แชร์

KECURIGAAN DI MEJA SARAPAN

ผู้เขียน: Benduls
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-15 03:51:09

Aku terbangun sebelum alarm berbunyi.

Cahaya pagi menyelinap masuk melalui celah tirai tipis, membentuk garis lembut di dinding kamar. Udara terasa tenang, terlalu tenang, seolah rumah ini sedang menahan napas bersamaku. Aku menatap langit-langit cukup lama sebelum akhirnya bangkit, mencoba menyingkirkan rasa asing yang masih melekat sejak semalam.

Ini bukan kamarku.

Ini rumah Ravindra.

Dan aku adalah istrinya, setidaknya di atas kertas.

Aku mandi dengan cepat, lalu berdiri di depan lemari beberapa saat. Terlalu mencolok akan mengundang perhatian. Terlalu santai akan terlihat tidak pantas. Akhirnya aku memilih dress krem sederhana dengan potongan rapi. Rambutku kukepang longgar, wajahku kubiarkan polos dengan sedikit lip balm. Penampilan aman. Netral. Tidak memberi celah untuk dinilai berlebihan.

Saat aku keluar kamar, aroma kopi langsung menyambut dari arah dapur.

Langkah kakiku melambat tanpa sadar.

Ravindra sudah duduk di meja makan. Kemeja biru mudanya tergulung hingga siku, jam tangannya terpasang rapi. Sebuah tablet ada di tangannya, wajahnya fokus dan dingin, seperti pria yang selalu memegang kendali atas hidupnya.

“Pagi,” sapaku pelan.

Ia mengangkat wajah. Tatapannya berhenti di wajahku, tidak lama, tapi cukup untuk membuatku merasa sedang ditimbang. Seperti sebuah dokumen yang sedang ia nilai kelayakannya.

“Pagi,” jawabnya singkat. “Duduk.”

Aku duduk berseberangan dengannya. Seorang wanita paruh baya, pengurus rumah, datang membawa sarapan. Ia tersenyum sopan, tapi sorot matanya penuh rasa ingin tahu ketika menatap kami.

“Silakan, Tuan. Ibu Ravindra,” katanya sambil meletakkan piring.

Aku menegang mendengar panggilan itu, tapi memaksakan senyum. “Terima kasih, Bu.”

Ia mengangguk, lalu pergi, tapi tidak sebelum melirik kami sekali lagi.

“Kita harus membiasakan diri,” kata Ravindra tanpa menatapku. “Staf akan melihat kita setiap hari.”

“Aku mengerti,” jawabku.

Kami mulai makan. Keheningan menyelimuti meja, hanya diisi suara alat makan dan detak jam dinding. Aku berusaha terlihat wajar, meski setiap gerakanku terasa diperhatikan.

“Kamu tidak minum kopi?” tanyanya tiba-tiba.

Aku berhenti mengangkat cangkir tehku. “Tidak terlalu suka.”

Ia menatap cangkirku. “Kenapa?”

“Lambungku tidak cocok,” jawabku singkat.

Ia mengangguk pelan, tapi ekspresinya berubah, sedikit lebih waspada. “Kebanyakan orang seusiamu bergantung pada kopi.”

Aku tersenyum tipis. “Aku bukan kebanyakan orang.”

Tatapannya mengeras sesaat. “Kamu bangun pagi.”

Itu bukan pertanyaan.

“Aku terbiasa,” jawabku.

Ia meletakkan sendoknya. “Caramu memotong roti… rapi.”

Tanganku berhenti sepersekian detik.

“Hanya kebiasaan,” kataku cepat.

“Kebiasaan lama,” katanya. “Seperti orang yang terbiasa hidup dengan aturan.”

Jantungku berdegup lebih cepat. Aku memaksa diri tersenyum kecil. “Mungkin karena aku dibesarkan dengan disiplin.”

Ia menatapku lama, seolah mencoba membaca sesuatu di balik wajahku. Aku bertahan, menatap balik tanpa berkedip.

Pengurus rumah kembali mendekat. “Nyonya Ravindra, apakah nanti siang akan keluar?”

Aku mengangguk. “Mungkin sebentar.”

Ravindra langsung mengangkat wajah. “Ke mana?”

Nada suaranya datar, tapi ada tekanan halus di dalamnya.

“Hanya berjalan-jalan,” jawabku. “Menyesuaikan diri.”

Ia menatapku beberapa detik sebelum berkata, “Pastikan sopir tahu ke mana kamu pergi.”

Aku mengangguk. “Baik.”

Pengurus rumah pergi. Keheningan kembali turun, tapi kali ini terasa lebih berat.

“Kita harus satu suara,” kata Ravindra kemudian. “Kalau ada yang bertanya, kita bertemu tiga bulan lalu. Kamu pindah ke sini minggu lalu. Tidak ada cerita lain.”

