Share

Bab 03

Author: Norwinda
last update publish date: 2025-11-14 23:15:10

Satu bulan kemudian…

Anya dibuat gelisah dan semakin digantung oleh suaminya sendiri yang jarang pulang ke rumah, bahkan suaminya sudah menghentikan kiriman uang ke rekeningnya. Bagaimana bisa ia memenuhi kebutuhannya bila suaminya sendiri hilang entah ke mana.

Untuk kesekian kalinya ia menelpon suaminya yang selalu tidak mengangkat. Ia menggigit ujung jarinya.

“Mas, tolong angkat sebentar saja,” gumam Anya lirih.

Semuanya sia-sia, beberapa kali ia menelpon, namun telponnya tidak pernah diangkat. Ia duduk di kursi dengan hati yang resah.

“Aku harus bagaimana? Kenapa mas Kevin bersikap seperti ini padaku? Apa dia memang tidak ingin bersamamu lagi?”

Anya menelungkupkan wajahnya di lipatan tangannya. Antara menangisi nasib dirinya dan sikap suaminya yang kejam.

Bahkan uang simpanannya sudah mulai menipis, ia tidak mungkin hanya mengharapkan uang pemberian suaminya yang belum tentu akan memberikan uang bulan ini.

Suaminya benar-benar berubah dan tentu setelah berhubungan dengan perempuan itu. Meskipun yang jadi alasan perselingkuhannya karna ia yang tidak bisa hamil sampai sekarang.

Esok harinya…

Dibawah terik matahari yang sangat panas seorang perempuan berjalan di sisi jalan raya sambil membawa map coklat berisi surat lamaran kerja. Semenjak suaminya tidak mengirimi uang sepeser pun Anya harus mencari pekerjaan, setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Sebenarnya ia pusing dan bingung tentang di mana suaminya pergi serta tinggal sekarang, bahkan selama menikah dengan suaminya ia tidak tahu banyak tentang Kevin termasuk tempat kerjanya.

Kevin terlalu menutupi semua dan ia pun tidak terlalu penasaran untuk mengetahui kehidupan suaminya lebih dalam. Karna dalam pikirannya yang terpenting hubungannya dengan suaminya baik-baik saja.

Anya menghela napas panjang saat merasa sudah berjalan cukup jauh, ia menatap sekitar dan langkahnya berlanjut pada sebuah minimarket. Ia butuh air minum, tenggorokannya kering sekali.

Anya membeli air mineral botol dan duduk di kursi yang ada di depan minimarket. Sambil menghabiskan air minumnya ia memandangi kendaraan yang berlalu lalang di jalanan.

Untuk sesaat Anya larut dalam lamunannya sampai seseorang menegurnya, sontak ia tersentak.

Ia mendongak dan melihat seorang perempuan yang tersenyum memandangnya.

“Kamu Anya, kan?” tanya perempuan itu seakan memastikan.

Ragu-ragu Anya mengangguk membuat perempuan itu tersenyum girang.

“Ya ampun, Anya! Aku sempat ragu untuk menyapa tadi, takutnya salah orang.”

“Maaf, memangnya kamu siapa? Aku lupa.”

Perempuan itu memutar bola matanya.”Masa kamu lupa dengan ku, aku Ayu, teman sekolah kamu dulu. Kamu ingat tidak saat kita tercebur ke sumur saat akan pergi ke sekolah?”

Mendengar itu, perlahan senyuman terpatri di bibir Anya.”Oh Ayu, ya aku ingat!”

Pandangannya langsung memperhatikan pakaian seragam yang Ayu kenakan sekarang.”Kamu kerja di kota ini?”

Ayu mengangguk lalu menarik kursi dan duduk di samping Anya.”Iya, aku kerja di sini, Nya. Ini keluar gegara mau beli makan siang.”

Kini gantian, Ayu memperhatikan Anya dan tatapannya tertuju pada map yang ada di atas meja.

“Ini map apa?”

“Surat lamaran kerja. Aku sedang mencari pekerjaan.” Anya tersenyum sambil mengulum bibirnya.”Sayangnya tidak ada satupun toko ataupun perusahaan yang mau menerima.” Ia menundukkan kepalanya dengan raut wajah yang muram.

