia juga memandang semua orang yang kini menatap padanya.Hendra mencondongkan tubuh ke depan. Dia menarik sedikit tepian jasnya, sebelum kembali bicara.“Informasi yang diberikan Air Company belum sepenuhnya terverifikasi benar. Mereka bahkan belum bisa menunjukkan bukti transaksi yang valid, seperti informasi yang kita terima. Lalu, kenapa kita harus menekan dan menuduh Kiandra sebagai pelaku utamanya?” Hendra menatap satu persatu pemegang saham juga jajaran direksi di ruangan ini.“Tapi email dan nama yang dicatut, benar-benar mengarah pada Kiandra Shaylin, manager departemen des
Daniel terkapar dengan darah segar yang menggenang di lantai setelah Oliver mengambil ponselnya dan meninggalkannya begitu saja.Yang tanpa Oliver tahu, Daniel memiliki ponsel lain yang dia gunakan untuk menyimpan semua bukti-bukti kejahatan Oliver.Dengan napas yang berat dan kesad
Masih dengan pakaian dan tangan berlumuran darah Kian. Arthur pergi ke tempat Julian disekap.Begitu masuk ke sebuah ruangan yang gelap. Tatapan tajam Arthur tertuju pada sosok yang terikat di atas kursi.Perlahan, kakinya melangkah mendekat. Jas yang dipakainya dilepas lantas dilempar serampangan,
Bola mata Arthur membola lebar mendengar ucapan Kian. Namun, sebelum dia mengelak, Kian sudah lebih dulu berkata.“Tenang saja, aku akan menjaga batasan.”Arthur menatap Kian yang tersenyum manis padanya.“Walau sebenarnya, Pak Oliver menawariku menjadi asistennya.”“Apa?” Suara Arthur ketika terk
Saat jam istirahat.Kanaya masih duduk di belakang meja kerjanya. Matanya menelisik ke seluruh ruangan, memastikan sudah tidak ada satu karyawan pun yang tertinggal di ruang departemen desain, semuanya pergi ke kantin untuk makan siang.Bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju meja Kian. Kanaya







