مشاركة

36. Sempit

مؤلف: anfebizha
last update تاريخ النشر: 2026-05-12 19:47:10

Maura menyusuri lorong kampus dengan langkah seribu, nyaris terpeleset di tikungan tangga ke ruangan Bumi. Di tangannya, tumpukan kertas rangkuman menari mengikuti irama langkahnya. Sialnya, begitu sampai di depan ruangan Dosen itu, pemandangan di depannya membuat Maura ingin menangis di tempat. Ada antrean mahasiswa yang duduk manis menunggu giliran bimbingan.

"Aduh, mampus!!" gumamnya panik.

Tapi dia tetap ikut duduk di kursi panjang koridor. Hanya saja jemarinya tidak bisa diam. Dengan nekat
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Istri Pengganti Mas Dosen   232.

    Maura melirik dari balik layar HP-nya, matanya mendadak memicing saat mendapati Bumi berdiri santai hanya dengan balutan handuk putih melilit pinggang. Detes air dari ujung rambut basahnya menetes pelan ke dada bidang yang kotak-kotak sampe perut."Dih! Kebiasaan banget, keluar-keluar nggak pakai baju!" omel Maura, meski matanya sempat mengabsen roti sobek suaminya sebelum akhirnya bangkit berdiri dari ranjang."Kan ada kamu," sahut Bumi santai tanpa dosa. Pria itu menyugar rambut basahnya ke belakang, melangkah mendekat sambil memasang senyum tipis jail. "Suami istri juga.""CK!" Maura melengos, berjalan ke lemari yang berdiri megah di sudut kamar. Jemarinya menarik salah satu pintu lemari, lalu mengaduk-aduk deretan baju di dalamnya dengan gerakan cepat.Dia mengambil satu kaus oblong warna abu-abu santai dan celana pendek. Dia menaruhnya fi bahu suaminya yang sibuk menyisir rambut di depan cermin."Pake di kamar mandi, jangan telanjang disini." kata Maura.Bumi mengambil baju itu,

  • Istri Pengganti Mas Dosen   231.

    Maura memekik jauh lebih kencang dari sebelumnya, membuat Bumi harus menjauhkan HP-nya beberapa sentimeter dari telinga.Kemudiam suara riuh teman-teman Maura di ujung telepon mendadak sahut-menyahut dengan heboh."Bentar, woi! sibuk Ini!" terdengar suara Maura yang agak menjauh, sepertinya sedang membekap mikrofon sambil menepis teman-temannya yang kepo.Lalu suaranya kembali terdengar jelas, "Mas Bumi, kamu seriusan?! Kalau iya berarti dulu kamu cuma jadi tameng kesiangan,"Bumi hanya bisa menghela napas pasrah, terkekeh hambar di tengah nasibnya yang tragis sekaligus konyol. "Trus ini gimana sayang. Aku udah capek nyari in," keluh Bumi."Nggak usah di cari in."**Harum gurame asam manis memenuhi kabin mobil sore itu. Dia cuma di kantor sebentar hari itu. Entah, mungkin karena takut jam makan malam kelewat, karena istrinya sudah berpesan untuk membeli lajk kalau pulang. Dia cuma masak nasi di rumah.Sepanjang jalan yang riuh orang pulang kerja, bibirnya tersunging tak habis-habis.

  • Istri Pengganti Mas Dosen   230.

    Cengkeraman Bumi pada kemudi mengencang. Matanya menyipit tajam, kosong ke arah keramaian parkiran. Dia mengecap rasa pahit di lidah, keangkuhan Rian benar-benar persis seperti yang ia duga, bahkan mungkin lebih menjijikkan."Dira hamil, kamu yakin itu bukan anakmu?" kata Bumi, menahan diri untuk tidak memekik."Lo pacarnya, lo yakin nggak tidur sama dia?! Bisa jadi itu anakmu." balas Rian.Ucapan Rian barusan menamparnya telak, menyisakan rahang yang mengetat kuat dan napas yang tertahan di dada.Bumi sempat diam. Ruang kabin mobil yang serba dingin itu seolah mendadak kehabisan oksigen. Senyum dingin akademisi yang tadi ia pasang menguap tanpa sisa, digantikan oleh kehampaan yang menusuk perasaannya sendiri."Tes DNA membuktikan itu bukan anakku," ujar Bumi akhirnya.Suaranya meluncur rendah, tapi menyimpan kepahitan luar biasa yang tak sanggup ia tutupi lagi.Di seberang sana, Rian mendengus, meremehkan. "Jadi lo pikir itu anakku?""Dira bilang dia selingkuhanmu," balas Bumi, menek

  • Istri Pengganti Mas Dosen   229.