Ayu menatap simpatik pada perempuan itu.”Memangnya kamu mencari pekerjaan seperti apa?”

Anya langsung mendongak melihat pada Ayu.”Terserah saja, yang penting bisa memenuhi kebutuhanku.”

Ayu manggut-manggut.”Sebenarnya ada sih lowongan pekerjaan di tempatku.”

Mata Anya langsung berbinar mendengar itu.”Benarkah? Kalau begitu aku ingin melamar bekerja di sana saja.”

“Masalahnya pekerjaan yang akan kamu dapatkan hanya cleaning servis di perusahaan. Itu kalau kamu mau.”

Anya mengangguk penuh keyakinan.”Iya, tidak apa-apa sekali. Yang penting aku dapat pekerjaan.” Ia tanpa sadar menggenggam tangan Ayu dengan wajah penuh binar.

“Kalau begitu kamu ikut aku ke perusahaan untuk menyerahkan surat lamaranmu ini.”

Anya mengangguk, terlalu senang ia langsung bangkit dari kursinya dan ingin Ayu segera mengantarkannya sekarang ke tempat itu.

Akhirnya Ayu membawa Anya ke perusahaan tempat ia bekerja. Untuk sesaat Anya dibuat tertegun melihat gedung pencakar langit yang tinggi dan bertingkat-tingkat. Inikah perusahaannya? Besar sekali.

“Kamu bawa siapa, Ayu?” Teguran dari satpam membuat langkah keduanya terhenti. Ayu langsung menarik tangan Anya menghampiri satpam berperut buncit itu.

“Ini temanku, Pak. Dia mau melamar bekerja sebagai cleaning servis di sini,” jelas Ayu.

“Oh, kalau begitu bisa langsung masuk ke dalam untuk menyerahkan surat lamarannya.”

“Baiklah, Pak.” Ayu beralih melihat pada Anya.”Sekarang kamu masuk saja, Nya. Atau mau diantar Pak satpam?”

“Aku diantar saja. Aku juga tidak tahu tempatnya.”

“Pak, tolong antarkan dia, ya,” pinta Ayu.

Satpam itu mengangguk, ia pun menggiring Anya dan mengantarnya sampai lobi sebelum menunjuk ke tempat resepsionis. Anya melangkah menuju ke tempat yang ditunjuk dan menyerahkan surat lamaran, yang nantinya akan diteruskan oleh resepsionis kepada bagian HRD.

Beberapa hari setelah melamar bekerja di perusahaan itu, tidak lama Anya mendapatkan email dari pihak perusahaan bahwa ia diterima bekerja di sana tanpa interview.

Tentu saja Anya sangat gembira sekali. Ia pun segera menyiapkan pakaian hitam putih yang diminta dikenakan untuk datang ke perusahaan besok.

Untuk sesaat, perempuan itu bisa melepaskan pikirannya dari kekacauan rumah tangganya. Ia tidak lagi terpaku pada sosok suaminya. Mungkin ini akan menjadi awal yang baik, setidaknya kini ia punya kesibukan di luar rumah, sesuatu yang bisa menahan dirinya agar tidak terus tenggelam dalam masalah yang menguras rasa sakit di hatinya.

Selama hidup bersama Kevin, seluruh hari-harinya hanya dihabiskan di rumah, berputar pada peran sebagai ibu rumah tangga. Ia seperti terpenjara, tanpa ruang untuk membangun pertemanan ataupun sekadar merasakan kebebasan sebagai seorang istri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Dinar kasih 1205
seru banget ceritanya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 86

