เข้าสู่ระบบMojin berjalan dengan gemulai di antara tenda musuh yang berdiri. Di balik lengan bajunya ia menyimpan belati yang tajam dan mematikan.Jantungnya berdetak dengan cepat. Ia tidak takut, tapi karena rasa risih luar biasa akibat angin malam yang menerpa betisnya, yang terbuka di balik rok panjangnya."Hei, adik kecil."Suara penuh nafsu terdengar dari balik tumpukan jerami. Tiga prajurit Beiman yang mabuk berat muncul, menghalangi jalannya. Mata mereka merah dan memindai Mojin dari ujung rambut sampai kaki."Kulitmu putih sekali, seperti susu," ucap salah satu dari mereka. Ia maju dengan langkah semborono dan nekat menyentuh dagu Mojin dengan tangan kotornya.“Adik kecil kedinginan? Mau aku bantu hangatkan, ha ha ha."Wajah Mojin berubah jadi kaku, mendidih darahnya digoda laki-laki. Saat tangan kasar itu meraba lehernya, Mojin bergerak cepat tanpa diduga sama sekali.Mojin mencabut tusuk konde runcing dari rambutnya dan menghujamkannya tepat ke tenggorokan prajurit itu. Darah mengalir,
“Mingze,” perintah Fenglan tanpa mengalihkan tatapannya yang penuh arti dari wajah Mojin. “Bawakan aku sepasang pakaian wanita lengkap. Jangan lupa bedak, gincu merah, dan sumpelan dada dari apa saja terserah, air boleh kain boleh, bantal pun boleh.”Suasana hening sesaat. Angin dari luar masuk ke dalam tenda dan membuat Mojin berkedip tiga kali. Mulutnya sedikit terbuka, dan daging kering yang tadi ia pegang meluncur jatuh ke lantai.“J-Jenderal, maksudnya apa? Untuk siapa benda-benda perempuan itu? Jenderal merindukan Nyonya Muda?”Fenglan menyeringai dan membuat Mojin semakin ketakutan.“Kau punya kulit paling halus di kesatukan kita, Mojin. Kita harus memanfaatkannya. Malam ini, kau bukan lagi prajurit di garis depan.”Wajah Mojin seketika pucat. Ia mundur selangkah, dan punggungnya menabrak tiang tenda.“Tidak, jangan, Jenderal, aku seorang lelaki!” teriaknya sambil menepuk dadanya yang rata.“Cita-citaku ingin jadi panglima perang yang gagah berani, bukan kembang desa dan tersen
Badai pasir baru saja mereda. Suku Beiman mengira pasukan Yan akan sibuk membersihkan debu di dalam benteng hingga mereka bersantai-santai saja. Li Fenglan menatap barisan pasukannya yang sudah bersiap dari balik benteng besi. "Han Yu!" panggil Fenglan dengan suara menggelegar. "Bawa lima ratus pemanah terbaik ke punggung bukit timur. Hujani mereka dengan panah api tepat saat terompet pertama ditiup. Bakar lumbung gandum mereka agar kepanikan menyebar.""Siap, Jenderal!" Han Yu mengangguk, memberi hormat, lalu bergerak memimpin pasukannya menyusup dalam diam."Lei Jun!" Fenglan beralih pada ajudan setianya yang sudah berada di atas kuda perang. "Pimpin Batalyon Kavaleri Besi. Jangan menyerang dari depan. Memutarlah lewat celah bukit yang kita temukan di peta tadi. Hantam sisi selatan perkemahan mereka, tepat di kandang kuda. Buat mereka tidak bisa lari.""Mengerti, Jenderal. Tidak akan ada yang lolos," jawab Lei Jun sambil mengencangkan tali kekang kudanya."Dan kau, Mingze," Fengla
Jenderal Li melintasi gerbang Benteng Besi. Suasana perbatasan begitu suram, tembok batu yang hitam, prajurit yang berjaga dengan wajah tegang, dan bau darah yang melintas di udara.Li Fenglan melompat turun dari kuda, seorang pria muda berjubah tabib militer bergegas menyambutnya. Xu Mingze, putra ketiga Tabib Xu yang mendedikasikan hidupnya sebagai kepala medis di garis depan.Wajahnya memiliki guratan keras yang tidak dimiliki ayahnya, hasil dari tahun-tahun melihat kengerian perang. Xu Mingze juga bisa beladiri sebagai kebutuhan di medan perang, hingga ia terkadang dibutuhkan menjadi tabib atau prajurit. Jabatannya juga sangat strategis."Jenderal Li.” Mingze memberi hormat. "Tenda komando sudah disiapkan. Air panas dan ranjang bersih juga sudah tersedia, Anda harus istirahat sese—""Nanti saja, Tua Muda Mingze,” ucap Fenglan sambil melepas helm perangnya. Ia tidak berhenti berjalan dan terus melangkah menuju tenda utama diikuti oleh Mingze."Bawakan aku peta terbaru Lembah Ular da
Angin di puncak Bukit Tengkorak tidak pernah berhembus pelan, selalu berputar seperti badai dan sesekali terdengar tangisan arwah yang penuh dendam. Di kaki bukit berdiri reruntuhan Kuil Teratai Hitam, markas sisa-sisa sekte sesat yang dikabarkan telah dimusnahkan dunia persilatan puluhan tahun lalu di bawah perintah Kaisar sendiri.Mo Yan melangkah masuk melewati gerbang kuil yang sudah ditutup oleh lumut. Meski ia sendiri adalah pembunuh yang kejam, aura di tempat itu membuatnya merinding. Sangat terasa kesunyian menjadi satu-satunya napas di sana."Tamu tak diundang, pastikan kau datang membawa penawaran yang menarik." Suara wanita terdengar dari segala arah."Aku datang membawa emas, bukan nyawa," jawab Mo Yan lantang. Matanya terus menyapu kegelapan kuil sambil tangannya siaga ke pedang.Sebuah hantaman tenaga dalam yang dahsyat tiba-tiba menekan dada Mo Yan, dan memaksanya mundur beberapa langkah. Dari balik bayangan patung dewa tanpa kepala, sesosok wanita melayang turun perlaha
Muyin sudah baik-baik saja. Namun, ia tak akan melupakan kejadian yang menimpa kakaknya dan wanita itu berjanji tidak akan pernah tidur dengan tenang sebelum membalaskan kematian Ruyin.Meski dendam di hatinya kian membara, ia terus belajar dengan serius walau lelah melanda. Muyin mencurahkan semua kemampuannya dengan baik, sebab jika tertinggal sedikit saja makan akan sulit mengejarnya.Tabib Xu berdiri di samping sebuah manekin kayu seukuran manusia yang permukaannya penuh dengan lubang-lubang kecil. Ia memegang jarum perak panjang dan mulai mempraktekkan ilmunya di depan Muyin."Lihat ini, Nyonya Muda. Ini adalah Mingmen atau Pintu Kehidupan, tepat di antara ruas tulang belakang lumbal kedua. Bagi seorang tabib, memanaskan titik ini dengan moxa bisa mengembalikan (Yang) ginjal yang runtuh. Tapi bagi seorang ahli bela diri, hantaman keras di sini bisa memutus aliran Qi dan membuat lawan lumpuh seumur hidup."Muyin mendekat, matanya memperhatikan setiap titik dengan baik. "Jadi, seti