    Matahari terik siang itu membakar aspal saat mobil milik Bumi meluncur membelah kemacetan kota. Usai menyelesaikan jadwal mengajar terakhirnya di kampus, Pak Dosen itu tak ke kantor.Dia memacu kendaraannya menuju salah satu kawasan bisnis paling bergengsi, tempat gedung pencakar langit milik sebuah konglomerasi besar berdiri megah.Di dalam mobil, Bumi mengetukkan jemarinya pada kemudi. Tatapan matanya lurus, dan penuh perhitungan. Informasi yang dikirimkan oleh tim informannya tadi pagi sudah sangat solid. Pria yang baru mendarat dari Zurich itu, sosok yang ia duga kuat sebagai ayah dari janin yang dikandung Dira, ternyata menduduki posisi strategis di perusahaan raksasa tersebut.Bumi memarkirkan mobilnya sempurna di area parkir. Setelah mematikan mesin, ia menghela napas panjang, merapikan tatanan rambutnya di spion, lalu melangkah keluar dengan keanggungan dan wibawa yang tak tergoyahkan.Tak ada janji temu. Sebenarnya dia juga tak yakin bisa menemuinya. Bahkan dengan menyebut di

  • Istri Pengganti Mas Dosen   228.

    "Apa maksudmu,"Hening mendadak menyergap kamar itu, hanya menyisakan deru napas mereka yang perlahan mulai teratur. Pria itu tidak segera menjauh, tidak ada sedikit pun keraguan di matanya saat ia menatap istrinya yang berkaca. Tampak sekali dia menahan untuk tidak menangis.Bagaimana tidak, setelah berpuluh tahun, akhirnya perasaannya yang janggal seperti dikonfirmasi kebenarannya. Dia anak haram. Entah, anak haram yang bagaimana, tapi yang jelas dia bukan anak kadung seperti sang kakak. Maka tak aneh dia di perlakukan berbeda.Bumi justru menarik Maura lebih rapat ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajah istrinya di ceruk lehernya yang bidang. Dekapan itu begitu erat."Dengar," suara Bumi rendah. "Siapa yang bilang kamu nggak pantas buat aku? Siapa yang berhak nilai harga dirimu, selain dirimu sendiri?""T- Tapi aku anak haram," balas istrinya lirih, tersendat. "Mas Bumi terhormat dan aku cuma anak haram.""Nggak ada sayang," potong pria itu. "Kamu istriku, bukan anak haram." lanj

  • Istri Pengganti Mas Dosen   227.

    Gadis itu menggeser pantat sedikit, merapat makin menempel ke perut tegap Bumi tanpa sadar, mengira usapan itu cuma bagian dari mimpinya.Bumi meyeringai tipis di balik kegelapan. Niat jahil Pak Dosen yang tadinya sempat meredup kini membara lagi. Tangan tegapnya tidak ada berniat untuk diam.Justru, tangannya sengaja mengusap naik makin ke atas, menerobos lipatan kain piyama yang longgar. Dengan gerakan terukur dan, jemari Bumi merayap naik menembus batas hingga telapak tangannya meremas lembut sebelah gundukan hangat di dada istrinya."Nngghh... Mas Bumi, ih..." gumam Maura terganggu. Kelopak matanya yang berat perlahan terbuka setengah, merasakan usapan dan remasan yang makin kurang ajar di dadanya. "Ngantuk..." rengeknya.Bumi bukannya takut, malah makin berani. Dia menyusupkan hidungnya ke ceruk leher sang istri, mendaratkan ciuman-ciuman kecil yang membuat Maura merinding seketika."Mas, kan udah bilang tadi." bisik Bumi dengan suara seraknya yang begitu seksi, sedang tangannya

  • Istri Pengganti Mas Dosen   5. Harga Diri Yang Tergores

    Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s

  • Istri Pengganti Mas Dosen   4. Teori dari mana itu?

    “Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang

  • Istri Pengganti Mas Dosen   3. Mustahil

    Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T

  • Istri Pengganti Mas Dosen   2. Pesan Penentuan

    Suara Maura menggema di lorong, membuat dua mahasiswa yang lewat refleks menoleh, lalu pura-pura tidak peduli sambil tetap mencuri pandang."Kenapa lo teriak kayak liat saldo minus?""Gue- gue harus balik. bokap gue pingsan," sahut Maura gagap.Tangannya gemetar saat menyambar tas kanvasnya dari ta

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status