    Mobil sedan putih yang dikendarai Rayden melaju perlahan begitu memasuki pekarangan sebuah rumah. Dari balik kaca jendela, Anya melihat banyak anak-anak kecil berlarian dan bermain di halaman.Keningnya berkerut. Matanya menyipit, berusaha memastikan apa yang sedang dilihatnya. Namun, beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah menjadi terkejut.Perlahan, Anya mengalihkan pandangannya dari pemandangan luar dan menoleh kepada Rayden.“Kita ke panti?”“Iya. Sudah lama, kan, kamu tidak ke sini. Karna tempat ini masih satu kota jadi kita sekalian mampir ke sini.”Anya perlahan tersenyum haru.”Terima kasih ya, Mas.”“Sama-sama. Nikmati waktumu bersama mereka sekalian memperlihatkan bayi kita.”Anya mengangguk. Tanpa bisa menahan diri ia langsung memeluk Rayden yang langsung membalas dan mengusap lembut punggungnya.Mobil sedan putih itu mulai dikerumuni anak-anak yang tampak penasaran. Begitu pintu mobil terbuka beberapa raut wajah anak-anak di sana terlihat kegirangan.“Tante Anya! Tan

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 85

    Setelah keributan antara ibu dan anak itu. William dan beberapa anggota keluarga lainnya segera melerai pertengkaran itu dan meminta agar Rayden lebih tenang.Mereka tak menyalahkan siapapun saat ini. Karena yang harus mereka lakukan adalah menenangkan suasana agar tidak semakin pelik masalah diantara keduanya.“Rayden, kendalikan emosimu. Om tahu, Mamamu salah dan Om akui itu. Tapi dengan kamu mengamuk dengan emosi yang tidak terkendali, yang ada masalahnya akan semakin runyam,” ucap William menasehati.Rayden mengembuskan napas berat.”Aku sudah sangat-sangat kecewa dengan sikap Mama, Om. Dan sekarang Mama melakukan hal yang kejam pada Anya dan anakku. Siapa lagi yang akan bertindak kecuali aku.”“Andai Aca tidak memberitahuku, apa yakin Anya dan anakku akan baik-baik saja dan mungkin….” Rayden tampak tak sanggup untuk melanjutkannya.“Om paham, Rayden. Kalau Om diposisimu, mungkin Om akan melakukan hal yang serupa. Tapi kamu jangan lupa, Mamamu itu akan semakin menjadi-jadi bila kam

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 84

    Malam semakin larut dan dengkuran halus terdengar samar di kamar hotel yang diliputi keheningan itu. Namun, sesekali suara lenguhan bayi terdengar.Rayden menepuk lembut paha putranya ketika akan terjaga dan tangan yang lain ia biarkan direbahi Anya. Perempuan itu tidur di sampingnya sambil memeluk erat dirinya, setelah satu jam lebih menangis.Tidak bisa ia lakukan dan membiarkan Anya meluapkan semuanya. Ia tahu betul bagaimana kehidupan Anya yang tidak mudah. Dan wajar sekali perempuan itu mereka sangat terluka perasaannya.Alis Anya mengerut, pelukannya pada Rayden sedikit mengendur.Perempuan itu membuka matanya yang terasa berat dan perih.“Kenapa bangun?” tanya Rayden melihat perempuan itu terjaga.“Ravyan mana?” Suaranya serak dan hampir hilang.“Dia ada disampingku. Sedang tidur. Kamu lanjut tidurnya.”“Tapi… Mas tidak tidur? Apa Ravyan rewel?”“Dia tidak rewel. Kamu tenang saja.”Anya melirik tangan laki-laki itu yang ia rebahi. Sontak ia langsung bangun.”Maaf, Mas.”“Tidak p

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 83

    “Kita kembali ke villa?” tanya William sambil melirik ke belakang di mana Rayden sibuk menggendong bayinya dan membiarkan Anya untuk tenang.Perempuan itu tak banyak bicara hanya diam, namun isak tangis tak bisa disembunyikan oleh perempuan itu.“Kita tidak perlu ke villa, cukup antarkan kami ke hotel Paman,” balas Rayden.William mengangguk dan menambah kecepatan mobilnya di tengah hujan yang sedikit mereda.“Kemarilah, Anya.”Rayden meraih bahu perempuan itu dengan lembut, lalu menariknya hingga bersandar di dadanya. Ia memeluk Anya erat, membiarkannya meluapkan tangis yang sejak tadi berusaha ditahan.“Tenang... kamu sudah aman. Aku di sini.”Suara Anya bergetar di sela isaknya. “Aku takut... aku tidak bisa melindungi Ravyan.”Rayden mengusap punggungnya perlahan, berusaha menenangkan perempuan yang gemetar dalam pelukannya.“Jangan berpikir seperti itu. Ravyan baik-baik saja.”Ia kemudian mengecup lembut kening Anya, seakan ingin menghapus seluruh ketakutan yang memenuhi hati pere