“Aku paham.”

“Dan satu hal lagi,” lanjutnya, menatapku langsung. “Aku tidak suka kejutan.”

Aku mengangkat wajah. “Dan aku tidak suka diinterogasi.”

Sorot matanya tajam, lalu ia tersenyum tipis, senyum tanpa kehangatan. “Berarti kita seimbang.”

Sarapan hampir selesai ketika ia berdiri dan meraih jasnya. “Malam ini ada makan malam keluarga.”

Aku tertegun. “Malam ini?”

“Iya.” Nadanya tegas. “Ibuku ingin bertemu.”

Perutku mengencang. “Baik.”

Ia melangkah ke arah pintu, lalu berhenti. “Oh, satu hal lagi.”

Aku menahan napas.

“Kamu menyebut namaku dengan cara yang aneh tadi malam,” katanya perlahan. “Bukan seperti orang yang baru mengenal.”

Darahku terasa surut.

“Apa maksudmu?” tanyaku, menjaga suara tetap stabil.

Ia menatapku lama, seolah mencari celah. “Entahlah. Mungkin hanya perasaanku.”

Ia pergi, meninggalkanku sendirian di meja makan.

Aku menatap cangkir tehku yang sudah dingin. Tanganku gemetar pelan. Kecurigaannya sudah muncul, lebih cepat dari yang kuduga.

Aku menghela napas panjang.

Jika Ravindra terus memperhatikanku seperti ini…

jika ia mulai menyusun potongan-potongan kecil yang terasa terlalu familiar…

maka kebohongan ini tidak akan bertahan lama.

Sarapan sederhana ini adalah peringatan pertama,

bahwa permainan ini sudah dimulai.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Istri Kontrak CEO yang Menyembunyikan Anak Kandungnya   SANG RATU KEMBALI

    Suasana kediaman Mahesa berubah mencekam sejak fajar menyingsing. Para pelayan bekerja dalam diam, seolah-olah suara gesekan kain pel di lantai marmer adalah sebuah dosa besar. Ravindra telah menyulap sayap kanan rumah menjadi unit perawatan intensif yang privat namun terlihat "menyedihkan" bagi mata yang tidak terlatih. Cahaya matahari dihalangi oleh tirai beludru tebal, hanya menyisakan keremangan yang menyesakkan. ​Di tengah ruangan, Alena berbaring. Wajahnya dipulas dengan bedak berwarna porselen pucat, dengan sedikit rona ungu di bawah mata untuk menciptakan kesan kelelahan yang kronis. Adrian berdiri di sampingnya, memeriksa monitor jantung yang telah dimodifikasi frekuensinya agar terdengar tidak teratur. ​"Detak jantungmu stabil, Alena. Tapi ingat, saat dia masuk nanti, kau harus mengatur napasmu agar terlihat sesak," bisik Adrian. Tangannya sedikit gemetar saat merapikan selimut Alena. "Aku mempertaruhkan seluruh karier dan nyawaku di sini." ​Alena meraih tangan Adrian, me

  • Istri Kontrak CEO yang Menyembunyikan Anak Kandungnya   DALANG DI BALIK JUBAH PUTIH

    Kecurigaan Ravindra bukanlah sekadar bumbu cemburu buta. Sebagai seorang pria yang membangun imperium bisnis dari reruntuhan intrik, ia memiliki insting yang tajam terhadap sesuatu yang terasa "terlalu sempurna". Kedatangan dr. Adrian di saat kritis, keahliannya yang luar biasa, hingga sejarah masa lalunya dengan Alena, semuanya terasa seperti potongan puzzle yang sengaja diletakkan oleh tangan yang tak terlihat. ​Malam itu, di saat Alena sedang tertidur lelap di bawah pengawasan ketat perawat, Ravindra memanggil Krisna ke ruang kerjanya di kediaman Mahesa. Ruangan itu hanya diterangi satu lampu meja, menciptakan bayangan panjang yang menambah kesan dingin. ​"Sudah ketemu?" tanya Ravindra tanpa basa-basi. ​Krisna meletakkan sebuah map tebal di meja. "Sudah, Tuan. Hasil penyelidikan tim intelijen kita di Jerman menunjukkan hal yang janggal. Riset fetomaternal dr. Adrian selama tiga tahun terakhir dibiayai oleh sebuah yayasan medis bernama Aurora Foundation. Yayasan itu tidak pern