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 82

    Anya melangkah menyusuri jalanan yang lengang sambil berusaha menahan isak tangisnya. Bayi Ravyan dipeluk erat di dadanya. Tangisan sang buah hati tak kunjung reda, seakan merasakan kepedihan yang sedang menghimpitnya.Ia terus berjalan tanpa tujuan. Tempat ini begitu asing baginya. Ia bahkan tidak tahu sedang berada di mana. Namun, ia sadar, menangis sekeras apa pun tidak akan mengubah keadaan.Langit mulai menggelap, sementara udara sore kian menusuk kulit. Anya refleks mengeratkan pelukannya, berusaha menghangatkan tubuh mungil Ravyan. Hatinya semakin diliputi kepanikan saat teringat seluruh pakaian dan perlengkapan bayinya masih tertinggal di dalam mobil yang telah membawanya pergi.Kalaupun ada, setidaknya bisa menghangatkan tubuh putranya. Ia tak masalah dirinya kedinginan.Langkah Anya akhirnya terhenti di sebuah bangunan sederhana yang menyerupai pendopo di tepi jalan. Tempat itu tampaknya memang disediakan sebagai area singgah bagi para pengendara yang ingin beristirahat.Den

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 81

    Pada akhirnya, Anya memilih ikut bersama Arum. Di dalam mobil Alphard itu juga sudah ada beberapa anggota keluarga lain yang tampaknya datang terlambat, sehingga mereka bergabung dalam rombongan Arum.Anya menunduk menatap bayinya yang terlelap pulas di dalam gendongannya. Syukurlah, si kecil tetap tenang sepanjang perjalanan. Ia tidak menangis ataupun rewel, membuat Anya bisa sedikit bernapas lega di tengah suasana yang terasa canggung.Perlahan matanya melirik semua orang yang diam membisu. Mereka seakan sudah kelelahan hingga tidak bicara apapun.Matanya beralih melihat perempuan yang menyetir dengan Arum yang duduk di samping. Perempuan itu terlihat tertutup dengan jaket dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya.Perjalanan telah berlangsung lebih dari satu jam lebih. Setelah melewati jalan tol menuju Bandung, mobil akhirnya keluar dan melanjutkan perjalanan di jalan raya seperti biasa.Namun, tak lama kemudian suasana mulai berubah. Mobil memasuki kawasan yang diapit hutan

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 07

    Suara berisik yang mengganggu membuat Kevin yang tengah tertidur terbangun. Ia melirik ke kamar mandi dan melihat Anya baru keluar dari sana dengan wajah yang tampak pucat. Meskipun begitu ia memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya, namun sentuhan lembut di lengannya membuatnya berdecak dan kem

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 06

    “Mas Kevin.” Suara Anya terdengar lirih dan hampir tak terdengar. Senyuman getir terbit di bibirnya yang pucat.“Aku datang ke sini bukan untuk pulang,” ucap Kevin sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan map di tangannya ke meja.“Kamu harus tanda tangani surat cerai ini agar perceraia

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 05

    Kelopak mata perempuan itu perlahan terbuka, samar-samar ia melihat bayangan dua orang yang tengah memperhatikannya. Begitu matanya terbuka sempurna, ia terkejut melihat dua laki-laki yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Salah satunya laki-laki yang terakhir kali bersamanya di lift sampai

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 04

    Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Anya datang lebih pagi ke perusahaan besar yang ada di pusat kota. Ia melangkah memasuki area perusahaan dan di sana ia melihat Ayu sudah menunggu dirinya.Ia tersenyum dan semakin mempercepat langkahnya.“Aku kira kamu akan datang lebih lambat dariku,” ucap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status