  • Istri Kontrak CEO yang Menyembunyikan Anak Kandungnya   BENALU DARI MASA SILAM

    Keadaan Alena yang sempat kritis memaksa Ravindra untuk mencari bantuan medis terbaik di negeri ini. Melalui koneksi pribadinya, ia berhasil mendatangkan seorang dokter spesialis konsultan fetomaternal yang baru saja menyelesaikan riset panjangnya di Jerman. Dokter tersebut dikenal sebagai "tangan dingin" dalam menangani kehamilan berisiko tinggi. ​Namun, Ravindra tidak pernah menyangka bahwa malaikat penyelamat yang ia panggil justru akan menjadi duri baru dalam ketenangan jiwanya. ​Pagi itu, pintu ruang perawatan intensif terbuka. Seorang pria jangkung dengan jas putih yang sangat rapi masuk. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas namun dibalut dengan keramahan yang tenang. Matanya yang cerdas berbinar saat menatap papan informasi medis di ujung ranjang Alena. ​"Alena?" suara pria itu lembut, namun memiliki nada akrab yang membuat Ravindra, yang sedang duduk di samping ranjang, langsung menegakkan punggungnya. ​Alena yang baru saja terbangun, mengerjapkan matanya. "Adrian? Ka

  • Istri Kontrak CEO yang Menyembunyikan Anak Kandungnya   DI AMBANG RAPUH

    Dinding putih rumah sakit terasa seolah menghimpit Ravindra. Bau antiseptik yang tajam menusuk indranya, mengingatkannya pada malam-malam kelam saat Leo berjuang demi nyawanya. Namun kali ini, yang terbaring lemah di balik pintu unit perawatan intensif adalah Alena—pusat semestanya, wanita yang baru saja ia temukan kembali di antara puing-puing rahasia. ​Dokter spesialis kandungan keluar dengan wajah letih. "Tuan Mahesa, kondisi Nyonya Alena sangat kritis. Tekanan darahnya melonjak drastis akibat stres yang ekstrim—kita menyebutnya preeklampsia dini. Janin dalam kandungannya masih sangat muda, baru memasuki minggu ke-14. Jika Nyonya Alena bergerak sedikit saja atau mengalami tekanan emosional lagi, kita bisa kehilangan keduanya." ​"Apa yang harus saya lakukan?" suara Ravindra parau, nyaris tak terdengar. ​"Bed rest total. Setidaknya untuk satu bulan ke depan. Nyonya Alena tidak boleh menyentuh ponsel, tidak boleh mendengar berita kantor, dan tidak boleh memikirkan hal lain selain n

  • Istri Kontrak CEO yang Menyembunyikan Anak Kandungnya   BAYANG-BAYANG DARI MASA LALU YANG KELAM

    Kebahagiaan di kediaman Mahesa seolah menjadi kanvas indah yang baru saja selesai dilukis. Namun, bagi mereka yang hidup di puncak piramida kekuasaan, ketenangan sering kali hanyalah jeda sebelum badai yang lebih besar datang menerjang. Di saat Alena mulai menikmati perannya sebagai istri, ibu, sekaligus direktur yang disegani, sebuah ancaman baru merayap dari celah-celah masa lalu yang belum sepenuhnya tertutup. ​Pagi itu, suasana di kantor Mahesa Logistik terasa tegang. Alena baru saja menyelesaikan rapat koordinasi mingguan ketika Krisna masuk ke ruangannya dengan wajah yang sangat pucat. Ia tidak membawa laporan keuangan atau jadwal pertemuan, melainkan sebuah map hitam tanpa identitas pengirim. ​"Nyonya, ada seseorang yang mengirimkan ini ke meja resepsionis secara langsung. Dia tidak meninggalkan nama, tapi dia berpesan bahwa ini adalah 'hadiah pernikahan' yang tertunda untuk Anda dan Tuan Ravindra," lapor Krisna dengan nada cemas. ​Alena mengerutkan kening. Ia membuka map te

  • Istri Kontrak CEO yang Menyembunyikan Anak Kandungnya   SINAR MATAHARI DI BALIK PINTU

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai beludru abu-abu di kamar utama kediaman Mahesa. Semburat warna emas itu jatuh tepat di atas tempat tidur berukuran *king size*, di mana Ravindra dan Alena masih terlelap dalam posisi yang sangat intim. Lengan kekar Ravindra melingkar protektif di pinggang Alena, sementara kepala Alena bersandar nyaman di ceruk leher suaminya. Tidak ada lagi gurat ketegangan di wajah mereka; yang tersisa hanyalah kedamaian yang dalam, sisa dari malam yang akhirnya menyatukan kembali kepingan jiwa mereka yang sempat pecah. ​Di luar pintu kamar, langkah kaki kecil terdengar berderap di atas lantai marmer. Leo, dengan piyama bergambar dinosaurus dan rambut yang masih berantakan khas bangun tidur, berdiri ragu di depan pintu besar itu. Selama berminggu-minggu, pintu ini selalu tertutup rapat dengan aura yang dingin. Ia terbiasa melihat ayahnya berangkat sebelum ia bangun, atau ibunya yang menangis diam-diam di balik pintu ini. ​Namun pagi ini,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status